
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Mas Anto sudah kasih ijin Steve menanda tangani surat gugatan cerai nya Sari lho. Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
----------------------
“Kamu masih mau teruskan gugatanmu Mam?” tanya Steve pelan sambil menatap wajah istrinya yang tertunduk. Steve mengangkat wajah Sari dengan mengangkat dagu perempuan mungil itu. Ditatapnya mata hitam istrinya yang menyisakan tetes air mata. “Jangan menangis! Seperti mas Anto bilang, percuma aku bertahan di sisimu bila kamu tak mau. Percuma aku mempertahankan rumah tangga kita bila kamu tak ingin di teruskan. Besok Papie akan meminta Erlangga untuk datang dan akan papie tanda tangani permintaanmu.” Walau berat Steve mengungkapkan isi hatinya. Dia memang merasa Sari sudah tak bisa mempercayainya lagi.
“Maafkan aku Pie. Mamie salah keburu nafsu. Mamie salah enggak cari kebenaran, dan mamie juga salah enggak tanya ke papie dulu. Maafin mamie,” isak Sari menggenggam jemari tangan suaminya sambil menciumi tangan suami tercintanya. Steve lega dan memeluk tubuh mungil istrinya.
“Besok ikut papie bikin laporan ke kantor polisi ya?” ajak Steve. Dia ingin Sari tahu pasti bahwa dia juga tak ingin ada ulet bulu dalam kebun mereka.
***
Pagi ini Sari bersiap lebih dulu dari pada Steve. Dia sangat ingin membuat kapok para ulet bulu. Saat pulang dari cafe siang kemarin Sari minta langsung diantar Steve ke kantor LBH ( Lembaga Bantuan Hukum ) yang dia datangi untuk membantu pengurusan gugatan cerainya. Di dampingi Steve, Sari membatalkan pengajuan cerainya. Sari bersyukur memiliki mbak Dini dan mas Anto yang selalu mendampinginya dan membantunya saat dia salah jalan.
“Mamie pergi sebentar ya, princess enggak boleh rewel,” pesan Sari pada putri kecilnya yang baru saja diberi ASI sebelum dia dan Steve menuju kantor polisi bertemu bang Gultom. Sari menepuk-nepuk pelan punggung putrinya agar bersendawa. Sehabis Adhisty bersendawa Sari meletakan putri kecilnya di box bayi di ruang tengah. Dia lanjut berhias walau hanya tipis. Dia mengambil tas kecil yang senada dengan baju yang dia kenakan.di masukannya telepon genggam miliknya. “Ma, titip Dhisty sebentar ya?” pamit Sari pada mamanya yang sedang minum teh panas di kebun belakang.
“Memangnya Steve sudah siap?” tanya mama, beliau berpikir anak dan menantunya akan pergi ke ruang usaha mereka.
“Sudah, dia sedang pamit pada Dhisty,” jawab Sari sambil salim pada mama tercintanya. Tak lama Steve menghampiri mereka dan ikut pamit pada mertuanya.
***
__ADS_1
“Nanti pulangnya mampir butik ya Pie, aku mau sidak aja.” Sari minta mampir ke butik sehabis mereka selesai melakukan pelaporan terhadap Jelita.
Sari hanya mendampingi Steve dan Gultom melakukan pelaporan. Dia puas melihat suaminya serius ingin mempertahankan rumah tangga mereka. Dia juga semakin sadar dan menarik pelajaran, jangan terbawa emosi bila ingin memutuskan suatu hal. Selesai pelaporan Sari bergayut manja pada lengan suaminya. Dia semakin mantab berjalan bersisian dengan sosok yang awalnya dia panggil om saat pertemuan pertama mereka. Reader masih pada ingat enggak kapan dan dimana Steve kembali bertemu Sari selain saat Sari SD dulu?
***
Tak ada yang special di butik. Semua berjalan pada rule nya. Semua lancar karena pegawainya kebanyakan kerabat mami Steve di Klaten. Mereka memang benar-benar ingin bekerja, bukan untuk neko-neko. Sehingga walau tidak ada pemimpin yang langsung mengawasi. Mereka tetap bekerja dengan jujur dan sesuai peraturan. Sari sangat senang ditinggal dua bulan butik tetap sesuai kendalinya.
Sari mengecek semua stock serta tabel penjualan dan pembelian serta pembayaran barang konsinyasi. “Saya tidak tanda tangani saat ini ya, saya akan periksa rinci dulu. Bawakan saja berkasnya,” pinta Sari pada kepala gudang dan manager penjualan. Dilihatnya suaminya belum juga masuk ke ruangannya, sedang dia sudah merasa sangat tersiksa karena gudang ASI nya sudah bengkak. Dia keluar rumah cukup lama. Bila dibiarkan dia akan demam.
Sari segera menghubungi Steve yang berada di gedung seberangnya. “Masih lama Pie?” tanya Sari lembut.lewat ponselnya.
“Kenapa? Mamie sudah mau pulang?” Steve masih diskusi dengan kepala montir membahas mobil yang baru dia beli dua hari lalu.
“Ya sudah. Langsung ke mobil ya? Papie tunggu di mobil.” Steve segera memutus pembicaraan dengan Sari dan bersiap keluar.
“Besok kita sambung lagi ya mas, cek dulu semua dan saya tunggu apa saja yang harus diperbaiki agar pembeli tak kecewa. Si Ibu mulai demam karena bengkak pabrik ASI nya, kami harus segera pulang.” Steve langsung berlari menuju mobilnya. Dia nyalakan serta menuju lobby butik agar Sari berjalan tidak terlalu jauh.
***
Sejak kemarin bu Neni belum bisa menerima kenyataan kalau putrinya kembali berulah. Berkali-kali dia minta Isman suaminya agar memberi uang kompensasi pada Steve agar Jelita tidak dilaporkan ke polisi. Seperti biasa bu Neni berpikir dengan uang segalanya bisa beres. “Enggak bisa Bund, ini saja Ayah sudah memohon agar diberi waktu pada Steve agar dia menunda pelaporan. Kalau niatnya Steve, sudah tiga hari lalu anak kita dilaporkan. Tapi ayah memohon dan Steve memberi toleransi. Mbak Gita dan mas Hendro hafal, Steve tidak bisa dibayar dengan uang kalau kasus seperti ini. Steve orang yang sangat jujur. Uang bukan hal penting untuknya. Dia juga bukan orang yang berkekurangan. Dia punya show room jual beli mobil dan butik,” jawab pak Isman dengan putus asa. Dia memang sangat menyesal karena telah salah asuh pada kedua anaknya.
“Sekarang Bunda mempersiapkan mental saja. Akan banyak caci maki baik dari saudara maupun lingkungan yang ditujukan pada kita. Karena memang kita telah salah mendidik anak-anak kita. Kita pernah mencibir Wicak dan Ningrum serta Yoyo dan Putri karena mereka keras mendidik anak-anaknya. Nyatanya pola asuh mereka lah yang benar dan baik. Tidak seperti kita dan mbak Gita yang selalu memanjakan anak dan mengabulkan semua permintaan mereka dengan dalih kita menyayangi anak sehingga tak pernah menolak semua keinginannya.” Pak Isman memberi nasihat pada istrinya agar bersiap. Dia sendiri sudah memikirkan akan pindah rumah ke daerah baru agar istrinya tidak terlalu tertekan dengan cibiran masyarakat sekitarnya yang tahu kenakalan kedua anaknya.
Cibiran sanak keluarga tentu tak akan mungkin dia hindari. Karena pindah kemanapun saudara pasti akan tetap bisa menghujatnya. Taapi setidaknya dengan pindah domisili beban yang ada berkurang sedikit. Itu yang bisa dilakukan pak Isman bagi istrinya.
__ADS_1
------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
__ADS_1