KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
SAHABAT


__ADS_3

Tawa Andra terdengar merasa puas mengendari roda dua, Naya hanya geleng-geleng melihatnya keliling taman.


"Anak orang kaya memang aneh, apa lucunya bermain itu," gumam Naya terheran-heran.


"Ayo pulang, aku lelah bermain."


"Lagian sudah tua tidak ada malunya," sindir Naya.


Keduanya memutuskan untuk pulang ke apartemen Naya, beberapa mobil menghadang membuat Naya binggung.


"Siapa lagi ini?"


"Ada sangkut-pautnya dengan Arvin." Kepala Andra menunduk menatap Daddynya Arvin muncul, perlahan kepala Andra terangkat kembali tanpa rasa takut.


"Kini bertemu lagi, wanita miskin tidak punya tata Krama."


Senyuman Naya terlihat, menyapa dengan membungkuk sendikit tubuhnya, menoleh ke arah Andra yang nampak tenang.


Tangan Daddy Arvin memegang pundak Andra, meremas kuat. Bisikkan terdengar pelan sebagai ancaman untuk Andra.


"Jangan ancam aku Om, Andra tidak peduli apa masalah kalian, tapi sebagai teman aku hanya ingin membantu temanku yang kesulitan." Andra tidak akan menjauhi Arvin apalagi membiarkannya menderita.


"Aku bisa menhancurkan keluarga kamu Andra?"


"Siapa menghancurkan siapa Om? Kalian tanya komplotan penjahat yang terkenal kaya raya, ada banyak orang yang melindungi kalian, bukannya terlalu rendah hanya untuk menegurku?" tanya Andra sambil tersenyum sinis.


Sebegitu putus asa Daddy Arvin sehingga mencari cara agar Arvin kembali secara sukarela. Setahu Andra sahabatnya memiliki pendirian yang tegas, dia tidak akan mudah menyesali perbuatannya.


Sebelum bertindak, Arvin sudah memikirkan matang-matang, dia tidak akan kembali dengan acara apapun.


"Arvin anak Om satu-satunya, apa kamu ingin Arvin lepas kendali?"


"Jangan salahkan Arvin, tapi lihat diri Om sendiri sudah benar apa belum?" Pukulan kuat menghantam perut Andra.


Tatapan mata Andra tajam, tangannya tergempal ingin melawan, tapi tangan Naya menahannya.


Keluarga Arvin sengaja melakukannya agar Arvin datang, mengetahui temannya dalam bahaya tidak mungkin Arvin tetap tinggal.


"Kamu akan menyesal Andra," ancaman terdengar.


Beberapa mobil melaju pergi, Andra berteriak sambil mengumpat kasar. Dia paling tidak suka jika dipukul tanpa bisa membalas.


"Dra, siapa keluarga Arvin sebenarnya?"

__ADS_1


"Jika ada gangster begitu apa artinya orang baik?"


Nay memutuskan untuk segera pulang, semakin lama di luar semakin banyak bahaya. Nay tidak ingin Andra terluka.


Kendaraan yang Andra kemudikan melaju cepat, keduanya tidak ada yang bicara hingga sampai di apartemen.


Terdengar dari luar sangat ramai, apalagi suara Alis yang melengking terdengar sampai langit ke tujuh.


"Nar, keluarga Arvin salah satu orang berpengaruh di kota ini, dia memiliki bisnis gelap yang ditutupi oleh negara karena memberikan banyak keuntungan."


"Apa mereka pembunuhan? jika bukan aku biasa saja."


"Aku tidak tahu membunuh atau tidaknya, tapi bawahan sangat banyak, bahkan tidak segan menyekap hingga hilang." Andra tidak banyak bertanya, tapi mendengar kabar saja.


"Kasihan Arvin yang tinggal di istana hitam, dia ingin menjadi orang normal, tapi tuntunan keluarganya memberatkan," ujar Naya begitu prihatin.


Keduanya melangkah ke arah apartemen, Andra mendengar panggilan seseorang. Naya juga menoleh ke arah suara.


"Agra, Bro. Bisa kabur juga dari tahanan nyokap?" Andra mendekati sahabatnya yang tersenyum.


"Tumben kalian berdua akur?" Agra memicingkan matanya merasa penasaran.


"Aku akur sama dia, oh tidak mungkin. Terpaksa saja mengantarnya pulang karena nurani sebagai lelaki sejati," ucap Andra begitu percaya diri.


Mata Naya terpejam, dari luar saja sudah terdengar keributan dari dalam. Heran kenapa tempat tinggalnya menjadi perkumpulan.


"Baik, aku dengar kabarnya, sabar Gra," ucap Naya sambil tersenyum.


Kepala Agra mengangguk, duduk di kursi yang tidak jauh dari apartemen, Andra dan Naya juga ikutan duduk menikmati malam yang sepi.


"Bagaimana caranya kamu kabur, apa kamu akan menikahi Erin?" tanya Andra yang mulai penasaran.


Agra hanya tersenyum tanpa jawaban karena dirinya tidak memikirkan soal perjodohan, tapi lebih pusing melihat mamanya.


"Bagaimana kondisi Mama kamu Gra?"


"Marah terus Nay, aku tidak tahu cara menenangkan Mama. Kepergian Papa membuat Mama berubah, aku sebagai anak tidak bisa menyalahkan salah satunya, juga tidak bisa memaksa keduanya untuk bersama," jelas Agra yang kehabisan kata-kata sehingga melarikan diri dari rumah agar bisa melepaskan beban pikirnya.


Dari kejauhan Arvin berjalan kaki, membawa kantong belanjaan. Tiga orang melihat ke arahnya yang berjalan tertunduk.


"Jika Arvin di luar, lalu siapa yang di dalam apartemen?" senyuman Andra terlihat menatap ke arah Apartemen.


"Dari mana Vin?" sapa Agra.

__ADS_1


"Gra, kenapa kamu di sini?" Arvin melangkah cepat, duduk di samping Naya.


Senyuman Agra terlihat, dirinya hanya keluar untuk mencari udara segar agar bisa bernapas.


"Nikahi saja Erin biar dia berhenti menganggu aku," pinta Arvin memohon kepada Agra.


Kaki Agra menendang pelan, tidak terpikirkan untuk menikah muda. Jalannya masih panjang, dan prosesnya juga lama.


Naya setuju dengan ucapan Agra, masalah hanyalah jalan menuju masa depan. Percaya bisa melaluinya dan sukses di masa depan.


"Semoga kita berempat bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan," ucap Agra bersemangat.


"Naya sama Arvin, aku tidak tahu masa depan mereka di mana? Menikah punya anak, dikejar oleh keluarganya lalu anaknya diculik, Arvin pulang demi buah hatinya mencampakkan Naya, beberapa tahun kemudian anaknya dewasa bertemu Naya yang sudah jadi nenek-nenek, lalu mati." Kedua tangan Andra menahan tendangan kaki Naya sampai dia terjatuh dari tempat duduk.


Pukulan Arvin juga mendarat, candaan Andra tidak lucu sama sekali karena endingnya mati.


Tawa Agra dan Arvin terdengar merasa lucu melihat Andra dan Naya bertengkar, tingkah keduanya menghilang sedikit beban.


"Kenapa aku yang mati, kenapa juga aku yang menderita? Membuat cerita, tapi melarat." Tendangan Naya kuat.


"Namanya juga peran pendukung, kisahnya juga sad ending."


"Andra sialan!"


"Ya ya ya, aku ubah menjadi happy ending, setelah menjadi nenek-nenek ... Naya sakit." Andra memegang lehernya yang dicekik kuat.


Tangan Naya ditarik oleh Agra, bagaimana kisahnya jika bersama Andra berumah tangga.


Kepala Naya, Arvin dan Agra melihat ke atas langit, ketiganya langsung merinding. Berumah tangga bersama Andra masa depan suram.


"Kenapa aku, meksipun aku sedikit nakal setidaknya aku menjadi wanita Ratu ... kecuali Naya."


"Kalian berdua ini seperti musuh bebuyutan, tidak pernah akur. Apa susahnya berdamai?" Agra memeluk Andra yang memukuli Naya.


"Jika dia wanita satu-satunya wanita di muka bumi ini, mungkin aku pilih jomblo." Andra menendang kursi Naya membuat Naya dan Arvin terjungkal jatuh.


Tawa Andra terdengar berlari kencang saat Arvin dan Naya mengejarnya, Agra hanya tertawa melihat ketiganya yang lari-larian.


Masalah Agra serasa berkurang melihat ketiga sahabatnya bisa membuatnya tertawa kembali setelah dikecewakan oleh kedua orangtuanya.


"Kakak, kenapa Alis tidak diajak main?" teriakkan dari apartemen terdengar.


Senyuman Agra terlihat, melambaikan tangannya melihat Alis dan Prilly berlari ke arahnya.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2