
Lama Nay menunggu di depan pintu ruangan Andra beberapa kali bolak-balik mengantarkan makanan, tapi yang punya ruangan belum juga kembali.
"Tuan Andra sepertinya sudah pulang Nay, selesai meeting pergi lagi." Sekretaris Andra mengambil makanan meminta Naya kembali ke lantai bagiannya.
"Andra sialan, dia tidak tahu jika aku punya banyak pekerjaan, beraninya dia memerintahkan," batin Naya yang bergegas pergi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Semua orang di ruangan Naya sibuk bekerja tidak ada yang saling bicara karena memasuki akhir bulan laporan menumpuk.
"Nay kenapa kamu masih kerja. Cepat siap-siap kuliah," tegur ketua divisi yang tidak sengaja melihat Nay masih merapikan data.
"Sebentar lagi Bu, Naya harus selesaikan ini dulu." Nay mempercepat pekerjaanya.
"Pergilah, pekerjaan tidak akan ada habisnya, lagian di sini ada banyak orang. Bekerjalah sampai batas jam kamu, jangan kerajinan." Senyuman terlihat meminta Naya segera pergi.
"Terima kasih Bu Naya pamit dulu." Nya terburu-buru sampai lari-larian ke parkiran.
Motor pink Naya melaju cepat, dia tidak sempat pulang lagi karena hampir masuk kelas.
"Ya tuhan segini perjuangan aku, tidak sempat mandi lagi. Semoga segera cepat lulus sehingga aku bisa bekerja dan istirahat dengan tenang," gumam Naya yang sejujurnya lelah harus menjalani kehidupan desa hingga ke kota masih sama saja harus bekerja sambil mengejar pendidikan.
Sampai di kampus langkah Naya terhenti karena ada Erin dan komplotannya Nay tahu jika jalannya tidak baik-baik saja.
Dua mahasiswa berbadan kekar menghadang Naya, Erin tersenyum sini karena masalah mereka belum selesai.
"Erin, pergilah Nay," ucap Arvin membiarkan Nay pergi karena terburu-buru.
Pukulan tangan Erin kuat ke arah dinding, melangkah mendekati Arvin yang selalu menghindarinya.
"Vin, aku sangat mencintai kamu, tapi kenapa tidak ada sedikipun kesempatan, ini bukan soal perjodohan, tapi aku memang cinta, Vin." Tatapan Erin tajam meminta Arvin memahami sedikit saja perasaanya.
"Kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku, ubah sikap sombong dan berlaga berkuasa. Jangan pernah membuat masalah dengan Naya." Arvin memberikan peringatan keras.
Tawa Erin terdengar dia tidak akan berhenti membuat hidup Naya tidak tenang karena sudah menjadi resikonya berada di kawasan orang kaya.
Bukan Erin yang harus berhenti tapi Naya yang harus tahu diri di mana dia berada. Seharusnya sejak awal dia tidak mencari perhatian.
"Memang susah bicara dengan manusia model kamu ini selain tidak tahu malu, juga tidak tahu diri." Kepala Arvin menggeleng, melangkah pergi.
Tangan Arvin ditahan, Erin menatapnya sambil mengerutkan kening. Apapun yang dilakukan tidak pernah benar di mata Arvin.
"Bagaimana caranya agar kamu paham perasaan aku Vin?"
__ADS_1
"Tidak ada cara, cari pria yang jauh lebih baik dariku." Tangan ditepis kuat agar terlepas.
Arvin melangkah pergi ke arah lapangan tidak sengaja melewati kelas Naya yang sudah masuk. Senyuman kecil Nay terlihat mengucapkan terima kasih di dalam hatinya.
Meskipun Arvin dingin dia memiliki hati yang hangat, terlihat tenang padahal menghanyutkan.
Di lapangan Arvin melihat Alis sedang bermain basket bersama para pemain basket. Avin sudah mendengar kabar jika Alis orang pertama yang datang membawa segala kebutuhan Naya dan Prilly.
Mulutnya yang bocor, sikapnya yang kekanakan dan tingkah lakunya yang emosian menjadi ciri khasnya.
"Sekarang sering sekali main bareng cowok, apa karena cintanya ditolak Agra," tebak Arvin menonton Alis yang masih asik main.
Tubuh Alis terpental jatuh, Arvin ingin mendekat, tapi seorang pria tinggi putih menggedong Alis ke pinggir lapangan.
Tawanya terdengar, memaksa diri untuk bermain kembali. Tidak ingin berhenti sebelum puas.
"Berhentilah Lis, kamu dari tadi menganggu!" bentak seseorang kepada Alis yang masuk lapangan lagi.
Tatapan mata Arvin tajam, para pemain yang melihat ke arah Arvin langsung terduduk semua, baru satu yang muncul sudah membuat nyali ciut.
"Kak Arvin, tunggu Alis." Suara langkah kaki Alis berlari terdengar, mengejar Arvin yang berjalan pergi.
Tas Alis dilempar ke arah Arvin membuat langkahnya terhenti, tawa Alis terdengar memungut tasnya.
"Alis bisa, apa yang tidak bisa aku lakukan?"
"Semuanya," gumam Arvin pelan.
Senyuman Alis terlihat, melangkah mengikuti Arvin yang ingin pulang karena jam kuliahnya sudah habis.
Langkah Alis terhenti, Arvin terlalu dingin sampai sepanjang jalan ke parkiran tidak bicara.
"Kenapa suaranya mahal sekali?"
"Aku pulang duluan Lis," pamit Arvin langsung masuk mobil.
Gedoran kaca mobil terdengar, Arvin membukanya melirik Alis yang ikut masuk. Meminta Arvin mengantarnya ke restoran karena mobil dibawa Prilly untuk berbelanja bahan.
"Pakai angkutan umum saja."
"No, bagaimana jika ada yang menggoda Alis?"
__ADS_1
"Tidak ada yang tertarik juga, aku harus ke Club dulu karena ada urusan," ucap Arvin yang tidak bisa mengantar.
"Ikut, Alis mau joget." Kedua tangan Alis berjoget begitupun dengan kepalanya.
Sebelum pergi, Arvin menghubungi Andra, menanyakan keberadaannya agar segera menjemput Alisha karena ada perkejaan penting.
"Kamu tunggu Andra di sini, aku tidak bisa mengantar." Avin meminta Alis segera keluar.
Ekpresi wajah Alis tidak bersahabat, terpaksa keluar lagi. Arvin benar-benar pergi meninggalkannya. Seandainya saja ada Agra tidak mungkin Alis ditinggalkan.
"Dasar Kak Arvin jahat, aku kutuk jadi monyet." Alis memeluk tasnya, menatap ke depan karena mobil balik lagi.
"Cepatlah masuk, nanti keluyuran. Jangan sampai Andra marah ke aku," ujar Arvin yang menjalankan mobilnya kembali.
Tatapan Erin tajam ke arah mobil Arvin karena memantau sejak Arvin memperhatikan Alis bermain bola basket.
"Tidak ada Naya, giliran Alisha. Aku tidak akan melepaskan Arvin." Erin menghentakkan kakinya.
Dari spion mobil Alis bisa melihat keberadaan Erin, satu wanita yang tidak pernah menyerah mengejar cinta Arvin. Perjodohan sudah batal masih saja tidak ingin berhenti.
"Kak Avin melihat Erin, makanya balik lagi?"
"Emh, soalnya dia ingin menjatuhkan vas bunga ke arah kepala kamu."
"Lis tidak takut dengannya, berani cari perkara maka petaka yang dia dapatkan." Senyuman manis Alis terlihat karena dia sangat pemberani meskipun Erin memang selalu melibatkan banyak pejahat untuk melindunginya.
Mobil Arvin memasuki kawasan Club, Alis belum pernah pergi ke club karena takut dengan kakaknya.
"Apa yang dilakukan di sini Kak Vin?"
"Menurut kamu?" tanya Arvin santai.
"Apa tempat ini bagus untuk pacaran, pasti enak sekali gelap-gelapan, cium- ciuman, lalu buat cabang," ocehan Alis terdengar.
"Cabang apa?"
"Selingkuh, masa iya buat anak. Ada teman Alis hamil, padahal selama ini katanya aman. Sayangnya pacarnya selingkuh, anaknya disia-siakan. Miris ya Kak?"
Kepala Arvin mengangguk, meminta Alis menjaga diri jangan pacaran dengan sembarang lelaki yang hanya ingin kepuasan semata.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira