KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MENCARI


__ADS_3

Tengah malam Andra terbangun, memegang pinggangnya merasakan sakit karena tidur di lantai ulah kalah melawan Naya.


"Kira-kira ini perempuan sudah tidur belum?" perlahan Andra naik ke atas ranjang, tidak sanggup dengan dingin.


Selimut ditarik, Andra memejamkan matanya memilih tidur karena tubuhnya lelah bekeliling kuburan.


Panggilan di ponsel Andra berdering tanpa henti, begitupun dengan Naya yang tidak ada jawaban sama sekali.


Tertera nama Arvin dan Agra yang berusaha menghubungi keduanya karena tidak berkabar bahkan sampai larut malam.


"Ke mana mereka berdua?" Arvin memukul dinding kuat, takut jika kakeknya berulah berniat mencelakai Naya.


"Andra tidak menjawab, begitupun dengan Naya. Mereka ini sedang bersama atau tidak?" Agra menatap Alis yang masih duduk santai mengemil coklat.


"Alis tidak tahu," jawab Alis santai.


Panggilan dari Papi Alis masuk, jantungnya berdegup kencang ternyata Papi dan Maminya sudah pulang dari luar negeri.


Alis membuat alasan jika dia ada di restoran, pelanggan sedang ramai sehingga tidak bisa pulang.


"Lis, kamu membohongi Papi. Restoran sudah tutup, pulang sekarang."


"Tidak bisa Pi, Alis pulang bersama Kak Andra, lagian Alis sudah besar. Papi tidak perlu khawatir," pinta Alis yang malas diatur.


"Kalian berdua sudah liar, Papi tidak akan tinggal diam." Panggilan dimatikan begitu saja.


Mendengar kemarahan Papi Andra membuat cemas, Arvin memutuskan untuk pergi ke rumah daddynya mencari keberadaan Andra dan Kanaya.


Empat orang berangkat menujuk rumah mewah keluarga Arvin, tidak peduli apapun yang terjadi Arvin tidak akan memaafkan jika terjadi sesuatu.


"Wow, ini rumahnya Daddy Ar, ternyata mewah juga." Kepala Alis mengangguk, menatap Arvin yang bicara dengan penjaga.


"Maaf tuan muda, ini sudah terlalu larut. Tuan muda bisa kembali besok pagi karena tuan juga baru sampai kemungkinan sedang beristirahat," jelas penjaga meminta maaf karena tidak bisa membiarkan Arvin masuk.


"Daddy, biarkan Arvin masuk Dad," teriakkan Arvin terdengar memaksa tetap masuk.


Tubuh Arvin didorong sampai tersungkur, Agra membantunya berdiri. Kedua ribut dengan penjaga.


"Lamanya, tidak bisakah lebih santai." Alis mengambil alih kemudi melaju dengan kecepatan tinggi ke arah gerbang.


Teriakkan Prilly terdengar karena Alis tidak punya otak, dia menabrak gerbang membuat semua orang berhamburan menyingkir.


Agra dan Arvin tidak bisa berkata-kata lagi, Alis sungguh mengejutkan sampai Daddy Ar keluar melihat rumahnya diserang.


"Selamat malam Om, izinkan kita masuk." Alis membungkukkan badannya.


Dua bodyguard berbadan besar menahan tubuh Alis, menariknya agar meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


''Biarkan mereka masuk, kenapa ditahan?" Daddy melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kak Arvin tangan Alis sakit."


Pukulan Arvin melayang, mengecek tangan Alis yang merah, memintanya tetap di belakang.


Prilly berjalan lebih dulu, diikuti Arvin, Alis dan Agra, Daddy sudah duduk menunggu di ruang tamu.


"Kenapa kalian datang di jam dua malam? Apa tidak ada waktu besok?"


"Di mana Naya?" Arvin menarik kerah baju daddynya.


Agra menarik Arvin agar bersikap sopan kepada orang tua, meksipun Arvin kecewa tidak sepantasnya menyerang.


"Bicaralah yang baik Vin, Daddy tidak mengerti jika kamu marah," ujar Daddy yang merapikan bajunya.


"Di mana Kakek membawa Naya? Berserta Andra."


"Naya yang suka berkelahi itu, dia memang menemui Daddy. Jika Andra, Daddy tidak tahu."


"Di mana Naya Om?" tanya Agra pelan.


Daddy menjelaskan pertemuannya dengan Naya di pemakaman mommy Arvin, saat bertemu juga sudah cukup sore.


Selesai bercakap singkat daddy pergi, tidak tahu lagi keberadaan Kanaya. Seharusnya dia sudah sampai rumah.


"Tidak mungkin Vin, wanita itu meminta Daddy untuk melindunginya dan kamu karena firasatnya tidak enak," ujar Daddy yang tidak yakin jika Naya ditangkap secara paksa.


Prilly mencoba menghubungi Naya, langsung tersentak kaget saat seorang pria yang menjawabnya. Ponsel di speaker, membuat semua orang mendengar suara yang tidak asing.


"Andra, di mana kamu?" Agra bertanya karena mereka tidak bisa tidur dengan tenang.


"Tidur, lagian kenapa berisik telepon terus?"


"Kita cariin Lo, kenapa Lo menjawab ponsel Nay?" Arvin ikut menimpali.


Andra terdiam, tidak ada jawaban lagi setelah tahu salah angkat telepon, Naya masih asik tidur.


"Di mana Dra?"


"Aku tidak tahu ini di mana, kita nyasar keliling kuburan. Ada penginapan pinggir jalan, kita sekarang ada di sini. Sinyal juga sepertinya baru muncul," jelas Andra tidak enak jika Arvin salah paham.


"Bagaimana kondisi Naya?" tanya Prilly.


"Dia masih tidur. Kalian jangan salah paham, kita tidurnya ...."


"Sekarang juga aku menyusul." Arvin mematikan panggilan langsung tahu keberadaan Andra karena Arvin sering pergi ke sana setelah berkunjung ke makam Mommynya.

__ADS_1


Tatapan Agra serius, bisa melihat kecemburuan di mata Arvin, dia tidak begitu suka saat tahu Naya satu kamar dengan Andra padahal ada banyak kamar.


Senyuman Alis terlihat karena Kanaya mampu menarik tiga lelaki sekaligus, bahkan Agra juga terlihat cemburu.


"Kalian pergi saja, Alis harus pulang sekarang. Om, kirimkan saja biaya perbaikan gerbang, selamat malam." Alis melangkah pergi tanpa menatap siapapun.


Arvin bergegas ingin pergi, tapi daddy menahannya untuk menginap di rumah. Tepisan tangan Arvin kuat melangkah pergi.


"Om kita pamit, maaf sudah menganggu." Agra berlari keluar.


Kepala Prilly membungkuk sesaat, pamit untuk pergi. Langkah Prilly terhenti saat dipanggil.


"Maafkan Om Prilly, tolong jaga Arvin. Daddy akan berusaha melindungi kalian berdua."


"Terlambat Om, kami sudah kehilangan mommy." Prilly melangkah pergi.


Alis mencari mobil untuk mengantarnya pulang, Arvin meminta Alis masuk karena akan mengantarnya pulang.


Papi Alis pasti marah, selama tidak ada Andra keselamatan Alis tanggungjawab Arvin dan Agra.


"Lis, masuk dulu. Nanti kita ikut tanggung jawab." Agra merangkul Alis, mengusap kepalanya.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Andra dan Naya bersama. Keduanya cukup tangguh untuk saling melindungi.


"Kak Vin, maaf mobilnya. Nanti Alis ganti biaya perbaikannya."


"Sudahlah jangan membicarakan biaya, kamu terluka tidak?"


Kepala Alis mengeleng, memejamkan matanya karena harus pulang sebelum Papinya murka dan merambat kepada Andra.


"Kamu yakin Lis pulang, bukannya kamu yang mengajarkan lebih baik pergi jalan-jalan lalu dimarah, daripada pamitan tidak diizinkan?" senyuman Prilly terlihat menggoda Alis yang cemburu karena Agra menyukai Naya.


"Apa yang bisa dilakukan di wilayah kuburan?"


"Di sana dekat pantai, di sana masih asri, sejuk, dan sangat tenang. Saat pagi cahaya matahari sangat indah," jelas Arvin yang suka liburan ke sana bersama mommynya.


Prilly membenarkan, dia sangat suka menginap di malam hari, paginya melihat matahari terbit. Tidak akan menyesal menginap di sana.


"Ikut, tapi pamitan dulu sama Mami." Alis menghubungi Maminya yang jauh lebih baik dari daddynya.


"Ya Tuhan, tangan kamu terluka Lis." Agra panik karena Andra sangat menjaga adiknya, hanya dia yang boleh memukul Alis.


"Kak Agra, apa Alis selalu seperti anak kecil?"


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2