KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
NYASAR DI KUBURAN


__ADS_3

Kepala Nay dan Andra celingak-celinguk karena hari sudah gelap, tapi keduanya masih berputar-putar di daerah kuburan karena tidak menemukan jalan keluarnya.


"Dra, jangan bercanda kita akan bermalam di sini?"


"Kamu pikir aku mau, bagaimana caranya kita pergi?" Naya mengigit bibir atasnya.


"Perasaan dari tadi kita hanya berputar-putar saja tidak ada jalan keluarnya, mana tidak ada orang tempat bertanya." Kepala Andra melihat ke arah pemakan yang sepi.


Mata Nay terpejam, tidak ingin tahu pokoknya harus menemukan jalan keluar karena gara-gara Andra tersesat di kuburan.


"Kamu jangan hanya menyalahkan Nay, bantuin juga diingat-inga jalannya," pinta Andra karena kesulitan berjalan di area yang gelap dan sempit.


"Bagaimana aku bisa tahu, kamu tidak lihat jika segala tempat ini gelap, dan isinya kubur semua?" suara Naya merengek terdengar hampir saja menangis.


Mencoba menghubungi Arvin juga percuma karena ponsel tidak ada jaringan, Andra melihat sebuah cahaya tengah pemakaman, tapi jika dihampiri ternyata bukan manusia maka lenyap hidupnya.


"Nay, itu orang atau bukan?"


"Mana aku tahu, memangnya aku dukun?" Nay masih memejamkan matanya.


Mobil Andra terhenti, saat melihat seseorang mengetuk pintunya langsung teriak kencang melihat ada mata bersinar.


"Kenapa kalian berputar-putar di pemakaman?"


"Kita tidak tahu jalan keluar Pak," jawab Andra yang hanya membuka sedikit jendela kaca mobil.


"Oh, di sini ada banyak yang nyasar, ayo kita antar." Pria tua mengendarai kendaraan roda dua menunjukkan jalan keluar dari pemakaman.


Di dalam hati Andra mengumpat karena Naya sangat licik, dia memejamkan mata sepanjang jalan, sedangkan Andra harus buka mata.


"Kalian lurus saja sampai keluar dari wilayah pemakaman," ucap pria tua.


"Baiklah Pak terima kasih." Andra memberikan sedikit rezeki untuk orang yang sudah menolongnya.


Setelah berjam-jam berputar akhirnya bisa lolos, Naya mengelus dada bisa melihat cahaya lampu dan rumah banyak orang.


"Kita ada masalah lagi, ini bukan jalur utama sehingga melewati jalanan kampung kecil."


"Kenapa?"


"Habis bahan bakar." Andra berteriak karena sangat sial mendapatkan masalah bertubi-tubi.


Kedua tangan Andra terangkat, tidak ingin lanjut lagi, tubuhnya sakit semua dan gerah. Tidak mungkin juga menemukan tempat mengisi bahan bakar apalagi dalam keadaan lelah.


"Aku tidak ingin lanjut, itu ada penginapan kita istirahat dulu."


"Oke, lagian kenapa kita bisa berjalan sejauh ini?" Nay menggelengkan kepalanya.


Sampai di penginapan Andra kembali tarik buang napas karena kamar yang tersedia hanya satu, padahal mereka berdua.

__ADS_1


"Yakin hanya satu, aku bayar tiga kali lipat."


"Sisa satu, mau atau tidak?"


"Mau, Nay kamu cari penginapan lain." Andra mengambil kunci langsung lari ke kamar.


"Andra, kenapa jahat sekali?" Naya mengejar Andra ikutan masuk.


Keduanya dorong-dorongan pintu, Naya menendang kuat sampai penginapan lain membuka pintu.


Andra tersungkur karena kuatnya tendangan Naya, membuat panik banyak orang. Naya cepat masuk menutup pintu.


"Gila kamu. Jika kita diusir bagaimana, terus diminta ganti rugi pintu?"


"Biarin, jadi kita sama-sama jadi gelandangan." Nay masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Kedua tangan Andra tergempal, tarik napas buang napas mencoba tahan emosi. Hidupnya sial sekali karena harus berurusan dengan Naya.


"Lamanya Nay, cepatlah." Andra merasa tubuhnya gatal semua.


"Sabar, ini juga sudah selesai." Nay keluar dalam keadaan rambut basah.


"Minggir." Andra mendorong Naya agar segera lenyap dari depan pintu.


Tangan Naya terangkat ingin memukul Andra, tapi dia masuk lebih dulu ke dalam kamar mandi.


Nay membuka gorden, melihat ada lampu yang dililit di atas pohon. Terlihat sangat cantik sehingga senyuman Naya terlihat lebar.


"Meskipun jauh dari kota ternyata cukup mempesona, Naya kangen desa." Bibir Nay manyun, membayangkan suasana desa.


Lama Naya berdiri di dekat jendela, Andra belum juga keluar dari kamar mandi. Naya mencemaskan berpikir jika Andra jatuh pingsan.


"Dra, kamu ngapain di dalam?"


"Betapa," balas Andra yang duduk santai di bawah pancuran air.


"Tidak mungkin berendam, di dalam sana tidak ada bathtub?" Nay menggedor pintu.


Andra langsung keluar dari dalam ember besar, cepat memakai handuk memakai baju kaos oblong dan celana pendek.


"Bagaimana dia bisa tahu aku berendam, apa Naya cenayang?" pintu terbuka, tangan Nay menempel di dada Andra.


Kening Andra berkerut, matanya tajam memperhatikan tangan Naya sangat nakal menempel di dadanya.


"Enak, seksi tidak?" Andra mendekati bibir Naya.


Langkah Naya langsung mundur, meminta Andra tidak macam-macam kepada karena Nay tidak lemah.


"Jika kamu takut aku raba-raba, silahkan keluar." Senyuman kotor terlihat, Naya melempar kepala Andra menggunakan remote mobil.

__ADS_1


Teriakkan Andra terdengar, Naya mengusap kening Andra yang terkena remote. Sungguh Naya tidak sengaja sudah menyakiti.


"Sakit, sorry. Aku pikir tadi meleset." Gigi Naya nyengir.


Pinggang Naya ditarik, Andra mengigit bibirnya membuat Naya teriak kuat merasa perih.


"Sakit, sorry balas dendam." Andra mengambil remote mobilnya meletakkan di atas meja langsung lompat ke atas ranjang.


Jantung Naya berdegup kencang, Andra terlihat biasa saja setelah menyentuh bibir, tapi bagi Naya sungguh tidak aman untuk jantung.


Keduanya bersentuhan bibir, tapi Andra nampak santai. Nay masuk kamar mandi memegang bibirnya yang merah.


"Dia pikir aku perempuan apa? Naya belum pernah pacaran, beraninya dia mengambil ciuman pertama." Naya menutup wajahnya menggunakan tangan karena merasa sangat malu.


Cukup lama Naya di dalam kamar mandi, tapi saat keluar tidak ada lagi Andra, tanpa pamitan pergi begitu saja.


"Dasar manusia jahat, masa iya aku ditinggal gara-gara keningnya.


Pintu kamar terbuka, Naya pura-pura tidur di atas ranjang. Andra melirik sinis melemparkan sesuatu.


"Jangan pura-pura tidur, ganti baju sana." Andra keluar membeli baju saat tahu ada toko yang tidak jauh dari penginapan.


"Baju apa?"


"Tidak mungkin aku beli baju pengantin," balas Andra menyiapkan makanan yang dibelinya.


Cepat Naya kembali ke kamar mandi, merasa lucu melihat baju yang Andra beli. Menujukkan Kepala Andra jika sangat pas.


"Kamu beli coupel?"


"Kebetulan, harganya murah, makanya aku beli. Sampai di rumah juga jadi lap." Andra makan lebih dulu.


Hentakan kaki Naya terdengar, mengambil kotak makan yang sudah disiapkan. Baru saja memasukkan makanan langsung meringis sakit.


"Kenapa?"


"Perih," keluh Naya menutup mulutnya.


Makanan Andra terlepas, menarik tangan Naya melihat bibir Nay sedikit terluka sampai merah.


"Apa aku menggigitnya kuat?"


"Dra ini luka, bagaimana bisa tidak kuat? Lagian kamu manusia bukan vampir." Naya menepis tangan Andra.


Senyuman Andra terlihat lanjut makan lagi, meminta Naya mengobatinya agar cepat sembuh, Andra tidak sengaja karena terbiasa suka mengigit.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2