
Sampai di rumah Agra kedatangan Naya dan Prilly disambut baik oleh Mamanya Agra, ikut prihatin dengan musibah yang menimpa.
"Masuk, di mana Agra?" tanya Mama.
"Ke rumah daddynya," jawab Agra.
"Kenapa tidak sekalian ke sini, bagaimana jika dia dipukuli lagi?" Mama tarik napas panjang karena kasihan kepada Agra.
Nay dan Prilly pertama kalinya masuk rumah Agra, terasa nyaman, besar dan luas, tapi sangat sepi.
Sejak bangkrut Mama tidak menggunakan asisten, segalanya dilakukan sendiri. Menyiapkan segala hal yang berdua dengan putranya.
"Kalian jangan sungkan, tinggal di rumah ini selama mungkin, soal makan kita cari bersama." Senyuman Mama terlihat, meminta Andra menujukkan kamar tamu.
"Terima kasih Tante." Naya dan Prilly membungkukkan tubuhnya.
Keduanya berjalan mengikuti Agra, menatap kamar yang sangat luas. Nay tidak enak menggunakan kamar yang sangat mewah.
"Dra, tidak ada kamar pembantu saja, aku tidak biasa di kamar luas begini," pinta Naya karena merasa sungkan.
"Mama pasti tidak menyetujui, jangan sia-siakan kebaikan Mama," mohon Agra, mempersilahkan Naya beristirahat.
Pintu kamar tertutup, Naya duduk dipinggir ranjang melihat ke arah Prilly yang mengintip di gorden jendela kamar.
Keduanya hanya diam karena berada dalam perasaan gelisah, binggung, juga tidak memiliki solusi apapun.
"Bagaimana caranya aku kerja dan kuliah?" Naya terlentang di atas tempat tidur karena memikirkan masa depannya.
Prilly juga sama, dia tidak punya pakaian. Padahal baru saja bekerja, tidak mungkin meminta uang gaji sebelum waktunya.
Panggilan masuk dari Alisha, Naya langsung menjawab memberitahu jika baik-baik saja. Hanya keluar dengan pakaian di badan.
"Bagaimana kondisi Kak Agra?"
"Dia pergi ke rumah daddynya, Agra pasti merasa bersalah." Naya merasa kepalanya berdenyut.
Tarikan napas Alis terdengar, bisa merasakan beban yang dipikul Naya. Dia tidak memiliki keluarga, punya tempat tinggal lenyap menjadi abu.
"Apa yang bisa Alis bantu." Panggilan Alis matikan, menatap ke arah lemari pakaiannya.
Baju satu persatu dibongkar, Alis memilih bajunya yang jarang dipakai untuk diberikan kepada Naya dan Prilly. Keduanya membutuhkan pakaian untuk kuliah dan bekerja.
Banyak baju yang berhamburan di lantai juga tempat tidur, Alis menarik dua koper memasukkan baju dan celana.
Pintu kamar Alis terbuka, Mami nampak terkejut saat melihat Alis memasukan pakaian ke koper.
__ADS_1
"Ada apa ini Lis, kenapa?" Mami mengeluarkan pakaian tidak mengizinkan Alis pergi dari rumah.
"Mami, Alis sudah capek. Jangan dikelurkan lagi."
"Kamu mau ke mana, kalau ada masalah bicara sama mami." Pelukan lembut tidak mengizinkan anak gadisnya pergi.
Kepala Alis menggeleng, dia tidak berniat pergi. Masalahnya sahabatnya terkena musibah. Kanaya dan Prilly kehilangan tempat tinggal dan pakaian.
"Semua baju ini untuk mereka, soalnya Nay dan Prilly harus kerja dan kuliah." Alis meneteskan air matanya karena tidak tega.
Mami terduduk lemas, putrinya sungguh baik dan penuh kasih sayang. Tanpa diminta dia langsung menyisihkan dari miliknya.
"Kenapa Alis tidak memberikan uang?"
"Tidak bagus Mi, Alis lebih suka terlihat sederhana di depan teman Alis."
Kepala Mami mengangguk, meminta Alis segera bersiap. Mami membantu merapikan pakaian ke dalam koper.
Setelah semuanya rapi, Alis memeluk Mami mengucapkan terima kasih. Langsung melangkah pergi membawa dua koper.
"Baiknya putriku, dia sangat menghargai status orang, tidak merendahkan. Mami bangga melahirkan kamu," ujar Mami yang lega.
Suara Papi memanggil terdengar, tidak sengaja melihat Alis kabur dengan dua koper di tangannya.
"Pi, biarkan saja. Sahabatnya terkena musibah, Alis membawa bajunya."
Perlahan Mami naik ke lantai atas, membangunkan Andra yang belum juga turun padahal sudah siang.
"Dra, bangun."
"Kenapa, baru saja tidur." Pintu kamar terbuka.
"Cek ponsel kamu," pinta Mami.
Andra mengambil ponselnya langsung lompat ke atas tempat tidur, masih memejamkan matanya.
Layar ponsel hidup, Andra melihat ada panggilan masuk dan pesan. Ada rekaman video apartemen kebakaran.
Agra menginformasikan tidak ada korban jiwa, hanya saja Naya, Prilly dan Agra keluar rumah tanpa membawa apapun.
"Dugaan Naya terbukti, tidak ada yang bisa aku lakukan selain berharap kalian baik-baik saja." Andra memejamkan kembali matanya karena Naya berada di tempat yang aman.
Deringan ponsel terdengar, Arvin menjawab panggilan dari Andra. Keduanya membahas siapa saja pelaku yang masuk daftar.
"Kita bertemu di bar malam ini," ucap Andra yang memutuskan tidur kembali.
__ADS_1
Perasaan Andra tidak enak, masih mencemaskan Kanaya yang pastinya stres karena kehilangan tempat berteduh.
"Kenapa aku begitu mencemaskan dia?" Andra mengambil ponsel kembali.
Sengaja Andra memanggil dan mematikan, tidak ada respon dari Naya. Terpaksa Andra menghubungi, Naya menjawab dengan nada yang sangat pelan.
"Bagaimana kondisi kamu?"
"Mustahil jika aku baik-baik saja Dra," balas Naya yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Pasti memikirkan apartemen, bagaimana ganti rugi?"
"Aku tidak memikirkan itu, tapi mencari cara untuk membuktikan jika aku tidak harus tanggung jawab." Nay memejamkan matanya, perasaannya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Emh, aku akan mencari tahu kebenarannya. Kamu jangan terlalu terbebani." Andra tidak mendengar jawaban Naya lagi, dasar jika ucapannya tidak mengembalikan semangat Naya.
Mata Naya terbuka, senyumannya nampak saat mendengar suara Andra bernyanyi dengan nada yang sangat lembut, suaranya bagus dan mampu membuat suasana hati Naya tenang.
"So sweet banget jadi cowok, tidak bisa dibayangkan jika dia punya pacar, pasti bahagia sekali," batin Naya karena Andra lelaki yang penyayang meksipun secara diam-diam.
"Andra! suara kamu jelek, berhentilah bernyanyi. Sakit telinga Mami." Pintu tertutup kuat.
Tawa Naya terdengar, tidak bisa membayangkan ekpresi Andra yang pastinya sangat terkejut setelah di marah.
"Tahu sekarang alasan kenapa aku tidak menjadi penyanyi?" Andra menghentikan tingkah konyolnya.
"Suara kamu bagus, tapi lebih bagus tidak dikeluarkan," ucap Naya menahan tawa.
Senyuman Andra terlihat, merasa lega karena Naya sudah bisa tertawa. Tidak terlalu mencemaskan hari esok karena Naya tidak sendiri.
"Sudahi sedihnya, soalnya susah."
"Susah kenapa?"
"Emh, aku harus menghubungi langit untuk mengembalikan senyuman kamu." Andra terdengar sangat serius lebih suka Naya yang pemarah daripada banyak diam.
Jantung Naya berdegup kencang, tidak bisa berkata-kata lagi karena baru kali ini Andra terdengar sangat tulus.
Panggilan mati, Naya tersenyum lebar merindukan sosok Andra. Sadar diri jika tidak mungkin saling memiliki, Nay hanya bisa menyimpan perasaannya.
"Terima kasih Dra, kamu penyemangat aku." Nay bangkit dari duduknya untuk segera mencari tahu penyebab kebakaran.
Naya tidak akan membiarkan Arvin berusaha sendiri, bukan salah terjadi kebakaran, tapi kakeknya yang tidak punya hati.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira