
Terima kasih yang sudah selalu memberi like di setiap habis baca bab cerita Yanktie ya
Semoga semua selalu sehat dan bahagia
-----------
“Boleh abang tau alasanmu minta kita break?” tanya Steve sambil terus menggenggam jemari Sari. Mereka duduk di warung kecil di depan lapangan Banteng. Tidak ada yang istimewa dengan tempat itu. Steve memilihnya karena warung itu sepi sehingga mereka bisa leluasa ngobrol.
Sari memperlihatkan HP nya pada Steve. Steve kaget melihat sms yang berisikan kalau dirinya masih mencintai seseorang entah itu siapa. Steve membuka HP nya dan mencocokan nomor yang ada dalam HP Sari dengan yang ada di HPnya. Akhirnya mereka tahu itu adalah perbuatan Belinda.
“Kamu kenapa ga konfirmasi ke abang?” tanya Steve sambil menatap mata Sari yang akhirnya menunduk.
“Aku malas, aku capek, kayak ga ada cowoq lain aja harus rebutan. Yang ganteng dan muda banyak koq,” jawab Sari enteng.
“Kamu ga mau mempertahankan aku?” tanya Steve.
“Apa abang pantas dipertahankan?” Sari balas bertanya.
Steve hanya diam dan terus memandangi Sari yang masih belum menatap matanya. Karena tak ada pergerakan akhirnya Sari menengadahkan wajahnya, dia sadar sejak tadi ternyata Steve sedang lekat memandangnya.
“Kenapa ga jawab?” tanya Sari sambil tangannya mengusap pipi Steve.
Steve mengambil tangan kanan Sari yang berada di pipinya, di ciumnya lembut “Tadi kamu sudah terima pinanganku depan mama, jadi aku mohon sejak saat ini kita sudah ga usah bahas sandungan yang sudah lalu ya?” pinta Steve lembut.
Sari hanya mengangguk sambil menggenggam erat tangan Steve.
“Kita minta restu ke opa oma yok?” ajak Sari. Tentu saja Steve sangat setuju, dia segera membayar 2 gelas minuman yang mereka pesan
***
“Hallo sayangnya oma,” sapa oma melihat Sari datang, “Selamat ya atas wisudanya tadi.”
“Makasih oma,” jawab Sari sambil memeluk oma dengan sayangnya.
Setelah makan malam Sari sengaja bicara serius dengan oma dan opa. “Oma lusa Sari mau ke Jogja, mungkin lama karena mama mau nemani mbak Dini sampai melahirkan. Mungkin juga akan menetap di sana karena mas Anto sudah memutuskan mama akan tinggal di Jogja selamanya dan rumah Jakarta akan di jual. Jadi saat ini Sari mohon pamit, kalau Sari punya salah mohon di maafkan.”
Oma kaget mendengar berita yang Sari sampaikan, namun mau gimana lagi? Tapi di sisi lain oma juga bahagia karena itu berarti Sari dan Steve tidak akan LDR lagi.
“Opa ga bisa bilang apa-apa, semoga aja semua harapanmu bisa terwujud,” opa berupaya mengisi kekosongan karena oma hanya bisa diam terpaku.
__ADS_1
“Opa, oma, tadi Steve sudah minta Sari ke mamanya, dan mama terima. Nanti tinggal nunggu lampu hijau dari Anto sebagai kepala keluarga, Steve mohon opa dan oma bersiap melamar Sari secara resmi ya?” pinta Steve.
“Serius?” rona bahagia langsung terlihat di wajah oma.
“Iya oma serius,” balas Sari sambil mengangguk-anggukan kepala dan menggenggam tangan oma dengan hangat.
Flash back off
***
Lamaran Steve baru saja usai, 2 bulan lagi Sari akan resmi menjadi istri Steve. Telah di putuskan akad nikah menggunakan pakaian adat Menado dan resepsi menggunakan pakaian adat Jawa. Baik akad maupun resepsinakan di adakan di Jakarta. Karena baik Sari maupun Steve dan bu Rahma belum lama tinggal di Jogja, sehingga percuma mengadakan resepsi di Jogja karena kerabat lebih banyak di Jakarta.
Oma tak hentinya bersyukur karena cucunya mendapat jodoh yang sesuai dengan keinginannya, walau dia tidak pernah melarang Steve akan berjodoh dengan siapapun, namun tentu saja dalam hatinya selalu ingin yang terbaik di hatinya. Dulu ketika anaknya memperkenalkan mami Steve padanyapun dia sangat suka akan calon menantunya walau saat itu jelas-jelas anaknya berkata akan mengikuti keimanan calon istrinya. Baginya agama adalah urusan individu pada sang pencipta, sehingga dia tidak bisa melarang anaknya, walau sempat beberapa kali dia menyarankan agar anaknya berpikir berulang-ulang agar tidak menyesal di kemudian hari.
Hari ini sepi sudah rumah di Bumijo, karena kemarin rombongan keluarga Sari sudah pamit pulang dan tadi pagi giliran keluarga besar Steve datang untuk pamit setelah 10 hari di Jogja.
Sari dan bu Rahma membantu para ART membersihkan rumah, walau ada 3 ART namun juga harus di maklumi mereka akan kerepotan karena masih mengurusi 1 balita dan 1 baby.
“Makasih bro sudah sangat membantu,” Steve menyampaikan rasa terima kasih pada calon kakak iparnya, tidak di sangka keisengannya minta membuat reuni dengan teman-teman mainnya membuat kedekatannya dengan Anto menjadi jembatan jodohnya. Dia kesandung cinta anak bau kencur yang 5 hari lalu sudah resmi menjadi tunangannya.
“Diiiih, inget bilang makasih?” goda Dini.
“Ihh, koq malah ngadu ke aku, lawan kalau berani!” Sari yang sedang menggendong Arya malah ikut menggodanya, membuat Dini dan Anto terbahak-bahak.
***
Sari bersiap, dia akan mulai kerja hari ini, sejak tunangan Steve langsung menyerahkan butik maminya langsung di kelola oleh Sari, sejak Sari pindah ke Jogja bulan lalu memang Steve langsung mengenalkan Sari dengan tante Woro, sehingga Sari langsung belajar dari orang yang sangat lama memegang usaha itu, selain itu tante Woro juga sudah mengundang semua rekanan untuk berkenalan dengan Sari dan memberi tahu tentang perubahan kepemimpinan butik. Sehingga nantinya semua tau, Sari lah yang akan mereka temui. Semua proses itu di lakukan sebelum Sari tunangan dan Sari memang berjanji mau mulai kerja serius setelah tunangan.
“Sudah siap terjun de?” tanya Dini yang juga sudah siap berangkat memberi kuliah. Amora sudah berangkat sejak tadi dengan daddynya.
“Siaaaaaap Mbak!” jawab Sari pasti.
“Sarapan sik,” perintah bu Rahma.
“Din, omah (rumah) Jakarta kemarin ada yang nawar serius” cerita bu Rahma di meja makan.
“Lalu gimana Ma?” tanya Dini, karena bukan kapasitasnya menentukan, dia hanya akan manut pada suaminya.
“Mama bilang kalau mau, kita kosongkan seminggu setelah acara nikahane Sari, jadi selama acara rumah itu masih bisa buat jadi posko keluarga kita,” cetus mamanya.
__ADS_1
“Ya bagus itu Ma, karena rumah mami takutnya ga akan cukup buat nampung” balas Dini, baginya keluarga Anto wajar saja nginap di rumah dia, namun pasti tetap aja rumah maminya akan tidak cukup nampung keluarga besar mereka.
“Sekalian jual mobil mas Anto Ma. Ga perlu bawa mobil itu kesini, kan habis nikah aku ga bawa mobil sendiri” saat ini Sari yang punya usul.
“Kalau masalah jual mobil mah biar Steve aja yang urus de, dia kan banyak link jual beli mobilnya,” saran Dini pada adik iparnya.
“Oh iya ya Mbak, aku malah lali (lupa),” Sari malah nyengir karena lupa side job calon suaminya broker mobil.
Sari turun di halte yang dia minta, dia bilang pada Dini tidak perlu di antar, dari halte tersebut dia tinggal naik becak, Sari tak ingin Dini jadi muter lalu terlambat memberi kuliah.
“Maturnuwun yo Mbak,” kata Sari saat hendak membuka pintu mobil.
“Yo, hati-hati dek,” balas Dini lalu dia menuju kampus tempatnya mengajar.
***
“Morning honey,” sapa Steve saat teleponnya terhubung dengan kekasih hatinya.
“Sugeng enjang om-om kekasih hati,” jawab Sari menggoda tunangannya itu “Tadi sarapan apa yank?”
“Om-om tapi selalu di kangenin kan?” balas Steve menggoda Sari.
“Ih kerajinan ngangenin om-om posesive,” balas Sari sambil mengamati buku besar pesanan yang belum di cover minggu ini, di beberapa bagian dia memberi note dengan pinsil.
“Lagi apa honey?” tanya Steve.
“Lagi telepon ama om-om kan?” jawab Sari ringan.
“Aku serius lho” rengek Steve.
--------------
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh
__ADS_1