
Hentakan kaki Naya terdengar setiap kali bertemu Andra bawaannya ribut saja, tidak ada akurnya.
"Kenapa Nay?"
"Capek Pril, si Andra tidak pernah mengalah."
"Itu karakternya Nay, Lo harus memahaminya." tawa Prilly terdengar, mengusap punggung Naya yang panas berasap.
Kesekian kalian keduanya hampir pukul-pukulan, apalagi Andra tidak ingin mengalah sekalipun.
Senyuman Naya terlihat menatap Mama Agra yang sedang berjuang, tidak pantang menyerah untuk maju.
Saat pesanan pelanggan sudah siap masih saja sibuk memasak dan menyiapkan aneka kue untuk di pajang.
"Tante, ada yang bisa Naya bantu," tawar Naya."
"Kemarin, apa kamu yang bernama Kanaya? Kabarnya berpacaran dengan Arvin?"
Kepala Naya menggeleng, bukan pacaran serius, Naya hanya membantu Arvin untuk membatalkan pertunangan dengan Erin.
"Diantara ketiganya siapa yang kamu cintai?" tanya Mama sambil tersenyum.
"Ketiganya, maksudnya Agra, Arvin dan Andra?"
Giliran Mama yang menganggukkan kepalanya, ketiganya memiliki karakter berbeda, siapa yang mampu membuat Naya nyaman.
"Nay tidak menginginkan ketiganya, Agra baik, dia juga membawa aura positif, Arvin juga baik meskipun sangat pendiam dan tindakannya diluar nalar, jika Andra tidak ada baiknya," jelas Naya yang masih kesal dengan Andra.
"Kamu tidak akur dengan Andra?"
"Emh, dia sangat menyebalkan, setiap bertemu kerjanya ingin adu mekanik." Tangan Naya tergempal ingin sekali memukul wajah Andra.
Tawa Mama terdengar ternyata Naya belum memahami sosok Andra yang sebenarnya jauh diantara keduanya.
"Tidak ada Arvin dan Agra tanpa seorang Andra, dia memnag anak oang kaya, didikan keluarganya keras apalagi dia lelaki pertama, tapi Andra anak yang baik sekali" Mama meminta Naya memahami Andra yang terkenal pemarah.
Kedua pundak Naya terangkat, tidak punya waktu memikirkan Andra yang selalu memancing emosi
Apapun yang keluar dari mulut Andra pasti hal yang menyakitkan, jika tidak marah maka dia mengejek juga menghina.
"Nay, saat Agra terpuruk Andra datang dia mencari tahu masalah tanpa bertanya menemukan solusi terbaik agar sahabatnya tersenyum kembali, bahkan dia membuang banyak waktu hanya untuk membantu kami, Andra tidak mengucapkan apapun, tapi tidaknya sungguh luar biasa." Mama teringat saat Andra datang, dia yang mengungkap perselingkuhan meminta Mama mundur demi kebahagiaan.
Awalnya sangat sakit, tapi Andra benar jika bertahan jauh lebih sakit. Saat seorang Ibu egois, ada seorang pemuda dewasa yang membuka pikiran dan mata hati yang tertutup amarah.
__ADS_1
"Andra melakukanya?"
"Ya, dia jahat dan nakal di depan kita, tapi dia menolong dari belakang. Wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta, sungguh beruntung." Mama mengusap punggung Naya.
Kerutan kening Nay terlipat, kenapa dirinya tidak mampu melihat sebaik apa seorang Andra.
Langkah Naya mendekati pintu belakang tidak sengaja melihat Andra sedang melakuakn panggilan.
Terdengar Surabaya marah-marah, senyuman Naya terlihat. Matanya yang salah melihat atau mata orang-orang yang salah pandang.
Tidak ada sisi baiknya, Andra terlalu pemarah dalam tindakan apapun, jika ada sisi baiknya hanya kebetulan.
"Nak, bisa tolong bapak," ucap seorang pria tua yang mencari barang bekas di belakang restoran.
"Menganggu pandangan saja," balas Andra yang melangkah masuk.
Wajah Naya nampak marah, mendekati Andra yang bersikap kasar kepada orang yang kurang mampu.
"Dra, jika kamu tidak ingin memberi setidaknya jangan menghina!" bentak Naya marah.
"Jangan terlalu mengasihani, oang yang memiliki kehormatan tidak pernah memelas kasihan." Andra melangkah masuk meninggalkan Naya.
"Andra!" Nay menarik napas panjang melangkah mendekati pria tua yang tersenyum kecil kepadanya.
"Sehat terus Pak," ucap Naya teringat orang tuanya yang sudah tiada.
"Terima kasih Nak, saya permisi." Uang yang Naya berikan dimasukkan ke dalam plastik, secara tiba-tiba tetesan air mata mengalir.
Suara kaki Nay menghentak terdengar mencari keberadaan Andra yang keterlaluan, tapi orang yang dicarinya tidak terlihat sama sekali.
"Dimana Andra?" tanya Naya kepada Agra.
"Pulang lebih dulu mungkin, terlihat dia sedang kesal." Arvin mengangkat kedua bahunya tidak tahu masalahnya.
Naya berlari ke arah parkiran, mengejar Andra yang sudah keluar restoran, mobilnya masih ada di parkiran, tapi orangnya tidak ada.
"Bawa anak ini ke rumah sakit, tunjukkan ini maka mereka akan menanganinya, jangan memikirkan biaya paling panting sembuh dulu," ucap Andra memberikan sebuah kartu miliknya.
Tangan pria tua gemetaran karena dia tidak meminta uang hanya meminta bantuan untuk membawa anaknya yang sedang sakit.
"Apa dia anak bapak?"
"Dia cucu saya, terima kasih nak."
__ADS_1
Tangan Andra melambai melihat mobil taksi yang dipanggilnya, membantu menggendong anak kecil yang gemetar ada di dalam gerobak tua.
"Bawa mereka ke rumah sakit terbaik di kota ini, bantu awasi sampai anak ini mendapatkan perawatan." Andra memberikan biaya, tapi kakek menahannya.
"Biar Kakek yang bayar, ini buat kamu sebagai ucapan terima kasih. Kamu anak baik." Kakek sudah bekerja siang malam mengumpulkan uang untuk ke rumah sakit, sedikit uangnya diberikan kepada Andra.
Tanpa ragu Andra mengambil, membungkukan tubuhnya mempersilahkan pergi.
"Harga dirinya tinggi sekali." Andra melangkah ke sebuah kotak amal memasukkan uang yang bapak tua berikan kepadanya.
Naya berdiri mematung karena apa yang dilihatnya tidak sesuai yang dipikirkan. Andra ternyata menghubungi taksi karena melihat seseorang butuh bantuan.
"Ternyata dia memang baik, seandainya anak orang kaya semuanya seperti Andra mungkin dunia ini damai," batin Naya tersenyum kagum.
Tatapan mata Andra tajam begitupun dengan Nay yang saling pandang, Andra menarik kerah baju Nay memintanya pergi dari samping mobilnya.
"Kamu bisa tidak jangan bersikap kasar kepada orang tua?" Nay berpura-pura tidak melihat kebaikan Andra.
"Bukan urusan kamu, apa dia orang tua kamu?" Andra membuka pintu mobil.
"Meskipun begitu tetap tidak boleh, kenapa kamu tidak sebaik Alis dan Mami?"
Wajah Andra mendekati wajah Naya, perlahan Nay mundur tidak ingin berdekatan wajah dengan Andra.
"Karena aku bukan perempuan," balas Andra mengejek Naya.
"Tidak punya hati." Nay melangkah ingin masuk, tapi kakinya tergelincir sampai jatuh.
Tawa Andra terdengar tidak membantu sama sekali, masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Naya begitu saja.
"Naya, jangan terlalu baik, kamu bisa tersakiti. Pada orang lain baik, kepadaku bagaikan musuh." Mobil Andra meninggalkan restoran.
Nay berdiri melihat Andra menghilang dari pandangannya, Nay melihat ke lantai dua restoran karena ada Agra dan Arvin yang menatapnya bertengkar dengan Andra.
"Sesekali bersikap baiklah kepada Andra, dia tidak seburuk itu," pinta Agra sambil tersenyum lebar.
Avin hanay diam saja tidak bicara apapun memperhatikan karena bisa melihat ekpresi Naya malu didekati oleh Andra.
"Diantara kita bertiga, Andra urutan terakhir karena dia kasar dan pemarah, tapi sebenarnya dialah pemeran utama." Avin melipat tangannya di dada,
Tawa Agra terdengar mengangguk kepalanya karena orang hanya tahu buruknya, bukan aslinya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira