KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PERSIAPAN


__ADS_3

Di rumah Daddy sudah ramai, dia ingin pergi perjalanan bisnis dengan kurun waktu yang cukup lama. Tidak bisa berpisah lama dari istri dan putrinya sehingga dibawa, bukan berarti semua Putri ikut.


"Naya kamu tidak pergi ke kantor?"


"Tidak Dad, Naya libur satu bulan." Senyuman Naya terlihat memilih bajunya sesuai instruksi Mama.


"Perusahaan apa yang memberikan libur selama itu, apa kamu cuti menikah atau lahiran?" Daddy geleng-geleng pusing kepalanya.


Daddy melihat ke arah Erin, tidak perlu ditegur, pengangguran yang hobi keluyuran, Daddy sendiri tidak tahu pekerjaan Erin.


"Prilly, kamu tidak kerja?"


"Pril sudah berhenti," jawab Prilly.


"Oh, tidak mempersiapkan pernikahan?"


Kepala Prilly menggeleng, dia belum mengambil keputusan karena Andrean masih berada di luar kota.


"Alisha, kenapa tidak kerja?" Daddy menatap Alis yang tarik koper.


"Alis ini bos," balasnya sambil tertawa.


Mama ikutan tertawa mengusap punggung suaminya banyak sabar soalnya anak perempuan banyak.


"Jarang sekali para putri punya waktu," ujar Mama tersenyum manis.


"Siapa yang jaga mereka sayang, aku kerja bukan jalan." Daddy pusing pasti akan rusuh sekali.


"Kakak sudah besar semua Dad, Raya juga bisa jaga diri." Si kecil menarik koper mini ingin segera berkemas.


Kepala Daddy mengangguk, tidak bisa membantah putri kecilnya yang sudah mempersiapkan segalanya.


Tangan Daddy menunjuk ke arah Naya, memintanya menjauh dari yang lainnya karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


"Kenapa Daddy?"


"Bagaimana soal serangan di apartemen, Daddy sudah mengirim orang untuk berjaga-jaga?"


Senyuman Naya terlihat menjamin dirinya baik-baik saja hanya saja tidak nyaman jika penghuni lain terganggu.


"Apa dia dipecat Dad, Alis mengatakan jika dia kehilangan masa depan?"


"Para anak muda itu dikeluarkan karena memang tidak pantas sebagai aparat keamanan, jika mereka masih berulah Daddy pastikan akan membayar mahal perbuatannya." Bagi Daddy kenyamanan anak-anak paling penting.


Kepala Naya mengangguk, dia tahu jika Daddy tidak akan tinggal diam. Naya juga sedang malas untuk ribut.


"Dad, boleh Nay tanya sesuatu?"


"Tentu, ada apa Naya?"


"Daddy mengenal Syifra? Dia wanita yang selalu bersama Andra?"


Kerutan di kening Daddy terlihat, mencoba mengingat. Beberapa tahun yang lalu Daddy beberapa kali bertemu Andra, dia pengusaha muda yang cukup populer.


"Ada dua wanita yang mendampingi Andra, satu sekretaris dan satu lagi rekan kerjanya. Keduanya menjalankan bisnis bersama, Daddy lupa antara keduanya siapa yang bernama Syifra." Usia Daddy semakin tua sehingga sulit menghafal nama.


Sepengetahuan Daddy, rekan kerja Andra cukup tangguh karena mewarisi harta orangtuanya. Kabar yang Daddy dengar jika kedua orangtuanya meninggal kecelakaan, meninggal dirinya sendiri serta hutang yang bernilai besar.


Mengalami stres karena tagihan hutang membuatnya hampir bunuh diri, Andra yang datang menghentikan hingga membangkitkan kembali bisnis yang sempat gulung tikar untuk membayar hutang.


"Dia gadis baik, tapi suka menguasai. Daddy tidak terlalu suka melihatnya karena angkuh, tapi soal kerja diacungkan jempol." Kedua jempol Daddy terangkat masih mengakui kehebatan Naya.


"Terima kasih Daddy, Naya hanya ingin tahu soal wanita itu."


"Kenapa, kamu merasa percintaan dengan Andra kandas. Jangan menyerah dulu, jika masih bisa diperjuangkan lanjutkan." Daddy tahu jika Naya pernah menolak cinta kedua putranya.


Senyuman Naya malu, dia tidak ingin berjuang. Terlalu menyusahkan jika dirinya harus berjuang lagi setelah menunggu lama.


"Berkemas cepat, satu jam lagi kita ke bandara."


"Baik Dad, sekali lagi Nay ucapkan terima kasih." Langkah Naya pergi meninggalkan Daddy karena baru tahu jika Syifra memang berpengaruh untuk Andra.


Satu-persatu koper sudah disusun, supir mengangkut ke mobil untuk diantarkan ke bandara.


"Kalian ini mau pergi ke mana?" seorang pria tua berjalan menggunakan tongkat.


"Siapa kakek tua ini?" Raya menunjuk ke arah Kakek


"Dasar anak kecil kurang ajar beraninya kamu bicara begitu kepada orang tua." Kakek meminta diambilkan kursi.


Prilly bergegas mengambil kursi mempersilahkan duduk, Kakek terlihat sangat lelah.


"Di mana kursi roda Kakek?" tanya Erin menyerahkan minum.


"Dijual oleh perempuan sialan itu," jawab Kakek.


Tawa Erin langsung pecah diiringi oleh tawa Naya dan Alis yang terpingkal-pingkal mendengarnya, Prilly membalik badannya tersenyum menahan tawa.


Suara Raya tertawa terdengar melihat gigi ompong kakeknya karena gigi mahalnya juga hilang.


"Ayah, kenapa bisa ada di sini?" Daddy terkejut melihat ayahnya yang sudah lama tidak berkabar.


"Ar, belikan Ayah kursi roda baru soalnya semua harta Ayah habis, wanita itu menguras segalanya, gigi palsu juga dicuri karena ada emasnya," jelas Kakek meminta Daddy menuntut mantan istrinya.


"Sudah Ar katakan berhentilah menikah! Daripada uang habis untuk wanita, lebih baik disumbangkan. Ada banyak orang yang membutuhkan bantuan, kenapa Ayah tidak pernah mendengarkan Ar?" kemarahan Daddy memuncak karena tidak pernah mendengarkan ucapannya.


Jika belum jatuh miskin, habis uang, harta terkuras menolak untuk sadar. Daddy meminta Daddy pergi jangan membuat pusing.


Mama berlari keluar kamar, melihat suaminya mengusir pria tua yang seharusnya ada di luar negeri.

__ADS_1


"Daddy." Tangisan Raya terdengar takut melihat daddynya marah-marah tidak biasanya lelaki yang bersikap lembut bisa berubah.


"Ayah hanya minta kursi roda."


"Tidak mau, aku sudah lelah dengan sikap Ayah yang keras kepala dan egois." Kepala Daddy geleng-geleng menolak, menggedong putrinya yang menangis.


Mama meminta suaminya tenang, melihat Ayah pulang sudah melegakan, tidak perlu diusir hanya karena kehilangan harta dunia.


Mama membantu Ayah berjalan ke sofa, meminta maid merapikan kamar tamu agar Ayah mertuanya bisa istirahat.


"Sudah Dad jangan marah lagi," pinta Mama.


"Bagaimana tidak marah, kursi rodanya saja dijual, gigi emas juga bisa hilang, tidak habis pikir dengan otak Ayah."


Tangan Mama mengusap dada suaminya agar lebih sabar, marah tidak akan mengubah apapun.


Hati Daddy sedih, dia bahkan tidak sempat memperkenalkan Putri kecilnya karena Ayahnya sibuk jalan bersama istri habis uang ratusan juta, perusahaan satu-persatu dijual hingga harta terkuras habis.


"Belikan kursi roda, sakit pinggang Ayah."


"Iya Yah, nanti Mar yang beli." Senyuman Mama terlihat memesan kursi roda dengan bahan terbaik.


"Belikan saja kursi roda yang murah, Ayah akan berulah lagi jika sudah membaik." Daddy tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuk sesuatu yang tidak penting.


Kepala kakek mengangguk, menerima apapun yang diberikan, berjanji tidak akan menikah lagi.


"Anak kecil ini Putrinya Arvin?"


"Ini anakku, makanya pulang ke rumah sudah tua habis waktu bersama keluarga daripada orang lain," sindir Daddy sinis.


Kepala kakek mengangguk melambaikan tangannya kepada Raya yang tersenyum lebar menunjukkan giginya.


"Kalian ingin pergi ke mana?"


"Raya mau liburan Kek, Kakek mau ikut tidak?" Raya meminta kakeknya berkemas.


Tentu saja Kakek mau pergi, tapi sadar diri jika dirinya tidak bisa lagi melakukan perjalanan jauh, pinggangnya bisa patah.


Kepala Raya mengangguk, dia memaklumi bisa bertemu langsung saja suatu kebanggaan dan kehormatan. Selama ini Raya hanya bisa melihat foto, dan tidak tahu cara menyapa.


"Kakek diam di rumah, jangan nakal. Tunggu Raya pulang."


"Iya, jangan lupa beli banyak oleh-oleh, nanti lupa dengan Kakek karena asik jalan-jalan," tegur pria mengobrol dengan Raya.


"Bukannya Raya tidak mau, tapi siapa yang membeli bertanggung jawab sendiri. Raya tidak mau bawa banyak barang soalnya Raya masih kecil." Kepala Raya pusing dia juga harus memikirkan kedua kakak lelakinya yang tidak bisa pergi.


Seluruh koper sudah siap, Daddy meminta anak-anak kumpul berdoa untuk keselamatan. Berharap bisa pulang dan pergi dalam keadaan bersenang-senang.


Kedua tangan Naya terlipat, berharap bisa melepaskan sedikit beban perasaan kepada Andra dengan berlibur.


"Nay, lama sekali doanya, ayo ke bandara." Alis menegur Naya yang menganggukkan kepalanya bergegas mengikuti dari belakang.


Sampai di bandara langsung mengecek paspor, senyuman lebar Naya terlihat karena bisa lolos dengan mudahnya.


"Ini pertama kalinya liburan, apa akan menyenangkan seperti yang orang katakan?" Naya tersenyum manis tidak menyangka bisa


Pergi.


"Kak Naya jangan jauh dari Alis atau Erin, Kak Prilly juga," peringatan Alis terdengar.


Tawa Prilly terdengar, dia sering melakukan perjalanan saat Agra melakukan konser atau ada kerjaan di luar negeri, tapi hanya sebatas pekerjaan bukan liburan.


"Perjalanan cukup lama, sebaiknya tidur." Mata Erin terpejam memutuskan untuk tidur di dalam pesawat.


Tidak berselang lama Naya dan Alis terlelap, kepala keduanya beradu saling dorong saat tidur.


Perjalanan sepuluh jam terasa singkat karena diisi dengan makan tidur, Naya tidak sabar lagi bertemu dengan ranjang, di butuh tempat empuk agar bisa merilekskan tubuhnya.


"Naya Alis bangun, kita sebentar lagi landing," ucap Daddy membangunkan.


"Apa banding, siapa yang ingin bertanding?" Alis membuka matanya yang masih mengantuk." Suara tawa terdengar, tidur Alis ternyata sangat nyenyak hingga tidak kontrol ucapannya.


Satu-persatu turun dari pesawat, masih menunggu koper yang diambil oleh Daddy di tempat pengambilan koper.


"Ini koper kalian, ingat jaga barang masing-masing, harus bertanggung jawab dengan milik sendiri." Daddy membiarkan anak-anak mengambil kopernya.


Raya tidur di atas kiper, baru tahu jika bisa dinaiki. Naya juga duduk di atas kopernya, merasa kantuk sehingga memutuskan untuk memejamkan matanya.


"Awas Naya kena orang," tegur Daddy.


"Maaf Dad, Naya mengantuk sekali, bekerja bertahun-tahun akhirnya bisa liburan juga, rasanya masih tidak percaya." Senyuman Naya lebar.


Kepala Daddy mengangguk, tidak menyangka bisa menyenangkan hati dari pengacau yang sibuk bekerja sampai lupa makan dan tidur.


"Itu mobilnya, masukan koper kalian ke dalam secara perlahan," ucap Mama memberikan peringatan.


"Kita ke hotel sekarang, Alis butuh ranjang." Tubuh Alis joget-joget kesenangan.


Senyuman Daddy dan Mama terlihat, para wanita pergi liburan bukan untuk memanjakan diri, tapi tidur.


Perjalanan ke hotel tidak terlalu jauh, Naya melihat bangunan yang begitu tinggi menjulang hampir mencakar langit, sungguh ciptaan manusia luar biasa.


"Kita satu kamar saja Dad, bisa berempat." Naya mengambil kunci kamar untuk segera masuk.


"Oke, Daddy berikan kamar yang paling besar." Kunci kamar diserahkan kepada Naya yang menerima tidak sabaran.


Empat wanita berlari membawa koper masing-masing, kamar yang Daddy pilih memang sangat besar terlihat seperti Apartemen karena ranjang luas, tempat makan minum juga menonton sangat nyaman.


"Wow, lihat pemandangannya?" Prilly keindahan yang tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata karena sangat indah.

__ADS_1


"Aku sering ke luar negeri, tapi tidak menyenangkan seperti sekarang." Erin merasa bahagia bisa mengenal keluarga Daddy dan Mama.


"Ya Tuhan, anak berdua ini tujuannya memang tidur." Prilly melihat Naya dan Alis sudah tumbang.


"Cuaca dingin begini enaknya ramen." Beberapa bungkus ramen dikeluarkan, Erin menujukkan kepada Prilly yang kemungkinan juga ingin memakannya.


"Wow, makanan paling nikmat. Cepat masak Rin." Wajah bahagia terlihat membantu Erin membuat ramen.


Bau wangi ramen tidak berhasil membangunkan dua wanita yang mengungsi ke luar negeri untuk beristirahat.


Ketukan pintu terdengar, Mama meminta makan di restoran, tapi mencium bau ramen menyengat.


'Mama, mau ramen." Raya berlari masuk mengambil wadah untuk makan.


"Sehat sekali makanan kalian, cepat habiskan sebelum Daddy tahu." Senyuman Mama terlihat menatap Putri kecilnya meniup kepanasan.


Prilly menyuapi Raya, menjaganya agar bisa menikmati ramen tanpa terburu-buru. Makan harus menikmati.


"Raya mau telur?"


"Mau," jawabnya cepat.


Mulut Raya terbuka lebar, mengunyah makanannya dengan lahap, Erin duduk bersembunyi tidak mengizinkan Raya mengambil miliknya.


"Ya tuhan perempuan dua ini benar-benar tidur?" Mama mengusap kepala Naya dan Alis yang sudah berada di alam mimpi.


Tawa di meja makan terdengar, Raya joget-joget keenakan. Dia sangat menyukai ramen, tapi daddynya tidak mengizinkan mengkonsumsi makanan instan.


"Ma, kenapa tidak pernah melarang Raya memakan apapun, biasanya sosok ibu yang melakukannya?" tanya Prilly karena dia sedang menata hati untuk siap berumah tangga.


"Bukan Mama tidak melarang, tentu sebagai ibu prioritas kesehatan anak paling utama, tapi apa boleh buat Daddy sudah melarang, maka Mama mengizinkan selama wajar." Menjadi seorang ibu bukan hanya bertugas membesarkan anak, tapi mendidik dan mendisiplinkan, namun bukan membuatnya tertekan.


Mama tahu sebagai wanita normal Prilly ingin segera menikah, dan yakin dengan pilihannya, tapi bukan hanya soal pernikahan, siap tidak menjadi sosok ibu atau sulit menjadi seorang ibu, selain kesiapan lahir batin mental juga harus dijaga.


"Prilly akan membatalkan pernikahan dengan Andrean, Ma?"


"Kenapa, dia anak baik Pril?" Mama kaget mendengarnya.


Kepala Prilly mengangguk, tentu dirinya tahu jika Andrean baik, masalahnya Prilly tidak ingin menikah, tapi hatinya mencintai pria lain.


"Kamu memilikinya, menikahlah dengan lelaki yang kamu cintai?"


"Mama mengizinkan? Prilly tahu kita berbeda dari banyak segi, tapi Prilly mencintainya sejak lama, rasanya ingin sekali dia membalas dan memperjuangkan Pril," ujar Prilly malu mengatakan jika dirinya lancang mencintai Agra.


"Apa Agra belum peka?" tawa kecil Mama terlihat, dia tahu jika perasaan Prilly masih sama seperti dulu, mencintai anaknya meksipun mendapatkan kebencian darinya.


Kepala Prilly tertunduk, merasa tidak enak bicara langsung dengan Mama yang begitu memprioritaskan Agra.


Sentuhan tangan Mama lembut, mendukung keputusan Prilly, dia harus mengumpulkan kesabaran agar bisa menikah, Agra pria bodoh yang tidak menyadari perasaannya selama bertahun-tahun.


"Mama mengizinkan?"


"Kenapa tidak, Mama bahagia jika menantunya secantik ini," puji Mama penuh rasa kagum.


"Habis." Raya meletakkan bekas ramen karena sudah kosong.


Erin melongok melihat obrolan dua wanita, mendekati Mama meminta restu agar bisa menikahi Arvin, dia juga ingin menjadi menantu Mama.


"Jangan Arvin, Rin. Dia tidak mencintai kamu," tegur Mama gemes.


"Terus, Erin sama siapa?" wajah sedih terlihat menujukkan kekecewaan.


Kepala Mama menggeleng, menitipkan Raya kepada empat wanita karena Mama ingin mendampingi Daddy bertemu rekan kerjanya.


"Mama buru-buru sekali, pasti dia mau membuat adik untuk Raya," tebak Erin sembarangan.


"Jaga mulut Erin dia orang tua yang memiliki kesibukan, tidak ada waktu memikirkan soal isi otak kamu," tegur Prilly dengan nada keras.


Tawa Erin terdengar, Prilly terlalu polos dia tidak tahu saja jika hotel menjadi tempat main kuda-kudaan, Erin juga ingin menikah agar bisa bermain kuda-kudaan seperti Itang lain.


Pasti sangat menyenangkan memiliki pasangan yang bisa diajak bercinta tiap saat. Sebagai wanita dewasa tentu butuh belaian.


"Jaga ucapan, ada Raya."


"Memangnya Raya mengerti, tontonan dia saja masih film kartun." Senyuman Erin terlihat duduk di samping Raya yang tersenyum manis kepadanya.


Dua orang saling tatap dengan senyuman lebar, nampak manis dan mempesona. Raya tertawa terpingkal-pingkal menonton televisi membuat Naya terbangun.


"Tolong masukkan dia ke dalam rahim, berisik." Naya menatap tajam lanjut tidur lagi.


Raya naik ke atas ranjang, memukul Naya menggunakan bantal sofa, sengaja memintanya bangun. Alis yang terbangun tarik selimut mengabaikan Raya yang mulai aktif.


"Kakak Naya bangun, perut Raya sakit mau pun," pintanya memegang perut.


Kanaya langsung berdiri di atas tempat tidur, menarik tangan Raya ke kamar mandi, membukakan celana.


"Tungguin ya."


"Sialan ini anak kecil tidak mengerti orang mengantuk, ada Prilly dan Alis berserta Erin, tapi Naya yang diminta menemani." Mata Naya terpejam duduk di atas wastafel.


Suara tawa Raya sudah terdengar di rumah tamu, dia sengaja membuat Naya tidur di kamar mandi, membohonginya soal sakit perut karena Naya tidak meladeninya bermain.


"Raya, sialan. Kenapa kamu jahil sekali?" Naya menarik pintu yang dikunci dari luar.


Pintu terbuka, lidah Raya terjulur mengejek, lari kencang menyelamatkan dirinya dari kemarahan Naya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


***


__ADS_2