
Suara beberapa orang ribut terdengar, Arvin menoleh ke arah keributan karena sampai ke bagian first class.
"Ada apa di belakang?" tanya beberapa orang.
Merasakan risih akhirnya Arvin melangkah ke belakang melihat seorang wanita yang memeluk ibunya karena mengalami sesak napas sampai kejang.
"Menyingkir, jangan ada yang berkerumun." Arvin mengambil oksigen yang sudah disiapkan.
Gerakan cepat, kondisi pasien mulai stabil. Arvin memasangkan infus yang sudah disiapkan oleh pramugari.
Beberapa orang melihat jelas apa yang Arvin lakukan, kagum melihat pemuda gagah yang tidak banyak bicara, tapi gerakannya terlatih.
"Jangan dipeluk, kita akan mendarat dalam dua puluh menit, tidak perlu berisik menangis apalagi teriak, rumah sakit ada di bumi bukan langit." Arvin meninggalkan catatan untuk pasien agar bisa ditangani oleh dokter saat mendarat.
"Terima kasih, apa kamu seorang dokter?" tanya wanita yang duduk di kelas bisnis.
Hanya anggukan, langsung melangkah pergi kembali ke tempat duduknya. Tanpa Arvin sadari ada seseorang yang tersenyum lebar penuh kebahagiaan melihatnya berhasil menjadi dokter yang hebat.
Mata Arvin terpejam, ada waktu dua puluh menit untuk memejamkan mata. Seseorang meletakkan minuman, mata Arvin terbuka kembali.
"Terima kasih," ucapnya yang memperhatikan minuman seakan mengenali.
Tidak terasa pesawat akhirnya landing, Arvin keluar paling terakhir karena tidak suka rebutan apalagi sempit-sempitan.
Padangan Arvin ke arah pria yang memberikannya minuman, seseorang yang tidak asing, tapi sulit dikenali dari belakang.
Kepala menoleh, berdiri dari duduknya. Tanpa sengaja mata keduanya bertemu. Arvin tergagap saat Andra melewatinya begitu saja.
"Woy tunggu, gila Lo Dra." Pundak Andra ditarik.
Tidak menunggu jawaban Arvin memeluk erat sahabatnya yang sangat dirindukan, rasanya hampir tidak mengenali Andra lagi.
"Lepaskan, buat malu." Andra mendorong Arvin karena banyak yang memperhatikan.
Tawa Arvin terdengar, merangkul Andra karena sangat merindukannya. Delapan tahun terlalu lama.
"Ke mana kamu selama ini, aku ingin bertanya kepada Daddy, tapi tidak ingin mengusik." Arvin duduk di samping Andra sambil menunggu untuk mengambil koper.
"Baguslah jika kamu tidak datang," balasnya santai.
Tatapan Arvin tajam, Andra menolak menatapnya. Begitulah cara Andra menahan perasaannya, selalu menyembunyikan ekpresi bahagia.
"Gue hebat ya Dra, Lo bangga?"
__ADS_1
"Emh, aku tahu kamu bisa menjadi dokter yang hebat."
Tawa kecil Arvin terdengar, waktu sangat cepat berlalu. Arvin hampir tidak menyadari kapan siang berganti malam, dan malam terbitlah siang.
Pekerjaan semakin banyak, target semakin besar. Tuntutan juga luar biasa tidak ada habisnya.
Arvin tahu bukan hanya dirinya yang berjuang untuk membuktikan diri, tapi Andra juga mati-matian ingin meyakinkan dirinya jika pilihannya benar.
Agra juga berjuang untuk membuktikan kepada Papanya jika dirinya bisa sukses, sekarang dia berada di posisi teratas pastinya bisa dilihat oleh papanya.
"Kamu sering melihat Agra? Aku bahkan tidak sempat untuk menonton konsernya."
"Aku tahu, dia selalu dapat penghargaan. Terima kasih untuk kedua sahabatku, di manapun kalian berada, piala ini kalian, tapi dia yang menyimpannya." Helaan napas Andra terdengar karena Agra hanya banyak bicara.
Kepala Arvin mengangguk, dia juga tidak pernah melihat piala yang dibawa Agra, semuanya tersimpan di perusahaan.
"Kamu tahu kabar Naya?"
"Kenapa aku harus tahu, tidak penting." Andra memalingkan wajahnya memantau koper yang lewat didepannya.
"Naya menjadi wanita mata duitan, pekerjaan dia hanya kerja kerja dan kerja tanpa berhenti." Kepala Arvin geleng-geleng melangkah bersama Andra mengambil koper masing-masing.
Legan Andra ditahan, kerutan terlihat di keningnya. Arvin selalu menahannya seperti anak kecil.
"Tidak, kamu tahu jika aku tidak disambut dengan baik di sini." Senyuman Andra terlihat melangkah menarik kopernya.
Panggilan di ponsel Andra terdengar, dia langsung menjawabnya meminta seluruh tim untuk kumpul. Andra langsung berkunjung ke perusahaan, dan tidak ingin melihat ada yang terlambat.
Andra meminta maaf karena mereka harus pergi. Ada urusan penting yang mendesaknya, tidak bisa ditinggalkan.
Kepala Arvin mengangguk, sebelum Andra jauh suara Arvin teriak terdengar meminta sendikit waktu agar bisa mengobrol dengan santai.
Ada banyak cerita yang terlewatkan, ada banyak kisah yang harus dibagi. Cerita delapan tahun mungkin berhari-hari dibahas tidak akan usai.
"Dra, aku tidak tahu alasan kamu menjauh, tapi sampai kapanpun nama kamu masih dalam daftar sahabat terbaik. Kita tidak muda lagi Dra, mungkin kita akan memiliki keluarga masing-masing, berpisah lama, tapi jangan akhiri hubungan persahabatan kita." Arvin tidak bisa menahan kesedihannya karena dia sangat kehilangan sosok Andra.
Tarikan napas Andra panjang, balik badan menujukkan ponselnya agar Arvin bisa menyimpan nomornya.
"Hubungi aku jika ada waktu pasti datang." Andra menepuk punggung Arvin yang sangat luar biasa membuatnya bangga.
Suara marah-marah terdengar, Arvin dan Andra menoleh ke arah Agra yang menggendong adiknya, juga Naya yang marah.
"Raya sini gendong." Nay mengambil alih Rata yang memaksa ingin ikut menjemput kakaknya.
__ADS_1
Langkah Agra terhenti, Naya sampai menabrak punggung Agra yang berhenti mendadak.
Kepala Naya muncul dari kanan Agra, sedangkan Raya dari kiri. Keduanya tercengang melihat dua pria tampan.
"Wow, siapa itu Kakak Gaga?" bisik Raya pelan.
Senyuman Agra terlihat langsung lari memeluk kedua sahabatnya, Arvin menepuk punggung Agra pelan.
"Andra, ini Lo?" pelukan Agra erat.
"Sialan, buat malu." Andra melepaskan pelukan.
Beberapa orang melihat ke arah Agra, topinya diturunkan Agra tidak ingin membuat rusuh bandara.
Mata Andra melihat ke arah anak kecil di samping Naya, wajah sekilas mirip Agra, tapi ada campuran Arvin memiliki hidung mancung.
Tangan Raya melambai, tersenyum manis menunjukkan deretan giginya yang rapi yang putih bersih.
"Kenapa anak itu tidak mirip Naya, bukannya itu Putrinya," batin Andra karena mendengar jelas si kecil dipanggil Raya.
Senyuman Naya terlihat menatap Andra, tapi tidak mendapatkan balasan sama sekali. Andra acuh kepadanya seperti tidak kenal.
"Halo, nama aku Araya, Kakak ini siapa namanya?"
"Kakak? Bukannya aku terlalu tua dipanggil Kakak?" Andra menatap sinis anak kecil yang berlari ke arah Agra.
Pukulan Arvin pelan, meminta Andra tidak sinis kepada Raya, dia takut jika ditatap tajam seperti pejahat.
Andra pamit karena ada pertemuan penting, sengaja datang cepat karena ingin tahu karyawan mana saja yang jarang masuk.
"Aku pamit," ucap Andra tanpa menyapa Naya.
Panggilan masuk di ponsel Naya, bawahannya mengabari jika pimpinan meminta bertemu dalam waktu satu jam, tidak ada yang boleh terlambat.
"Kenapa tiba-tiba sekali, bukannya sebentar lagi pulang kerja?" Naya kaget menatap punggung Andra.
"Tidak tahu Bu, lebih baik datang saja katanya pimpinan tampan, lumayan lihat vitamin."
"Dia bukan vitamin, tapi racun mematikan." Hentakan kaki Naya terdengar membuat takut tiga orang di depannya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1