
Pagi ini Adam bangun dari tidur nya ia merakan pusing di kepala Bahkan untuk berdiri saja ia merasa berat " Ada apa denganku " gumam Adam. karena kepalanya pusing Ia pun memutuskan untuk tidak pergi bekerja Bahkan Ali sudah membawa Dokter untuk memeriksa Adam
" Bos. Saya permisi dulu ya Mau menebus Obat " Pamit Asisten nya
" Heum " Jawab Adam yang sudah berbaring lagi di atas tempat tidur
Setelah kepergian, Adam mencoba bangun karena ingin pergi ke kamar mandi dengan jalan yang sempoyongan " Andai saja ada Meisya pasti ia akan memapah ku dan merawat ku " Gumam Adam
Sudah tidak ada baru saja ingat dengan istrinya yang selama ini menjaga dan merawat dirinya Kemarin-kemarin kemana saja Ketika Meisya masih ada Yang ada malah di sia-siakan karena ke salah pahaman.
Adam kembali berbaring di atas tempat tidur ia mengambil Bingkai Foto pernikahan milik dirinya dengan Meisya di atas meja Sebelah Tempat tidur
lagi-lagi Adam menitihkan air mata Ia benar-benar merasa berdosa karena sudah berbuat jahat kepada Istrinya sendiri " apa ini karma untukku yang sudah bersikap jahat kepada istriku sendiri? " Gumam Adam. Adam mengelus Foto pernikahannya Dengan Air mata nya menetes " Maafkan aku " Lirih nya
" Bos " Adam langsung menghapus air mata nya karena Ada Asistennya yang menerobos Masuk kedalam kamar
" Ada apa? " Tanya Adam menaruh bingkai Foto
Asisten yang melihat Bos nya menangis merasa Iba, Baru kali ini ia melihat Bos nya yang sedang terpuruk selama ini Asisten Adam tidak pernah melihat Bos nya seperti Ini. " Ini saya bawakan Bubur dan juga Obat Untuk Bos " Jawabnya yang langsung menaruh Nampan dan juga Obat
" Heum, taruh di sana nanti saya makan " Ucap Adam
" Bos harus makan agar bisa mencari keberadaan Nyonya Bos. Jika bos sakit lalu siapa yang akan mencari Nyonya sedangkan anak buah kita tidak bisa di andalkan " ucapnya agar Adam mempunyai semangat kembali
" Kamu benar. saya harus sehat agar bisa menari keberadaan Istri dan juga Anak saya " Kata Adam Yang langsung mengambil mangkuk bubur lalu melahap nya
Asisten Adam yang melihat Bos nya semangat kembali langsung tersenyum
" Kamu "
__ADS_1
" Iyah Bos " Jawabnya yang siap siaga Membantu Bos nya
" Saya ini pria bodoh. kenapa Saya bisa menyia-nyiakan Orang yang selama ini saya sayangi hanya karena keegoisan saya " Lirih Adam " Apa Saya masih pantas untuk bersanding dengan istri saya? Dan apa Istri saya akan memaafkan perbuatan yang sudah saya lakukan kepadanya? "
Asisten Adam tau betul bagai mana perasaan Bosnya saat ini, Adam pasti merasa bersalah dan merasa telah gagal menjadi seorang suami " Saya yakin Jika Nyonya akan memaafkan Anda Bos. Nyonya adalah wanita yang ramah dan juga pemaaf jadi Saya yakin Jika Nyonya akan menerima Anda kembali "
" Saya tidak yakin. Buktinya ia memilih pergi membawa Calon anak kita "
" Mungkin Nyonya sedang membutuhkan waktu saat ini Tuan. "
Adam menganggukkan kepalanya Dengan mengusap wajah nya kasar
" Sekarang Bos Istirahat dan jangan banyak pikiran dahulu agar Bos bisa cepat sembuh dan bisa segera mencari Keberadaan Nyonya "
" Baik " Jawab Adam yang patuh kepada Asisten nya ini
Setelah Melihat bos nya berbaring ia langsung menutup pintu kamar lalu Pergi meninggal Kamar Adam Agar Adam bisa istirahat.
" Mamah baik-baik saja Nak " Jawab Bibi Vina pelan
" Mamah harus sembuh biar kita cepat pulang, Mamah kan paling tidak suka aroma Rumah sakit " Ucap Lili
Bibi Vina melihat ke arah Lili " Nak Reno mana? " Tanya Bibi Vina yang tidak melihat keberadaan Reno
" Kak Reno sedang pergi ke kantor Mah, katanya ada Rapat yang tidak bisa di tunda tapi Nanti Jika sudah selesai katanya akan segera kembali " Jawab Lili
" Bagai mana hubungan mu dengan suamimu, apa kalian sudah ngobrol baik-baik? " tanya Bibi Vian
Lili Menggelengkan kepalanya " Kami belum ngobrol Mah "
__ADS_1
" Nak, Jangan pernah kamu sia-siakan Nak Reno. Nak Reno sangat Baik "
" Mah jangan ngomongin itu dulu ya, Sekarang Mamah sembuh saja dulu oke " Pinta Lili yang tidak ingin membalas soal dirinya terlebih dahulu
Bibi Vina Menggeleng " Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari Nak. Mamah tidak akan rela jika kamu dan Nak Reno Berpisah Karen Nak Reno Pria yang bertanggung jawab "
" Mah.. "
" Kamu tau Nak. kenapa Papah dan Mamah memilih Nak Reno padahal Nak Reno dari kalangan biasa saja "
" Itu Karen Mamah dan papah tidak butuh harta makanya Mamah memilih kak Reno "
Bibi Vian tersenyum lalu Menggelengkan kepalanya ". Kamu salah Nak. Walaupun itu salah satunya tapi kamu juga tidak ingin Putri kami jatuh kepada orang yang salah, Mamah dan papah bisa lihat Jika Nak Reno sangat Tulus bahkan Pria yang bertanggung jawab ia juga sangat menghormati kamu Nak "
Lili memalingkan wajah nya ia juga merasakan apa yang di ucapkan oleh Mamah nya namun ia menahan air mata nya karena Lili tidak ingin Mamah nya melihat penyesalan dirinya kepada Reno.
" Satu lagi. Kamu harus meminta Maaf kepada Meisya dan juga Reno karena kamu telah salah paham kepada Mereka. mereka orang baik Nak, mereka tidak bersalah di sini Mamah yang bersalah karena Menutupinya dari kamu dan juga Adam " Bibi Vina meneteskan air mata Ia merindukan sosok suaminya yang telah pergi beberapa Minggu Lalu
" Mamah jangan menangis Hiks.. Lili janji Lili akan meminta Maaf Kepada Meisya dan juga Kak Reno jadi Mamah jangan sedih lagi, Lili gak sanggup kalo melihat Mamah menangis " Lili mengusap Pipi Mamah Vina dengan tangannya
" Mamah hanya merindukan papah Nak, Pasti Papah sedih Melihat anak dan menantunya menjadi tidak akur papah juga pasti menyalahkan diri papah "
Lili Menggelengkan kepalanya " Tidak mah. Papah akan bahagia di sana Karena Anak dan menantunya akan bersama kembali dan memperbaiki semuanya " Ucap Reno yang Baru saja masuk
Tadi Reno tidak sebagai mendengar pembicaraan Lili dan juga Ibu Mertua nya, Reno tidak menyangka Jika Ibu mertuanya selalu ada untuk dirinya
" Nak Reno, Sudah pulang Nak? " Tanya Bibi Vian
Reno berjalan lalu mencium punggung tangan Bibi Vina " Sudah mah. Mana mungkin Reno bisa tenang kalo mamah sedang di rumah sakit " Jawab Reno sambil tersenyum " Mamah celah sembuh ya, agar kita bisa kumpul bersama di rumah "
__ADS_1
Bibi Vina menganggukkan kepalanya. sedangkan Lili ia hanya menunduk malu Lili tidak sanggup menatap suaminya karena ia masih merasa bersalah kepada Suaminya ini.