
Tangan Naya ditarik kuat, Delon menatapnya tajam tidak mengerti maksud ucapan Naya yang mengatakan hubungannya dengan wanita luar.
"Aku tahu kondisi kamu juga sulit, keadaan akan mengajari kamu jika menjalani dengan penuh kesabaran, tapi jika amarah yang mendesak maka kau akan hidup penuh luka," ucap Naya karena ia tahu rasanya bangkit dari kesedihan.
"Kamu tahu apa soal aku, bahkan kita hanya mengenal nama?"
"Delon, aku tidak mengenal kamu, tapi aku tahu rasanya jadi kamu. Keadaan mendewasakan aku untuk memahami orang lain," ujar Nay yang melepaskan tangannya.
Tawa Delon terdengar, dia tidak peduli dengan ucapan Naya. Tidak ada yang salah dari dirinya. Delon sudah berjuang untuk membuktikan jika dirinya sempurna.
"Wanita itu hamil itu masalah pertama, kedua kamu harus memilihi ibumu hidup bahagia atau kamu memisahkan ibumu untuk bahagiamu padahal kamu punya kesempatan untuk bahagia bersama." Senyuman Kanaya terlihat masuk ke dalam taksi yang masih menunggunya.
Teriakan Delon terdengar, Nay melihat dari kaca mobil saat Delon teriak-teriak penuh amarah.
Selama ini Naya melihat banyak amarah, memilih diam dan memendam luka, merusak hidup agar puas, marah dengan keadaan, pergi meninggalkan, hancur hingga putus asa dan menyerah.
"Aku bahkan tidak tahu ada di posisi yang mana, terkadang ingin marah, tapi tidak ada tempat." Nay memejamkan matanya.
Sepanjang jalan Nay berdiam diri, matanya terpejam karena memikirkan kondisi Syifra, hidupnya cukup menyedihkan.
Satu sisi Naya juga ingin memiliki Andra, tapi satu sisi dia sadar Syifra juga butuh Andra. Naya bisa bertahan karena tidak ada tanggung jawab, dia bisa menyibukkan diri untuk menerima kenyataan kehilangan cintanya, tapi tidak bagi Syifra dia kehilangan dunianya.
"Kita sudah sampai tujuan apa ingin pergi ke tempat lain?" tanya supir yang menatap apartemen.
"Tidak Pak, terima kasih." Naya memberikan uang lebih untuk supir karena sudah menunggunya cukup lama.
Naya melangkah ke dalam apartemen karena sudah jam sembilan malam, Naya menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita menggunakan gaun pendek menunggu di depan pintu.
"Kamu baru pulang, apa kamu pergi bersama Andra?" tanya Syifra yang bersandar di pintu kamar Andra.
Naya menyebutkan sandi rumah Andra agar Syifra masuk, tidak berdiam di luar yang cukup dingin.
Pintu kamar Naya terbuka, pundak Nay ditahan padahal dia sedang malas ribut karena tahu kondisinya dan Syifra sama saja.
"Apa kamu keluar sama Andra?"
"Emh, tapi dia masih dia di restoran bersama temannya, aku baru saja kembali dari kampus Delon," ucap Naya yang tidak mengejutkan Syifra sama sekali.
"Kenapa kamu ikut campur, apa kamu mengenal anak kecil itu?" tawa Syifra terdengar karena Delon baru saja berusia dua puluh tahun.
Tawa Nay terdengar, di matanya Delon bukan anak kecil, dia memiliki ambisi, amarah, dan juga nafsu.
Syifra mngikuti Naya masuk ke dalam apartemen, mata Syifra melihat apartemen yang sangat nyaman.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Andra? Ada Arvin yang jauh lebih dewasa dalam memikirkan perasaan orang lain," ucap Syifra yang mengangumi sosok Arvin.
"Kamu hanya tahu Arvin yang sekarang, dulu dia pemabuk dan sangat dingin. Jangan mengagumi seseorang hanya karena kamu melihat satu keistimewaannya," jelas Naya yang tahu siapa Arvin dulunya.
"Bagaimana Kamu bisa mengenal ketiga lelaki itu?"
Naya duduk di sofa, tidak sepantasnya menceritakan kenangan kepada orang yang bahkan tidak dikenal.
"Aku hanya penasaran, kamu ada di hati Andra, Arvin juga Agra. Apa istimewanya kamu?"
Senyuman Naya terlihat, dia bertemu Arvin saat pertama masuk kampus, niatnya membantu karena ada pemuda yang dipukuli, tapi Arvin meninggalkan tanpa ucapan terima kasih.
Bertemu dengan Andra yang sedang melakukan pembullyan terhadap perempuan, dan berakhir ribut bersama Naya.
Agra pria yang baik dia membungkukkan badan meminta maaf atas nama kedua sahabatnya.
"Sampai saat ini aku masih bertanya, bagaimana bisa Agra yang baik bersahabat dengan pria emosian seperti Andra dan manusia es seperti Arvin."
"Siapa yang kamu cintai?"
"Semua wanita akan mencintai Agra pada masa itu, tapi ada Arvin yang membuat hidupku tidak tenang karena selalu membuat gosip dan Andra yang selalu membawa ribut, tapi dia sangat baik dan suka menolong tanpa disadari baiknya.
Naya merasa rindu pada masa itu karena dirinya bisa jatuh cinta kepada Andra padahal sikap tidak baik.
Kepala Syifra tertunduk, hubungan Nay dan tiga pria terlihat tidak baik, namun selalu bersama dalam banyak hal.
Minuman di letakkan di hadapan Syifra, Naya paham jika saat ini kondisi Syifra sulit tidak menyangka hal buruk yang terjadi dalam hidupnya semakin buruk.
"Terima kasih karena masih menjaga janin dengan baik, tidak mudah melakukannya, tapi kamu bertanggung jawab untuk itu."
"Kamu kasihan kepadaku?"
"Tidak, apa yang ingin aku kasihani jika kita memiliki nasib yang sama, tidak memiliki rumah untuk pulang." Senyuman tipis terlihat, Naya juga selalu kesepian sehingga pekerjaan menjadi tempat lari.
"Di mana keluarga kamu?"
Nay hanya menggeleng tipis, dirinya hanya seorang diri, tidak ada ibu dan ayah, apalagi saudara. Nay sudah kehilangan dua orang yang dicintainya.
"Cukup kita yang lahir tanpa keluarga, anak itu harus memilikinya," ucap Nay meminta Syifra istirahat karena capek jika duduk terus.
"Aku harus bagaimana Naya, Andra sudah meninggalkan aku dan tidak mungkin kembali. Aku harus bagiamana, bantu aku," pinta Syifra berharap Naya memahami kondisinya.
"Jika kamu minta bantuan kembali kepada Andra aku tidak bisa, kenapa tidak bisa karena perbuatan kamu tidak termaafkan. Kenapa Andra yang harus bertanggung jawab atas dosa dan kesalahan kamu?" Andra memiliki keluarga, memaksa bersama bukan hanya menyakiti Andra, namun keluarganya.
Syifra pasti tahu bagaimana Andra berjuang tanpa bantuan orang tuanya, siang malam hujan panas terus bekerja hingga lupa cara hidup normal seperti apa.
__ADS_1
Andra menghabiskan seluruh masa mudanya untuk sukses dengan caranya, membuktikan bisa berada di atas Papinya, memiliki aset sendiri hingga orang tahu dia sehebat itu.
"Sejak lahir Andra sudah tidak diterima, jangan jadikan anak itu bernasib yang sama seperti Andra kecil." Nay tahu ketakutan Andra makanya dia memilihi Syifra membencinya karena meninggalkan saat terluka.
"Bagaimana jika aku mengatakan ini kepada Delon, ibunya pasti akan membunuhnya. Anak itu masih muda, dia harus sekolah dan mengejar mimpi, aku akan merusak masa depannya." Tangisan Syifra pecah karena anak yang lahir akan jadi petaka.
Syifra juga takut apa mungkin di bisa bertanggung jawab sebagai ibu dan ayah, membesarkan anaknya seorang diri.
"Aku harus bagaimana Kanaya, apa yang harus aku lakukan? Kenapa hidupku begitu sial, hingga jatuh kepada anak ini!" Tubuh Syifra terduduk lemas tidak kuasa menahan tangisannya.
Naya terdiam cukup lama, meninggalkan Syifra yang menangis meraung-raung meluapkan segala lukanya.
Naya menguyur tubuhnya menggunakan air shower berpikir apa yang akan dilakukan jika ada di posisi Syifra.
"Ya tuhan, apa yang harus aku katakan jika semua yang Syifra pikirkan itu benar. Dia harus apa?" Nay membenturkan pelan kepalanya ke dinding beberapa kali.
Lebih dari dua jam Nay berada di dalam kamar mandi, dia berpikir Syifra sudah pergi setelah ditinggalkan, tapi kenyataanya Syifra tidur di lantai tanpa alas.
"Apa ini, kenapa aku juga harus menyaksikan ini?" Nay membantu Syifra berdiri, menggendong ke dalam kamar untuk tidur.
Selimut menutupi tubuh Syifra membiarkannya tidur nyenyak setelah puas menangis. Pasti berat sekali untuk menguatkan diri sendiri.
Naya terdiam menatap ponselnya, melihat nomor Delon. Harapan Naya Delon akan menghubunginya, memastikan apa yang Nay katakan sebelumnya.
"Jika dia memiliki sisi baik seharusnya menghubungi, tapi sampai jam sebelas malam belum ada kabar." Nay duduk di depan meja rias hingga satu jam lamanya.
Dikarenakan tidak bisa tidur Nay berdiam diri menatap wajahnya sendiri di cermin, pesan Andra yang membicarakan soal bisnis diabaikan.
Kepala Naya menoleh ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul dua, harapannya untuk membantu Syifra tidak mendapatkan respon baik dari Delon.
"Sudahlah, sebaiknya aku tidur." Panggilan di ponsel Nay terdengar, senyuman Nay terlihat menjawab telepon.
"Kenapa jam segini kamu belum tidur?" tanya Delon dengan suara berat.
"Kamu mabuk, atau baru tahu kenyataan."
"Katakan jika itu bohong, apa yang kamu katakan tadi salah."
Naya mengulangi kembali ucapannya, tujuan Nay bukan untuk menyakiti perasaan Delon, tidak ada juga niat menganggu pikiran.
Mungkin Delon marah dengan keadaan, belum menerima perpisahan ibu dan ayahnya apalagi ibunya memilihi menikah lagi.
"Terkadang rumah tangga keluarga kita tidak bisa sama seperti orang, lebih baik melihat berpisah hidup dan memulai kisah baru daripada bertahan dengan hubungan yang tidak mampu dipertahankan lagi." Bagi Naya Delon masih beruntung, dia bisa melihat kedua orangtuanya, satu sisi ada yang tidak memiliki salah satu bahkan keduanya harus tetap hidup.
"Pria itu bukan orang baik, dia menelantarkan anak istrinya. Sampai kapanpun aku tidak bisa menerimanya," ucap Delon yang membenci ayah tirinya.
"Aku pernah bertemu seorang ayah yang lebih kejam, dia memukuli putranya bahkan hampir kehilangan nyawa, mengurung hingga menyeretnya memerintah bodyguard. Apa kamu percaya jika dia sekarang menjadi ayah yang baik?" Om Agam hanya kurang beruntung dan tidak bisa sabar namun tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.
Hubungan mereka tidak ada paksaan namun suka sama suka, saat itu Delon sedang magang di perusahaan Andra dan selalu belajar bersama Syifra.
"Kamu tidak ingin bertanggung jawab?"
"Aku tidak bisa, masa depanku panjang dan mereka hanya akan jadi bebanku. Aku aja belum bisa bertanggung jawab atas diriku, lalu bagaimana bertanggung jawab atasnya dan anak itu?"
"Syifra tidak menuntut kamu dia tahu ini yang akan kamu katakan, jika itu keputusan kamu maka lakukanlah. Satu hal yang harus kamu ingat Delon, penyesalan tidak akan mengembalikan keadaan." Naya paham jika masa depan Delon panjang, tapi tidak ada yang memikirkan nasib bayinya jauh lebih panjang.
Panggilan Naya mati, kepala Nay terbentur di meja rias tangisannya terdengar karena tidak bisa melakukan apapun.
Bayangan luka dan sakit terngiang-ngiang, dada Nay sesak memikirkan masalah orang lain, tapi begitulah dia yang terbawa suasana luka orang lain.
"Kenapa kamu belum tidur, Kanaya?"
"Aku tidak bisa membantu kamu, bagaimana nasib anak itu?" Nay menangis sampai tubuhnya gemetaran.
Senyuman Syifra terdengar mengusap punggung Nyaa pelan seharusnya dia tidak perlu menangis sesuatu yang bukan menjadi masalahnya.
"Apa kamu selalu seperti ini, ikut campur dan terluka karena masalah orang lain?" tawa Syifra terdengar mengusap air mata Naya.
"Waktu akan terus berjalan, tidak terduga bayinya akan lahir. Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku bisa apa, daripada menghancurkan masa depan orang lain lebih bagi aku jadi orang tua tunggal." Syifra sadar semua yang terjadi salah dirinya.
"Aku tidak bisa memberikan Andra," ucap Nay yang sudah menunggu Andra lebih dari delapan tahun.
"Aku juga tidak bisa bersamanya, dia punya keluarga dan mencintai orang lain. Aku tidak akan menyulitkan Andra, dia berhak mendapatkan wanita lebih baik. Memang salahku yang menampar adiknya, bertengkar dengan ibunya, menyakiti wanita yang ada di hatinya, kesalahanku berhubungan orang lain padahal ada dia," ucap Syifra yang menyesali perbuatanya, tapi tidak menyadari semua berawal dari salahnya.
Tangan Nay menyentuh perut Syifra yang membesar, anak yang Syifra kandung tidak salah. Dia tidak tahu apapun tidak sepatutnya menanggung beban juga.
"Nay jangan paksa Delon, dia butuh waktu untuk dewasa dan mencapai mimpinya, biarkan dia."
"Emh, tapi aku yakin dia akan menyesalinya." Naya memeluk Syifra.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa, aku harap itu bukan hal yang sulit." Nay mengusap air mata Syifra.
"Kembalilah pada Andra, selama ini dia selalu menyimpan rindu pada orang yang tidak aku kenali, tapi sekarang paham mengapa dia begitu mencintai kamu." Pelukan Syifra erat bisa merasakan jika Naya wanita yang baik.
Senyuman keduanya terlihat, Naya meminta Syifra terus bertahan dan melupakan apa lukanya. Paling penting dia dan bayinya sehat.
__ADS_1
"Jangan berjuang sendiri, ada aku dan Andra yang akan menemani kamu."
"Terima kasih Naya, aku tahu kamu akan mengatakan itu, tapi aku tidak ingin menyulitkan," ucap Syifra yang tidak bisa menerima bantuan Naya.
Getaran ponsel Syifra terdengar, Andra menghubunginya di tengah malam membuat Syifra tidak enak kepada Nay yang melihatnya.
Panggilan dimatikan, sampai tiga kali Nay yang menjawab menatap Syifra yang diam saja.
"Di mana kamu Syifra, kenapa pihak hotel menghubungi aku mengatakan kamu sudah keluar dari hotel," ujar Andra yang bicara dingin.
"Aku menemui Naya," jawabnya.
"Berani kamu menyentuhnya, seumur hidupku tidak akan memaafkan kamu. Kenapa kamu menyulitkan aku, kenapa?"
"Dra, apa aku tidak pernah ada di hati kamu, apa hanya ada Naya. Bisanya aku bertanya ini padahal aku tahu jawabannya." Tawa Syifra terdengar meminta Andra tidak perlu berpikir buruk.
Andra tahu Syifra orang baik, tiap orang punya salah dan pernah berbuat salah, tapi ada kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Melihat keadaan Syifra yang sekarang sudah pasti dia khawatir, tapi ada hal yang tidak bisa Andra lakukan.
"Aku peduli sama kamu, tapi aku tidak bisa kembali. Aku ingin hidup dengan orang yang selama ini aku inginkan, jangan paksa aku untuk kembali hanya karena rasa peduli," pinta Andra agar Syifa kembali ke hotel.
Senyuman Syifra terlihat, mengubah panggilan menjadi video menunjukkan wajah Naya yang duduk di meja rias.
Panggilan langsung mati, Andra menghubungi Naya, tapi Naya mematikan panggilan menolak menjawab.
