
Cepat Dokter langsung mengobati luka di kepala Naya, tubuh Naya mengalami memar di beberapa bagian.
"Apa dia mengalami gegar otak?" tanya Andra kepada Dokter yang menangani.
"Tidak, dia dalam keadaan baik-baik saja, hanya ada sedikit luka memar di tubuhnya, soal kepala ada luka sobek yang tidak perlu dijahit." Dokter mengizinkan Naya pulang karena kondisinya dalam keadaan baik.
Lirikan mata Andra tajam, langsung berjalan keluar ruangan diikuti oleh Naya. Di depan pintu Alis dan Erin sama-sama panik menunggu.
"Bagaimana kondisi Kak Naya?" tanya Alis.
"Lain kali jangan hubungi aku, dia punya suami. Menganggu," tegur Andra yang beranjak pergi.
Nay mengikuti Andra dari belakang, berjalan pelan bersama Alis dan Erin. Menatap Andra yang sedang membayar biaya pengobatan Nay.
Suara Agra memangil terdengar, melihat Andra yang nampak kesal dengan pertengkaran Nay.
"Bagaimana kondisi Naya?"
"Dia baik-baik saja, masih jauh dari kematian."
"Lagian kalau punya istri itu di jaga, jangan keluyuran di jalan sampai bertengkar dengan orang-orang penting. Hari ini satu, besoknya satu kampung menyerang."
"Naya, bagaimana kondisi kamu?" Arvin lari-larian menghampiri Nay.
"Aku baik, tidak mungkin juga tidak mampu mengalahkannya," ucap Naya masih sekuat dulu.
"Kamu ada masalah apa, apa lagian melampiaskan amarah?" Agra mendekati Naya yang diam saja.
Andra melangkah pergi tanpa mengatakan apapun, tidak pamitan langsung pergi begitu saja.
"Dra, apa kata dokter, jelaskan dulu?" Agra mengejar Andra yang berjalan keluar dari rumah sakit.
"Tanya saja kepada dokternya, kamu juga gagal menjadi suami yang baik," ucap Andra yang malas bicara.
"Apa yang kamu bicarakan, aku belum menikah dan tidak punya istri."
"Bukan aku juga," ucap Arvind menyakinkan Andra sebelum dituduh.
Kerutan di kening Andra terlihat, tidak yakin karena dia melihat jelas anak kecil yang mirip Agra, tapi ada wajah Arvin juga, bahkan tatapan matanya mirip Arvin.
"Lalu siapa anak kecil yang bernama Raya itu?"
Suara tawa semuanya terdengar, Nay melirik sinis karena Andra menyangka Raya dan Naya ibu dan anak. Tidak tahu saja jika keduanya seperti musuh bebuyutan.
__ADS_1
"Ayo ikut ke rumah, Erin juga pulang." Arvin merangkul Andra untuk datang ke rumahnya.
Ada malaikat kecil yang akan menghiburnya, seseorang yang sangat cerewet juga menggemaskan menjadi alasan dirinya ingin selalu pulang.
Beberapa mobil meninggalkan rumah sakit, Andra tidak enak ingin menolak, lagian dia juga penasaran dengan Raya.
"Lis, bagaimana dengan restoran cabang itu?"
"Alis malas membahas soal pekerjaan," balasnya menujukkan kepada Naya beberapa resep makanan baru.
Keduanya mengobrol asik mengabaikan Andra yang menjadi supir menuju rumah Arvin, beberapa kali Daddy juga menghubungi Naya karena sudah tahu soal Erin yang berpacaran dengan pria nakal yang memanfaatkannya.
"Kenapa tidak dijawab Kak Nay?" Alis menatap layar ponsel yang terus hidup.
"Nanti saja, soalnya Daddy pasti marah." Nay memijit pelipisnya.
"Siap-siap saja kamu dikepung ratusan orang," ujar Andra yang memberikan peringatan.
"Biarkan saja, ada Lo yang mematahkan leher mereka," balas Naya dengan nada sinis.
Tawa Andra terdengar, menghentikan laju mobilnya, tangan Andra ingin memukul Naya yang suka ikut campur urusan orang.
Seharusnya dia tidak memikirkan Erin, tidak mempedulikan orang yang tidak ada sangkut pautnya. Terlalu banyak ikut campur tidak akan membuat hidup bahagia.
"Terserah wanita itu mau ditipu, dibunuh, dianiaya, dinodai sekalipun. Dia bukan remaja tujuh belas tahun, tapi wanita dewasa yang seharusnya bisa menjaga diri dan membedakan baik dan buruknya orang," bentak Andra dengan nada tinggi.
Andra tidak akan tahu karena dia hanya gila bekerja, memang benar jika Erin hanya orang asing, tapi selama delapan tahun mereka selalu bersama.
"Susah bicara dengan wanita gila." Andra menjalankan mobilnya kembali.
Tiga mobil masuk ke area rumah yang sangat besar, Andra merasa rumah Arvin banyak perubahan.
Di depan pintu sudah ada Daddy yang menunggu, melihat Erin keluar langsung menghampirinya. Tangisan Erin terdengar meminta maaf karena sudah membuat keributan.
"Rin, ingin putus, tapi ...."
"Tidak apa, biar Daddy yang mengurus pria itu. Masuk ke dalam temuin Mama yang dari tadi mencemaskan kamu."
Naya keluar dari mobil, Daddy geleng-geleng melihat kepala Naya, belum lagi bibirnya pecah, pipinya membiru.
"Ya Tuhan Naya, kamu itu perempuan sampai kapan seperti ini terus. Ingat-ingat, tahan emosi." Daddy mengusap lembut kepala Naya.
Tubuh Andra sedikit membungkuk, menghormati Daddy yang pernah menolong semasa pergi dari rumah.
__ADS_1
"Selamat malam Om," sapa Andra dengan sopan.
"Andra, apa kabar kamu?" Daddy memeluk Andra, mengusap punggungnya lembut.
Kerutan di kening Andra terlihat jelas, di mana lelaki yang dulunya sangat pemarah, pria yang begitu kejam kepada Arvin, tidak segan melepaskan pukulan, memiliki banyak bodyguard. Tidak pernah terbayangkan Daddy bisa memeluknya dengan sangat lembut.
"Daddy, Daddy, Daddy, oh Daddy Ku sayang, Daddy Raya sudah mengantuk, cepat cepat kita tidur." Seorang anak kecil berjalan seperti robot ke luar rumah mencari Daddynya.
"Masuk Raya, jangan keluar." Suara Daddy terdengar.
Andra menatap Raya putar balik, berjalan mirip robot ke dalam rumah. Panggilan Arvin terdengar, tawa Raya terdengar melihat Arvin membawa boneka besar.
"Namanya Araya, adiknya aku dan Arvin," ucap Agra memberitahu Andra agar tidak salah paham.
Mata Andra melotot, tidak habis pikir jika Arvin dan Agra memiliki adik lagi, apalagi memiliki usia sepantasnya menjadi anak.
"Benar Daddy, anaknya Daddy bersama mamanya Agra?"
Kepala Daddy mengangguk, meminta Arvin masuk. Raya memang putrinya, berarti adiknya Agra dan Arvin.
Di dalam rumah sudah heboh, Mama marah besar kepada Erin dan Naya yang bertengkar tanpa memikirkan keselamatannya.
Keduanya hanya diam tidak membantah, Erin terus menangis merasa bersalah. Alis dan Prilly hanya duduk diam memainkan ponsel masing-masing.
Andra melihat mamanya Agra berjalan ke arah Andra, mengusap wajah Andra yang semakin tampan, berwibawa juga bertambah dewasa.
"Siapa dia Mama?"
"Dia Kakak Andra, sahabatnya Kakak Arvin dan Agra. Tampan tidak?"
"Tampan sih, tapi ... Tidak jadi." Raya melangkah pergi mencari Daddynya.
"Tante, anak itu?"
"Iya, dia anak ketiga Tante. Agra, Arvin dan Araya." Mama tersenyum melihat kedua putranya yang bersahabat, dan terus akur.
Helaan napas Andra terdengar, masih tidak percaya melihat Agra dan Arvin punya adik kecil. Sungguh luar biasa tidak habis pikir.
"Apa Om bersikap baik?"
"Iya Dra, dia pria yang sangat baik, menyayangi kedua putranya, apalagi Araya yang tidak bisa satu hari saja tidak bertemu."
Helaan napas Andra kesekian kalinya terdengar, menatap Araya yang dirinya pikir Putrinya Naya dan Agra.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira