
Teriakkan Alis terdengar lompat-lompat di atas tempat tidur, jungkir balik membuat Raya juga ikut-ikutan lompat-lompat di atas tempat tidur.
Naya tersenyum manis melihat Alis nampak begitu bahagia setelah menguping pembicaraan di lantai satu jika pernikahannya dan Andra akan digabung.
"Kak Naya, Alis tidak salah dengar?"
"Sepertinya tidak, ada untungnya juga Arvin mabuk menangis histeris memeluk kaki daddynya." Kanaya ikut bahagia karena bisa melihat Alis dan Arvin menikah.
"Kakak Alis mulai gila." Raya berjalan keluar menuruni tangga perlahan.
Mami yang melihat Raya langsung mendekat, mengambilnya karena gemes sudah puluhan tahun tidak melihat anak kecil.
"Mama, Kakak Alis gila. Dia lompat-lompat di atas tempat tidur, jungkir balik, joget-joget, Raya malu lihatnya."
Tawa Mami terdengar memeluk Raya, menciuminya karena Raya sangat mengemaskan.
"Andra Arvin, tolong buatkan Mami yang seperti ini," pinta Mami memeluk erat gemes.
Senyuman Papi terlihat, mengusap kepala Raya yang memang mengemaskan. Dia bisa menjadi teman mengobrol.
"Kamu sudah sekolah?"
"Sudahlah, Raya sudah pintar, tapi tidak naik kelas."
"Itu bukan pintar Raya, Kakak capek mengajari kamu, tapi ditinggal tidur. Tiap belajar tidur, main lancar," tegur Andra karena adik perempuannya sangat sulit diatur.
"Jangan salahkan Raya, mata ini yang tidak bisa berkerja sama." Tawa terdengar mendengar alasan Raya.
Kanaya keluar dari kamar, mendekati Andra yang masih memainkan ponselnya. Arvin tersenyum melihat Nay yang pamitan ingin pergi.
"Mau ke mana Nay?"
"Ada urusan bentar, nanti balik lagi."
"Mau aku antar?" tanya Andra.
Kepala Naya menggeleng, dia hanya pergi sebentar untuk menemui temannya. Mami mengizinkan karena mereka akan melakukan fitting baju malam.
"Sejak kapan Naya punya teman lain?" tanya Arvin.
"Biarkan saja, lagian dia harus memiliki rahasia sendiri, tidak harus aku tahu." Andra lanjut bermain game di ponselnya.
Mami melangkah keluar melihat Naya yang ingin mengeluarkan mobilnya, Mami meminta jendela mobil dibuka.
"Ada apa Mi?"
"Kenapa tidak pergi dengan Andra?"
"Kayaknya Naya menyelesaikan dengan cara Nay, kita sama-sama perempuan jangan melibatkan Andra." Senyuman Naya terlihat yakin dengan keputusannya.
Mami mengizinkan Naya pergi hanya berpesan untuk berhati-hati karena menjelang pernikahan banyak hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.
Kepala Naya mengangguk, memutuskan untuk pergi menemui penggemar rahasia Andra yang meresahkan kantor.
"Kak Naya ikut." Alis berteriak langsung masuk mobil.
Tangan Alis melambai membiarkan keduanya pergi, Mami lebih tenang karena pergi berdua daripada Naya nekad sendiri.
Mobil Naya melaju pergi, Andra mengeluarkan mobilnya. Arvin langsung masuk karena Andra ingin tahu Naya pergi ke mana.
"Dasar laki-laki posesif, tidak mengatakan tidak apa, sekarang disusul." Mami melangkah masuk karena ingin melanjutkan membahas pernikahan.
Anak zaman sekarang nampak santai dengan pernikahan, masih sempat bekerja dan bermain sedangkan orang tuanya pusing.
Naya melaju santai, dia ingin tahu sebesar apa keberanian wanita yang ingin merebut calon suaminya.
"Kak Naya ada masalah?"
"Bukan masalah serius, tapi sedikit menganggu." Naya menyerahkan ponselnya meminta Alis memperhatikan foto.
"Siapa dia Kak?"
"Mungkin rekan kerja Andra sebelumnya, Syifra yang mengirim itu."
Alis mengerutkan keningnya, teringat sesuatu yang tidak asing. Melihat pakaian bermerek sudah pasti bukan orang sembarangan, Alis bisa merasakan bedanya.
"Kak Naya mengenal wanita ini?"
"Tidak, tapi kita kemarin bertemu di bar. Dia mengenal Andra begitupun sebaliknya," jelas Naya yang bisa menebak jika dia sengaja mengikuti ke bar.
"Sekarang kita mau ke mana?"
"Toko bunga, ada yang mengabari jika seseorang sering membeli bunga untuk ruangan Andra."
Alis nampak kaget karena sudah sampai membeli bunga, berarti sesuatu yang cukup serius sampai merambat ke mana-mana.
Sampai di toko bunga Naya langsung keluar, menujukkan foto di ponselnya. Karyawan toko meminta mengikutinya ke tempat bunga yang bernilai mahal.
"Wangi sekali, apa bunganya begini Kak?"
"Aromanya sama, Andra tidak menyukai wewangian, tapi ini menyengat." Naya tersenyum saat seorang wanita tua mendekatinya.
"Tumben sekali memerintah orang untuk mengambil bunga?" tanya pemilik toko.
"Apa dia wanita yang selalu mengambil bunga?" Naya menujukkan foto.
Kepala pemilik toko mengeleng, wanita yang mengambil bunga terlihat sangat sederhana. Dia cantik, manis, tapi kulitnya tidak putih.
"Nah itu dia?" pemilik toko menunjuk ke arah seorang wanita yang berjalan masuk.
Senyuman wanita hitam manis terlihat, masuk ke ruangan bunga. Ekspresinya sangat terkejut saat melihat Naya duduk santai.
"Besok kerja, dan hari ini beli bunga untuk Pak bos, bukan main." Naya bertepuk tangan diiringi tawa Alis.
"Bu, saya ...."
"Hanya mengikuti perintah seseorang, jangan mengelak." Naya menujukkan rekaman CCTV rahasia yang sengaja Naya letakkan di ruangan kerja Andra.
Sikap licik mematikan CCTV agar tidak ketahuan sungguh memalukan, Naya tidak suka dengan pengagum yang tidak menggunakan otak, tapi nafsu.
"Aroma yang kamu berikan sungguh luar, berharap Andra gerah dan birahi terpancing?" Naya memijit pelipisnya karena dia yang malu.
"Maafkan saya Bu," ucapnya.
"Maaf, apa aku begitu kejam sampai tega menggoda kekasihku."
"Pikir pakai logika saja Naya, wanita mana yang tidak ingin menjadi istri bos?" OG perusahaan menujukkan keberaniannya.
"Dia sudah siap bermasalah Kak Nay." Alis tertawa terbahak-bahak.
Kanaya yang bodoh, dia tidak tahu saja jika ada banyak yang menginginkan Andra bukan hanya dirinya. Bekerja keras siang malam sungguh melelahkan, berharap ada kesempatan untuk mengubah nasib tidak mungkin di sia-siakan.
"Saya sudah siap dengan resikonya, gaji tidak seberapa tidak sebanding dengan rasa lelah. Mau pecat saja silahkan saja." Tangisan terdengar tidak peduli sama sekali jika Naya mengumbar semuanya ke publik.
Senyuman sinis Naya terlihat, dia tidak marah namun lebih ke rasa kasihan. Sebegitu putus asa sampai merusak usaha.
Menjadi staf tidak muda, gaji lima ratus dolar terbilang besar, perusahaan juga menyejahterakan staf sampai diberikan kebebasan untuk makan di kantin secara gratis.
"Bukan gaji yang kecil dasar manusia saja yang tidak tahu bersyukur, uang gaji habis membeli bunga mahal untuk diberikan secara diam-diam," sindir Naya.
"Terserah aku, kenapa memangnya?"
"Aku juga bukan orang kaya, tahu susahnya mencari uang. Apa yang dimiliki sekarang membutuhkan waktu lama. Bisa bersama Andra juga membutuhkan waktu yang begitu melelahkan, kenapa kalian berpikir ingin memiliki begitu mudahnya?"
"Namanya juga cinta, jika kamu tidak punya uang mana mungkin Andra mau."
"Sudah salah, nyolot lagi." Tamparan Naya kuat bukan karena cemburu, tapi tidak suka melihat sikap angkuh.
Ada baiknya jadi orang miskin, jika kaya raya pasti menjadi makhluk yang tidak punya adab. Miskin saja tidak punya harga diri.
__ADS_1
Tangan Naya ditarik, Naya memelintir tangan sampai jatuh tersungkur. Naya tidak ingin bertarung, tapi kesombongan membuatnya harus memberikan efek jera.
"Aku laporkan kamu, jangan lupa kembalikan uang lima ribu dolar yang kamu curi di ruangan Andra, jika tidak bersiaplah masuk penjara." Naya melangkah pergi karena hatinya panas.
"Maafkan aku Bu, soal uang itu sangat aku butuhkan untuk pengobatan."
"Aku tidak peduli," balas Naya tanpa menoleh.
Di depan toko bunga Andra dan Arvin duduk sambil minum es segar, keduanya asik menikmati jalanan yang ramai, tapi tertib.
"Kenapa kalian di sini?"
"Minum susu rasa semangka, tidak jadi menghacurkan toko bunga?" Andra meminta Naya minum.
Tangisan terdengar, berteriak kencang. Andra melangkah mundur melihat OG kantornya yang biasanya membersihkan ruangan penuh air mata.
"Pak Andra saya minta maaf, apa salah saja mengidolakan bapak?"
"Apa dia yang meletakkan bunga bangkai itu?" tiap hari Andra hampir pingsan karena bau menyengat.
Niat hatinya ingin membuang, tapi tidak enak dengan Naya yang bisa saja merajuk karena bunganya dibuang. Jika Andra tahu dari orang lain, satu gedung diamuk.
"Kenapa kamu membawa bunga kematian?"
"Itu bunga hasrat Pak, apa Andra tidak merasakan apapun?"
Tawa Arvin terdengar, Andra tidak menyukai wewangian. Pengharum ruangan saja bisa dibuang apalagi bunga bau aneh.
"Kamu ingin menggoda dengan bunga aneh itu?" kepala Andra geleng-geleng memeluk Naya dari samping.
"Dia juga mencuri uang yang aku sengaja letakkan di meja kerja kamu."
"Berapa sayang?"
"Lima ribu dolar, ada keluh kesah di ruangan Office. Aku tidak sengaja mendengarnya, berencana membantu biaya pengobatan, merelakan uang yang dicuri, tapi cara bicaranya tidak tahu malu." Tatapan Naya tajam, dia hanya memiliki rekaman pencurian uang.
Memberikan bunga kepada Andra tidak masalah, mengangumi juga hal normal untuk penyemangat. Masalahnya Naya sudah memberikan peluang dan iba, tapi tidak dihargai.
"Naya, kenapa sensi sekali?" Andra masuk ke dalam mobil melihat Kanaya meneteskan air matanya.
"Kesal, kenapa ada orang begitu. Sudah salah berlaga benar." Air mata Naya mengalir.
"Kamu curiga jika aku main dengan wanita lain?"
"Bukan Dra, aku hanya tidak ingin ada yang menggoda kamu dengan cara licik."
Tawa Andra terdengar meminta Naya mempercayainya jika ada sesuatu bertanya langsung tidak menyimpulkan sendiri.
Tidak baik jika memutuskan sendiri, Andra tahu apa yang harus dilakukannya jika ada orang yang mencoba hadir dalam rumah tangga mereka.
"Siapa wanita ini sebenarnya?" tanya Naya menujukkan foto.
"Oh dia, wanita yang menyapa waktu di bar? Namanya Selin, Putri konglomerat yang dijodohkan oleh Rose," jawab Andra yang sejujurnya.
Dia tahu niat hati Rose muncul, tidak sepenuhnya karena menyayanginya, tapi ada maksud lain.
"Jangan takut, aku tidak akan tergoda. Kita akan menikah sesuai rencana." Senyuman Andra terlihat begitu yakin.
Kepala Naya mengangguk, dia mempercayai Andra sepenuhnya, tidak akan mencemaskan apapun. Dia tahu Andra tidak mudah tergoda.
"Kita abaikan saja mereka, sekarang waktunya kita bersenang-senang."
Naya menujukkan ponselnya kembali, Mami mengirimkan alamat untuk fitting baju pengantin. Andra dan Naya memutuskan untuk pergi, tidak ingin memikirkan hal lain paling penting mereka segera menikah.
"Kapan pernikahan kita?"
"Beberapa bulan ke depan, apa terlalu lama. Lebih baik menikah secepatnya sebelum Agra memiliki anak," ujar Andra tidak sabar lagi.
"Naya ikut saja," balas Nay merasa malu.
"Bulan depan, aku sudah tua ternyata Naya." Andra tertawa tidak sadar umur yang terus bertambah.
Rasanya baru saja mereka bertemu, bertengkar dan sekarang ingin menikah. Naya tidak menyangka jika musuhnya bisa menjadi pasangannya.
"Aku tidak, tapi kamu wanita yang sangat menyebalkan." Andra mengecup kepala Naya yang sangat berani melawannya.
"Naya lapar, mau makan."
"Makan aku saja, mau?"
"Ayo cepat Andra, kita makan lalu ke tempat fitting baju." Bibir Naya manyun memikirkan ucapan Andra yang tidak nyambung.
Andra mencari tempat makan terdekat agar bisa mengisi perut, Andra juga merasakan lapar setelah mengikuti Nay.
Kepala Naya menoleh ke arah pinggir jalan, melihat anak-anak yang dipaksa untuk mengamen.
"Ada apa?"
"Kasihan anak-anak itu, seusia mereka seharusnya sekolah bukan bekerja." Naya menarik napas panjang.
Mobil berhenti di depan restoran, Andra langsung turun karena Naya menolak makan di tempat. Makanan dibawa ke butik agar Mami tidak menunggu lebih lama.
Suara ponsel Naya berdering terdengar, langsung diambil dan menjawabnya. Naya sangat berharap jika yang menghubunginya Mama Andra.
Dugaan Naya benar, keinginan yang masih sama meminta Naya meninggalkan Andra segera mungkin.
"Di mana Andra sekarang?"
"Dia sedang beli makanan, setelah kita harus fitting baju."
"Tinggalkan Andra, aku sudah menjodohkan dia dengan wanita pilihanku."
Tawa Naya terdengar, ternyata Selin wanita pilihan. Dia menginginkan Andra karena menyukainya sejak lama.
Bisa saja Naya meninggalkan Andra, tapi keadaan tidak akan berubah. Tidak mudah membujuknya untuk menikah dengan orang pilihan, apalagi tanpa rasa.
"Tante ingin aku pergi sama saja membuat Andra gila, dia cukup menghormati Tante, tidak ingin menyakiti perasaan sebagai tanda kedewasaan, tapi jika dia tahu apa yang harus saja diucapkan aku jamin rasa hormat bisa menjadi rasa benci." Senyuman Naya terlihat begitu tahu watak Andra melebihi Mama Andra.
"Aku membutuhkan Andra, saat ini aku dalam masalah."
"Kita bicarakan nanti, Andra sudah datang." Naya mematikan panggilan karena dia tidak ingin merusak hubungan ibu dan anak.
Makanan diserahkan kepada Naya, Andra memesan makanan favorit Nay seperti yang dulu dia makan.
"Tadi kamu berkomunikasi dengan siapa?"
"Bukan siapa-siapa, aku hanya mengecek hanphone saja.
Mobil melaju kembali, beberapa Andra menguap karena mengantuk. Tangan Naya menutup mulut agar berhenti menguap.
"Libur kerja seharusnya tidur, ini mondar-mandir tidak jelas." Andra mengacak rambutnya memarkirkan mobil di butik ternama.
Tidak pernah Naya bayangan jika dia bisa menikah apalagi menggunakan gaun mewah dari desainer hebat.
"Ayo sayang, cepat."
"Apasih, teriak-teriak." Naya menatap sinis Andra yang tertawa lucu.
Keduanya naik ke lantai atas, ada ruangan khusus untuk konglomerat yang bebas melakukan apapun.
"Mi, maaf Naya telat. Boleh tidak makan dulu?" tanya Naya.
"Boleh sayang, duduk di situ." Mami menatap calon menantunya yang sudah membawa makanan.
Mama Agra juga ada di butik, memilih baju bersama Alis yang sudah datang lebih dulu. Arvin duduk di kursi lain asik main game.
"Kak Naya makan apa?" Raya duduk di samping Naya yang sedang makan lahap.
Naya menyuapi Raya yang ternyata lapar, duduk akur makan bersama. Senyuman Raya terlihat membuka mulutnya berkali-kali karena makanan Naya enak.
__ADS_1
"Kak Naya akan menikah?"
"Iya," jawab Naya.
"Apa Kak Naya mau beli bayi juga? jangan lupa beli yang perempuan soalnya Raya tidak punya teman lagi." Wajah manyun terdengar karena Raya sempat kecewa dengan bayi Syifra.
Awalnya mengatakan perempuan, tapi saat lahir ternyata laki-laki hancur sudah harapan Raya punya banyak sahabat.
"Iya, kamu harus berhenti nakal jika mau sahabat, siapa yang mau temanan sama kamu jika tiap hari dipukul," tegur Naya melirik sinis Raya yang memonyongkan bibirnya.
"Sudah belum Naya?"
Naya melangkah masuk mendekati Mami yang sedang melihat gaun, Naya menatap ke arah lain melihat gaun berwarna putih yang sangat sederhana namun elegan.
"Kamu menyukai yang itu?"
"Tidak, tubuh Naya tidak sebagus itu." Nay mengulum bibirnya merasa malu.
"Tubuh kamu bagus, kita coba." Gaun diserahkan kepada Naya untuk dibantu memainkannya.
"Sudah ketemu gaun Kak Nay Mi?" tanya Alis yang sudah lelah.
"Belum, lama gantinya." Mami menoleh ke arah Naya yang keluar menggunakan gaun cantik dan indah.
Kedua alis Andra terangkat, Arvin juga menoleh karena suara heboh melihat Naya sangat cantik menggunakan gaun pilihannya.
"Demi tuhan cantik Kak, Alis setuju gaunnya."
"Bisa dipasang mahkotanya?" tanya Mami mengambil perhiasan di letakkan di leher Naya yang menambah kemewahan gaun.
Minuman yang ada di tangan Arvin diteguk habis, Andra menoleh ke arah sahabatnya yang menunjuk mimik wajah berbeda.
"Kenapa, apa kamu masih punya rasa kepada Naya?"
"Pertanyaan tolol, apa kamu pikir aku akan mengkhianati Alis?"
"Secara tiba-tiba mimik wajah kamu berubah."
"Apa sebaiknya kita menikah terpisah, aku tidak enak menganggu hari bahagia Lo." Helaan napas Arvin terdengar, dia khawatir pusat perhatian akan berpindah pada satu pengantin.
Teriakkan Alis terdengar, memeluk Naya yang sangat cantik, tim yang membantu Naya menawarkan baju untuk Alis, warna sama dan model yang berbeda.
Kepala Alis mengangguk setuju, langsung ganti baju. Naya tersenyum lebar saat melihat Alis keluar menggunakan gaunnya.
"Kalian calon pengantin yang beradu kecantikan," puji beberapa desainer.
"Rambut Kak Naya digerai, rambut Alis digulung ke atas baru pakai mahkota," pinta Alis disetujui oleh tim.
"Ya tuhan, kenapa kalian cantik sekali." Mami memeluk Naya dan Alis yang sama-sama cantik.
Senyuman Andra terlihat, sejak pertama bertemu Naya adiknya tidak bisa lepas, terlihat sekali kebahagiaan di wajahnya.
"Apa kamu tega menghilang senyuman manis Alis, tanpa dia kita tidak bisa sedekat ini dengan Naya," sindir Andra menatap Arvin yang tidak berkedip menatap Alis.
Kepala Arvin menggeleng, dia tidak mungkin melukainya. Arvin ingin selalu melihat senyum dan tawa wanitanya.
Para wanita masih ribut, membicarakan soal gaun. Ada banyak hal yang harus diubah dan diperbaiki. Mami meminta dipercepat karena acara bulan depan.
"Tuhan, cantiknya." Prilly tersenyum lebar melihat dua wanita yang menggunakan gaun mewah.
"Kak Prilly, Alis mau nikah."
"Bagaimana bisa, jika tahu begini kita menikah bersama saja." Prilly memeluk Naya dan Alis yang akhirnya sudah mendapatkan tanggal.
"Di mana Agra sayang?" Mama memeluk mengecup pipi menantunya.
Agra melangkah masuk, menggendong adik perempuannya. Kepala Agra hanya bisa geleng-geleng melihat dua wanita sudah menggunakan gaun.
"Kenapa secara tiba-tiba menikah bersamaan?" Agra meneriaki Arvin dan Andra.
"Arvin yang gila, mabuk menangis minta nikah. Daddy, Avin tidak mau ditinggal, Avin juga mau seperti Kak Agra dan Andra." Suara Andra merengek mengikuti cara bicara Arvin yang terlihat kekanakan.
Tawa Agra terdengar membenarkan jika Arvin mabuk hanya karena cemburu akhirnya minta nikah, takut Alis diambil orang.
Kepala Arvin geleng-geleng, sedari dulu dia selalu menjadi ejekan. Tidak ada tempatnya manja setelah kehilangan Mommynya, makanya bergantung kepada Andra dan Agra.
"Sekarang sudah besar masih saja suka ngambek." Agra mengacak-acak rambut adiknya.
"Siapa yang ngambek, jangan sentuh aku." Arvin merapikan rambutnya.
Tangan Agra bertepuk memuji kecantikan Alis, dia langsung berjalan layaknya Ratu memeluk Agra. Bibir Arvin manyun, meminta Agra melepaskan.
"Kenapa harus peluk-pelukan, aku juga jarang."
"Kita sudah biasa dari dulu begini."
"Jaga perasaan Prilly," bentak Arvin meminta Alis menjauh.
"Aku tidak apa." Prilly duduk santai mengemil bersama Raya.
Tubuh Arvin terkulai lemas, setidaknya hargai dirinya yang belum bisa berpelukan di depan umum.
Kedipan mata Andra terlihat, Naya memalingkan wajahnya karena malu. Ingin cepat ganti baju setelah gaunnya sesuai keinginannya.
"Jangan ganti dulu, boleh aku foto." Andra mengarahkan ponselnya melihat Naya yang sangat cantik.
"Jangan hanya sebelah wajah, aku tahu kebiasaan buruk kamu," ancam Naya akan memukul Andra jika wajahnya jelek.
"Tau aja niat hati." Andra mengarahkan kamera kepada mereka, mengecup pipinya Naya.
Pukulan tangan Naya melayang, tapi Andra berhasil menghindar dia tahu apa yang akan terjadi kepadanya jika sampai tertangkap.
"Aku tidak menyukai baju yang kamu pakai," ucap Andra terus terang.
"Apa maksud kamu, kenapa tidak bicara dari tadi?" Naya menghentakkan kakinya marah.
"Baju ini terlalu menujukkan lekuk tubuh, aku tidak ingin berbagi dengan siapapun." Andra geleng-geleng menolak.
"Kamu tutup mata saja Andra, tidak senang melihat wanita bahagia." Mami memukul Andra yang sangat jahil kepada Naya yang sudah bahagia, tapi dijatuhkan.
Tawa Andra terdengar, mengusap perutnya yang mendapatkan cubitan. Andra merevisi untuk tidak menyulitkan Naya berjalan.
"Perbaikan bagian bawah, soalnya dia hobi menendang. Tidak lucu jika melayangkan tendangan, tapi tersungkur karena gaun." Andra memberikan jempol.
"Ya sudah Naya tidak mau pakai baju pengantin."
"Iya boleh, saat kita malam pertama sekalian jangan pakai baju." Andra berlari kebagian pria untuk mencoba bajunya.
Teriakkan Naya menggema, Andra tidak ada jeranya menjahili, tidak sekalipun memuji jika Naya cantik.
Mami mengusap punggung Naya memintanya ganti baju, gaun akan diperbaiki lagi tiga hari sebelum pernikahan akan mencoba kembali.
"Mi, berapa harga gaunnya? jika mahal cari yang lain saja."
"Tidak boleh, menikah itu hanya satu kali Naya, kamu harus menjadi pusat perhatian." Mami mengusap pipi Naya agar segera ganti baju.
Mama tersenyum karena dia tahu siapa Mami Andra, dia sedari dulu dikenal baik. Bisa menerima siapapun, tanpa pandang bulu.
"Kamu bahagia melihat Kanaya?"
"Iya, dia wanita kuat dan mandiri, aku sangat menyukainya menganga Putri sendiri." Mami duduk menunggu menatap Alis dan Arvin yang juga bahagia.
"Kanaya wanita mandiri, kuat, bertemu dengan Alis yang periang. Alis juga sangat baik meskipun mulutnya sendikit pedas." Tawa Mama terdengar karena dia mendapatkan satu menantu pendiam, satunya heboh.
Tidak terbayangkan jika ada junior pasti rusuh dan menggemparkan. Mama ingin hidup lebih lama agar bisa melihat cucunya.
Mami dan Mama saling genggam tangan bahagia bisa jadi keluarga.
.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira