
Di kampus Naya menyimak cerita Alis soal Agra yang dijodohkan, kabar beritanya juga sudah menyebar membuat sebagian kampus membicarakan.
"Kak Nay, Alis harus bagaimana?"
"Aku sependapat dengan Andra, lagian Agra bukan anak kecil. Dia bisa menemukan solusi terbaik untuk keluarganya, apalagi Agra harapan mamanya." Nay tidak ingin ikut campur karena Agra memiliki kewajiban sebagai anak lelaki.
Papanya sudah pergi, tidak ada lagi yang menjaga mamanya kecuali Agra, dia tidak mungkin diam saja dengan keputusan sepihak.
"Jangan ikut campur Lis." Avin menggeleng melihat Alis melangkah pergi.
Helaan napas Naya terdengar, hanya bisa mengangkat bahunya karena tidak bisa memahami kehidupan orang kaya.
"Jangan terlalu dipikirkan Nay, fokus saja dengan kuliah kamu," ujar Arvin yang tidak enak melihat Naya memijit pelipisnya.
"Kasihan Agra, dia berada dalam perasaan dilema. Menerima seseorang yang tidak dicintai, tapi membahagiakan mamanya, jika menolak demi kebahagiaan akan menyakiti mamanya." Kepala Nay tertunduk hanya bisa tarik napas panjang berharap Agra menemukan solusi terbaik.
Mata Arvin tidak berkedip, seandainya Naya tahu jika kehidupan mereka tidak sesimpel itu. Nay juga tidak tahu betapa buruknya sikap Mama Agra yang begitu keras.
"Vin, kamu tidak masuk kelas?"
"Mau, tapi nanti. Hari ini Agra tidak masuk kuliah, dan Andra harus ke kantor ulah Papinya meminta datang." Arvin merasa kesepian karena kedua sahabatnya tidak muncul.
"Aku duluan soalnya mulai sekarang kuliah sore sampai malam, kita bertemu di rumah." Nay melangkah pergi tidak menunggu jawaban Arvin lagi.
Beberapa orang yang pulang kuliah mulai membicarakan Agra yang akan segera bangkrut, Nay sadar dirinya masuk kampus yang salah karena semua orang dari kelas atas.
"Nay, kenapa kamu kuliah sore? Apa kamu menghindari tiga sekawan dan Erin?" tanya Nana.
"Apa pengaruhnya dengan mereka, aku tidak peduli. Duluan." Nay tersenyum menepuk pelan pundak Nana.
Sampai di kelas sudah ramai mahasiswi dan siswa yang masuk jam sore, Nay melangkah ke bangku depan untuk fokus.
"Agra dan Erin akan segera bertunangan, kamu tidak berniat menghentikannya Nay?" tanya Hesti sambil tertawa mengejek.
Beberapa siswa lain membicarakan hal yang sama, saat Erin bermasa Arvin hubungannya kandas karena Naya yang menjadi orang ketiga.
Sekarang giliran Agra, banyak yang ingin melihat tanggapan Naya soal hubungan keduanya, apa mungkin Nay akan meninggalkan Arvin demi Agra.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan gosip ini, tujuan aku kuliah bukan bergosip." Senyuman Nay terlihat santai.
"Oh sorry, aku pikir niat kamu untuk menaklukkan tiga pria populer," sindir Hesti.
"Haruskah, bukan aku yang mendekati mereka, tapi ketiganya yang datang kepadaku. Kalian iri, makanya jadilah populer setidaknya ada bakat," balas Naya dengan sindiran keras.
Tangan tergempal, menatap sinis Naya yang mulai berani menghina, Hesti akan memberikannya pelajaran.
Lirikan mata Naya tajam, fokus ke arah bukunya. Dosen masuk, berusaha fokus untuk mengikuti materi.
"Aku memiliki tugas menghidupi diri sendiri, sehingga harus kuliah sambil bekerja, aku harap tidak banyak kendala untuk melewatinya," batin Nay yang tidak ingin menggubris apapun pandangan orang soal dirinya.
Seluruh mahasiswa fokus, seseorang menatap Naya dari balik jendela. Erin tidak menyukai Naya karena tidak menyukai Agra, dia lebih memilih Arvin, tapi Nay membuatnya terlibat dengan Agra.
"Hidup kamu tidak akan tenang Nay, aku tidak ingin menikahi Agra, tapi Arvin. Aku mencintai dia, tapi kamu mengambilnya." Hentakan kaki Erin terdengar kuat.
Jam pelajaran usai, beberapa mahasiswa sudah tertidur. Nay berdiri untuk pulang, membawa bukunya melewati beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul.
Tatapan mata fokus kepada body Nay, pikiran liar dan nakal terlihat. Mengikuti Naya ke arah parkiran.
"Sial, siapa lagi mereka. Tidak mungkin mahasiswa kampus ini karena tidak ada yang berani kepada Andra yang paling ditakuti." Helaan napas Naya terdengar mencari tempat yang cukup sepi.
"Kalian salah cari lawan," ujar Naya kesal karena membuang waktunya.
"Yuhu, wanita ini ternyata cukup berani." Suara tawa terdengar menatap tubuh Naya dari atas sampai bawah.
"Lumayan bro, meskipun tidak seksi." Tawa kembali terdengar dari segerombolan pemuda.
"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Ini sudah malam, butuh istirahat." Nay mengerakkan tangannya meminta maju sekaligus.
"Jangan menyesal ya, jika nanti kamu akan mengangkang di depan kita semua." Seorang pemuda bertubuh tinggi melangkah maju.
"Ucapan kalian mencerminkan kepribadian yang tidak baik, tapi begitulah kehidupan kota. " Senyuman Naya terlihat, menggerakkan tubuhnya tanpa melangkah saat beberapa orang menyerangnya.
Satu kaki Naya bergerak, tendangan kuat menghantam dada membuat satu-persatu jatuh tersungkur.
Nay sudah lelah bermain, pukulan tangannya bertubi-tubi tidak memberikan kesempatan lawan mengangkat tangan.
__ADS_1
"Apa hanya segini kemampuan kalian? Maaf bukan maksud merendahkan, tapi kita tidak imbang. Sungguh memalukan, jatuh tersungkur," ejek Naya.
"Kita belum kalah, tadi hanya permulaan." Pukulan kuat menghantam ke pipi sampai hidung berdarah, beberapa gigi rontok.
"Aku paling membenci lelaki model kamu, memprovokasi banyak orang untuk menyakiti orang lain." Senyuman sinis terlihat.
Tidak ada satupun yang melangkah maju, Naya menarik napas panjang mengambil tasnya yang terjatuh juga beberapa buku yang berhamburan.
Seseorang berlari ke arah Naya membawa pukulan, seseorang melemparkan batu tepat mengenai kepala sampai megeluarkan darah.
"Satu, dua, lima, delapan, sepuluh, ada tiga belas orang melawan satu perempuan. Sungguh burung kalian sudah berubah menjadi kupu-kupu sampai tidak tahu malu lagi." Tawa Andra terdengar menarik kerah baju seseorang, menyeretnya.
"Ampun Dra," pintanya.
Tubuh pemuda terangkat ke arah dinding, Andra meminta mengatakan siapa yang menyuruh untuk menyerang.
Satu-persatu melarikan diri saat melihat Andra muncul, tidak ada yang berani melawannya karena dia yang paling sering membuat keributan di kampus.
"Sudahlah Dra, tanpa ditanya kita sudah tahu siapa pelakunya," ujar Naya menarik tangan Andra.
"Katakan kepada Erin, aku akan mematahkan tangannya jika satu kali lagi mengirim orang," ancam Andra kepada pemuda yang langsung berlari kencang.
Pegangan tangan Naya ditepis, Andra melangkah pergi diikuti oleh Naya yang tersenyum kecil menatap punggung pemuda pemarah dan emosian yang selalu bertengkar dengannya.
"Kenapa kamu ada di sini Dea?"
"Kendaraan jelek kamu itu ingin diapakan?"
Naya melihat ke arah kendaraan yang sudah berubah warna pink, bahkan ada banyak stiker bunga-bunga.
"Norak, aku tidak mau ini Andra!"
"Ya sudah bakar saja." Senyuman Andra terlihat membawa kembali kendaraan untuk dibuang.
Pukulan Naya kuat di punggung Andra, naik ke atas motor yang melaju pelan karena Andra tidak berbakat mengemudikan roda dua.
"Andra kamu jangan macam-macam, aku belum siap mati." Nay siap menjambak rambut Andra yang tertawa karena takut menabrak.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira