
Saat keluarga asik makan, Alis dan Arvin muncul secara bersamaan. Senyuman Arvin lebar, merangkul Andra yang sedang mengecek email pekerjaannya.
"Mau aku bantu," tawar Arvin.
"No, lebih baik kamu lihat saja berita soal Agra." Kepala Andra menoleh ke arah Agra yang masih makan dengan santai.
Wajah Prilly yang nampak gelisah, makannya tidak tenang melihat pemberitaan soal Agra berpacaran dengan stafnya sendiri.
"Ma, lihat pemberitaan Kak Agra." Erin menyerahkan ponselnya.
"Siapa stafnya Gra?" Mama menatap putranya yang asik makan.
"Apa itu benar?" tanya Daddy juga.
"Benar Dad, Agra akan segera mengkonfirmasinya.
"Siapa stafnya, soalnya di sini masih ditutupi?" Kanaya menatap Prilly yang masih t tertunduk.
Tawa Alis terdengar, meminta Naya memperhatikan lebih detail karena baju yang digunakan sama persis seperti bajunya Prilly ketika keluar malam-malam.
Suara Daddy menjatuhkan ponsel terdengar, seharusnya Agra tidak mempublish soal Prilly secara langsung.
Tidak semua penggemar akan menyukainya, terlalu bahaya bagi Prilly tang pastinya mendapatkan teror.
"Agra tahu Dad, tapi tidak akan membiarkannya. Penggemar yang mencintai Agra harus menerima keputusan itu." Senyuman Agra terlihat.
Dia serius dengan keputusan untuk mengumumkan wanita yang dicintainya, menepis banyak pemberitaan soal dirinya dengan penyanyi maupun selebritis lain.
Cepat atau lambat penggemar harus menerima keputusan itu, dia juga manusia biasa yang memiliki rasa.
"Diriku milikmu, tidak bisa mengikuti keinginan orang lain."
"Daddy paham, jika kalian saling mencintai lakukan, tapi tahu sendiri resikonya. Dalam waktu dekat ini akan ada banyak perdebatan, bisa saja efeknya buruk atau sebaliknya."
Kepala Agra mengangguk, dia siap dengan resiko karirnya. Tidak akan pernah Agra sesali untuk mencintai Prilly.
"Kalian akan segera menikah?"
"Tidak Ma," jawab Prilly cepat.
"Iya Ma, Agra ingin menikah lebih cepat daripada Arvin." Lirikan mata Agra ke arah Arvin.
Semuanya melihat ke arah Arvin yang baru saja makan, tidak ada respon dari Arvin karena hanya dirinya yang paling mudah melangkah.
"Nikah nikah terus, lihat Kak Naya jomblo," ejek Raya ke arah Nay yang melirik sinis.
__ADS_1
Naya mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan liburan, sebenarnya masih banyak waktu, tapi Naya harus kembali.
"Dad, Naya ada urusan pekerjaan yang tidak bisa dihandle."
"Jika kamu merasa itu lebih penting maka pulanglah, Daddy tidak akan memaksa tetap tinggal."
Senyuman Naya terlihat, dia akan berkemas untuk pulang lebih dulu. Naya tidak menyangka liburan begitu singkat setelah bekerja sekian lama.
"Nay, apa ada masalah?" tanya Prilly.
"Bukan masalah serius, ini hanya soal kantor."
"Jangan khawatirkan Naya, dia bisa mengurus segala sesuatunya dengan baik," ucap Erin yang yakin Naya sudah memikirkan segala sesuatunya dengan matang.
Nay menyudahi makannya, melangkah pergi lebih dulu karena harus mengemas pakaiannya.
Arvin menyudahi makannya, mengikuti Naya yang berlalu lebih dulu. Lift terbuka, keduanya masuk ke dalam lift.
"Kenapa tiba-tiba pulang, apa tidak nyaman karena kehadiran Andra?" tanya Arvin serius.
"Gila, kenapa juga menghindari dia. Memang ada pekerjaan Arvin." Nay menyakinkan karena uang sedang menunggunya.
Mata Arvin memicing, dugaannya tidak mungkin meleset, pasti ada sesuatu yang membuat Naya tidak nyaman.
Jika soal Andra terlalu kekanakan, mereka sudah dewasa, seharusnya tidak mencampurkan masalah perasaan di dalam persahabatan.
"Vin, aku tidak menghindar," bentak Naya mulai emosi.
"Kenapa marah?"
Tubuh Arvin didorong, Naya berjalan keluar lift disusul oleh Arvin yang masih ingat menghentikan Naya.
"Kamu harus menjauhkan Andra dari Syifra, harus Nay," pinta Arvin.
Langkah Naya terhenti, menoleh ke arah Arvin yang sangat aneh. Kenapa dirinya harus menghentikan hubungan orang, Nay tidak ingin menjadi korban.
"Pekerjaan aku sudah banyak Arvin, kenapa harus menyusahkan hidup? Kamu pacaran dengan Alis, Agra dengan Prilly, Andra dengan Syifra aku support, tidak ada pikiran sama sekali untuk menghindar." Helaan napas terdengar karena Naya harus buru-buru pulang.
Senyuman Arvin terlihat, dia percaya jika Naya selalu mensupport mereka. Alangkah baiknya mereka bisa seperti dulu, berkumpul bersama.
Jika Syifra wanita baik maka Arvin tidak akan menentangnya, masalahnya dia tidak baik sama sekali.
"Syifra tidak pantas mendapatkan Andra, wanita itu terlalu beruntung."
"Vin, tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri, termasuk Syifra. Andra pasti bisa membimbingnya ke jalan yang lebih baik, biarkan mereka mengurus hidup masing-masing." Nay angkat tangan tidak ingin tahu sama sekali.
__ADS_1
Pintu kamar tertutup, Arvin menoleh ke belakang melihat Alis yang menyusul. Senyumannya terlihat melihat Arvin nampak kecewa.
"Lis, kamu jangan salah paham. Aku dan Naya ...."
"Alis tidak berpikir buruk, aku mengenal Kak Naya dengan baik." Alis mengetuk pintu meminta Naya membukanya.
Tangan Arvin digenggam untuk masuk ke kamar hotel, melihat Naya yang mengemasi barangnya.
"Kak Naya yakin tidak ingin berjuang, apa kejadian dimasa lalu ingin diulang kembali?" Alis duduk di pinggir ranjang.
"Kejadian apa Lis?"
Alis mengingatkan Naya kembali jika dulu Naya mencintai seseorang, tapi belum sempat menyadari perasaan cinta sudah berlalu pergi.
Saat ini cinta itu kembali, kedua kalinya Naya melepaskan begitu saja. Tidak ada niat untuk memperjuangkan, padahal saingan bukan seseorang yang pantas.
"Kamu meminta aku merusak hubungan Andra, bukannya aku terlihat kejam?" kepala Naya menggeleng pelan.
"Setidaknya, Kak Andra sudah menyusul ke sini, kenapa tidak dihargai?"
Koper Naya dihempas, tatapan matanya tajam ke arah Alis dan Arvin, keduanya berpelukan takut melihat Naya mulai mengamuk.
Nay tidak mungkin mengakhiri liburannya jika Andra tidak ikut-ikutan libur, gara-gara Andra dirinya yang harus kembali.
Kanaya sangat mempercayai Andra sehingga dirinya bisa libur karena ada Andra yang jauh lebih hebat dalam memimpin perusahaan, tapi sialannya Andra ikutan libur.
"Kalian tahu berapa banyak orang yang ingin menjatuhkan perusahaan? saat tahu Andra mengambil Alih lawan menjadi kawan, jahat menjadi baik karena ingin bekerja dengan Andra. Kalian tahu kekacauan apa di sana?" Naya mengumpat Andra yang selalu menyusahkan.
Dua orang pamit keluar, mempersilahkan Naya pulang. Di depan pintu Agra dan Andra hampir lari karena mendengar suara Naya mengumpat.
"Apa yang terjadi, bahkan aku tidak melakukan apapun?"
"Kak Andra juga kenapa menyusul, Kak Nay terpaksa pulang karena ada banyak kerja sama yang diundur hingga terjadi masalah." Alis melangkah pergi meminta Andra melakukan sesuatu sebelum Naya merobohkan hotel.
Andra begegas ke kamar, dia juga berkemas ingin pulang, tidak ada laporan apapun kepada Andra jika ada masalah, tapi Naya bisa lebih dulu tahu.
"Oke, kita pulang. Sekalipun kepalaku di dipotong, setidaknya harus berani pulang." Andra terburu-buru.
"Nay, pesan dua tiket," pinta Agra.
"Buat apa?" Naya menarik kopernya.
"Biang masalah juga ikut pulang." Andra mendorong kopernya ke arah Naya.
Tatapan mata keduanya bertemu, Naya mengelus dada jangan sampai kopernya terbelah dua.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira