
Panggilan Mama terdengar, meminta Naya, Alis, Erin dan Prilly menjaga Raya. Mama dan Papa akan pergi bersama Daddy untuk pergi ke pesta rekan bisnisnya.
"Kita tidak diajak Ma?" tanya Erin yang lemas.
"Tidak, kalian main saja di kolam renang, atau pergi ke mall." Mama menyerahkan kartunya untuk digunakan.
"Baiklah, ini yang paling kita tunggu." Erin menyambut kartu, tapi tangannya dipukul oleh Mama.
"Biarkan Prilly yang memegang kartu, Mama tidak percaya jika Erin ataupun Arin, dua-duanya sama saja suka membeli yang tidak penting," tegur Mama melangkah pergi.
Tawa Naya terdengar melihat mimik wajah Erin dan Arin yang mayun setelah dilarang memegang kartu ATM milik Mama.
"Kasihan deh Lo, makanya jangan suka menghambur-hamburkan uang." Raya menegur dua wanita yang meliriknya sinis.
Cuaca luar negeri sedang dingin, para wanita menggunakan mantel tebal untuk pergi ke luar hotel, hal utama yang dilakukan pastinya mencari makan.
"Siapa yang tahu tempatnya?" Prilly menatap Alis yang angkat tangan.
Dia tahu lokasi makanan enak karena pernah tinggal beberapa minggu di luar negeri. Mencari aneka masakan yang populer untuk mempertahankan restoran dengan banyaknya menu sehingga pelanggan tidak bosan.
Di depan hotel mobil sudah menunggu, Naya berjalan ke mobil sambil mengandeng tangan Raya.
"Kak Naya pernah ke luar negeri, tahu apa saja soal luar negeri?"
"Lihat tanda itu, artinya area parkir," ucap Naya pelan.
"Dasar bodoh, Raya juga tahu." Cepat Raya masuk mobil.
Perdebatan Naya dan Raya terdengar, Prilly menatap keduanya yang suka bersama, tapi tidak pernah akur ada saja yang diperdebatkan.
Naya tidak pernah mau mengalah kepada Raya, begitupun sebaliknya yang kecil tidak ingin mengalah dari yang tua.
Perdebatan yang mengingatkan Prilly soal Andra dan Naya, keduanya juga tidak pernah akur.
"Kakak Naya jangan dekat-dekat," bentak Raya.
"Geserlah geser, sempit ini sempit." Naya mendorong Raya pelan.
Tangan Prilly menahan Raya memeluknya lembut agar tidak bertengkar. Naya tersenyum menatap gedung tinggi, memperhatikan keindahan bangunan yang diciptakan oleh manusia.
Meksipun hidup di kota besar indah, tetap saja Naya merindukan kehidupan di tempat yang tenang, udara segar.
"Kita belanja dulu, soalnya tempat makan dekat dengan pusat pembelanjaan." Alis bicara menggunakan bahasa luar memberikan arahan kepada supir.
"Seriusan Lis kita belanja di sini? ini merek mahal." Nay ragu untuk masuk.
"Sesekali menikmati uang harus Kak, jangan kerja banting tulang, tapi tidak bisa dinikmati." Alis masuk diikuti oleh Erin yang sama-sama gila shopping.
"Kita tunggu di mobil saja Nay, pergi ke sini mewah, pulangnya kita gelandangan." Kepala Prilly menggeleng karena tidak suka dengan belanja yang menghabiskan banyak uang.
Senyuman Naya terlihat, melangkah masuk. Mengandeng tangan Raya yang sudah lari-larian mencari baju.
"Beli yang paling murah saja Kak Prilly," pinta Naya karena sudah terlanjur datang.
"Paling murah delapan puluh juta, ini dolar Naya." Tangan Prilly elus dada karena harga baju, tas, sepatu melambung tinggi.
"Kakak Naya ini buta Kakak Vin, ini Kakak Gaga, ini untuk Kakak ganteng, Mama and Daddy." Raya menumpukan pakaian.
Kerutan di kening Naya terlihat, heran melihat baju yang berukuran besar bisa masuk untuk tiga orang. Raya memang keterlaluan membeli baju raksasa.
"Raya, ini kebesaran." Naya mengembalikan dan memilih ulang.
"Udah pas itu, buat Kakak Naya ini kebesaran, ukuran cowok sama cewek beda."
Helaan napas Naya terdengar, ucapan Raya tidak salah memang benar jika ukuran cowok dan cewek berbeda.
__ADS_1
Raya lebih tahu ukuran baju kakaknya karena tiap bulan selalu berbelanja bersama Mamanya, jika Raya beli baju maka kedua kakak lelakinya juga wajib dibelikan.
Tumpukan belanjaan tinggi, Kanaya geleng-geleng melihat banyaknya paper bag yang harus dibawa.
"Kak Prilly bayar," pinta Erin.
"Bayar masing-masing, rencana kita makan bukan belanja. Sekalian bayar punya Raya, aku tunggu di restoran depan," ucap Prilly melangkah pergi membuat beberapa wanita yang memegang paper bag masing-masing melongok.
Hal yang seharusnya mereka cemaskan jika berurusan dengan Prilly, dia tidak akan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang berlebihan.
"Asli pulangnya jadi gembel, bukan banting tulang, tapi jual ginjal." Alis terpaksa mengeluarkan kartunya.
Tawa Naya terdengar, melihat Alis dan Erin bagi dua untuk membayar belanjaan Raya. Senyuman Raya terlihat karena dia tidak keluar modal.
"Kak Prilly wanita paling kejam di dunia ini," umpat Erin yang kesal.
"Makanya belanja seperlunya saja." Naya memasukkan belanjaan Raya ke dalam mobil.
Di restoran cukup ramai, Prilly meminta ruangan VIP agar bisa makan dan istirahat dengan nyaman setelah lelah berbelanja.
Makanan yang dihidangkan sangat lezat, Naya terkagum-kagum melihatnya karena makanan menjadi obat dari rasa lelah bekerja.
Suara ponsel Naya berdering terdengar, lama Naya tidak menjawab karena dia lebih mementingkan makan.
"Halo, siapa ini?" tanya Raya sambil mengunyah makanannya.
"Ray, di mana Kakak Naya?" suara yang sangat Naya dan Alis kenal, apalagi ponsel di speaker sampai terdengar jelas.
"Andra." Naya merampas ponsel mematikan speaker menjawab panggilannya dengan ekpresi kesal.
Permintaan Andra membuat Naya hampir jantungan, Andra biang masalah. Nay langsung menolak karena tidak bekerja.
"Jemput di bandara sekarang," pinta Andra.
Tangan Andra meremas ponselnya, duduk santai menatap beberapa orang yang berlalu lalang.
"Seriusan dia tidak menjemput aku?" Andra geleng-geleng tidak habis pikir.
Beberapa mobil berhenti menanyakan tujuan Andra, tapi dia menggeleng tidak akan pergi sebelum Naya datang.
Hampir tiga puluh menit menunggu, suara teriakkan Naya terdengar hampir melempar kepala Andra menggunakan sepatu.
"Kenapa hanya duduk diam, padahal ada banyak mobil berlalu lalang?"
"Aku meminta Lo yang datang," balas Andra berdiri dari duduknya.
"Andra sialan, kenapa kamu ada disini?" Naya berharap tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Senyuman Andra terlihat, di mana kakinya menginjak maka di sana dirinya menghasilkan uang. Andra tidak akan pergi jika bukan pekerjaan.
"Mulai hari ini dampingi aku meeting," pinta Andra yang langsung memutuskan Naya sebagai sekretarisnya.
"Gila, tujuan datang ke sini liburan! Jangan harap aku pergi." Kanaya melangkah lebih dulu diikuti Andra yang cengengesan.
Sampai di mobil tangan Naya ditarik. Andra membungkuk tubuhnya meminta sopir segera kembali karena Naya akan pergi bersamanya.
"Ini Pak, terima kasih sudah mengantar wanita pemarah ini," ucap Andra tidak lupa memberikan sedikit uang jajan.
Tawa pelan sopir terdengar, menganggukkan kepalanya melaju pergi karena pasangan sedang bertengkar.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa mobilnya pergi?"
"Bagaimana kamu bisa liburan, tapi tidak mampu berkomunikasi dengan mereka?" Andra meggunakan bahasa yang tidak Naya mengerti.
Sebuah mobil berhenti, kunci mobil diserahkan kepada Andra. Tanpa bisa bertanya tubuhnya sudah didorong ke dalam mobil.
__ADS_1
"Mau ke mana? Bagaimana jika yang lain mencari ku?" pertanyaan Naya tidak satupun yang mendapatkan jawaban.
Andra memiliki diam dengan sikap dinginnya, saat tangan Naya terangkat ingin memukul saja tidak memberikan perubahan ekpresi sekalipun.
"Kenapa kamu selalu menyebalkan Andra?"
"Karena aku Andra," balasnya.
"Urus saja pacar, tunangan atau calon istri kamu yang super cantik itu!" suara Naya meninggi.
"Kamu cemburu?" tanya Andra sambil tersenyum.
Helaan napas Naya terdengar, tidak habis pikir bisa cemburuan dengan lelaki model Andra. Tidak ada dalam kamus Naya untuk memperebutkan seorang lelaki, apalagi model Andra, setiap harinya membuat darah naik.
"Aku Kanaya, Dra, jangan terlalu berharap jika aku menganggap kamu layak."
"Kamu harus mencobanya Nay, jangan menilai seperti itu, mungkin kebalikannya." Senyuman penuh percaya diri terlihat.
Tawa Naya terdengar, pukulannya kuat ke arah punggung Andra membuat Andra mual. Mobil mendadak berhenti, Andra memegang dadanya.
"Kenapa Dra, apa pukulan sekuat itu? Perasaan tidak." Naya mengusap punggung Andra, merasa cemas karena Andra batuk-batuk.
Tangan Naya dipegang, telapak tangan terbuka. Andra meludah ke tangan Naya membuat wanita yang terkenal ahli bela diri terbelalak besar.
Pintu mobil terbuka, Andra berlari keluar. Tatapan mata Naya tajam sampai merah melihat tangannya diludahi.
"Andra sialan, candaannya tidak lucu." Naya mengambil tisu membersihkan tangannya.
Mobil melaju pergi meninggalkan Andra yang berada di luar mobil, Naya sengaja meninggalkannya agar jera menjahilinya.
"Kanaya tidak lucu, maafkan aku Nay." Andra berlari mengejar mobil yang melaju cepat.
Suara Andra teriak mengumpat terdengar, menyalahkan dirinya sendiri yang berlari keluar mobil, ponselnya tertinggal di mobil sehingga tidak bisa menghubungi siapapun.
"Naya benar-benar berubah menjadi wanita paling jahat." Tangan Andra tergempal merasa sangat marah, tapi tidak ada yang mampu dirinya salahkan.
Mobil melaju pelan, Naya tidak tahu harus pergi ke mana karena dia tidak tahu jalanan. Menghubungi yang lainnya tidak bisa dihubungi.
"Mati aku, ini semua gara-gara Andra." Naya bahkan binggung dengan peraturan rambu lalu lintas yang berputar-putar.
Menemui Andra kembali sudah tidak mungkin karena Naya tidak memperhatikan jalan, dia sibuk dengan perasaannya yang emosi.
Panggilan di ponsel Andra masuk, Naya langsung menjawabnya tergesa-gesa sebelum dirinya dibawa ke kantor polisi.
"Di mana kamu?"
"Tidak tahu, aku takut Dra soalnya jalannya berputar-putar. Bagiamana jika ada polisi?" Naya ke sini ingin liburan bukan di penjara!" teriakkan Naya histeris, Andra menahan tawa memberikan instruksi untuk menemuinya
Andra hafal hampir seluruh jalan karena dia sudah delapan tahun tinggal sendirian di tengah keramaian kota.
"Bagaimana jika nyasar?"
"Kamu percaya sama aku, sekalipun nyasar pasti bisa aku temukan." Andra menenangkan Naya agar tidak panik, menyetir dengan santai
Suara Naya bergumam terdengar, jika sampai bertemu dengan Andra dia pasti akan melenyapkan lelaki yang membuatnya bermasalah.
Andra yang mendengar menelan ludah pahit, Naya bicara seakan tidak butuh bantuannya lagi.
"Apa membunuh aku bisa menyelamatkan kamu?"
"Tidak, setidaknya bisa menghilangkan kekesalan di hati. Awas saja kamu jika ketemu!" ancam Naya membuat Andra tersenyum lebar.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1