
Perlahan Prilly turun dari ranjang, melihat tiga wanita yang tidur dengan pulas. Dia langsung melangkah keluar kamar melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu kamar lain.
Kepalanya ditutupi topi dan masker, tapi Prilly bisa mengenalinya dengan jelas. Kepala terangkat menatap wanita tinggi, berambut panjang di kuncir satu.
"Kenapa tidak bisa tidur?"
"Temani aku," pintanya berjalan lebih dulu mendahulu Prilly.
Tanpa bertanya lagi, Prilly mengikuti di samping Agra yang masuk ke dalam lift. Keduanya nampak canggung tidak seperti biasanya yang nampak santai.
"Lapar tidak?"
"Tidak, kamu kenapa, ada masalah?" Prilly merasa ada sesuatu yang ingin Agra bicarakan.
"Aku mencintai pekerjaanku, tapi aku juga ingin memiliki kehidupan pribadi. Bagaimana menurut kamu?"
"Bisa jelaskan lebih detail, kehidupan pribadi apa?"
Tangan Prilly digenggam, melangkah bersama ke arah mobil. Agra tidak melepaskan genggaman meksipun ada beberapa orang yang menatap ke arahnya.
Perasaan Prilly tidak enak, dia khawatir jika ada yang melihatnya berjalan gandengan. Agra sedang ada dipuncak karir, Prilly tidak ingin merusak citra.
"Kita bisa berjalan seperti biasanya Agra, tolong jangan seperti ini." Prilly menutup pintu mobil, membuka lagi barulah masuk.
Senyuman Agra terlihat, perhatiannya tidak pernah dianggap serius. Padahal Agra tidak peduli pendapat orang.
Mobil melaju pergi padahal sudah tengah malam, di taman yang tidak terlalu jauh dari hotel nampak ramai. Masih banyak orang yang bersantai-santai sambil makan.
"Kenapa topi dan masker di buka?" Prilly menahan tangan Agra, melarangnya untuk keluar mobil.
"Oke, pakai topi. Aku mau makan." Senyuman Agra terlihat keluar dari mobil.
"Kenapa dia sekarang hobi muncul tanpa pengawasan," gumam Prilly kesal mengikuti Agra yang memesan makanan di tempat yang cukup ramai.
"Gra, biar aku yang pesan, kamu tunggu di mobil," pinta Prilly karena penggemar luar negeri lebih agresif.
"Kamu mau makan apa? Aku yang pesan."
Kepala Prilly tertunduk, melihat sekitar yang menatap Agra. Beberapa orang sudah mulai mengarahkan ponselnya.
"Gra, ayo pergi."
"Nanti, tolong jangan di foto. Aku juga ingin hidup bebas." Tubuh Agra membungkuk ke arah banyak orang barulah ponsel turun semua.
Akhirnya Prilly terdiam, dia tahu betapa Agra menyukai musik, tapi kehidupan yang bebas terenggut.
Tidak bisa bersantai seperti dulu, ke manapun Agra pergi harus didampingi banyak orang, sampai dia tidak tahu rasanya berjalan di keramaian.
"Kenapa melamun?" rambut Prilly diacak-acak.
__ADS_1
"Aku lebih tua, jangan kurang ajar," tegur Prilly.
"Iya Kakak." Tawa Agra terdengar, Prilly juga tertunduk sambil tersenyum.
Keduanya membawa makanan ke arah meja yang kosong, duduk santai menatap malam yang indah.
Rasa hati Agra begitu senang, bisa berada di antara banyaknya orang. Ternyata dirinya bisa normal kembali.
"Pril, aku ingin memiliki kehidupan pribadi selain memprioritaskan pekerjaan."
"Meksipun begitu tidak bisa dipublikasikan, bahaya." Prilly memberikan peringatan banyaknya media yang akan menyoroti sampai fans yang menjodohkan dengan penyanyi dan aktris akan panas.
Kepala Agra mengangguk, dia tahu dan sudah memikirkannya, tapi tidak peduli. Agra tetap akan membiarkan publik tahu.
"Kontrak habis, aku belum tanda tangan ulang sepertinya tidak akan tanda tangan," ujar Agra mengejutkan Prilly.
"Apa yang kamu pikirkan?" suara Prilly meninggi membuat beberapa orang menoleh.
Tawa Agra kencang, mengunyah makanannya. Baru pertama kali melihat ekpresi wajah Prilly terkejut dan marah.
"Gra."
Agra mengulangi kembali ucapannya, dia sudah bicara dengan perusahaan lama. Agra akan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas, dan menyudahi secara baik.
Meksipun keluar dari perusahaan yang menaunginya, Agra tidak akan meninggalkan karirnya.
"Aku sudah bicara dengan Daddy, dan dia setuju."
"Bicara apa?"
Senyuman Agra terlihat, kepalanya menggeleng menolak memberitahukan. Nanti Prilly akan tahu dengan sendirinya, tidak perlu banyak protes.
Wajah memelas terlihat, Prilly merasa sangat penasaran. Dia ingin tahu apa yang direncanakan Agra karena tidak rela jika karir Agra putus begitu saja.
Prilly menjadi saksi kerja keras Agra, tahu bagaimana sulitnya Agra mencoba menaikkan karirnya.
"Pril, kita bukan remaja lagi, dulu aku mengiginkan karir, sekarang membutuhkan pasangan." Genggaman tangan Agra erat, tidak peduli jika ada penggemar yang memperhatikan.
"Gra banyak orang, kita pergi saja dari sini," pintanya Prilly pelan.
"Aku serius ingin bersama ...." mulut Agra ditutup, Prilly langsung lari ke arah mobil.
Agra hanya memberikan senyuman kecil, berjalan pelan menyusul Prilly ke arah mobil. Cuaca malam juga semakin dingin, terlihat dari beberapa orang yang mulai meninggalkan taman.
"Kenapa kamu bicara begitu di tempat umum?"
"Haruskan aku melakukan siaran langsung," teriakan Agra terdengar karena mendapatkan pukulan dari Prilly.
Wajah menyesal terlihat, mengusap lengan Agra karena meringis kesakitan. Agra tidak merasakan sakit sama sekali, tapi suka dengan perhatian Prilly.
__ADS_1
"Perasaan memukulnya tidak kuat, jangan bercanda Gra." Kecupan mendarat di bibir Prilly membuat tubuhnya mundur.
Mata Prilly melotot, menyentuh bibirnya yang merasakan bibir Agra yang dingin, wajahnya langsung memerah menahan malu.
"Maaf, jangan marah," sesal Agra yang menyesali sikap lancangnya.
"Kenapa begitu, Prilly malu."
"Iya maaf, aku kelepasan." Tangan Agra mengusap rambut Prilly lembut suka melihat gadis tomboi yang suka bertarung nampak malu-malu.
Jantung Prilly berdegup kencang, meminta Agra segera pulang ke hotel karena dia ingin istirahat.
Mobil melaju pergi ke hotel, saat ingin masuk tangan Prilly digenggam. Jari-jemarinya bersatu dengan Agra.
"Besok jangan lihat sosial media, takutnya kamu pingsan." Tawa kecil Agra terdengar melangkah masuk ke lift.
"Sekarang juga hampir pingsan," batin Prilly dalam hatinya yang merasa panas dingin.
Sampai dikamar, genggaman tangan langsung dilepas. Prilly cepat masuk tanpa pamitan karena wajahnya semakin merah.
Agra tidak pernah tahu jika Prilly mencintainya belasan tahun, tapi menyimpan perasaan karena tahu diri keduanya jauh berbeda.
Suara tepuk tangan di dalam kamar terdengar, Naya, Alis dan Erin sudah lama menunggu. Ketiganya tidak menyangka Prilly ternyata nakal juga sampai pergi tanpa pamitan.
"Kenapa wajah Kak Prilly merah?" tanya Erin.
"Bibirnya juga," sindir Alis.
Kepala Naya geleng-geleng, wajah Prilly menujukkan ekpresi yang sangat mudah ditebak. Dia bisa menjadi ejekan Alis dan Erin.
"Jangan-jangan ada yang main isap- isapan?"
"Erin jaga mulut kamu, aku tidak melakukan hal gila." Prilly menatap tajam.
"Bagiamana rasanya di kiss oleh cowok populer?" goda Alis mendekati Prilly menyentuh bibirnya.
Tangan Alis ditepis kuat, Prilly langsung lari ke kamar mandi untuk menghindari tiga wanita yang tidak tidur karena menunggunya pulang.
"Sudahlah jangan terlalu malu, Kak Prilly sudah dewasa." Kanaya meminta Prilly keluar karena dia ingin buang air kecil.
"Minta dua anak itu diam dulu, aku malu."
Tawa Naya terdengar, meminta Alis dan Erin berhenti menggoda, tiap orang punya respon yang tidak sama.
"Nay kamu pernah ciuman?" tanya Erin penasaran langsung menggeleng karena bibir pria bisa pecah jika menyentuh bibir Naya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1