
Idul fitri ke dua th 2022, semangat berhalal bihalal ya
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada notifikasinya.
Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
“Itu siomay sudah hangat lagi, semoga kamu suka,” Steve memberi tahu Sari saat melihat mbak Irah membawa siomay dan Adisthy mengekor di belakang pengasuhnya. Tanpa menunggu jawaban Sari, Steve membawa gelas ke belakang dan dia masuk ke kamar untuk menyiapkan beberapa stel pakaian untuk dia bawa ke butik. Dimasukan baju-bajunya ke dalam ransel, lalu dia bersiap pamit pada istri dan mama mertuanya. Saat akan pamit pada mama, dia lihat mama sedang berbicara dalam telepon, selintas dia dengar membahas Sari yang harus bed rest.
“Ma, aku pamit tidur di butik ya, biar Sari agak tenang enggak lihat aku, Mama tolong ingetin Sari terus buat minum obat ya Ma,” tutur Steve pelan.
Mama tak bisa melarang karena dia pikir mungkin itu yang terbaik. Dia hanya ingin semua anaknya hidup rukun dengan pasangannya.
Steve mendekati Sari yang berbaring di depan televisi dengan dua bantal. “Papie berangkat ya, kalau Mamie butuh papie pulang, telepon ya? Love you Mam, jaga kesehatan dan jangan telat minum obatnya,” Steve berupaya tegar dan dengan lembut dicium kening istrinya. Dia tidak meminta salim pada istrinya. Sehabis mencium kening Sari dia langsung berdiri dan keluar rumah. Dia tak ingin ada yang melihat air matanya. Dia memang sangat cengeng bila berhubungan dengan anak dan istrinya.
***
Pagi pertama Steve bangun di butik, dia menjalankan salat subuh di masjid dekat butik. Sehabis itu dia berjalan mencari sarapan, dia tahan mual yang di rasakannya. Semalam dia mampir ke swalayan, membeli banyak roti, aneka selai, kopi kemasan, cemilan dan banyak lagi selain keperluan mandi untuknya. Sehabis membeli sarapan untuknya dan dua orang satpam yang jaga malam Steve kembali ke butik.
Steve kembali berbaring untuk mengurangi pening di kepala, di minumnya air putih hangat.
Sementara di rumah Sari tetap tenang, semalam dia pindah ke kamar saat Adisthy dibawa untuk tidur. Dia berpesan pada mbak Irah agar subuh segera masuk kamarnya karena biasanya Adhisty bangun. Dia tak bisa mengurusi, maka mbak Irah yang akan full memegang Adhisty. Sari juga minta agar mbak Irah mencari teman yang bisa menginap untuk membantunya. Dia tak ingin bila Adhisty di sambi-sambi.
Tanpa di duga pukul 08.30 Dini datang sendirian, rupanya hari ini dia free tidak ada jadwal memberi kuliah. Dini membawa banyak buah untuk Sari, juga beberapa cemilan. Dini menghampiri Sari yang berbaring di kasur yang Steve gelar di lantai di depan televisi. “Kamu kenapa de?” tanya Dini mengawali pembicaraan mereka pagi ini, Dini tadi berpesan pada mbak Irah agar mengajak Adhisty main di belakang karena dia ingin bicara dengan Sari.
“Gapapa mbak, kemaren pas di dokter aku pas kram perut. Dokter nyuruh aku bed rest selama tiga hari dan bila enggak sembuh juga aku harus rawat inap di rumah sakit,” jawab Sari masih tenang.
“Memang sudah berapa lama kamu merasakan kram, dan apa penyebabnya? Kalau kamu tahu ‘kan biar di hindari jadi kamu enggak perlu di rawat di rumah sakit,” pancing Dini
“Dokter bilang sih stress, tapi aku gapapa koq,” Sari masih tidak mau terbuka, padahal biasanya dia mudah cerita apa pun pada Dini.
__ADS_1
“Harusnya kamu berpikir ulang de, kamu harus relaks, karena aku pernah baca di artikel kesehatan, bila sering kram perut saat hamil muda bisa keguguran. Kamu enggak mau ‘kan calon bayimu tidak bertahan?” Dini mencoba menyadarkan Sari pentingnya mengeluarkan semua beban.
“Kamu harus refreshing, kamu harus keluarkan semua bebanmu agar enggak bikin stress,” lanjut Dini lagi sambil pura-pura mencari tontonan yang menarik.
“Kamu sudah minum obatmu?” tanya Dini, dia baru saja mengambil puding buah di kulkas.
“Sudah mbak,” jawab Sari lirih, dia ingin bercerita pada kakak iparnya itu seperti biasa namun ragu.
“Andai baby ini tidak kuat bertahan, aku akan pergi mbak, dan aku titipkan Adhisty padamu,” Sari berkata terbata.
“Kamu mau pergi ke mana?” selidik Dini
“Aku akan berpisah dari abang, dan aku akan hidup di luar negeri aja,” jawab Sari.
“Aku sih suka aja di titipin Adhisty, tapi apa kamu mikir bagaimana kejiwaan mama? Saat maz Anto berselisih dengan Shinta aja mama sampai drop, kamu yang cerita ke aku. Masa sekarang kamu mau bikin mama terluka lagi. Apa sih masalahmu sampai kamu berpikir seperti itu, aku lihat kemarin kalian baik-baik aja,” Dini masih berpura-pura tidak tahu ada keributan antara adik iparnya dengan Steve.
“Aku di bentak abang, Mbak, itu sangat menyakitkan. Dia bentak aku bukan karena kesalahanku,” akhirnya Sari mulai mengeluarkan keluhannya.
“Ceritanya bagaimana? Aku koq malah tambah bingung,” Dini memancing, karena Sari memang harus mengeluarkan semua uneg-unegnya agar bisa plong.
“Siang itu abang sama sekali enggak mau bicara dan semua yang aku tawarin juga dia tolak. Ya sudah aku putuskan aku juga enggak akan perduli lagi padanya. Jadi biar sekarang dia minta maaf bahkan sampai nangis, aku sudah enggak mau perduli. Kalau baby ini tidak bertahan aku akan mengurus surat cerai tanpa sepengetahuan mama. Di depan mama aku akan bertahan, namun secara agama dan hukum aku ingin pisah dari orang yang sudah marahin aku yang bukan karena kesalahanku. Aku terima di marahin kalau aku salah,” lanjut Sari.
“Padahal siang itu juga aku minta teman-temanku di Jakarta mencarikan untukku, karena dulu aku pernah lihat buah itu di Pasar Baru,” tutur Sari dengan sedih.
“Mbak sih enggak berpikir sampai sejauh itu. Sekarang kita cooling down aja, kamu sekarang berjuang agar babymu selamat! Itu dulu aja fokusmu saat ini. Tak usah berpikir kalau baby enggak bertahan, karena itu artinya kamu berpikir bisa saja terjadi dia tak bertahan. Nah ubah itu, kamu harus focus dia bertahan, abaikan kata-kata kalau dia tidak bertahan. Ulangi terus dia akan bertahan, beri afirmasi pada otakmu,” Dini menyemangati adiknya untuk merubah pola pikir.
“Satu lagi, jangan pernah berpikir untuk berpisah dengan Steve. Mbak pernah merasakannya, dan itu sangat menyakitkan,” Dini mengingatkan Sari akan perceraiannya dengan Harry ayah Amora putri sulungnya.
--------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
__ADS_1
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
Novel terbaru yanktie sudah lulus seleksi lho, semoga sebentar lagi bisa kalian ikuti ceritanya.
**TELL LAURA I LOVE HER berkisah tentang Augustus atau yang biasa dikenal August terpuruk, dia merasa sangat bodoh membuang berlian dan menggantinya dengan kerikil. Dia mengkhianati Julia yang santun dan jujur. August bermain api dengan Aprilia dan berakibat April hamil. Dengan terpaksa dia menikahi April. Namun rumah tangga yang di jalaninya bagai neraka. April tak pernah menganggapnya sebagai suami. Perempuan itu tetap bebas pesta dan sering pulang pagi walau sedang hamil.
Saat putri mereka Novi, yang lahir bulan November sakit. Baru terkuak, Novi bukan putri August, karena golongan darah mereka berbeda.itu memacu August melakukan test DNA dengan bayinya itu. Hasil test menguatkan, bayi mungil nan malang itu memang bukan berasal darinya.
Laura adalah kekasih Tommy, mereka sedang bahagia, bulan depan akan menikah. Semua persiapan sudah mereka lakukan. Fix 95% persiapan sudah ready, sayang 2 minggu sebelum akad nikah, Tommy meninggal saat balapan mobil yang diikutinya. Laura melarikan dukanya dengan menjadi tenaga relawan di panti asuhan khusus balita.
Saat August sedang melakukan santunan di panti asuhan, August berkenalan dengan Laura yang menjadi tenaga pembimbing di sana. August tertarik dengan Laura, tapi Laura belum bisa menerima cinta baru.**
Akankah cinta August pada Laura bersambut? Atau August akan kembali mengejar cinta Julia?
__ADS_1