
Sesampainya di hotel Naya dan Andra sama-sama kaget karena melihat Arvin dan Agra datang secara bersamaan.
"Andra, kenapa kamu ada di sini katanya sibuk kerja?" Avin menunjuk wajah Andra yang mencoba mencari alasan.
"Lo juga Vin, kataya ada jadwal operasi, kenapa ada di sini?" Agra mengerutkan keningnya, membuka kacamatanya penuh tanda tanya.
"Bukannya kamu juga ada pemotretan hari ini Gra, kenapa kamu dis ini?" Andra menanyakan hal yang sama.
Kepala Naya geleng-geleng, di tengah kesibukan tiga manusia sekawan masih punya waktu untuk debat.
"Kalian bertiga, ngapain di sini?" tanya Naya penasaran.
Tidak ada yang bisa menjawab karena Agra meninggalkan pekerjaan demi bisa liburan bersama keluarga sekaligus bertemu Prilly.
Arvin langsung menoleh ke arah lain karena dia juga mengubah jadwal operasi, terkadang pekerjaan harus diundur demi hal lain.
"Jangan bilang kalian ingin pacaran, sudah terlambat." Naya melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh tiga pria.
"Kenapa terlambat?" tanya Agra polos.
"Ternyata benar tujuan datang ingin pacaran, jangan sampai media tahu, bisa heboh dunia kamu," tegur Naya meminta Agra berhati-hati.
Arvin dan Andra tahan tawa, hidup Agra terlalu banyak pengintai sehingga tidak punya kebebasan, berbeda dengan keduanya yang tidak perlu takut karena hidup bebas.
"Kalian berdua dalam masalah, satunya banyak pengemar, satunya lagi punya tunangan, hanya aku yang aman." Tangan Arvin mengusap dadanya merasa lega.
"Memangnya kamu pacaran dengan siapa, masa iya dengan ... Erin?" Kepala Andra menoleh ke arah sahabatnya yang sudah tidak waras.
Dulu sampa perang dunia karena menolak bertunangan, tapi akhirnya tetap berlabuh kepada Erin.
Suara Arvin menelan ludah pahit terdengar, Andra belum tahu saja jika wanita yang diinginkannya adiknya Andra sendiri.
"Mampus, Andra akan menggantung Lo," bisik Agra menahan tawa.
"Kalian bertiga tidak ada yang aman, tunggu nasib saja bermasalah." Tawa Naya terdengar melangka ke kamarnya.
Suara tangisan Raya terdengar, Agra dan Arvin lari kencang ke arah kamar karena sangat mengenali suara adiknya.
"Raya, ada apa Dek?" ketukan pintu terdengar, Agra menekan bel berkali-kali.
"Tidak pernah terbayangkan mereka berdua punya adik seumuran anak." Kepala Andra geleng-geleng bisa merasakan besarnya kasih sayang Arvin dan Agra kepada adik kecilnya.
Pintu terbuka, tangisan Raya semakin kencang. Arvin berlari kencang melihat adiknya yang menangis karena tangannya terjepit lemari.
"Kenapa Lis?" wajah Arvin nampak sangat cemas.
"Kakak, tangan Raya putus." Tangisannya semakin kencang saat melihat kedua kakaknya.
__ADS_1
"Jangan lebai Ray, ini hanya luka kecil. Darahnya sudah hilang." Senyuman Alis terlihat berjalan ke arah toilet untuk meludah.
Cepat Arvin memeriksa tangan Raya, memastikan jari kecil adiknya tidak terluka parah.
"Kenapa Raya bermain pintu, itu bahaya," tegur Agra mengusap tangan adiknya lembut.
"Soalnya Kakak Alis tidak mau pinjemin ponselnya, pelit."
''Raya bisa menonton televisi, ponsel Kakak Alis mungkin banyak pekerjaan," tegur Avin lembut.
Hentakan kaki terdengar, Raya menunjuk ke arah televisi yang menayangkan siaran luar, dirinya tidak mengerti.
"Tablet kamu mana, dasar nakal." Nay melotot melihat Raya yang membuat heboh.
"Dari mana kamu Kanaya, pasti pacaran. Kakak Andra sudah punya istri kamu jangan jadi pelakor seperti Kak Erin," bentak Raya mendekati Naya yang tertawa.
"Jga mulut kamu Raya, kapan aku menggoda suami orang. Dasar bocah tukang fitnah." Kepala Erin nongol dan binggung melihat tiga pria tampan ada di hotel.
Prilly juga kebingungan, menyerahkan minum kepada Raya. Agra yang seharusnya sedang promosi lagunya, tapi bisa ke luar negeri.
"Kenapa kalian di sini?"
Pintu terbuka, Mama dan Daddy pulang dari keluyuran setelah meninggalkan anak-anak. Wajah Mama nampak binggung melihat kedua putranya ada di hotel.
"Kenapa bisa di sini?" Mama mengusap kepala Agra dan Arvin.
"Raya, ayo ke kamar. Kamu pasti belum tidur." Daddy tidak banyak tanya karena tahu tujuan ketiga lelaki datang tanpa harus menjelaskan.
Lidah Raya terjulur, memukul Naya langsung berlari kencang mengikuti daddynya ke kamar sebelah.
"Sudah makan belum?" Mama menatap Andra, Agra dan Arvin.
"Kalian berdua dari pacaran, soalnya Naya tiba-tiba hilang." Mata Erin memicing menatap Naya dan Andra.
Keduanya terlihat santai saja, Naya menolak untuk memesan makanan karena dia ingin beristirahat.
"Tangan kamu kenapa?" Arvin memegang tangan Alis yang ternyata luka setelah membantu Raya.
Jari telunjuk Alis dimasukkan ke dalam mulut, Andra yang melihatnya mengangkat kedua alis merasa aneh.
"Apa Dokter zaman sekarang mengobati dengan cara begitu?" tangan Alis ditarik, kepala Arvin didorong menjauh.
"Ya sudah jika begitu Kak Andra saja yang menghisapnya," pinta Alis menyodorkan tangannya.
"Minta putus jari."
Tangan Andra ditepis, Arvin menarik pergelangan tangan Alis mengeluarkan sesuatu dari saku tangannya menutup luka di jari telunjuk.
__ADS_1
Kepala Andra geleng-geleng, tidak mungkin dirinya salah tebak. Kedatangan Arvin bukan untuk Erin, tapi Alis.
"Lo suka Alis?" rambut Arvin dijambak kuat.
Teguran Agra terdengar, Andra kekanakan harus ribut hanya karena perasaan. Tangan Andra ditahan, meminta melepaskan adiknya.
"Andra, tidak lucu. Lepaskan."
"Dia lancang mencintai Alis," bentak Andra yang tidak setuju.
Helaan napas Andra panjang, Arvin diam saja karena dia tidak mungkin bertarung dengan Andra yang jauh lebih kuat darinya.
"Lepaskan Andra," tegur Naya menendang Andra, Arvin dan Agra agar keluar dari kamar.
Ketiganya terusir, Naya meminta tidak menganggu mereka. Beberapa hari ke depan tiga sekawan tidak boleh datang karena mereka ingin liburan.
"Gra, hati-hati. Jangan sampai ada yang melihat kamu." Alis memberikan peringatan agar Agra menghindari banyak orang.
"Iya, besok pagi kita sarapan bersama. Jangan lupa boking hotel," pinta Agra.
"Tidak ada, urus sendiri Agra. Prilly bukan asisten kamu." Naya menutup pintu meminta ketiganya pikir sendiri ingin tidur di mana.
Ketiganya duduk di depan pintu, malas turun ke bawah untuk menyewa kamar. Tidak ada satupun yang ingin mengalah.
Langkah seseorang berhenti, tiga kepala terangkat menatap Daddy yang menyerahkan kunci kamar.
"Istirahat dulu, Daddy akan boking tempat ini." Daddy melangkah masuk ke kamarnya.
Ketiganya mengucapkan terimakasih saling dorong untuk rebutan masuk kamar dan beristirahat.
"Daddy semakin tua tambah pengertian, apa dia sekarang seperti itu?"
"Dra, pria tua itu orang tua kita. Jaga mulut." Agra lari lebih dulu ke kamar mandi.
Suara Andra dan Arvin bertengkar terdengar, Agra berteriak dari dalam kamar mandi agar berhenti sebelum mereka terusir dari hotel.
"Jauhi adikku, jangan harap kita akan menjadi ipar, ada banyak wanita kenapa harus Alis?"
"Jika begitu aku akan berjuang mendapatkan Naya, boleh?" Arvin mendorong Andra kuat agar melepaskannya.
"Apa adikku hanya pelarian?"
"Aku mencintainya Andra, aku serius," teriak Arvin kencang.
Air dilempar dari kamar mandi, Arvin dan Andra mengusap wajah karena Agra menyiram keduanya yang berisik.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira