
Suara high hells Naya terdengar memasuki kantor, senyumannya terlihat karena ada banyak staf yang menundukkan kepala menyapa.
"Good morning semuanya," sapa Naya masuk ke dalam ruangannya.
Semua staf yang ada di dalam ruangan membungkukkan tubuhnya menyapa atasnya yang baru saja sampai.
Masih pagi, tapi bagian divisi yang dipimpin oleh Naya sudah datang semua, selain takut dengan atasan juga menjadi tanggung jawab selesaikan pekerjaan sebelum waktunya.
Nay menghidupkan laptopnya, melihat pemberitaan Penyanyi terkenal yang memiliki jutaan penggemar bahkan dikenal oleh seluruh manusi di muka bumi, siapa lagi jika bukan Agra, penyanyi solo yang merambat ke dunia perfilman.
"Apa Agra kurang kaya sampai dia harus menjadi aktor, tapi bukannya Prilly tidak mengizinkan," gumam Naya bicara sendiri.
"Bu, ini laporan untuk meeting hari ini, mohon diperiksa kembali bagian mana yang harus saya perbaiki," pinta salah satu karyawan.
"Oke, thank you." Nay mengambil laporan membacanya ulang sebelum dibawa untuk meeting.
Berjam-jam Naya tidak mengeluarkan suara, panggilan dari seseorang masuk meminta bantuan Naya.
"Kenapa tante, sebentar lagi Naya keluar." Kepala Naya mengangguk setelah mendapatkan panggilan dari Mamanya Agra.
Beberapa berkas dimasukin ke dalam tas, Naya merapikan meja kerjanya terlebih dahulu sebelum pergi.
"Saya pergi dulu, selamat bekerja." Nay berangkat pergi untuk meeting sambil menjemput seseorang.
Tangan Naya melambai menghentikan taksi yang sudah dipesan, memintanya pergi ke bengkel mobil.
"Ceria sekali wajah kamu Nay," sindi supir taksi yang menjadi langganannya.
"Iya Pak, hari ini perusahan tempat Sarah bekerja memenangkan tender, itu sesuatu yang sangat membanggakan setelah tujuh tahun Sarah bekerja."
"Di mana mobil jelek kamu?" tawa supir terdengar karena Naya sudah punya uang, tapi masih saja memakai mobil jeleknya yang suka rusak.
Bibir Naya monyong, dirinya masih memiliki banyak kebutuhan, harga mobil juga tiap tahun melambung tinggi, tidak mudah bagi Nay mengantikan nya.
"Kamu bekerja sejak masa kuliah, lulus S1 dan S2 masih saja bekerja di perusahan itu, dulu bapak berpikir kamu akan menjadi karyawan satu-satunya karena masih bertahan." Kedua jempol supir terangkat banga kepada Sarah yang suka berjuang.
Senyuman Sarah terlihat, dia juga tidak menyangka berjuang bersama perusahaan dari kebangkrutan sampai banyaknya staf di phk.
Naya bahkan tidak menerima gaji selama satu tahun, tapi sekarang perusahaan tempatnya bekerja menjadi perusahan nomor lima yang paling berjaya.
"Perusahaan elit, mobilnya burik." Tawa supir dan Sarah terdengar karena ada seseorang yang selalu mengatakannya dengan tatapan mengejek.
"Bapak, berhentilah membicarakannya, Naya juga ingin pergi menjemputnya, pasti sudah marah lagi." Tawa Naya terdengar tidak menyangka menjadi bahan bully anak kecil.
__ADS_1
Sampai di bengkel Nay langsung turun menyerahkan uang, mengucapkan terima kasih.
Senyuman Sarah terlihat menatap pemilik bengkel yang tertawa setiap melihat Naya, mobilnya selalu masuk bengkel satu minggu sekali paling lama satu bulan sekali.
"Sudah belum Om?"
"Sudah, tidak perlu bayar gratis, jika besok masuk lagi aku buang mobilnya. Kamu uang banyak bukannya beli mobil baru."
"Bukanya Naya tidak mau, ini mobil kesayangan Nay," balasnya mengucapkan terima kasih karena bisa naik mobil lagi.
Mobil yang Naya kemudikan melaju pelan, jantungnya berdegup kencang karena ada satu anak kecil yang suka menghina kendaraanya.
Sampai di sekolah, Naya langsung keluar mencari seorang gadis kecil yang seharusnya sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
Kepala anak kecil terlihat dari balik pohon, terkejut melihat Naya datang menjemputnya, bibirnya manyun tidak ingin pulang menggunakan mobil butut burik.
"Raya ayo cepat, Kakak ada meeting hari ini," panggil Naya karena tidak bisa menemukan Raya.
"Tidak mau naik mobil itu, ish. Mobil jelek, butut, burik, suka rusak, suaranya bum bum bum lalu mati." Kepala Raya menggeleng tidak ingin naik mobil bersama Naya.
"Cepatlah, jangan cerewet. Mama minta Kak Nay menjemput kamu."
"Ish Mama ini, kenapa Araya diminta naik mobil jelek terus, sekalian saja naik sepeda ondel," protes Raya yang terpaksa masuk ke dalam mobil.
"Perbaikan gratis, palingan rusak lagi."
"Anak kecil satu ini, baru berumur empat tahun cerewetnya tidak ada lawan." Nay gemes melihatnya karena menjadi hiburan juga teman bertengkar.
Foto Agra terpampang di pinggir jalan, Raya membuka kaca jendela yang tidak berfungsi lagi jika dibuka maka tidak bisa ditutup lagi.
"Kakak Gaga, belikan Kanaya mobil. Raya malu pakai mobil burik ini, bentar lagi pintunya lepas," terikkan Raya terdengar sepanjang jalan.
Tawa Naya terdengar terpingkal-pingkal karena Raya sungguh lucu, dia sangat kagum dengan kedua kakaknya meskipun jarang bertemu karena sibuk.
Mobil Nay berhenti di lampu merah, saat lampu hijau tidak bisa maju lagi, Raya memegang dadanya menahan malu.
Suara klakson mobil terdengar dari belakang, Kedua tangan Raya meremas rambutnya bersembunyi agar tidak ada yang melihatnya.
"Kenapa tidak mau hidup?"
"Rusak lagi, mati lagi, mogok lagi, malu lagi." Raya menangis karena sudah sering memarahi Naya, tapi tidak pernah di dengarkan.
Kanaya keluar dari mobil membungkukkan tubuhnya meminta maaf karena mobilnya tidak bisa dihidupkan.
__ADS_1
"Raya tidak mau keluar, Daddy tolong malu." Raya sudah berguling-guling karena tidak mau keluar mobil.
Sekuat tenaga Naya menahan tawa ulah Raya yang menutup wajahnya, tidak ingin ada yang mengenalinya.
Seseorang keluar dari mobil, membantu Naya untuk mendorong mobil bersama teman-temannya menyingkir dari jalan.
"Mobilnya kenapa?"
"Tidak apa, terima kasih ya, semuanya terima kasih." Naya melipat kedua tangannya.
"Pati, aku salah satu mahasiswa yang memimpin komunitas peduli sesama, jika Adik berkenan bergabung kita dengan senang hati menyambut." Pria muda menujukkan kartu nama komunitasnya.
Senyuman Naya terlihat, mengambil kartu yang diberikan. Terlihat sekali banyak pria tampan dan gagah yang pastinya baik.
Pintu mobil terbuka, Naya meminta Raya keluar karena mereka harus pindah mobil. Naya buru-buru untuk meeting.
"Perhatikan dulu ada orang yang lihat tidak, Raya malu."
"Perempuan satu ini ribet sekali hidupnya." Naya memastikan aman barulah Raya keluar membawa tasnya.
Keduanya melangkah pergi mencari mobil agar bisa segera sampai di hotel. Naya sesekali mengecek jam karena ada pertemuan dengan atasannya.
"Daddy, Dad tolong Raya." Tangan Raya melambai saat melihat mobil Daddynya lewat.
Daddy Ar kaget melihat Putri kecilnya berada di pinggir jalan, berpanas-panasan tanpa payung.
"Araya, kenapa kamu di sini?" Daddy mengendong Raya.
"Gara-gara mobil butut Kak Naya, selalu saja mati di jalan. Lebih baik Raya sampai tengah malam tidak pulang, daripada ikut mobil jelek." Lidah Raya terjulur karena kesal.
"Di mana Mama Naya, bukannya dia yang menjemput?"
Naya menjelaskan jika Mama tiba-tiba pusing, kebetulan kantor dekat, tapi mobil mogok akhirnya Raya marah.
Daddy meminta Naya pergi menggunakan mobilnya, Daddy dan Raya pulang bersama pengawal.
"Dad, jangan marah dengan mama, dia ingin menjemput Raya, tapi ...."
"Kenapa Daddy harus marah? Daddy mengkhawatirkan Mama, kita pulang dulu biar bisa ke dokter." Daddy masuk mobil menghubungi istrinya yang kabarnya sakit.
Senyuman Naya terlihat, kagum dengan Daddy yang berjuang memberikan rumah yang aman bagi anak-anaknya, dan memutuskan menikah setelah menjamin istrinya akan bahagia.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira