KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
90 MELAPOR PADA DINI


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Steve belum tahu apa masalah yang akan membelitnya karena Sari belum mengungkapkannya.  Gimana kelanjutan certanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


----------------------


“Mau minta masak apa untuk makan siang nanti Bu?” tanya asisten rumah tangga pada Sari. Dia hendak ke warung sayur. Biasanya Sari menyuruhnya belanja mingguan di pasar. Bila bahan kurang lengkap maka sehari-hari hanya butuh ke warung saja.


“Kepengen sayur lodeh wae mbak, ada bahannya enggak? Tambahane goreng tempe dan ikan asin aja lalu cepake sambal dan lalapan serta krupuk,” Sari meminta menu yang dia inginkan.


Sang asisten mengecek ketersediaan bahan di kulkas. “Semua ada kecuali ikan asin Bu,” jawabnya. “Tapi ada ikan keranjang ( ikan pindang ).”


“Beda lah, ikan keranjang dengan ikan asin. Beli aja deh biar enak menunya. Ikan basahnya ada kan?” tanya Sari. Sebab Steve akan marah bila Sari tidak mengkonsumsi ikan basah pada menu hariannya. Steve mengharuskan protein hewani yang tinggi dari ikan.


“Ada Bu, ada ikan salem yang akan saya bikin balado,” jawab asisten rumah tangga tersebut.


“Ya sudah, beli ikan asin dan krupuk aja mbak, sama liat stok bumbu biar enggak bolak balik keluar rumah,” Sari memberikan uang belanja pada asistennya tersebut.


Pagi ini Steve sarapan sendiri, tak ditemani istrinya apalagi di ladeni. Dia mengambil semua sendiri. Steve masih belum tahu apa yang membuat Sari marah padanya. Namun dia mencoba untuk bersabar. Steve keluar kerja pagi sehabis sarapan, karena ada calon konsumen yang ingin langsung ditangani olehnya. “Papie berangkat kerja dulu ya Mam,” pamit Steve sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. Dia juga menciumi pipi dan kening anaknya. Tanpa merasa bersalah Steve langsung menuju ke tempat usahanya bersama Sari. Dia menengok sebentar butik dan menanyakan apakah ada kendala, karena Sari belum bisa aktif bekerja kembali. Sesudah itu baru dia menuju lokasi show room mobil diseberang bangunan butik yang awalnya milik almarhum maminya.


Tak lama konsumen yang membuat jani dengannya datang, Steve langsung focus melayani dan melupakan sejenak bingung di pikirannya akibat ulah istrinya di rumah.


***


Sehabis memberi kuliah Dini datang ke rumah adik iparnya sesuai janjinya kemarin. “Assalamu’alaykum Ma, Mama sehat ‘kan?” sapa Dini sambil menyalami mertuanya.


“Wa’alaykum salam. Alhamdulillah sehat.” Sang Mama mertua pun menjawab ringan. Dia tak mengerti kalau Dini datang atas permintaan Sari. Mama hanya mengira menantunya datang untuk melihat keponakannya. “Kandunganmu piye Din?”


“Sehat Ma, Maz Anto juga sudah mulai berkurang ngidamnya, walau masih super kolokan. Enggak seperti Maz Anto kalau normal,” jawab Dini sambil senyum kecil mengingat kelakuan suaminya yang mengalahi kolokannya Arya.


Dini gemas melihat Adhisty sang keponakan. Sari memberinya bandana di kepala baby girlnya membuat Adhisty seperti boneka. “Tu kan kalau bayi perempuan pasti asyik ngedandaninnya. Dulu bayinya Amora aku juga seperti itu. Tapi pas Arya ya cuma kaos aja bajunya. Pas udah agak besar sedikit ada sih kemeja kecil. Tapi kan enggak bisa di dandani. Semoga yang ini nanti perempuan sehingga aku bisa kembali berkreasi,” Dini bercerita sambil mengelus perut buncitnya yang sudah berusia 6 bulan.

__ADS_1


Setelah ngalor ngidul membahas kehamilan dan aneka dress baby girl serta pernak pernik asesoriesnya maka Sari mulai ingin bicara serius saat Adhisty sudah tidur lelap. “Mbak lihat ini,” itu awal Sari memberi tahu Dini. Memperlihatkan foto, bukan bercerita.


“Kamu dapat dari mana dan kapan de?” tanya Dini. Dia cukup kaget karena terlihat Steve sangat mesra dengan gadis yang terlihat datang ke show room usahanya.


“Kemarin mbak, abang pergi siang, enggak lama aku langsung dapat kiriman itu. Itu baju dan celana memang yang dia pakai kemarin siang. Dan hari ini dia semangat pergi pagi-pagi sehabis sarapan. Padahal kalau berangkat bareng aku, kami paling cepat berangkat jam 9 pagi bukan jam 7.30 seperti tadi pagi.” Lapor Sari.


“Kamu tahu siapa gadis ini?” tanya Dini. “Apa pegawaimu di butik atau show room?” selidik Dini.


“Aku belum pernah lihat,” balas Sari.


“Kamu sudah tanya ke Steve?” tanya Dini lagi.


“Apa Mbak pikir orang yang berselingkuh mau mengakui?” Sari balas bertanya.


“Ya tapi kita harus bertanya de, biar semua permasalahan menjadi jelas,” bujuk Dini.


“Aku malas mbak, biarlah semua sesuai kemauannya. Aku tak ingin mempertahankan pernikahan ini kalau memang harus berupaya sendiri. Rumah tangga ‘kan proyek dua hati. Bila hanya ada satu hati yang ingin tetap terikat dalam mahligai rumah tangga, maka perahu tak bisa berjalan,” Sari seperti pesimis menjalankan biduk rumah tangganya. Saat ini dia hanya akan focus pada gadis kecilnya saja.


Steve yang baru saja selesai bertransaksi dengan konsumennya tentu saja kaget membaca chat kakak iparnya itu. Dia sudah bersahabat dengan Dini sejak perempuan itu SMA, sebelum mereka menjadi ipar. Dia sangat tahu Dini dan suaminya adalah pasangan yang sangat bijaksana dan berpikir dengan logika. Mendapat info seperti itu tentu dia bersyukur dan hendak menyelidiki apa yang ada di ponsel istrinya.


‘Apa lagi yang Sari katakan padamu?’ jawab Steve.


‘Dia tak ingin mempertahankan pernikahan kalian,’ balas Dini.


Steve panas dingin membaca chat terakhir kakak iparnya. Dia hafal istrinya bukan orang yang mudah mengambil keputusan sesaat. Sari selalu berpikir panjang bila ingin melangkah.* ‘Mungkin karena**baby blues\,*lalu mendapat tekanan seperti itu dia berpikir pendek?’ batin Steve. Dia bersiap pulang. Tak ingin Sari bertindak menyakiti bayi mereka karena depresi sehabis melahirkan.


Sebelum sampai rumah Steve sengaja mampir ke kios buah dan membeli aneka macam buah untuk konsumsi istrinya. Dia juga membelikan Adhisty beberapa perlengkapannya yang kemarin dia lihat sudah hampir habis seperti shampoo, cologne, minyak telon dan diapers.


“Assalamu’alaykum,” Steve mengucap salam saat tiba di rumah. Di lihatnya Dini sedang bersiap pulang.


“Wa’alaykum salam,” jawab Mama dan Dini hampir berbarengan sementara dia tidak melihat Sari di ruang keluarga.


“Aku pulang koq kamu pamit sih?” sesal Steve.

__ADS_1


“Aku sudah sejak tadi kesini, kangen sama Dhisty,” jawab Dini santai. Dia langsung menyalami mama mertuanya. “Pamitke Sari yo Ma, tadi dia bilang mau ganti pembalut,” bisik Dini pada mama mertuanya, namun Steve jelas mendengar. Mama mengantarkan menantunya sampai ke teras.


***


Steve masuk ke kamarnya, dilihatnya Adhisty masih terlelap, dan di dengarnya suara gemericik air di kamar mandi. Dia yakin Sari ada di dalamnya seperti yang Dini bilang tadi. Steve bersiap mengambil baju gantinya, lalu keluar untuk ke kamar mandi di belakang, karena dia sudah kebelet buang air kecil. Akan sangat lama bila menunggu Sari keluar dari toilet kamar mereka.


---------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


-----------------------

__ADS_1


__ADS_2