KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PENYESALAN


__ADS_3

Kedua tangan Naya terangkat, membuka matanya karena baru bangun tidur. Matahari sudah menjulang tinggi, Naya mengangkat kepalanya, mengerutkan keningnya.


Kepala Naya mengeleng, tidak mungkin dirinya bangun kesiangan, pasti ada kesalahan.


"Jam berapa ini?" Mata Naya terbelalak kaget memperhatikan jam.


"Nay, kamu tidak kerja?" Prilly juga baru bangun, tidak menyadari jika matahari sudah bersinar terang.


Suara Naya lompat dari atas tempat tidur terdengar, lari ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Tanpa mandi lagi Naya sudah lari-larian, bergegas ke kantor meksipun dia tahu sudah terlambat.


"Naya hati-hati nanti jatuh," tegur Mama Mar yang melihat Naya lari-larian.


"Baik Tante, soalnya Naya telat." Kanaya menghidupkan kendaraannya begegas pergi.


Di jalan nampak ramai, Nay tarik napas buang napas karena dia sudah terlambat lebih dari sepuluh menit.


Naya mengirimkan foto kepada ketua divisi tempat bagiannya, memohon untuk memberikannya waktu untuk melewati macetnya jalanan.


"Ah sial, bagaimana ini?"


Dari belakang mobil, Erin melihat Naya yang terlihat terburu-buru, rasa bencinya kepada Naya sangat besar, dan tidak rela melihat Naya yang selalu dekat dengan Arvin.


Besarnya rasa cinta membuat Erin memiliki pikiran buruk, jika Naya mati maka ceritanya usai, tidak ada lagi hubungan dengan Arvin.


"Lebih baik kamu mati saja." Erin menghentikan laju mobilnya, lalu mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Kepala Naya menoleh ke belakang, melihat satu mobil dengan kecepatan tinggi melaju, klakson berbunyi kuat.


"Ya tuhan." Kanaya tidak bisa menghindari karena ada mobil di kanan dan kirinya.


Suara tabrakan terdengar, tubuhnya Naya terpental menghantam mobil di depannya. Bukan hanya kendaraan Naya yang ditabrak, beberapa mobil dan pengedaran motor lainnya juga menjadi korban.


Kepala Erin juga terbentur kuat, darah mengalir membuat tidak sadarkan diri setelah mencelakai Kanaya.


"Tolong, tolong larikan gadis ini ke rumah sakit," teriakkan seorang wanita terdengar, memangku kepala Naya yang penuh darah, tubuhnya juga terluka parah.


Penglihatan Naya gelap, kesadaran juga menghilang. Kanaya jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit besar.


Kendaraan Naya hancur sampai tidak terlihat bentuknya lagi, korban lainnya juga dilarikan ke rumah sakit.


Suara mobil ambulans beriringan terdengar memasuki rumah sakit, Arvin yang masih menemani kakeknya melihat dari lantai atas.

__ADS_1


"Ada pagi-pagi sudah banyak ambulan?" Arvin merasakan degup jantungnya lebih kencang.


Satu persatu korban dibawa masuk, Arvin menatap seseorang yang tidak dikenali lagi wajahnya, tapi dari bajunya terasa tidak asing.


"Milik siapa baju itu?" Avin mencoba mengingat dan mulutnya tergagap karena saat dirinya masih sekolah tingkat atas Alis merengek meminta baju limited edition yang terpampang jelas di sebuah patung.


Langkah Arvin berlari kencang, mencoba menghubungi Alisha, berharap dugaannya salah. Tidak mungkin Alis mengalami kecelakaan.


"Ada apa ini Pak?" tanyanya kepada beberapa orang yang membantu mengantarkan korban.


"Terjadi kecelakaan beruntun, ada satu mobil yang mengemudi dengan kecepatan tinggi padahal sedang terjadi kemacetan," jelas seorang pria.


Ada banyak mobil yang mengalami kerusakan, beberapa pengendara motor dilarikan juga karena mengalami luka.


Satu pengendara sepeda motor yang paling parah kondisinya, kendaraannya hancur dan korban tidak sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi pengemudi mobil?" tanya Arvin ingin tahu.


"Kondisinya juga parah, kepalanya terbentur dan tidak sadarkan diri."


Avin berlari mengecek seluruh korban, Alisha tidak menjawab panggilannya, begitupun dengan Andra yang tidak menjawab.


"Semoga bukan Alis, ini menakutkan." Langkah Arvin terhenti saat melihat seseorang lewat.


Panggilan kepada Alis masuk, dan mendapatkan jawaban. Alisha marah karena dia masih tidur, Arvin sangat mengganggunya.


"Kamu baik-baik saja, Lis?"


"Ya, Alis baru bangun tidur."


"Jika bukan kamu, berarti ... Kanaya atau Prilly." Ponsel Arvin terjatuh baru ingat jika Alis memberikan bajunya kepada Naya dan Alis.


Langkah Arvin tidak bertenaga, melihat ke arah ruangan. Beberapa Dokter mencoba melakukan pertolongan kepada pasien yang kehilangan detak jantungnya.


"Naya, kenapa kamu di dalam situ?" Avin tidak bisa berkata-kata lagi karena sangat mencemaskan Naya.


Perawat meminta segera menghubungi keluarga korban karena kondisinya kritis dan membutuhkan tindakan lanjutan.


"Saya keluarganya, dia Kanaya." Avin langsung mengisi data Naya agar segera melakukan operasi.


Air mata Avin menetes, Erin pasti sengaja menabrak Naya. Apa yang Erin lakukan pasti karena rasa benci.


"Ini semua gara-gara aku, andaikan kita tidak bertemu, kamu tidak mungkin di sini Naya." Arvin menyerahkan data kepada perawat yang langsung mengambil tindakan.

__ADS_1


Tangan Arvin masih gemetaran, Erin juga kritis. Avin mencoba menghubungi keluarga Erin, memberitahu soal kecelakaan.


"Jika kamu ingin mati lakukan sendiri Rin, kenapa melibatkan Naya?" mata Arvin merah karena mencemaskan kondisi Naya.


Daddy Arvin datang, melihat putranya yang duduk penuh kesedihan. Padahal kondisi Kakeknya sudah membaik.


"Kenapa kamu di sini Vin, katanya pagi ini ingin pulang?"


"Sahabat Naya kecelakaan Dad, ini semua gara-gara Avin." Tangisan Arvin terdengar memeluk daddynya erat.


"Siapa, Andra atau Agra?" Daddy hanya tahu jika Arvin memiliki dua sahabat terbaik.


"Kanaya, dia mengalami kecelakaan dan sedang kritis. Bagaimana kondisi Naya, Dad?"


Jantung Daddy juga berdegup kencang, gadis yang selama ini membantu Arvin, wanita tangguh yang tidak takut apapun, bahkan berani melawan puluhan penjaga.


Daddy juga ikut sedih, apalagi Naya begitu dekat dengan putranya. Berharap Nay keluar dalam keadaan baik.


"Sudah, kita serahkan semuanya kepada dokter. Naya pasti sembuh, kamu tenang. Kamu punya nomor keluarganya?" Daddy berusaha menenangkan hati Arvin agar kuat.


"Nay tidak punya keluarga, dia hidup sendiri di kota yang keras ini."


Keduanya hanya diam, menunggu dokter keluar dari ruangan operasi, Daddy melihat polisi yang mencari keluarga Naya.


Cepat Daddy mendekat, menunggu laporan dari polisi soal kecelakaan yang menimpa Naya.


"Ini kecelakaan yang disengaja, pengedaran mobil sengaja melaju cepat ke arah pengendara motor. Kita akan menyelidiki kasus ini lebih dalam." Polisi menyerahkan tas, juga ponsel Naya yang sudah retak.


Kepala Daddy hanya bisa mengangguk, jantungnya terasa lemah saat polisi menyebut nama Erin.


Tidak salah Arvin menyalahkan dirinya, Erin begitu mencintai Arvin dan sangat menginginkan perjodohan, tapi Arvin menolak karena mencintai Kanaya.


Motif kecelakaan karena rasa cemburu dan tidak terima dengan kenyataan jika cintanya tidak berlabuh. Erin sengaja mencelakai Naya karena Arvin.


"Ya tuhan, masalah satu belum selesai, ini ditambah lagi masalah lain. Ada apa ini?" Daddy mengelus dadanya karena ujian bertumpuk-tumpuk.


Kasian juga melihat Arvin yang sangat terkejut, Daddy tidak bisa menghiburnya karena ucapan Arvin benar.


"Ini bukan salah Arvin, tapi aku yang menerima perjodohan itu," sesal Daddy.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2