KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
KAKEK KEJAM


__ADS_3

Mobil Kakek Arvin melaju pergi, Naya menatap Arvin sedih memeluk mencoba menguatkan.


"Aku okay Nay." Avin tersenyum melepaskan pelukan.


"Vin, Daddy Lo nggak tahu?" Andra merangkul Arvin.


"Gue baik-baik saja," ucap Arvin meminta teman-temannya tidak terlalu memikirkan.


"Jangan bilang baik, jika ingin menangis maka tidak masalah, kita semua teman yang akan saling support." Agra mengusap punggung Arvin yang menutup matanya menggunakan tangan.


Kedua sahabat Arvin memeluk erat, ketiganya saling menguatkan dan tidak akan saling meninggalkan.


Mata Naya berkaca-kaca, sungguh kagum melihat persahabatan yang saling mendukung.


Tangisan Arvin memang tidak terdengar, tapi semuanya yakin jika dia menetaskan air mata hanya mencoba untuk kuat.


"Apa yang kalian lakukan, sudah malam peluk-peluk." Alis menatap sinis meminta masuk karena dia sendiri di dalam apartemen.


Kedua tangan Arvin mengusap air matanya, mengusap dada agar kembali ke posisi awal untuk ikhlas.


"Kak Avin kenapa?" Alis duduk disamping Arvin.


"Kenapa anak kecil masih di sini, sudah malam?"


"Siapa juga yang bilang siang? Tadi Alis dari restoran, dapat kabar ...." Mulut Alis ditutup karena Arvin pusing mendengar suaranya.


Tangisan Prilly terdengar mengejutkan, Arvin langsung bergegas menghampiri. Naya mencoba menenangkan Prilly yang menangis sesenggukan.


"Kenapa, Kak Prilly jangan menangis begitu, nanti mommy sedih." Mata Arvin kembali berkaca-kaca.


"Mommy," panggil Prilly karena dirinya masih belum terima kehilangan orang yang paling baik kepadanya.


Kedua tangan Arvin memeluk wanita yang sedari kecil selalu menjaga dan menemaninya, sosok Kakak yang menyayanginya seperti anak.


"Vin, are you okay?"


"Ya, I'm fine. Sudah jangan ditangisi. Jika Kakak rindu mommy datang ke makam saja, Arvin sudah puas karena tahu jika mommy tidak meninggalkan, tapi dipaksa meninggalkan." Pelukan Arvin erat, tidak kuasa menahan tetesan air matanya.


Bisa saja Arvin memutuskan untuk membalas, tapi saat tahu daddynya tidak mengetahui kebenaran membuatnya tidak tega.


"Daddy jahat, tapi Kakek jauh lebih jahat. Sekarang kita bebas, mommy pasti mendukung keputusan kita." Arvin mengusap air matanya menujukkan senyuman kepada Prilly.

__ADS_1


Kepala Prilly mengangguk, meminta Arvin jangan pernah kembali. Jika Arvin kembali dia akan bernasib sama seperti daddynya, kehilangan dan dipaksa menyakiti pasangannya.


"Maaf, kalian ini menangisi apa?" Alis masih binggung karena dia baru keluar dari kamar mandi.


Tidak ada yang menjawab, Alis menatap Agra yang membisikkan sesuatu kepadanya membuat Alis melamun.


"Oh, kasihan. Jadi Kakek Arvin cemburu melihat Mommy tersenyum dengan sopir, kenapa dia cemburu? itu menantunya, bukan istrinya, dasar Kakek mesum!" Alis mengumpat membuat Naya menutup mulutnya.


Kepala Arvin geleng-geleng, kakeknya tidak menyukai wanita bisa menyakiti lelaki. Pernah gagal dalam pernikahan, membuatnya menyimpan luka dalam.


Memaksa Daddy Arvin untuk dekat dengan banyak wanita, membuat menantunya cemburu dan berhasil membuktikan jika lelaki lebih tangguh dari perempuan.


Ketika melihat menantunya bersama orang lain, langsung murka tanpa menunggu penjelasan dan kepulangan anaknya.


"Kakek kamu sudah gila Vin, dia seharusnya dipasung, buang ke sungai. Rumah sakit jiwa terlalu baik untuknya." Andra mendengarnya saja benci.


Sakit di masa lalu merusak masa depan, sampai anak cucu jadi korban. Otaknya sudah geser, bukan di kepala, tapi dengkul.


"Kak Andra bicara begitu apa pernah jatuh cinta?" tanya Alis.


"Memahami perasaan tidak harus jatuh cinta, dia sudah terobsesi hingga pikiran menguasai, tidak berpikir menggunakan hati lagi."


"Namanya berpikir pastinya pakai kepala dan pikiran, tidak mungkin hati," balas Alis.


"Dra cukup, kenapa kasar sekali." Arvin menendang balik.


"Soalnya oon, otaknya penuh kotoran. Kalau tidak tahu diam, jangan berisik."


Kanaya hanya diam saja, tidak banyak bicara karena tanpa sengaja Naya melihat daddynya Arvin, tapi tidak berani mengatakan karena menghindari kesalahpahaman.


"Jika Daddy kamu tahu, bagiamana Vin?" tanya Naya ragu-ragu.


"Kenapa memikirkannya secara tidak langsung dia juga bersalah sudah bermain kasar, ringan tangan kepada istri dan anak. Apapun alasannya tidak dibenarkan," ujar Andra yang tidak suka dengan sikap kasar Daddy Arvin.


"Tidak ada juga yang mengatakan tindakan benar, tapi kita tidak pernah tahu apa yang dirasakannya selama ini." Nay yakin pasti rasa penyesalan dan bersalah sudah menyiksanya.


"Aku tidak peduli soal Daddy, dia memang mencintai mommy, tapi dia juga yang menyakiti. Aku diam karena cukup cucu dan kakek yang berpisah, jangan sampai ayah dan anak juga." Avin tahu jika kakeknya tidak memiliki siapapun karena hanya memiliki satu anak.


Jika daddy meninggalkan maka hidup Kakek akan semakin hancur, ditinggal istri, cucu dan putranya. Arvin takutnya keadaan akan semakin kacau.


"Berapa banyak bodyguard kakek kamu, jika dia menyerang kita bangunan ini bisa jadi rata." Agra menggeleng tidak ingin membayangkan.

__ADS_1


"Kalian ini tidak ada yang ingin pulang, sudah larut malam?"


Suara Alis tidur menggorok terdengar, Prilly juga tertidur karena lelah bekerja belum lagi terkejut karena mendapatkan kabar soal mommy.


"Aku pulang duluan, Gra kamu tidur di rumahku saja," tawar Andra.


"Tidak Dra, Mama sendirian di rumah," tolak Agra secara halus.


"Aku ikut kamu Gra, soalnya nyaman tidur di sana." Avin melangkah pergi meminta Naya mengunci pintu.


Kepala Naya mengangguk, membiarkan ketiganya pergi, kepala Andra menoleh ke arah Nay yang melihat ke arah langit.


"Apa Naya melihat di daddynya Arvin," batin Andra di dalam hatinya karena sikap Naya sangat sulit ditebak.


"Dra, kenapa?" Arvin menarik tangan Andra agar masuk mobil.


"Tunggu dulu, kayanya handphone tertinggal di dalam." Andra berlari kencang balik lagi arah apartemen Naya, memanggil Naya agar segera membuka pintu.


"Kenapa balik lagi?"


"Jangan coba-coba maju, keluarga Arvin berbahaya. Kamu melihat Om Aan mendengar percakapan di depan," tebak Andra.


"Ayo pergi bersama Dra, kita coba hentikan. Kakek Arvin pasti akan menyakiti aku karena mencoba menghasut cucunya." Naya tidak ingin kejadian di kampus terulang kembali.


Helaan napas Andra terdengar, meminta waktu. Andra juga punya firasat tidak enak, tapi sekuat apapun kita tidak bisa datang tanpa persiapan." Andra meminta Naya mengikuti instruksinya.


Pintu langsung tertutup, hidung Andra terbentur membuat teriakkan kuat karena hidungnya berdarah.


"Kanaya, sakit!"


"Kenapa, aku tidak menyentuh kamu?" Nay menjulurkan lidahnya.


Pukulan kuat di pintu, jika Naya bukan perempuan sudah lama Andra lenyapkan. Nay membuat hidungnya hampir patah.


Pintu terbuka kembali, Naya menyentuh hidung Andra yang sakit. Mengusap darah yang keluar dari hidung.


"Dra, kenapa mulut kamu cerewet sekali?"


"May, kenapa kamu bar-bar sekali?" Andra langsung melangkah pergi karena kesal melihat Naya.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2