
Hallo, gimana puasa kalian ? Sudah hampir lebaran nih. Sudah selesai bikin kuenya? Kirim ke Sedayu - Jogja ya hehehe …
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada notifikasinya.
Menu yang dipesan mbak Sari ke asistennya enak tuh, jadi pengen bikan udang bakar juga. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
“Ibu kemana mbak?” tanya Steve pada keduanya.
“Jalan pagi Pak, sama ndoro sepuh,” jawab mbak Irah.
Pagi ini Sari minta dibikinkan ikan bakar dengan sambal colo-colo khas Indonesia Timur dengan bahan dari kecap dan lemon cui yang dia beli di swalayan kemarin, ditambah iriesan cabe, bawang merah dan tomat hijau. Dia juga minta dibakarkan sedikit udang, oleh karena itu mbak Marni sedang membuat sate udang untuk dibakar.
Lama Steve menunggu istri dan anaknya kembali, pagi ini dia tidak terlalu mual dan setelah muntah satu kali lalu perutnya tidak bergejolak lagi. Steve telah menghabiskan setangkep roti panggang isi corned yang dia buat sendiri, juga segelas besar hot choco. Dia bersyukur pagi ini perutnya tidak rewel. Namun dia tetap tidak berani banyak bergerak agar perutnya tidak ngambeg. Cukup Sari aja yang ngambeg padanya, perutnya jangan!
Di lihat nya ada becak berhenti di muka rumahnya. Mama turun lebih dulu lalu mengambil Dhisty dari pangkuan Sari. Steve segera menyongsong, dia tak mau Sari menggendong Dhisty, takut mengganggu kehamilannya. Dia ambil alih Dhisty dari gendongan mertuanya dan dengan tangan kanannya dia ambil tas yang terlihat paling berat lalu dia bawa masuk dan di letakan di meja dapur.
“Princess dari mana koq enggak ajak Papie?” tanya Steve pada Dhisty sambil mengelitik perut gadis kecilnya dengan dagu.
“Eyi Pie … eyi,” Dhisty terkekeh kegelian di kelitiki Papie nya seperti itu.
“Kakak, ayo siap-siap mandi,” perintah Sari pada Dhisty. Dia sudah menyiapkan air hangat untuk mandi Dhisty. Biasanya Steve yang memandikan dan mendandani Dhisty, maka Sari juga sudah menyiapkan baju serta semua seperti sisir, cologne bayi dan lain-lain.Sari langsung mencuci tangan dan dengan santainya dia makan nasi serta ikan bakar pesanannya sendirian setelah menawari mama, namun mama belum ingin makan berat, mama bilang cukup dengan roti dan telur setengah matang saja.
__ADS_1
Setengah piring nasi dan seekor bawal laut ukuran sedang serta colo-colo habis dalam sekejap. Sari sengaja berhenti dulu karena sebentar lagi dia akan makan udang bakar yang dia minta di bakar tidak terlalu matang. Steve yang baru keluar kamar menggendong Dhisty hanya diam melihat istrinya yang masih tak mau menyapanya.
Sari menyiapkan sarapan Dhisty dengan udang di siram sedikit kecap. Dia mengangkat Dhisty dan mendudukannya di kursi khusus. “Jangan angkat kakak Mam,” pekik Steve melihat Sari mengangkat Dhisty.
Tanpa menjawab Sari terus melakukan aktivitasnya. “Ayo kita baca Bismillah dulu ya,” dia mengajarkan putrinya berdoa sebelum makan lalu dia konsen penuh menyuapi putrinya sambil di ajak bercerita.
Selesai sudah acara sarapan Dhisty. Sari membasuh tangan dan wajah putrinya agar tidak bau amis. Sari dan Steve memang berkomitmen mengasuh anak mereka sendiri, pengasuh hanya sebagai pelengkap. Bukan sebaliknya. “Ok selesai, sekarang waktunya kakak main dengan Papie atau dengan mbak Irah ya, Mamie mau selonjoran dulu,” kembali dengan santai Sari mengangkat Dhisty dari kursi makan balita yang cukup tinggi itu.
“Mam,” sekali lagi Steve menegur Sari, namun yang di tegur tak ber ekspresi apa pun. Dia menurunkan gadis kecilnya lalu mengangkat kursi makan Dhisty untuk di pindah ke belakang. Steve yang melihat pembangkangan yang dilakukan istrinya hanya bisa diam. ‘Semoga kandunganmu aman ya Mam,’ doa Steve dalam hatinya.
Jam tidur pagi bagi Dhisty, Steve memanfaatkan untuk berbisik pada Sari. “Papie mau kita bicara hingga tuntas saat Dhisty tidur,” pelan namun tegas dia katakan di telinga istrinya saat mengambil alih putri kecilnya yang hendak tidur.
Tanpa takut Sari masuk kamar mereka karena bila Steve dan Sari di rumah Dhisty tidur satu kamar dengan mereka. Kalau tak ada orang tuanya Dhisty akan tidur di kamarnya sendiri. Walau ditinggal Steve sudah mempersiapkan keamanan bagi baby girl-nya itu. Karena Dhisty menggunakan bed tersendiri yang ada pintunya walau size besar. Bukan box bayi kecil. Sehingga bila pengasuhnya lambat datang pun Dhisty tak akan terjatuh.
Sari duduk di sofa kamar sambil menonton TV menanti Steve selesai menidurkan baby girl mereka. Steve memagari anaknya dengan bantal dan guling berkeliling agar tidak jatuh. Setelah di rasa aman dia baru menghampiri istrinya yang menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
“Maafin Papie kalau Papie salah, jangan seperti ini ya,” lembut Steve bicara, namun hati Sari sudah beku. Hampir 5 tahun mereka terikat pernikahan dan setahun lebih pacaran Steve tidak pernah marah padanya. Sekarang dia dimarahi bukan karena salahnya tentu membuat Sari sangat terluka. Sari memang bukan orang yang hobby mengumbar amarah, namun bila dilukai, dia akan menekannya dalam palung hati terdalam dan sulit memaafkan.
Masih tetap di tatapnya wajah suaminya, namun tak ada ekspresi di sana. Datar tanpa amarah, dan itu lebih berbahaya! Steve menyadari itu. Steve pindah ke sisi istrinya, dia mengecup kening serta hidung pujaan hati namun sayang tak ada respon apa pun dari Sari.
“Mamie boleh marah ke Papie, tapi jangan diem gini dong. Bicara dong Mam,” rengek Steve.
“Dan Mamie juga harus jaga dede, jangan angkat kakak atau barang berat,” lanjut Steve lagi. “Papie sayang Mamie dan cuma Mamie. Please jangan diem gini ya?” nada suara Steve masih merengek namun Sari juga tetap tak menggubris. Steve memeluk lembut istrinya serta menekan kepala Sari agar bersandar di dadanya. Cukup lama mereka dengan posisi itu, tak ada yang bergerak. Sari tak menolak apalagi berontak. Dia hanya diam. Setelah cukup lama dan dirasa pelukan Steve mulai mengendur, Sari berdiri lalu dia pindah ke kasurnya, tidur di sebelah putrinya. Steve benar-benar putus asa. Dia tak menyangka Sari akan sangat marah seperti ini.
Steve keluar kamarnya, dia ingin bertanya pada mama, bagaimana mengatasi kemarahan istrinya.
__ADS_1
“Awalnya bagaimana?” tanya mama pelan saat menantunya bertanya tentang sikap putri bungsunya.
--------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja