
23 MENINGGAL
“De, Shinta kritis, Steve minta kamu sekarang tunggu dia di depan biar dia ga lama nunggu kamu, dia sudah OTW ke kampusmu. Mas langsung matikan ya, mau mengabari yang lain” kata Anto tanpa menunggu jawaban adiknya
Sari yang baru akan keluar dari ruang kuliahnya menuju perpustakaan segera berbalik arah menuju parkiran. Sari sampai di parkiran berbarengan dengan mobil Steve yang memasuki area kampusnya. Sari langsung membuka pintu mobil Steve tanpa menunggu Steve turun untuk membukakan pintu
“Hallo, koq cepet bang, katanya tadi baru selesai di PA” kata Sari sambil masuk mobil.
“Anto telpon pas abang mau masuk mobil, tadinya mau pulang dulu ambil baju ganti sambil nunggu kamu ke perpustakaan” jawab Steve. “Kita ga mampir makan, kita belikan aja 4-5 porsi makan siang di café depan rumah sakit ya? Gimana? Anto juga pasti belum makan, karena tadi dia dan polisi ke rumah Shinta” kata Steve
“Perkembangan tentang kebakaran apa bang?” tanya Sari
“Tadi Anto cuma bilang dia on the way ke rumah Shinta karena saat sebelum kebakaran Shinta nyuruh ART bawa barang ke rumahnya, habis itu dia belum cerita lagi, kayaknya trus dapat telpon tentang kondisi Shinta jadi dia langsung balik ke rumah sakit” jawab Steve
“Bang, beli makan didepan aja, itu lebih enak daripada yang di café depan rumah sakit” tiba-tiba Sari meminta Steve untuk berhenti di rumah makan sunda. Steve menepikan mobilnya sesuai permintaan Sari dan mereka turun. Sari memesan 7 kotak makan dan 7 es lemon tea serta juice Alpokat untuk dirinya dan juice sirsak untuk Steve
“Sambil nyetir minum juice nya bang, untuk ganjel biar ga kosong perutnya" perintah Sari sambil memberikan gelas juice yang sudah diberi sedotan kepada Steve. Steve ga memegang gelas itu, hanya mengarahkan sedotan ke mulutnya serta meminumnya sedikit lalu menyudahinya. “Nanti lagi” kata Steve
“Janji habiskan sebelum sampai rumah sakit ya” sahut Sari. Steve hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab
Di parkiran rumah sakit Sari kembali menyodorkan gelas juice pada Steve. “Habiskan sebelum turun” perintahnya
Sari dan Steve bergegas menuju ruang ICU, tak terlihat Anto dan bu Gita di ruang tunggu ICU, hanya ada ayahnya Shinta. Sari memberi salam lalu menanyakan apakah Anto belum sampai kepada ayah Shinta
“Anto dan tante didalam” jawab Hendro ayah Shinta. “Ada mas Imron juga, dia pas lepas dinas pagi saat di telpon Anto” jelasnya lagi
“Om sebaiknya makan dulu, kita semua sedih memikirkan mbak Shinta, namun kita harus jaga kondisi agar ga drop, nanti pas tante dan mas Anto keluar kita gantian makan. Ini Sari sudah bawakan” kata Sari menawarkan makan siang yang di bawanya
“Iya om, kita makan duluan aja bertiga, nanti tante dan Anto makan begitu mereka keluar dari ruangan”
__ADS_1
Saat mereka sedang makan Anto dan bu Gita keluar ruangan. Wajah bu Gita sangat tertekan. Sari bisa merasakan kesedihan teramat dalam, karena itu di letakkannya makannya dan dipeluknya bu Gita. “Yang sabar ya tante” hiburnya
“Saya tau tante sangat sedih, tapi coba paksa isi perut sedikit ya tante, tante harus kuat jaga mbak Shinta kan? Karena itu tante harus isi perut walau sedikit” bujuknya. “Mas juga makan” perintahnya pada Anto, yang dijawab anggukan oleh kakaknya. Steve memperhatikan semua perilaku gadis kecil itu, ternyata dia bisa bijak juga ya, pikir Steve
***
Seorang suster keluar dan meminta bu Gita masuk ke ruang ICU karena Shinta memanggilnya. “Ayo nTo kancani” pinta bu Gita agar Anto menemaninya masuk. Sari membereskan sisa-sisa kotak makan yang belum dimakan dan membuang semua kotak bekas makan. Dia juga membereskan gelas-gelas kopi yang berserakan di kursi-kursi depan ruang tunggu ICU itu. Selanjutnya tak ada yang bicara. Steve dan Shinta hanya duduk diam sementara pak Hendro lirih merapalkan wiridan sambil memejamkan matanya.
Hampir 1 jam kemudian Anto keluar ruangan. “Pak, Shinta sudah meninggal tadi jam 16.27, bapak ada nomor pak RT di rumah?” tanya Anto kepada bapak mertuanya. Sari dan Steve kaget mendengar berita itu.
“Steve telpon teman-teman, de kamu telpon kerabat” kata Anto sambil menerima HP dari mertuanya yang menunjukan nomor telpon rumah pak RT di wilayah tempat tinggal mertuanya. Anto menelpon pak RT meminta bantuan untuk persiapan rumah duka
Sari dan Steve langsung memberi khabar pada rekan dan kerabat sesuai perintah Anto, mereka berdiri agak menjauh agar pembicaraan mereka ga saling mengganggu.
Selesai telpon Sari dan Steve membereskan barang bawaan yang baru tadi pagi di bawa Sari untuk yang jaga di rumah sakit
“Bang, ade jemput mama dulu ya, abang mau di bawain apa? Ade mau sekalian ambil baju koko mas Anto” jelas Sari, dia ga ingin mamanya meluncur kerumah duka sendirian
“Itu aja?” Sari bertanya untuk memastikan
“Sepertinya cukup itu dulu deh” jawab Steve sambil jalan menjauh karena ada telpon masuk dari teman kantornya. Dan Sari mendengar Steve mengatakan belum sampai rumah duka, artinya penelpon bertanya tentang Shinta.
Sari bergegas meminta kunci mobil Steve untuk mengambil baju ganti serta menjemput mamanya.
Steve yang sedang berjalan dengan Anto akan mengurus administrasi ke kantor rumah sakit menerima panggilan telpon dari Dini
“Hallo Yang, kenapa?” tanya Steve
“Bener Shinta meninggal? Barusan Sari telpon aku” kata Dini
__ADS_1
“Iya, ni kami masih di rumah sakit mau urus administrasi dulu” jawab Steve, Anto disebelahnya yang baru saja menutup telpon, mendengar Steve sedang bicara dengan Dini meminta HP Steve
“Assalamu’alaykum de” sapa Anto yang langsung mengambil HP yang sedang dipakai Steve
“Wa alaykum’salam maz, koq pindah tangan HP nya. Turut berduka cita ya maz” jawab Dini
“Kamu ga usah ke rumah malam ini, kalau mau datang besok aja, tapi kalau ga bisa ya ga datang gapapa,” kata Anto
“Lho koq gitu maz? Aku lagi cari teman buat kesana, Leo masih di Singapore” jelas Dini
“Maz tau tujuan kamu telpon Steve, maka maz larang duluan, kamu ga usah cari teman berangkat, kalau mau datang ya besok aja, denger ga?” kata Anto tegas
“Maz.. ak ” belum sempat bicara Anto memotong kalimat Dini
“Jangan bantah de, Assalamu’alaykum” jawab Anto lalu memutus sambungan telpon, dan dikembalikannya HP kepada Steve
***
Pagi ini Steve sengaja menghubungi Dini, dia membutuhkan saran Dini untuk menghadapi pilihan yang harus ditentukannya. “Hallo sayangku, siang ini bisa maksi bareng ga, pengen ngobrol nih” kata Steve begitu telpon tersambung, tanpa basa basi sama sekali
“Kamu tu ya, ga pake salam, ga pake ketok pintu, langsung aja nyerocos kaya petasan cabe rawit yang di gantung serenceng” jawab Dini
“Heheheheeee..iya deh met pagi sayangku” goda Steve
“Aku ga bisa maksi bareng kamu say, hari ini mau kasih tau Harry kalau gugatan sudah aku masukin, jadi dia bersiap mental buat sidang akhir, karena aku ma dia sudah diskusiin ber kali-kali, tapi kan dia tetap wajib di kasih tau progressnya” kata Dini
“Jam berapa kamu kesana?” tanya Steve
“Ni udah mau berangkat” jawab Dini
__ADS_1
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya