KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENYERAH


__ADS_3

Awalnya pertengkaran Arvin dan Alis terdengar lucu, lama-lama seperti kucing dan anjing sampai Naya tidak bisa menelan makanannya.


"Apa yang kalian ributkan?" Prilly datang membawakan buah.


"Kenapa kamu di sini Pril?" tanya Naya karena sepengetahuan Naya selalu mengikuti ke manapun Agra pergi.


"Dia sudah dua hari di sini," balas Alis memberitahukan jika Prilly sudah mengundurkan diri.


Semuanya terkejut karena Prilly sudah meninggalkan Agra, di luar dugaan Arvin karena selama ini Prilly nampak sangat bahagia bisa bekerja dengan Agra.


"Kenapa tiba-tiba sekali Kak Pril?"


"Sebenarnya sudah lama Gra, tapi aku masih ingin membantu Agra, sekarang dia sudah menjadi bintang yang bersinar diantara bintang lainya, ada banyak bodyguard yang menjaganya, sudah waktunya mundur." Prilly juga ingin memiliki kehidupan pribadi bukan hanya membebani Agra.


Perasaan Arvin sedih mendengar ucapan kakaknya, wanita paling kuat selain Naya yang dirinya kenal. Avin tahu jika Prilly sangat mencintai Agra namun kesuksesan Agra membuat batasan juga jarak dan status semakin jauh.


"Kenapa perceraian kalian semuanya rumit satunya harus berakhir karena ada yang lebih dicintai, sedangkan satunya harus pamit karena tidak mmapu lagi digapai," batin Arvin yang lelah melihat kisah cinta tidak berujung.


"Sekarang apa rencana kamu?" tanya Naya yang menghentikan makannya.


"Aku aka menikah Nay, menikahi seseorang yang jauh dari kepopuleran, jauh dari kemewahan, aku memilih hidup sederhana," ucap Prilly yang sangat yakin dengan keputusannya.


"Tidak semudah itu Kak, sekaya apapun seseorang dia bisa hidup sederhana, tapi pria yang bertanggung jawab dibutuhkan. Harta memang tidak menjamin segalanya, tapi tanggung jawab membuatnya menjadi pekerja keras, jujur, berani, siap dengan segala resiko, sederhana saja tidak cukup." Alis merasa pikiran Prilly terlalu terburu-buru.


"Lebih tepatnya itu malas, seorang lelaki yang mencintai wanita tidak mungkin membiarkan hidup dalam kesederhanaan, berjuang untuk mencukupi segala kebutuhan." Kanaya tidak sependapat dengan Prilly yang terlalu cepat mengambil keputusan.


"Bicara dulu dengan Daddy dan Mama, jangan asal menikah." Suara lembut Arvin terdengar tidak ingin Prilly mengambil resiko.


Kepala Prilly mengangguk, sebenarnya pria yang akan dinikahinya pilihan Daddy dan Mama, dia lelaki yang bekerja di perusahaan Daddy salah satu orang kepercayaan.


Tiga orang terkejut, ternyata ucapan Daddy sebelumnya benar akan menjodohkan Prilly dengan orang yang sangat dipercaya.


"Aku pamit ke toilet dulu, kalian lanjutkan." Arvin melangkah pegi ke tempat duduk lain yang nampak kosong.


Arvin menghubungi Agra yang tidak lama langsung menjawab panggilan, Arvin ingin tahu tanggapan Agra soal perjodohan Prilly.


"Ada apa Vin?"


"Aku mendengar kabar, Kak Prilly mengundurkan diri?"


"Siapa yang mengatakan, aku tidak tahu," ucap Agra nampak terkejut.


Arvin menceritakan apa yang baru saja dirinya dengar tidak mungkin hanya sekedar candaan semata, Prilly tidak mungkin asal bicara, apa yang dikatakannya sudah pasti faktanya.


Kepala Agra menggeleng, dia tidak tahu menahu, beberapa minggu ini jadwal Agra sedikit renggang karena dia ingin berlibur.


Baru saja Agra sampai kantor, berjalan ke arah dalam untuk menemui timnya karena ada pemotretan untuk brand ambassador.


"Kak, di mana Prilly?" tanya Agra yang mencari keberadaan Prilly.


"Dia sudah mengundurkan diri satu minggu yang lalu sudah berusaha dibujuk bahkan tawarkan kenaikan gaji," jelas manager yang tidak mampu menahan Prilly tetap dengan keputusan untuk berhenti.


Suara tinggi Agra terdengar, pertama kalinya dia bicara kasar di depan banyak orang sampai mengejutkan.


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku, Prilly itu pengawal pribadi juga asistenku, bagaimana bisa aku jadi yang terkahir tahu." Agra marah besar kepada tim yang tidak memberikan informasi apapun.


Jadwal Agra akan segera padat, tidak ingin menganggu pikiran dengan hal yang tidak terlalu penting.


Pukulan di atas meja kuat sampai tangan Agra berdarah. Baginya Prilly sangat penting, tidak bisa diukur dengan apapun.


"Lakukan segala cara agar Prilly kembali, jika tidak aku menolak bekerja sampai dia kembali," ancam Agra yang tidak tenang memikirkan ucapan Arvin.


"Gra jangan seperti ini kepada kita, selesaikan dulu pemotretan hari ini,'' pinta salah satu staf.


"Mood aku tidak baik, dan hasilnya juga tidak mungkin bagus." Agra tetap pergi tanpa peduli dengan suara yang memanggilnya.


Beberapa kali Agra mencoba menghubungi Prilly, tapi tidak mendapatkan jawaban. Terasa sekali jika Prilly mecoba menghindari Agra.


Suara ponsel yang berdering menganggu telinga Naya dan Alis, meminta Prilly menjawab.


"Pasti panggilan dari Kak Agra, dia pasti tidak tahu Prilly berhenti." Alis geleng-geleng kepala karena Prilly tidak tahu jika Agra marah sangat menyeramkan.


"Angkat saja," tegur Naya.


"Aku bukan staf dia, tidak harus terburu-buru menjawab, jika bukan hal penting. Seharusnya dia mengirimkan pesan terlebih dahulu." Senyuman Prilly terlihat tidak ingin ambil pusing.


Helaan napas Naya dan Alis terdengar, terkadang wanita jika sudah lelah memilih untuk menjauh dan mengabaikan karena hatinya menyerah.


"Kamu mau pergi ke mana Nay?"


"Ada pekerjaan di luar kota, tapi sekarang nyangkut ulah Arvin kelaparan." Nay mengecek jam yang tidak sesuai ekspektasinya.


Tidak lama Arvin muncul, melihat nama Agra tertera di ponsel Prilly, tapi tidak mendapatkan jawaban.


"Vin, kita berangkat sekarang, sore nanti ada meeting." Makanan yang masih tersisa dibungkus untuk makan di mobil.


"Buat apa?" Alis menatap sinis sudah menjadi orang kaya saja tetap bungkus makanan.


Tawa Kanaya terdengar, sekaya apapun dirinya, semewah apapun tempat makannya, bagi Naya tidak boleh membuang makanan.


"Pril ikut ya," pintanya kepada Naya.


"Boleh, ayo pergi."


Alisha juga berdiri, berjalan di belakang Arvin, melihat Dokter muda membayar tagihan. Beberapa wanita mentap ke arah Arvin yang sangat manis.


"Lamanya, cepatlah." Mata Alis melotot meminta kasir memproses pembayaran.


Kepala Arvin menoleh ke belakang, menatap gadis yang tersenyum ke arahnya. Alis menjinjit merapikan rambut Arvin.

__ADS_1


"Kenapa Alis pendek sekali, hanya sampai ketek Kak Arvin." Tangan Alis mengukur kepalanya yang sampai di dada Arvin.


"Terima kenyataan saja jika memang pendek, tidak ada cara lagi untuk meninggikan karena sudah tua." Arvin berjalan pergi diikuti oleh Alis yang bergelantungan di tangannya.


Seseorang memanggil Arvin, kepala Alis menoleh lebih dulu. Melihat seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka.


"Dokter Lolly," sapa Arvin menjabat tangan.


"Kenapa Dokter Arvin ada di sini, bukannya masih tugas di luar?"


Tatapan mata Alis tajam merasa banyak tanya, jika ada di depan mata berati sudah tidak kerja terlalu banyak basa-basi.


Kepala Arvin menggeleng, dia sudah pindah tugas, dan mulai aktif kembali bulan depan. Bertahun-tahun tanpa libur membuat Arvin memilih untuk meluangkan sedikit waktu.


Kerutan kening Alis terlihat, Arvin tidak harus menejelaskan, terlalu banyak percakapan tidak penting.


"Siapa Vin?"


"Apa aku terlihat seperti pembantunya Arvin?"


"Dia adikku, Alisha."


"Sejak kapan aku menjadi adik kamu? Tidak mau." Alis menarik tangan Arvin untuk keluar dari restoran.


Tangan Alis ditepis, Arvin merasa aneh ditarik oleh gadis pendek. Alis balik lagi ke dalam restoran, masuk ke ruangan kerjanya mengambil high hells tinggi agar bisa seimbang dengan tingginya tiang listrik.


"Alis cepat, kita mau berangkat," panggil Naya dari pesan suara.


"Sabar, ini sudah ke parkiran. Mana mobilnya?" Terlalu banyak mobil yang terparkir membuat Alis binggung.


"Cepat masuk," panggil Arvin yang memarkirkan mobilnya di depan Alis.


Seenyuman Alis terlihat, membuka pintu belakang duduk bersama dua wanita yang sedang asik mengobrol.


"Kenapa aku sendirian, kalian pikir supir?"


Tawa tiga wanita terdengar, mengiyakan jika satu hari Dokter Arvin menjadi supir pribadi. Terpaksa Arvin ddiam saja mendengar obrolan.


"Ceritakan pada Alis soal pria itu, siapa namanya?"


Wajah Prilly memerah, merasa malu menceritakan karena keduanya baru bertemu beberapa kali.


Telinga Arvin terasa panas, melihat ponselnya mendapatkan panggilan dari Agra, menjawab membiarkan Agra mendengar suara berisik dari kursi belakang.


"Namanya Andrea Pirlo, dia petarung hebat, wajahnya cukup tampan, pribadinya baik, dan dia pekerja keras. Hubungan dengan Daddy juga baik, dan Mama mengizinkan." Prilly juga merasakan kenyamanan bersama Andre.


"Apa dia lebih ganteng dari Agra?"


"Pastinya ganteng Agra, Naya, tapi tahu sendiri perawatan Agra perbulan ratusan juta, dia harus terlihat sempurna di depan layar kaca." Ketampanan tidak bisa dibandingkan, Prilly mengakui jika Agra terlalu di atas.


Mendengar ucapan Prilly membuat Agra sadar jika dirinya sudah terlalu di atas, apa yang dirinya kejar suda terlalu tinggi. Hingga kehilangan jati dirinya.


Kepala Prilly nongol, sungguh tidak habis pikir dengan Arvin yang memiliki pikiran ingin menyatakan perasaan kepada Agra.


Seseorang yang memiliki kekayaan setengah dari dunai tidak mampu membawa Agra datang kepadanya, lau bagaimana dengan Prilly.


"Sasaran kamu gila Vin," tegur Prilly yang tidak habis pikir.


"Dar tadi pagi saran Arvin selalu begitu meminta kita menyatakan perasaan, sungguh aneh, tapi nyata dia pikir menyatakan perasaan semanis permen." Kanaya geleng-geleng kepala tidak paham dengan pikiran Arvin.


"Memangnya Kak Naya ingin menyatakan cinta kepada siapa?" tatapan Alis serius karena dia tidak pernah dapat kabar jika Naya menyukai seseorang.


Senyuman Naya terlihat, menggelengkan kepalanya karena Alis tidak perlu tahu. Perasaan yang lama Naya pendam akan segera menghilang.


Keadaan tidak mampu dikendalikan, begitupun hati manusia, segala perjuangan tidak akan mudah berakhir dengan kebahagiaan.


"Arvin sarankan untuk tidak terburu-buru, jangan fokus karena usia."


"Baiklah, lihat keputusan Daddy saja, aku ikut apapun yang Daddy inginkan." Prilly pindah duduk di samping Arvin yang mengangguk pelan.


Dua wanita di belakang sudah terlelap tidur, Arvin bicara bersama Prilly sebagai adik tidak ingin kakaknya menikahi pria yang tidak bisa diandalkan.


Meskipun Daddy dan Mama setuju, tapi yang menjalani hubungan bukan kedua orang tua. Tidak mungkin Prilly akan lepas dengan muda jika sudah terikat pernikahan.


"Usiaku tidak muda lagi Vin aku ingin tinggal di rumah sederhana, memiliki anak dan menunggu suami pulang."


"Jadi pembantu saja, rawat anak kucing, tunggu mama kucing pulang." Arvin tidak mengizinkan Prilly menikah karena dia tahu cinta kakak angkatnya ada pada siapa.


Tawa kecil Prilly terdengar, meminta Arvin menjaga ucapannya. Impian seindah itu tidak disetujui.


"Kita sudah sampai, Kanaya belum bangun." Kepala Arvin menoleh ke belakang.


"Bagaimana perasaan kamu kepada Naya, apa bisa dilupakan?"


Kepala Arvin mengangguk dia juga tidak percaya perasan itu benar-benar bisa dirinya lepaskan, hati yang begitu tulus mencintai mampu melupakan.


"Apa ada kemungkinan kamu akan memilih Naya?


"Mungkin saja, Naya salah satu kriteria Arvin, dan aku menyukainya juga mengenal baik dirinya, masalahnya hati Kanaya masih milik orang lain." Demi kebahagian Naya, Arvin tidak akan memaksa karena dia berhak bahagia.


Senyuman Prilly terlihat, dia sangat bangga kepada Arvin, caranya mencintai seseorang sungguh dewasa.


"KaK Alis melakukan hal yang sama, tidak mungkin bersama, dan membiarakn cinta yang tulus bersemayam di dalam lubuk hati terdalam. Sudah waktunya untuk melepaskan Vin, menyatakan tidak mampu maka ini pilihan terbaik." Selama ini Prilly percaya apapun yang Arvin katakan demi kebaikan, pertama kalinya Prilly berharap keputusan untuk menikahi pria lain mendapatkan restu dari adik lelakinya.


Mendengar ucapan Prilly membuat Arvin sedih, dia sadar jika ucapan Prilly serius. Sebagai anggota keluarga seharusnya saling mendukung.


"Baiklah, nanti kita temui pria itu bersama-sama." Arvin tidak ingin melukai Prilly dengan penolakannya.


Pintu mobil terbuka, Kanaya terbangun melihat Arvin mengulurkan tangannya. Suara Naya membangunkan Alis terdengar karena sudah sampai hotel yang dituju.

__ADS_1


"Aku masuk duluan, wanita satu itu tidak bangun sebelum tidur delapan jam." Naya melangkah masuk bersama Prilly yang terbiasa mendampingi Agra tiap perjalanan.


Seorang pelayan menyapa Naya dan Prilly senyuman keduanya terlihat mengambil kunci kamar agar segera siap-siap.


"Apa rasanya nyaman Pril jauh dari Agra?"


"Nyaman tidak nyaman, aku harus melakukannya Nay. Agra bukan anak kecil lagi, ada banyak orang yang akan menjaganya." Keputusan sudah bulat tidak ingin lanjut bertahan.


"Bagaimana dengan hati?"


Tangan Prilly menyentuh dadanya, bohong jika dirinya tidak merasakan sakit. Berpisah setelah bekerja selama kurang dari delapan tahun bukan waktu yang sebentar.


Selama ini memang tidak pernah mengakui perasaannya, bahkan Prilly masih tidak percaya dengan perasaannya yang lancang menyukai sesuatu yang sejak awal tidak mampu dimiliki.


"Sudahlah Nay, aku tidak ingin membahas lagi," ucap Prilly.


"Jawab panggilan Agra, jelaskan jika sudah waktunya berhenti, jangan menghilang seakan Agra punya salah, dia hanya tidak bisa membalas perasaan." Naya tahu apa yang Prilly cemaskan, dia takut tidak sanggup pergi.


Kepala Prilly mengangguk, dia akan menjawabnya, menjelaskan kepada Agra jika sudah waktunya dirinya berhenti kerja.


"Bagaimana dengan kamu dan Andra?"


"Ada apa?" Naya menghentikan langkahnya.


Senyuman Prilly terlihat, dia tahu selama ini Naya menunggu kepulangan Andra, berharap bisa memiliki hubungan yang lebih baik.


Sayangnya Andra meletakkan kekecewaan, dia kembali bukan demi Naya, tapi ambisi bisnisnya yang sangat besar.


"Orang seperti itu belum merasakan jatuh cinta, sesibuk apapun seorang pria saat jatuh cinta lupa dengan kesibukannya karena berusaha meluangkan waktu," ucap pelayan yang mengantar Naya dan Prilly.


Wajah terkejut dua wanita terlihat, tapi ada benarnya juga. Buktinya Daddy yang terkenal jahat, kejam, bisa sangat lembut kepada wanita, dan mengikuti apapun nasihat istrinya.


"Lelaki itu tidak bisa diminta berubah, hanya ada dua pilihan mengubahnya. Satu ditinggalkan, dua dia berniat mengubahnya."


"Ditinggalkan?" Prilly mengerutkan keningnya.


"Ya, tinggalkan jika tidak mampu lagi ditahan. Jika cinta dia akan mengejar, tapi jika tidak maka berakhir semuanya." Pintu kamar dibuka, pelayan mempersilahkan masuk.


Tangan Naya berjabatan, memberikan sedikit uang jajan karena pikirannya sedikit terbuka setelah mendengar sedikit pencerahan.


Di kamar Naya langsung mandi untuk persiapan meeting, Prilly tiduran di ranjang menatap ponselnya.


"Jawab tidak ya," gumam Prilly ragu.


Panggilan dijawab, tidak terdengar suara Agra, perasaan Prilly langsung cemas takut terjadi sesuatu kepada Agra.


"Gra, kenapa diam?"


"Kenapa kamu berhenti tanpa diskusi? minta libur aku kasih, mau ke mana saja tidak pernah dilarang, apa mengikuti aku begitu sulit?" Agra yakin bukan masalah gaji karena Prilly memiliki sikap yang selalu merasa cukup.


"Tidak, tapi ada kalanya aku harus berhenti ...."


"Tanpa pemberitahuan, apa hubungan kita hanya sebatas bos dan bawahan?" tanya Agra dengan nada pelan.


Naya yang sadar jika sedang ada pembicaraan serius memilih diam, berjalan perlahan memoles wajahnya, membuka koper saja tidak mengizinkan ada suara terdengar.


Terdengar sayup-sayup Agra marah besar, Prilly hanya diam saja tidak menimpali. Wanita paling sabar yang Kanaya kenal, tidak pernah meninggikan suara padahal kemampuan bela diri Prilly sangat tinggi.


"Matikan saja panggilannya, aku hapus nomor kamu," ucap Agra terakhir kalinya.


"Maafkan aku Gra," balas Prilly yang ingin mematikan panggilan, tapi Naya menahannya.


Ponsel diletakkan di atas tempat tidur, mulut Prilly ditutup agar tidak banyak tanya. Naya menariknya sedikit menjauh.


"Jangan dimatikan," tegur Naya.


"Dia yang minta." Prilly tidak memiliki pertanyaan apapun, apalagi Agra memintanya keluar dan tidak pernah muncul.


Helaan napas Naya terdengar, Prilly dan Agra sama-sama tidak peka, padahal saling menyimpan rasa.


"Kamu di mana?" tanya Agra dari balik telepon.


Senyuman Naya terlihat, meminta Prilly menjawab. Emosi Agra sudah mulai reda karena panggilan tidak dimatikan.


"Aku di luar kota ...." Belum selesai Prilly menjawab, kemarahan Agra terdengar kembali, Naya tepuk jidat.


Tuduhan terdengar, Agra mengira Prilly pergi dengan lelaki yang Daddy jodohkan. Naya mengambil ponsel meneriaki Agra.


"Dia bersamaku, jangan bicara sembarangan yang menyebabkan ribut."


"Berikan ponselnya kepada Prilly, lebih baik kamu meeting saja agar bisa mengalahkan kekasihnya Andra."


Tawa Prilly terdengar menatap Naya yang juga dimarah, panggilan langsung Naya matikan karena Agra membandingkan dengan pacarnya Andra.


Gedoran pintu terdengar, Prilly berjalan ke pintu melihat Alis masih tidur. Arvin melempar tubuh kecil Prilly di atas tempat tidur.


"Gila ini perempuan, aku mati-matian membangunkan dia, tapi tidak ada pergerakan." Kepala Arvin geleng-geleng sambil elus dada.


"Kenapa tidak ditinggalkan di mobil saja, saat kepanasan pasti bangun." Naya menatap Arvin yang bodoh sendiri, sibuk membangunkan seseorang yang tidak punya niat bangun.


Tubuh Arvin terkulai lemas, jika dia tahu sudah lama ditinggalkan, tidak perlu debat dengan resepsionis yang melarang Arvin masuk.


"Aku capek gendong dia, rasanya membawa satu ekor sapi. Badan kecil, tapi beratnya luar biasa." Tangan Arvin terasa sakit karena kebodohan dirinya sendiri.


Alis jika tidur sulit bangun, kecuali panas dan sudah delapan jam. Terlalu banyak begadang membuatnya lupa diri.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2