
Gerbang rumah terbuka, Agra langsung berlari masuk saat mendengar suara mamanya marah besar kepada pelayan sampai melayangkan pukulan.
Tangan Agra menahan pergelangan mamanya sampai berlutut, melihat mata mamanya yang marah.
"Ada apa Ma?" tangan Agra ditepis kasar mamanya juga membentak Agra untuk masuk ke dalam kamarnya.
Bisnis keluarga Agra sedang dalam kesulitan, mamanya meminta Agra segera kembali ke perusahaan. Mamanya ditipu orang mencapai milyaran.
"Ma, lagian kenapa juga mengambil jalan pintas melakukan bisnis yang tidak pantas, jalankan saja bisnis yang papa berikan." Suara Agra pelan meminta mamanya untuk berhenti dengan bisnis ilegalnya.
Tangan Mama menunjuk wajah Agra, jangan pernah membawa nama papanya. Lelaki yang sudah meninggalkan keluarganya demi wanita lain.
"Bagaimana jika kamu Mama jodohkan saja dengan Alisha?"
"Ma, Agra memiliki mimpi dan cita-cita yaang ingin digapai, pikiran untuk menikah masih lama Ma." Agra melangkah keluar ruangan mamanya langsung berlari ke dalam kamarnya.
Helaan napas Agra terdengar langsung berbaring di atas ranjang, menatap foto keluarganya yang sudah hancur.
Dulu Agra merasa menjadi anak yang sangat beruntung, namun secara tiba-tiba dia menyaksikan keributan orang tuanya yang sudah lama tidak harmonis, tapi Agra tidak pernah tahu.
Papanya memutuskan pergi, mamanya langsung menggugat cerai. Mediasi tidak menemukan titik terang sehingga Agra harus tinggal bersama mamanya, sedangkan papanya pergi.
Sejak perceraian orang tuanya, Agra merasa mamanya berubah. Mulai serakah akan kemewahan sehingga tidak pernah ada kata puas.
Setiap saat selalu marah-marah tidak jelas, perceraian menjadi alasan mamanya lepas kendali.
"Aku paham ini berat untuk mama, apapun alasan papa pasti sulit sekali bagi mama." Kepala Agra menggeleng berusaha untuk melupakan apa masalah keluarganya.
Panggilan masuk, Agra langsung menjawabnya, bergegas keluar untuk menemui Prilly yang meminta bantuan.
"Kamu ingin pergi ke mana Agra?"
"Ketemu teman," balasnya.
"Tidak boleh, kamu harus mulai menjauhi Arvin, dia dikeluarkan dari daftar warisan keluarganya dan membatalkan pertunangan dengan Erin." Mama baru saja menghubungi orang tua Erin, mereka akan menjodohkan keduanya dan menyatukan perusahaan.
Agra tersentak kaget, mamanya tidak bisa berurusan dengan keluarga Erin. Jika keluarga Arvin itu hal yang wajar karena mereka sama-sama kuat.
Jika mamanya ingin menyatukan perusahaan, maka keluarga Erin akan mengambil alih. Tidak ada untungnya berbisnis dengan orang yang haus kekuasaan.
"Kamu harus menikahi Erin dan memimpin perusahaan," pinta Mama.
__ADS_1
"Ma, mereka itu keluarga licik dan selalu melakukan bisnis ilegal." Suara Agra meninggi menolak keinginan Mamanya.
"Apa bedanya dengan keluarga Arvin? mereka juga sama bahkan melakukan pencucian uang sehingga kaya raya," teriakan mama terdengar meminta Agra tidak mengikuti jejak Arvin yang keras kepala.
Bahkan kabar kedekatan Agra dan Naya juga sudah diketahui mamanya. Agar dilarang bergaul dengan Nay yang status ekonominya sulit.
Tidak ada pertemanan dengan orang miskin karena hanya akan membuat hidup semakin sulit. Mama tidak ingin Agra seperti papanya yang tidak berguna.
Larangan untuk tidak keluar rumah Agra patuhi, dia menghubungi Prilly dan meminta maaf karena tidak bisa pergi.
***
Kabar Agra tidak bisa ikut kumpul sampai ke telinga Naya, dia ditahan oleh mamanya. Nay baru ingat ucapan Alis jika tidak ada yang normal dalam hubungan keluarga tiga sekawan.
Sekarang Agra juga mulai terlihat tanpa kebebasan, keluarga kaya memang memiliki keanehan karena harus mempertahankan keutuhan keluarga.
"Kenapa Agra dilarang mamanya? Ini semua karena perceraian yang membuat Tante berubah." Kepala Arvin menggeleng bertanya dan menjawab sendiri.
Wajah Prilly dan Naya sama kagetnya terdengar ucapan Arvin. Agra anak broken home, itulah alasan Agra tidak bersemangat dalam bermusik.
"Benarkah?" Prilly tidak tahu karena papa Agra orang yang sangat baik.
Wajah Prilly terlihat sedih, Naya memahami jika Agra sedang berada dalam kesulitan soal keluarganya.
Suara batuk terdengar, Arvin menyemburkan air minumnya merasa kaget dengan kabar baru yang dia terima.
"Ada apa Vin?" Prilly dan Naya saling pandang binggung melihat Arvin yang batuk sampai matanya merah.
Kepala Arvin menggeleng, langsung mengambil jaketnya bergegas untuk pergi karena ada hal yang sangat mengejutkannya.
Kepala Naya dan Prilly terlihat keluar pintu, menatap punggung Arvin yang melangkah pergi menggunakan mobilnya.
Arvin mempercepat laju mobilnya mampir ke bar yang sudah ada Andra menikmati minumannya.
"Siapa yang bangkrut Dra?"
"Pesan yang aku kirim tadi sudah cukup jelas bukan?" Minuman di dalam gelas langsung diteguk habis.
Beberapa botol minuman dikeluarkan kembali, Andra juga baru tahu setelah papinya kembali dan mengatakan jika bisnis keluarga Agra gulung tikar karena mamanya Agra ditipu oleh rekan kerjanya.
"Aku rasa pria itu pacarnya? tidak mungkin memaksa untuk bercerai jika pada akhinya hidup susah." Kepala Arvin menggeleng, menghabiskan minum yang dituang di gelas.
__ADS_1
Ucapan Arvin benar, tapi namanya juga wanita yang terbiasa hidup mewah tidak mungkin bersedia hidup bersama lelaki yang selalu fokus kepada hobi tanpa hasil.
"Ada yang lebih gila lagi?"
"Apa?"
Tangan Andra meminta Arvin mendekatinya, menyebutkan nama Erin yang akan dijodohkan dengan Agra.
Demi masih memiliki kemewahan, mama Agra meminta bantuan keluarga Erin untuk bertahan karena hanya mereka yang selalu menerima bisnis siap untuk hancur.
"Sadar tidak jika mereka akan semakin kehilangan segalanya," ujar Arvin
"Pastinya, itu hanya kelicikan keluarga Erin saja." Masalahnya Andra juga tidak punya kuasa membantu Agra, apalagi mamanya yang serakah.
"Keluarga aku dan Agra tidak ada bedanya. Kita dipaksa untuk memahami tuntunan keluarga yang tidak jelas." Tawa mengejek Arvin terdengar menghabiskan minumannya.
Kepala Andra menggeleng, binggung dengan kehidupan dua sahabatnya. Andra bisa bernapas lega karena papinya hanya memaksa dirinya untuk bekerja bukan sibuk menjodohkan.
Apalagi maminya yang sangat pemilih soal wanita yang mendekati Andra apalagi sikapnya yang sangat pemarah.
Botol minuman semakin banyak yang kosong, keduanya mengobrol banyak hal random sampai hampir lepas kendali.
"Dra, kepala kamu banyak minum? jika mami kamu tahu pasti marah,"
"Jangan sampai tahu, aku menginap di apartemen kamu." Kepala Andra pusing langsung meminta Arvin membayar minuman mereka lalu pulang karena jam sudah hampir pukul dua.
Arvin berjalan di belakang Andra yang berkali-kali duduk karena perutnya mual dan kepalanya sakit.
"Dra bangun, jangan tidur di jalan." Arvin menggendong Andra yang jarang sekali minum samapi mabuk.
Setelah membayar supir yang mengantar mereka kembali, Arvin membawa Andra masuk ke dalam untuk istirahat.
Kanaya belum tidur menyelesaikan tugasnya untuk pekerjaan kantor karena Nay tidak ingin menunda-nunda waktu.
"Arvin baru pulang," gumam Naya.
"Dra, kamu jika mabuk menyebalkan." Arvin menendang sampai ke lantai, Naya yang keluar kamar kaget melihat Andra di lantai memeluk kakinya.
"Andra Arvin!" teriakkan Naya kuat.
***
__ADS_1