"Kanaya buka, kamu jangan salah paham aku tidak tidur bukan memikirkan Syifra, buka Nay." Gedoran pintu terdengar karena Nay mematikan bel.
"Ternyata dia tidur di apartemen," gumam Naya keluar kamar bersama Syifra.
Pintu terbuka, Syifra tersenyum melihat Andra, tapi Andra berlutut dihadapan Naya belum saja cintanya diterima sudah ketahuan melakukan panggilan dengan mantan.
"Kenapa kalian berdua di sini?" Andra duduk di lantai menyandarkan kepadanya di kaki Naya.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kalian di sini?" Nay memicingkan matanya.
"Apa kami boleh tinggal di sini?" tanya Syifra.
Naya dan Andra mengangguk secara bersamaan, senyuman Syifra terlihat. Sampai dia melahirkan mungkin akan menyusahkan Naya dan Andra.
"Kenapa tidak minta tanggung jawab? Jika Om Agam aku tidak mengizinkan, tapi jika anaknya bolehlah." Andra menoleh ke arah Naya.
"Dia masih kuliah, belum siap jadi ayah," jawab Naya.
"Memangnya kamu siap jadi ibu, nanti panggilnya ibu Naya." Andra meringis kesakitan saat punggungnya ditendang oleh Naya.
Syifra kaget melihat Naya dan Andra main kasar, tidak ragu saling pukul. Sungguh membingungkan.
"Jangan terkejut, kita memang musuh bebuyutan, tidak ada kata mesra di hidup kita." Kepala Andra bersandar kembali.
Nay meminta Syifra duduk, mereka harus menyiapkan nama, memeriksa kandungan tiap bulan, menyiapkan baju, peralatan bayi.
"Nay bukannya kamu sibuk pekerjaan kantor?" tanya Andra.
"Diamlah Andra." Mulut Andra ditutup paksa.
"Nay kandungan aku baru lima bulan masih lama, aku juga masih bisa kerja."
"Jangan terlalu dipaksa, cuti dulu karena Andra bisa membiayai hidup kamu selama cuti hingga anak kamu berusia sepuluh tahun." Naya mencatat apa saja yang dibutuhkan.
"Gila kamu ya, kenapa harus selama itu? Kenapa aku yang menderita, apalagi nanti kita punya lima anak, berita aku harus tanggung enam?" Andra menganga tidak setuju.
Mulut Andra diremas, Nay tidak tertarik punya anak lima. Dia bukan kucing yang bisa melahirkan lima anak dalam sepuluh tahun.
"Apa kalian berdua memnag suka bertengkar?"
"Sudah aku katakan jika Andra dulunya suka melakukan pembullyan dia tidak ragu menyakiti wanita," ucap Naya.
"Mana ada, aku hanya sering bertarung sama kamu, mana kalah lagi." Tawa Andra terdengar mengacak rambut Nay.
"Bukannya anak aku bisa stres melihat kalian berdua?" Syifra mengerutkan keningnya.
Naya dan Andra saling pandang, Nay tersenyum karena Syifra tidak tahu saja jika Alis ada di apartemen mungkin suaranya bisa membuat bangunan bergetar.
Ditambah Erin yang emosian, Nay juga pusing jika apartemennya penuh wanita cerewet.
"Apa kamu serius ingin tinggal di sini?" tanya Andra.
"Aku tidak tahu Dra, soalnya tidak enak sama Om Agam. Dia sedang berjuang agar bisa pulang ke rumah," ujar Syifra yang tidak ingin menghancurkan rumah tangga karena dia dituduh pelakor.
"Aku akan membujuk Delon, dia harus bertanggung jawab." Andra akan menjamin hidup Syifra dan anaknya.
"Jangan Dra, ibunya tidak menyukai aku. Keluarga mereka sedang kacau, Delon harapan ibunya masa depannya tidak boleh hancur."
"Ya sudah, urus dia Nay. Emosi aku terpancing." Kedua tangan Andra meremas kepalanya membayangkan wajah Delon.
Naya menggenggam tangan Syifra, meminta tinggal bersama sampai Syifra siap. Nay tidak keberatan jika harus ada bayi.
Air mata Syifra menetes meminta maaf karena harus meminta tolong karena Syifra tidak punya siapapun selain Andra dan sekrang dia bergantung pada Naya.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira