KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENOLAK PACARAN


__ADS_3

Di rumah Arvin terdengar ramai, Kakek memarahi Prilly karena membuat Erin hampir jatuh. Keduanya sedang belajar untuk berjalan.


"Hati-hati kamu Pril, jika Erin sampai jatuh maka ...."


"Yah, biarkan Prilly melakukannya tanpa dimarah nanti bukan hanya pinggang yang patah tangan kaki juga dia patahkan," tegur Daddy yang sedari tadi memperhatikan.


"Kamu bicara apa, jaga ucapan. Jika Erin sembuh lalu orangtuanya datang pasti dia akan membantu bisnis kita menjodohkan Arvin dan Erin kembali." Kakek masih saja dengan sikap kerasnya meskipun sudah duduk di kursi roda.


"Ayah, berhentilah menjodohkan Arvin, jika dia tahu pasti marah."


"Ini semua salah kamu karena tidak tegas kepada anak, tidak ingin mendengar ucapan orang tua." Kakek melangkah pergi melirik tajam Mama Mar yang duduk di sofa.


Kepala Daddy geleng-geleng, Ayahnya setiap hari marah-marah, tatapannya tidak suka kepada semua orang kecuali Erin.


"Bagaimana kondisi Erin, Pril?"


"LIhat tante, Erin sudah bisa berdiri, mulai melangkah perlahan ke ruang tamu." Tangan Prilly bertepuk karena Erin sangat hebat.


Suara Agra memanggil Mamanya terdengar, tatapan mata Agra tajam tidak suka melihat Mamanya duduk di depan Daddy.


"Ada apa Gra?"


"Kenapa Mama selalu datang ke sini, Agra tidak setuju jika Mama dan Daddynya Arvin menjalin hubungan, tidak akan mengizinkan," ucap Agra kesal.


Mama terlihat kaget, Daddy juga kaget mendengarnya hanya menahan senyum saat Agra marah-marah tidak ingin Mamanya sakit hati karena cinta.


Daddy Arvin terkenal dengan sikapnya yang suka gonta-ganti pasangan tidak pernah menikahi wanita yang berhubungan dengannya.


"Agra jaga ucapan kamu, tidak boleh bicara seperti itu," tegur Mama yang merasa malu.


"Itu faktanya setelah mommy Arvin meninggal Daddy tidak menikah lagi, tapi pacarnya numpuk di mana-mana."


"Ini anak buat malu, Mama tidak ada hubungan apapun." Mama menarik telinga Agra meminta maaf kepada Daddy yang hanya senyum-senyum saja.


Senyuman Arvin terlihat pertama kalinya melihat Agra marah-marah ternyata dia tidak takut dengan Daddy yang terkenal kasar.


Naya dan Prilly bertepuk tangan, jika teringat Daddy yang sebelumnya mungkin Agra akan segera ditendang keluar.

__ADS_1


"Duduk dulu Gra, jangan menilai Mama kamu begitu." Daddy mempersilahkan untuk duduk.


"Maaf ya Ar terdengar kurang ajar sekali, padahal aku mengantarkan makanan juga dibayar, bukan mencari perhatian." Mama merasa malu ulah putranya yang asal bicara.


"Tidak perlu minta maaf karena Agra memang pintar menilai pikiran orang, aku meminta bantuan kamu memang ada tujuan," ucap Daddy sambil tersenyum.


Mama menatap Prilly yang geleng-geleng, setahu Prilly hanya sebatas bisnis dan Daddy sudah berubah tidak seburuk dulu.


"Pilihlah wanita lain jangan Mama, jadi laki-laki pejahat wanita," tegur Arvin yang tidak suka dengan sikap daddynya.


"Daripada kamu di tolak wanita," balas Daddy sambil tertawa.


Tubuhnya membungkuk meminta maaf karena candaannya dianggap serius, tidak ada niatannya untuk mempermainkan.


Sikap Agra sudah benar untuk mempertahankan mamanya, dia lelaki yang harus bertanggung jawab menjaga dan mencintainya lebih dari siapapun.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan kamu dalam mencintainya, jika boleh Uncle juga ingin menjaganya, tapi menunggu kamu mengizinkan untuk menikah."


"Jangan harap, aku tidak akan memberikan restu, Daddy cari saja wanita lain. Kita pulang sekarang Ma, Agra tidak suka melihat Daddy." Tatapan Agra tajam, meminta Arvin menahan daddy untuk tidak datang ke restoran cari alasan.


Tangan Mama ditarik keluar, Arvin juga ikut keluar begitupun dengan Naya dan Alis mengikuti dari belakang.


"Gra, Mama rasa tindakan kamu berlebihan sayang," tahan Mama menghentikan langkahnya.


"Apa yang Agra lakukan karena ingin Mama aman, ada banyak lelaki yang lebih baik, jangan Daddy Arvin." Bagi Agra dia dan Arvin memang bersahabat, begitu menyayangi sahabatnya, dan tahu jika Arvin baik, tapi tidak dengan Daddynya.


"Agra benar Tante, jangan Daddy, dia penjahat wanita. Selama Mommy masih ada saja ada banyak wanita yang dibawa pulang, jadi jangan sakiti diri Tante. Arvin menolak tegas hubungan ini." Senyuman Arvin terlihat membungkukan tubuhnya meminta maaf.


Tawa Mama terdengar merasa lucu dengan anak-anak yang begitu kompak, sulit sekali memahami pikiran anak muda.


Menjadi seorang ibu yang gagal dalam rumah tangga sangat paham ketakutan anaknya, dan tidak mungkin begitu mudah membuka hat.


"Vin, Gra, sedikipun Daddy tidak pernah menggoda, bahkan dia hanya membahas soal Erin, soal pekerjaan, bahkan menanyakan soal Arvin," jelas Mama menyakinkan.


"Itu hanya basa-basi Ma, setelah Mama merasa nyaman barulah buaya bermain." Alis memberitahukan jika percintaan zaman dan dulu dan modern sudah berubah.


Mama memijit pelipisnya akhinya mengangguk, meminta maaf jika dirinya ketinggalan zaman.

__ADS_1


"Vin, kita pulang dulu." Agra membukakan pintu mobil.


Kepala Agra menoleh ke arah lantai atas, Daddy Arvin memiliki tatapan kosong ke arah satu mobil yang sudah lama tidak digunakan.


Sejak mengenal Arvin mobil yang terparkir milik almarhum Mommy, terlihat sorot maat penuh penyesalan.


Kanaya melihat ke arah pandangan Agra, menepuk pundaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Ar, kita pulang dulu, terima kasih karena selalu memesan makanan di restoran," teriakkan Mama terdengar.


Senyuman Daddy terlihat, menganggukkan kepalanya pelan, menatap mobil melaju pergi dari rumahnya.


Tatapan mata Arvin tajam, berjalan masuk ke dalam rumah menaiki tangga mendekati Daddynya.


"Daddy jangan macam-macam, Tante satu-satunya harapan Agra, jika wanita itu tersakiti maka dia akan hancur, Arvin tidak akan tinggal diam." Sikap keras Arvin terlihat karena dia dulu hanya diam melihat Mommy disakiti, tapi kali ini tidak akan tinggal diam.


"Kamu sudah mendaftarkan diri, apa Daddy harus ikut?" Daddy sudah mendapatkan kabar soal Arvin yang ingin menjadi Dokter.


"Tidak perlu, Arvin sudah besar dan bisa jaga diri sendiri, Daddy juga jaga diri berhentilah mencari pacar, ingat suda tua tidak punya malu."


"Iya, Daddy tidak akan pacaran, Daddy akan menunggu kamu saja yang menikah." Pelukan Daddy erat mengacak rambut putranya.


Helaan napas Napas Arvin terdengar, dia masih lama menikah sekitar sepuluh tahun lagi, sebelum menjadi dokter yang hebat tidak akan menikah.


"Yee, Arvin akan menjadi dokter. Jika Daddy sakit sudah ada yang akan mengobati."


"Bagaimana jika Arvin menjadi dokter kandungan, Daddy mau hamil?" Arvin tersenyum menahan tawa melangkah pergi.


Teriakan Daddy terdengar tidak mengizinkan Arvin menjadi dokter kandungan karena dia akan membantu wanita melahirkan, biarkan wanita saja yang menjadi dokter kandungan.


Arvin tidak menangapi ucapan Daddynya, dia harus mempersiapkan banyak hal untuk mengikuti tes.


"Dra, aku akan menjadi dokter, dan kita akan bertemu." Senyuman Arvin terlihat menatap fotonya bersama kedua sahabatnya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2