KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENIKAH BERSAMA


__ADS_3

Tidak ingin mengecewakan Mami, Naya menepati janji untuk datang. Merasa tidak enak setelah terlambat membaca pesan.


"Pagi sayang," sapa Mai saat melihat Naya sejak pagi sudah datang di rumahnya.


"Pagi Mi, Naya datang kepagian dan ganggu lagi," sesal Naya merasa tidak enak.


Senyuman Mami terlihat, mengandeng tangan Naya untuk duduk di meja makan menunggu suaminya datang untuk sarapan.


Hati Nay senang karena kedatangan disambut tidak diperlakukan dengan buruk oleh kedua orang tua Andra.


"Mami paham kamu tidak enakan karena beda status, tapi jangan merasa minder karena hal itu, kamu istimewa dalam hal Lian," ucap Mami yang bisa membaca pikiran Naya.


"Tidak Mi, sejujurnya Naya sangat bahagia, tidak kepikiran sama sekali soal itu, Nay hanya takut mengecewakan Mami." Kepala Naya tertunduk, dia tidak tahu apapun soal kehidupan orang kaya.


Tawa Nay terdengar, dia tidak berpikir ada bedanya, Kanaya terlalu sering merendahkan diri makanya Mami sangat menyukainya.


"Nay, kamu wanita hebat buktinya bisa sukses dengan usaha sendiri, apa yang membuat kamu khawatir?"


"Mami benar, Naya mampu mensukseskan diri sendiri, tapi tidak bisa dibandingkan dengan wanita kaya raya lain." Gigi Naya nyengir tidak akan meremehkan dirinya sendiri.


Kepala Mami geleng-geleng, Naya terlalu sering membandingkan dirinya dengan yang di atas, maka dia tidak akan menemukan kepuasan.


Seandainya bisa melihat yan di bawah barulah sadar jika semua yang dimiliki jauh lebih baik.


"Pagi Kanaya," sapa Papi saat melihat Naya sedang asik mengobrol bersama Mami.


"Pagi Pi, maaf Naya datangnya pagi sekali."


"Kenapa sungkan anggap saja rumah sendiri, apa tuan Rumah harus pamit jika ingin masuk?" taya Papi menikmati sarapan nya.


Kepala Nay menggeleng, dia hanya tidak enak saja, apalagi sempat mengabaikan pesan Mami dalam waktu yang cukup lama.


"Dimana Andra, apa dia tidak pulang besama kamu?"


"Andra masih tidur Pi, dia semalam mabuk-mabukan bersama Arvin karena Alis." Senyuman Naya terlihat menatap wajah Mami dan Papi terkejut.


Arvin manusia es bisa cemburu juga sampai mabuk, apalagi hal yang membuatnya cemburu sangat sepele.


"Lelaki wajib mencintai wanita lebih besar, jika wanita jangan terlalu menunjukkan rasa cinta," pesan Papi karena lelaki yang mencintai lebih cukup dengan satu wanita.


Beda cerita jika wanita yang tergila-gila, dan bisa kehilangan segalanya termasuk akal sehat.


Kepala Nay mengangguk membenarkan jika terllau mencintai akan kehilangan apa yang dimilikinya,


"Cintai lelaki dalam porsi wajar, mempertahankan itu boleh, berjuang juga wajib, tapi jika harus memohon dan memelas itu tugas lelaki." Mami senang mendengar kabar Arvin cemburu, berarti dia sangat takut kehilangan.


"Iya Mi, Naya akan sellau mengingat pesan itu."


"Kamu tahu Nay jika Andra bukan anak kandung Mami?"


"Emh, tapi Andra tidak pernah mengatakan dan baginya Mami satu-satunya."


"Iya itu benar, tapi tidak akan mengubah kenyataan. Mami sangat mencintai Andra, tidak ingin dia kembali kepada keluarganya, dia milik Mami." Naya bisa melihat ketakutan di mata Mami jika Andra akan diambil darinya.


Cinta seorang Putra kepada ibunya sangat besar, dia bahkan harus tunduk dengan ibu demi menjaga rasa hormat, rasa itu tidak bisa dibandingkan dengan ayahnya.


"Apa ada masalah Mi?" tanya Papi yang sangat yakin jika istrinya punya masalah.


"Masalahnya mami ingin Andra menikah dengan pilihan Mami bukan ibu kandungnya."


"Andra tidak pernah menurut kepada siapapun kecuali orang yang dicintainya, tidak peduli hubungan itu apa," ucap Naya yang sangat yakin jika Andra tidak akan lupa itu.


Senyuman Mami terlihat berharap kali ini Naya benar tidak seperti yang dipikirkannya. Mami yang mencinta Andra tidak mungkin putranya meninggalkan.


Suara Andra terdengar teriak-teriak, mami langsung berlari ke depan pintu untuk menyambut kedatangan anaknya.


Kepala Papi geleng-geleng, tidak tahu apa yang Naya sukai dari Andra, dia sosok yang sangat menyebalkan.


"Saat Papi pulang, Mami masih bisa jalan santai, tapi saat anak lelakinya pulang langsung lari lupa dengan suami." Kepala Papi geleng-geleng meminta Naya paham jika Mami begitu mencintai Andra.


Kanaya tahu dan memahami isi hati Mami, dia begitu mencintai Andra lebih dari apapun, sesuatu yang sangat normal.


"Kanaya, kenapa aku ditinggalkan?" Andra memanyunkan bibirnya karena Naya pergi begitu saja.


"Tidak ada juga yang akan menculik kamu" tegur Naya santai.


Andra duduk di samping Naya, menyandarkan kepalanya yang masih pusing. Mata Andra terpejam merasakan kantuk.


"Sejak pacaran perusahaan jadi nomor dua ya, Dra?" goda Papi.


"Tidak begitu Pi, tapi sekarang ambisi Andra tidak pada perusahaan lagi. Setelah berjuang begitu lamanya rasanya waktu aku dulu sudah cukup tercurahkan kepada pekerjaan, sekarang Andra hanya perlu mempertahankan saja," jelas Andra tidak ingin memprioritaskan lagi karena tidak ada habisnya.


Andra ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, juga Naya. Dulu, Andra harus pergi meninggalkan cintanya demi memperjuangkan karirnya, saat sudah ada di puncak maka Andra ingin menarik cintanya untuk bersanding bersama.


"Bagus jika pikiran kamu begitu, Papi tidak perlu banyak menasihati karena Andra sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik." Papi mengusap kepala Andra karena bangga kepada putranya.


"Menikahlah, Agra sudah mempunyai pendamping sisa Andra dan Arvin."


"Arvin tidak bisa mendahului Andra, makanya demi kedamaian Andra harus menikah." Tawa Andra terdengar merasa lucu melihat Arvin yang cemburu hanya karena Alis dikelilingi banyak pengagum.


Sarapan pagi terasa hangat dengan obrolan santai untuk persiapan pernikahan Andra, dia sudah tahu jika Mami begitu antusias sampai menyiapkan segalanya sendiri.


"Permisi, Bu Pak, ada tamu yang memaksa ingin bertemu?" maid mendekati Mami.


"Tolak, jika dia tidak punya janji berkunjung maka jangan diizinkan." Andra tidak terima tamu apalagi sedang nikmat sarapan.


"Dia bilang namanya Rose."


Sendok yang Mami pegang jatuh, menatap ke arah suaminya yang juga terkejut. Andra dan Naya masih makan.


"Andra, kamu jangan keluar. Mami yang akan menemuinya."


"Papi temani," tawar Papi.


"Tidak perlu, biar Mami saja yang mengurusnya." Cepat Mami keluar untuk melihat apa yang dilakukan di rumahnya.


Suara high terdengar, pintu terbuka lebar. Mami melangkah keluar rumah menatap wanita seksi yang berada di depan gerbang.


Senyuman lebar terlihat, membungkukkan tubuhnya memberikan salam, tangan terangkat seakan mereka teman baik.


"Apa kabar," sapanya.


"Tamu tidak diundang," sindir mami.


"Jangan katakan itu, aku hanya ingin bertemu Andra," pintanya.


Kepala Mami menggeleng, Rose tidak berhak menemui Andra karena dia yang membuang. Beberapa kali sudah Mami berikan kesempatan agar menemui Andra.


"Tidak selayaknya kamu datang ke sini, sungguh memalukan." Mami mengusir, meminta penjaga membawa keluar.


Tawa terdengar tidak seharusnya dia diusir setelah melahirkan seorang anak, ada banyak cara untuk bertemu Andra.


"Peringatan untuk kamu agar berhenti menahan Andra, dia anakku." Senyuman sinis terlihat merendahkan Mami.


Tangan Mami tergempal, Rose melemparkan sesuatu untuk Mami yang menginjak foto. Kanaya melangkah mendekati Mami.


"Siapa wanita ini, apa dia Putri mu?"


"Calonnya Andra," jawab Kanaya membungkuk badannya menyapa.


Mata Rose terbelalak, memperhatikan penampilan Naya dari atas hingga bawah. Pakaian yang digunakan tidak bermerek seharusnya tidak lancang untuk berani memperkenalkan diri.


"Pasti orang miskin, kamu harus sadar diri. Kehadiran miskin di kehidupan kaya tidak baik hanya akan menjadi wanita penghibur," sindirnya untuk Naya.


"Wanita penghibur, dia yang melayani banyak orang, tapi jika menghibur pasangan hidup sesuatu yang harus dilakukan, daripada kedatangan lalat busuk," sindir Naya tersenyum kecil.


Tangan Rose menunjuk ke arah wajah Naya, memintanya tidak ikut campur, dia hanya calon belum tentu jadi karena Rose memiliki seseorang yang layak.


"Kamu hanya melahirkannya, sisanya aku yang menanamkan banyak hal hingga dewasa, apa pantas untuk datang?" Mami tidak akan melepaskan putranya untuk melihat wanita yang tidak punya harga diri lagi.


Tatapan mata Rose tajam, dia pastikan suatu hari bisa membawa Andra. Membuatnya meninggalkan wanita jahat yang dipikir Andra malaikat tidak bersayap.


Rose melangkah pergi, dia ingin menghacurkan masa lalu yang dulu juga menghancurkannya.


"Mami jangan khawatir." Naya memeluk Mami yang menahan tangis.


"Nay, Mami hanya melakukan satu kesalahan, salah Mami tidak melahirkannya. Aku yang menidurkan, memberikan susu, memandikan, mengajari, memberi makan, aku yang membesarkan, tapi kenapa yang melahirkan seakan-akan paling berkuasa. Andra itu anakku." Tangisan Mami terdengar karena dia sangat sensitif jika bersangkutan dengan Andra.


Kanaya memeluk erat, meminta Mami kuat. Dia wanita hebat tidak harus tersakiti hanya karena orang yang tidak pantas dihargai.


Naya tahu Andra juga sangat mencintai Maminya, menghormati lebih dari apapun. Baginya Mami cinta pertamanya.


Dari lantai atas Andra melihat kejadian, senyuman kecil Andra terlihat. Ternyata Andra mirip dengan wanita yang mengandungnya, hampir tidak ada beda.


"Kenapa aku menyerupai wanita itu, apa segitunya aku harus membenci wajah sendiri?" Andra tersenyum sinis.


"Mami sudah memberikan kamu kesempatan Andra, delapan tahun lalu Mami meminta kamu menemuinya, tapi Andra tidak datang," tegur Papi.


"Tidak ada alasan bagi Andra untuk datang, aku sudah dibuang dan ditinggalkan lalu buat apa aku datang?" kepala Andra menggeleng, tidak peduli ada berapa banyak ibu, bagi Andra dia hanya punya Mami.


Beraninya wanita asing datang membuat maminya menangis, Andra tidak rela dan tidak akan tinggal diam.


"Menyakiti Mami sama saja melawan aku, tidak peduli dia yang mengandung dan melahirkan." Andra tersenyum sinis memutuskan untuk menikah dengan Naya secepat mungkin agar dia tidak direbut.


"Dra, jika Rose mengungkap soal kamu mungkin publik akan heboh."


"Lakukanlah, dia merusak namanya sendiri. Aku ini Andra Pi, tidak muda baginya untuk menghentikan aku jika sudah nekad." Andra sudah tahu konsekuensinya, makanya dia memilih untuk diam santai.


"Papi tidak ingin kamu terluka, begitupun dengan mami."

__ADS_1


"Tidak akan ada yang terluka, ini hanya soal serakah sampai lupa diri." Andra tersenyum manis tidak ingin ambil pusing.


Andra turun dari lantai dua, melihat Maminya yang menunjukkan senyuman memeluk erat Andra tidak akan melepaskan sedikitpun.


Kapan kita perginya Mi, Andra sudah menunggu," pintanya.


"Ayo sekarang, Papi juga ikut." Mami merasa takut suaminya mengejar Rose,


Kepala Papi mengangguk mengiyakan, terpaksa ikut daripada istrinya salah paham. Menemani melihat gaun jauh lebih enak daripada tidur di luar.


Teriakkan histeris di luar rumah terdengar, penjaga berlari ke dalam jika wanita yang baru saja datang mobilnya mengalami kecelakaan di persimpangan.


"Siapa yang kecelakaan?" tanya Andra.


"Rose kecelakaan," ucap Mami memastikan kembali.


Papi dan Andra saling pandang masih tetap tenang menunggu respon Mami, bergerak cepat hanya akan melukai hati berpikir lebih mencintai orang lain.


Mami berlari keluar lagi, barulah Andra dan Papi juga keluar. Lari menuju tempat kecelakaan tanpa kendaraan karena jarak tidak terlalu jauh.


"Apa kecelakaannya disengaja demi mendapatkan perhatian Andra,'' gumam Mami penasaran.


'Apa ada korban jiwa?" tanya Andra.


"Sopir meninggalkan di tempat, satu wanita mengalami pendarahan hebat," jawab pengemudi lain yang menyaksikan kecelakaan.


Andra menata[p Rose yang nampak buruk, menatap wajah Andra yang didampingi oleh Maminya.


"Anakku, sini sayang. Mama mau peluk Andra." Kedua tangan terentang meminta putranya mendekat.


Kepala Mami mengangguk barulah Andra mendekati, Naya menghubungi kepolisian setempat.


"Di bawa ke rumah sakit dulu, itu mobil kita datang." Papi merangkul istrinya.


Andra menggendong ke dalam mobil agar bisa ke rumah sakit, Naya ikut masuk menemui Andra yang pastinya merasakan tidak nyaman.


"Andra, kenapa kamu tidak ingin bertemu, Mama?"


"Aku sudah punya Mami."


"Dra, wanita itu yang membuat kita berpisah,"


Kedua pundak Andra terangkat, dia tidak peduli soal siapa yang berkhianat, baginya dia hanya punya satu Mami.


Rose mencoba menjelaskan jika dia sudah berusaha mempertahankan Andra, tapi keterbatasan ekonomi makanya datang mengambil Papi Andra.


"Kita bertengkar Papi merampas kamu membuat Mama tidak punya pilihan." Air mata Mama menetes.


Wanita yang selama ini Andra kenal sebagai Maminya mengambil alih, Dia menahan Andra dan tidak akan menyerahkan sampai Rose melepaskan suaminya.


"Apa kecelakaan ini rekayasa?" tanya ANdra karena seseorang yang pendarahan mana bisa cerita panjang lebar.


"Mama sangat merindukan kamu," ucapnya.


"Aku tidak, soalnya punya Mami, tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu. Saat ini kamu terlihat baik-baik saja," ucap Andra tidak akan terpengaruh dengan mudah.


"Kenapa kamu tega sekali, bertahun-tahun Mama berjuang untuk mendapatkan kamu, apa begini biasanya."


"Kamu berjuang untuk diri sendiri, tidak ada sangkut pautnya denganku, lihat penampilan kamu berjalan menggunakan barang mewah, apa itu perjuangan untuk menemukan anak?" Kepala Andra geleng-geleng tidak habis pikir.


Kepala Naya tertunduk, Andra benar juga. Kecelakaan di sengaja agar bisa mempengaruhi pikiran Andra, tanpa berpikir jika Andra seseorang yang sangat pintar.


"Mama sakit Dra, jangan tinggalkan Mama." Tangan Andra digenggam erat, meminta ditemani.


Kedua alis Andra terangkat, Naya hanya menunjukkan senyuman kecil untuk menyemangati Andra agar tidak emosi.


Sampai di rumah sakit langsung dibawa ke dalam, Rose tidak ingin melepaskan Andar karena ingin ditemani.


"Jika ini menjadi hari terakhir Mama maka bersama kamu jauh lebih baik."


"Mati mau mengajak aku, hidupnya enak sendiri," bentak Andra yang mulai kesal melepaskan tangannya dari genggaman.


Andra duduk di samping Naya yang tersenyum, menggenggam tangan calon suaminya yang merasakan kesal, cemas, sedih, marah bercampur aduk.


"Sekarang kamu lihat betapa tidak sempurnanya aku." Andra mengeratkan genggaman tangannya.


Nay tersenyum manis, Andra anak yang spesial. Dia tidak ingin menyakiti salah satunya, meksipun hatinya sakit.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


Kepala Andra menggeleng, dia melihat semuanya, tapi tidak memiliki jalan untuk menyelesaikan.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan Mami, bukan berarti aku akan menyakiti wanita ini."


"Bagaimana jika dia menyakiti aku?" tanya Naya tanpa ragu karena Mami menyetujui hubungan mereka, tapi tidak ibu kandung Andra.


Andra terdiam, mengeratkan genggamannya. Naya terlihat tenang, tapi Andra yang gelisah. Memahami pikiran Naya.


Kepala Naya mengangguk, dia akan bertahan selama Andra memintanya untuk tetap bersama.


Tujuan mereka menua bersama, menghadapi segalanya bersama tidak peduli apapun yang terjadi ke depannya.


Nay menyandarkan kepalanya di pundak Andra menunggu Dokter memeriksa, Andra mengusap kepala Naya lembut.


"Dra, kenapa kamu tidak marah kepadanya?"


"Marah buat apa? Aku tidak pernah tahu kesulitan apa yang dilewati. Kita sebagai anak hanya bisa menghakimi, tidak pernah tahu sulitnya beliau bertahan. Aku tidak bisa menerima, bukan berarti harus menyakiti." Senyuman Andra terlihat, menjadi dewasa mengajarinya banyak hal.


Senyuman Naya terlihat memberikan jempolnya, kagum dengan pola pikir Andra yang sangat dewasa.


Sebagian orang pasti akan marah, mengamuk, membenci juga tidak bisa memaafkan, namun Andra tidak melakukannya.


"Aku bangga sama pikiran kamu," ujar Naya lega.


"Apa kamu berpikir selamanya aku kekanakan?"


Anggukan Nay pelan, Andra mengacak-acak rambut lalu merapikan kembali takut jika pukulan Naya melayang.


Dokter keluar dari ruangan, memastikan baik hanya mengalami luka ringan dan bisa dibawa pulang.


"Andra, tolong Mama."


Naya langsung berdiri ingin membantu berjalan, tapi tangan Naya ditepis agar segera menjauh.


"Aku butuhnya Andra bukan kamu," celanya sinis.


"Hubungi orang rumah, aku akan membayar administrasinya." Andra beranjak dari duduknya.


"Mama boleh tinggal bersama kamu?" pinta Rose.


"Tidak bisa, aku saja menumpang kepada calon istriku." Andra mengulurkan tangannya meminta Naya mendekat.


Tubuh Naya didorong, Rose mengenggam tangan Andra, meminta bantu saat berjalan karena kakinya sakit.


Senyuman Naya terlihat, mengandeng tangan satunya, berjalan bertiga. Andra tersenyum geleng-geleng ke arah Naya yang menahan tawa.


"Jangan lihat wanita itu Andra."


Langkah Andra terhenti, melepaskan tangannya. Andra membungkukkan badannya meminta maaf karena mereka tidak sedekat itu.


Rose tahu Andra terkejut menerima kenyataan, tapi mereka bisa memperbaiki segalanya, memulai dari nol.


"Mama sayang Andra, maaf sudah membuat kamu terpukul."


"Aku tidak terkejut sama sekali, tidak terpukul juga. Sejak kecil aku tahu siapa aku, tapi Mami selalu memberikan yang terbaik sebagai seorang ibu." Andra tersenyum kecil, dia tidak pernah merasakan kehilangan kasih sayang. Maminya selalu memprioritaskan kebahagiaannya.


Tidak ada jawaban dari Rose, dia tidak suka dengan Mami Andra karena dia anak orang kaya yang sangat beruntung.


Rose rela dipisahkan dari anaknya, dipaksa mengalah karena tidak setara dengan keluarga Papi Andra.


"Andra, ikut dengan Mama."


"Tidak bisa, aku sudah besar dan memiliki kehidupan pribadi. Sebentar lagi aku akan menikahi."


"Dra, kamu tahu resikonya menikahi wanita miskin?"


Kepala Andra mengangguk, dia sangat tahu namun tidak peduli dengan pendapat orang. Selama bahagia maka tidak akan mengubah keputusan Andra.


"Tante tahu rasanya cinta terhalang oleh status, hidup dalam rasa sakit. Jangan minta aku merasakan sakit yang sama," ujar Andra meminta dibebaskan.


"Tante, aku Mama kamu Dra."


"Aku tahu, tapi Andra punya satu Mami. Terima kasih sudah muncul meksipun terlambat, aku tidak marah dan membenci, tapi untuk bersama itu sulit." Senyuman Andra terlihat meminta menghubunginya jika ada sesuatu.


Andra melakukan pembayaran sekaligus mengambil obat, Naya menunggu bersama Rose. Sesekali Naya menoleh merasa kasihan melihat wanita cantik nampak kesepian.


"Ini alamat apartemen kita, ini nomor Naya jika ingin tahu kondisi Andra." Senyuman Naya terlihat pamit lebih dulu.


Andra menyerahkan obat, melangkah pergi bersama Naya. Rose menatap punggung Andra, tangannya merangkul pinggang Naya sambil menjahilinya.


"Nay, bukannya itu supir yang dinyatakan meninggal?"


"Emh, ternyata Mama kamu sengaja ingin bertemu. Sesekali ajak dia ke rumah, Agra saja bisa damai, kenapa kamu tidak?"


"Aku bisa, tapi tidak bagi Mami. Aku tidak ingin melukai hati Mami." Andra membukakan pintu mobil, supir menyapa langsung kembali ke rumah.


Sepanjang jalan Naya menatap ponselnya, tidak ada pesan masuk. Mama Andra tidak menghubunginya.


"Kenapa menatap ponsel terus?" Andra menoleh ke arah Kanaya.

__ADS_1


"Siapa tahu ada urusan kantor," elak Nay agar Andra tidak banyak tanya.


Sampai di rumah Mami mondar-mandir depan pintu, tidak rela jika Andra berlama-lama dengan Rose.


"Mami, kenapa di luar?"


"Tidak, Mami menunggu kalian saja." Senyuman Mami terlihat, menatap tubuh Andra takutnya disakiti.


Senyuman Andra terlihat, mengecup pipi maminya yang manyun menunggu. Takut kehilangan Putranya, tidak ingin lelaki keduanya lecet.


"Mi, seadainya ada pilihan Mami pilih Andra atau Papi?"


"Mami pilih kamu," jawab Mami tanpa pikir panjang.


"Kenapa?"


Mami menatap papi yang memasang wajah penasaran. Tawa Mami terdengar jika dia mengiginkan keduanya.


Namun jika diminta memilih tetap kepada anak, meksipun anak akan pergi dengan keluarga baru namun Mami tetap anak.


Suami memang bisa mendampingi hingga tua, tapi tidak ada yang tahu kapan dipisahkan. Bisa secara mati atau hidup.


"Anak-anak memiliki masa yang panjang, mereka tidak bisa dipilih." Mami menyamaratakan anak-anak.


Baik Andra maupun Alis, boleh memilih pasangan sendiri, mami tidak akan menahannya. Anak juga bebas melakukan apapun yang diinginkan selama bisa bertanggung jawab atas tindakannya.


"Mi, kapan kita pergi? Ngoceh terus." Papi melipat tangan di dada karena dia lelah menunggu.


"Papi pergi saja ke kantor, Mami hanya pergi bersama Naya."


"Andra!" teriakkan Andra terdengar karena dia tidak dibutuhkan.


Andra heran sebenarnya siapa yang menikah, Mami atau dirinya sampai hanya pergi berdua saja.


"Papi, jika dikasih pilihan seperti Mami, pilih siapa?" tanya Naya yang tidak bisa menahan diri ingin tahu.


Papi terdiam, Mami dan Andra langsung menoleh merasa ingin tahu jawaban Papi yang kemungkinan sama.


"Istri, Papi lebih pilih Mami karena dia tidak akan meninggalkan Papi dalam keadaan apapun."


Senyuman Mami terlihat, memeluk suaminya yang ternyata sangat romantis. Tidak menyangka pilihannya sungguh romantis.


Dari lantai atas Alis menguap lebar tidak mengerti apa yang terjadi sampai Mami dan Papinya sangat romantis.


"Ada apa Kak Naya?" Alis mengucek matanya.


"Anak perawan satu ini baru bangun, ada gempa tsunami dia tidak akan tahu." Mami meminta Alis segera mandi lalu ikut untuk pilih baju.


Mulut Alis tergagap, langsung bergegas lari ke lantai satu memeluk Maminya karena ingin menikahinya.


"Mami serius Alis boleh nikah?"


"Kapan Mami mengatakannya, bantu Naya pilih gaun."


Bibir Alis manyun, merasa iri kepada Prilly dan Naya yang akan segera menikah, beda dengan dirinya yang masih lama.


"Papi, Alis mau nikah." Alisha memeluk Papinya yang duduk di sofa.


"Sabar, berikan kesempatan untuk Kak Andra, jangan ikut-ikutan. Masih banyak waktu untuk kamu berkembang." Papi mengeratkan pelukannya karena sangat menyayangi putrinya.


Rasanya masih belum siap untuk merelakan karena Alis segalanya bagi keluarga Mereka. Putri yang paling berharga dan bawel.


"Alis juga sudah dewasa Pi, Alis berhasil membuktikan bisa memiliki bisnis yang bertahan, dan Alis bisa mengimbangi Arvin. Alis tidak pemalas lagi, tapi tepaksa bangun siang karena Arvin mabuk membuat Alis bergadang." Wajah murung terlihat berharap bisa ikut Andra.


Kepala Papi menggeleng, belum siap ditinggal Alis. Dia masih harus menunggu Andra baru boleh menikah.


"Mami boleh ya," pinta Alis.


"Ikuti apa kata Papi, setidaknya kalian di restui."


Tawa Andra terdengar menujukkan kepada Naya, Nay nampak kaget melihat ponsel Andra ulah sahabat mereka yang mulai gila.


"Mama dan Daddy pasti pusing sekali." Naya tepuk jidat ulah Arvin.


Penjaga mengetuk pintu memberitahu jika ada tamu, Mami mempersilahkan masuk cukup kaget melihat kedua orang tua Arvin.


Naya dan Andra langsung berdiri menyalami, sedangkan Alis jalan jongkok karena belum mandi, masih acak-acakan.


"Maaf kita berkunjung pagi sekali," ucap Daddy menyalami Papi.


"Tidak apa, jangan sungkan."


"Kita senang jika kedatangan tamu, jika memberitahu aku akan menyediakan kue." Mami memeluk Mama yang membawa makanan.


"Mama, lihat Kakak Alis belum mandi." Raya menujuk ke arah lantai dua, melihat Alis lari-larian.


"Maafkan Alis, dia tadi sedang merengek, tahu kalian datang lari mungkin malu belum mandi sebentar lagi pasti keluar." Papi mempersilahkan duduk.


Acara fitting baju semakin lama, Naya dan Andra menyesal datang pagi. Padahal mereka masih bisa tiduran di apartemen, menikmati hari libur.


"Mama, mau ke kamar Kak Alis," pinta Raya.


Kanaya mengulurkan tangannya membawa Raya ke kamar Alis untuk bermain di sana. Tersisa Andra yang terdiam tidak tahu ingin pergi ke mana.


"Sejujurnya tidak enak datangnya pagi apalagi tanpa mengabari, aku tidak ingin basa-basi juga langsung ke tujuan kita datang ke sini sebagai orang tua Arvin." Daddy mengutarakan niatnya untuk melamar Alis.


Daddy paham keluarga Alis masih menunda karena fokus kepada Andra yang juga ingin menikah, tapi bodohnya Arvin yang mirip orang gila.


"Saat kehilangan Mommy, Arvin menjauh, sampai aku tidak bisa menggapai lagi, hampir saja aku bahkan kehilangan dia. Arvin berubah dingin dan tidak beradaptasi dengan baik karena berada di bawah tekanan." Daddy menghentikan ucapannya karena tidak enak mengungkit masa lalu.


"Apa yang Arvin inginkan?" Papi paham maksud kedatangan kedua orang tua Arvin.


Mami menangis hanya sekedar membayangkan ucapan Daddy saat Arvin jauh, dia tahu betul saat Arvin kecil.


Anak ganteng yang selalu diam, tidak menyangka dia memiliki cita-cita besar dan membanggakan.


"Ada apa lagi ini, Arvin kenapa?" Mami mengusap air matanya.


"Arvin baik-baik saja, aku tidak bermaksud membuat sedih." Daddy bertambah tidak enak melihat Mami menangis.


"Arvin menemui kita semalam dalam keadaan setengah mabuk, menangis sesenggukan karena dia rindu Mommynya. Kesedihan bukan soal kerinduan Arvin, dia ingin mengikuti kedua sahabatnya tidak ingin ditinggal." Mama tertawa kecil karena keinginan Putranya tidak masuk akal, tapi tidak ada salahnya mengutarakan rasa.


"Memangnya Agra dan Andra mau ke mana?" Mami tidak mengerti sama sekali.


"Arvin ingin menikah secara bersamaan," ujar Andra tertawa pelan.


Kepala Daddy dan Mama mengangguk, dia menangis histeris minta menikah bersamaan dengan Andra, tidak mau menjadi yang terakhir.


Seharusnya Agra tidak meninggalnya, tapi bisa Arvin maklumi karena Agra selebriti yang dilihat banyak orang.


Mengetahui Andra yang sudah daftar pernikahan membuatnya menangis, tidak bisa terima ditinggal nikah.


"Arvin bertingkah kekanakan, memangnya dia dan Andra kembar?" Mami garuk-garuk kepala binggung.


"Kalian ingin melihat ini?" Andra menujukkan rekaman video saat mereka masih duduk di bangku sekolah tingkat atas.


Agra mengatakan jika mereka harus selalu bersama hingga maut memisahkan, maka Arvin bercelatuk mereka harus menikah bersama diiringi tawa.


"Kita tidak bisa menikahi satu wanita, tapi kita pernah jatuh cinta kepada wanita yang sama, hingga akhirnya wanita itu memilih salah satu dan yang lain mencari baru." Andra tertawa karena Arvin termakan ucapannya sendiri ingin menikah bersama.


"Menikahlah, selama tidak melangkah Andra, tapi dengan satu syarat aku tidak ingin Putriku dibawa keluar," ucap Papi terus terang.


Keluarga Arvin terdiam, Andra dan Mami tercengang tidak habis pikir, bagaimana bisa menikah bersama.


"Bagaimana undangannya?" tanya Mami.


"Undangan tidak penting asalkan anak-anak bahagia," balas Papi yang tidak main-main dengan ucapannya.


"Kamu serius mengizinkan?" tanya Daddy yang tidak percaya.


Kepala Papi mengangguk, dia tidak pernah bercanda dengan ucapannya, memang sudah waktunya Alis menikah.


"Aku bukan ingin menahan Arvin di sini, dia berhak pulang ke rumah orangtuanya sekalipun membawa anak istrinya, tapi aku ingin rumah ini diteruskan oleh Alis. Mereka mampu membeli rumah sendiri, tapi jadikan ini rumah utama mereka," jelas Papi dengan sangat yakin mengizinkan kedua anaknya menikah.


"Tidak masalah soal itu, aku hanya tidak tahan mendengar Arvin menangis padahal sudah tua." Tawa Daddy terdengar mengucapkan terima kasih mengulurkan tangannya.


Mata Andra memicing, merasa ada bau-bau bisnis. Pernikahan Arvin dan Alis tidak jauh dari kenaikan saham dua perusahaan besar.


"Apa ini disebut perjodohan bisnis?" Andra mencurigai Papinya.


"Oh iya, Papi sengaja mengizinkan Alis demi bisnis." Mami memukul lengan suaminya.


Tawa Papi terdengar, dia tidak tahan juga mendengar rengekan Alis tiap malam ingin menikah, sekalian pestanya tidak membuat pusing.


"Segala persiapan pernikahan dari kita, sebut saja Alis menginginkan apa?" Mama bersemangat sekali memberikan pesta terbaik.


"Ma, sekalian bayar juga modal nikah Andra." Kedipan mata Andra terlihat.


"Bisa diatur." Mama menoleh ke arah pintu melihat Arvin terjatuh karena lari terlalu kencang.


Arvin merapikan bajunya, membungkukkan tubuhnya meminta maaf. Dia tidak bermaksud memaksa, takut ditinggal Alis lebih baik menunda pernikahan.


"Vin, jika sudah menikah hentikan kebiasaan mabuk. Sudah dewasa, jangan lari ke minuman, tapi pulang ke rumah," tegur Papi melihat mata Arvin masih merah.


"Betul, kamu seorang Dokter pasti tahu, jaga kesehatan. Jika ingin menikah bicara, jangan mabuk." Mami meminta Arvin duduk.


Andra hanya tertawa kecil melihat sahabatnya yang tidak ingin ditinggal nikah. Akhirnya Andra sadar jika Arvin memang adik bontot nya dan Agra.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2