KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
52 KURIRNYA MINTA DIBAYAR PAKAI CINTA


__ADS_3

“Gawe opo nduk?” bu Rahma bertanya Sari sedang membuat apa.


“Bubur ayam ma, semalam aku sengaja beli cakwe” jawab Sari sambil menyiapkan menu bubur ayam komplit, terakhir dia finishing membuat sambel kacangnya


“Kayane Steve datang tuh” beritahu bu Rahma mendengar bell rumah mereka berbunyi


Sari ke depan untuk membukakan pintu “Assalamu’alaykum,” sapa Steve, dia langsung menghampiri Sari dan mencium keningnya.


“Wa’alaykum salam, masuk bang. Ih jangan main asal cium aja, aku belum mandi” tolak Sari.


“Jadi kalau sudah mandi boleh peluk dan cium?” goda Steve.


“Sudah ngopi kan?” tanya Sari mengalihkan perhatian.


“Sudah,” jawab Steve sambil mengikuti Sari masuk ke ruang keluarga untuk menyalami calon mertuanya.


“Nge teh dulu ya, aku mau mandi dulu” Sari meletakan secangkir teh di meja makan, namun Steve langsung ke halaman belakang untuk menemui bu Rahma.


***


“Segini?” tanya Sari pada Steve saat menyendokan bubur di mangkok.


“Sedikit lagi,” jawab Steve tanpa ragu.


“Mama mau nambah cakwenya ma?” tanya Sari, dia hafal mamanya sangat suka taburan cakwe di bubur ayamnya


“Ini agak lembut ya cakwenya” komentar bu Rahma.


“Mama sampai bisa mbedain gitu,” jawab Sari “Semalam kami beli dekat rumah oma sebelum pulang.”


“Beda ama yang biasa kamu beli,” cetus bu Rahma.


“Yang biasa aku beli kan dekat sini ma, yang di Rawasari Barat itu,” kilah Sari.


“Abang mau nambah ga?” tanya Sari.


“Kalau ikutin emosi sih pengen nambah, karena enak banget bubur ayamnya, tapi sayang perut ga mampu nampung,” jawab Steve. Dia suka bubur ayam, dan memang benar bubur ayam buatan Sari sangat enak dan gurih. Selain itu sambalnya juga mantab. Sari suka pedas ga seperti Anto kakaknya yang takut cabe.


***


“Kita mau kemana dulu?” tanya Steve saat dia mulai menyalakan mesin mobil.


“Toko buku dan mall kepagian ya jam segini,” tanya Sari.


“Kamu mau beli apa aja?” tanya Steve memastikan.


“Banyaaaaaaaaaak,” jawab Sari “Aku pengen beli mainan Amora, buku cerita serta ban untuk renang. Trus aku juga pengen beli perlengkapan baby new born. Peralatan Amora kan pasti sudah ga ada sama sekali, dan aku pengen beli itu semua.”


“Wani piro,” tanya Steve.

__ADS_1


“Maksudmu?” Sari malah bingung.


“Kamu berani bayar kurirnya berapa untuk titipan sebanyak itu?” goda Steve.


“Karepmu piro?” tantang Sari.


“Kurirnya ga mau di bayar uang, minta bayaran special”  Steve menjawab tantangan Sari.


“Iiiiih, apa coba?” tanya Sari.


“Kurirnya minta dibayar pakai cinta!” Steve menjawab dengan pasti.


“Aku harus beli cinta dulu buat bayar kurir itu,” jawab Sari mencoba membuat suasana ga serius.


“Belinya yang banyak ya, di grosiran biar ga kehabisan stock,” balas Steve menimpali candaan Sari sambil mengacak-acak puncak kepala Sari.


“Abaaaaang!” pekik Sari “Rambutku jadi berantakan,” keluhnya.


“Hehehe, maaf, abis kamu ngegemesin,” kata Steve, dia memarkir mobil di sebuah toko grosir baju bayi “Yok kita kesini, pesanku satu, kamu jangan kalap!”


“Kenapa?” Sari bingung atas pesan Steve barusan.


“Aku pernah ngantar temanku yang ingin membuat kejutan untuk istrinya, dan dia kalap lihat baju-baju baby new born. Dia aja yang laki-laki bisa kalap, apalagi kamu,” jelas Steve, dia mengingat kejadian mengantar Rudi rekan satu kantornya belanja baju calon bayinya.


Dan benar saja, Sari ga bisa menahan ingin ambil semua “Kita belum tau babynya cowoq atau ceweq, jadi baiknya pilih warna netral aja ya?” tanya Sari.


“Ya, putih aja biar netral” usul Steve. “Kamu pilih yang di butuhkan baby new born tapi kenapa beli yang untuk baby 2 month?”


“Tapi untuk saat ini ambil yang size awal aja yank, biar bisa langsung dipakai,” saran Steve.


Sari mendengar kata YANK ,yang barusan di ucapkan Steve, dia jadi ga focus memilih “Mbak bisa tunjukan size khusus baby new born?” tanya Sari pada pramuniaga disana.


“Area ujung sana  khusus baby new born, kalau disini untuk usia mulai 2 bulan, dan kesana semakin tinggi usia nya,” jelas pramuniaga itu ramah.


“Hehehe, kita balik kesana ya Bang” ajak Sari. Dia memasukan banyak jenis baju, kaos kaki dan topi. Rasanya jika dekat dia ingin mmembeli box bayi juga strolller.


“Kamu mau beli stroller?” tanya Steve.


“Ga lah, nanti repot bawanya,” jawab Sari walau dia sangat menginginkannya.


“Kamu ingin yang model seperti apa dan warna apa? Nanti abang belikan di Jogja dan abang kasih ke Dini atas namamu” usul Steve.


“Serius?” tanya Sari dengan antusias.


Steve hanya menjawab dengan anggukan, dia sangat senang melihat binar bahagia dimata gadisnya.


“Bagusan yang ini atau ini bang? Tapi ini juga bagus sih ya?” Sari memilih jenis stroller yang terlihat kokoh.


“Ini gimana?” tanya Steve menjawab pertanyaan Sari tadi.

__ADS_1


“Ya sudah yang seperti ini bang, warna biru dongker ya, biru dongker kan juga netral bila untuk stroller” pinta Sari.


“Siap nyonya,” goda Steve . “Sekarang masih mau cari apa lagi?”


“Di sana juga ada space mainan dan alat pendukung balita deh bang. Biar ga muter kita cari mainan dan ban renang disini aja ya?” pinta Sari.


Kembali Steve mengangguk dan menuruti kemanapun Sari melangkah.


“Steve, bener Steve kan?” sapa seseorang.


Sari dan Steve melihat seorang wanita yang sedang memilih mainan. “Hai Belinda ya?” sapa Steve ramah.


“Hahaha lo ga lupa, kirain lo ngelupain gue,” sahut wanita itu sambil menghampiri Steve dan mengulurkan tangannya yang di sambut Steve, namun Steve menolak ketika Belinda akan cipika cipiki.


“Beli mainan buat anak keberapa?” tanya Steve.


“Buat keponakan. Lo inget kan bang Yunaim? Besok anaknya ulang tahun, jadi gue cari kado. Lo sendiri?” tanya Belinda.


“Cari baju buat baby new born. Oh ya kenalin ini bini gue” Steve merengkuh bahu Sari dan menariknya dengan lembut “Sayank kenalin teman SMA ku dulu.”


Belinda melihat trolley belanja Steve yang penuh dengan pakaian bayi yang super imut. Dia baru menyadari sejak tadi ada perempuan muda di sebelah Steve. Diliriknya perut Sari, ah belum terlihat kehamilannya tapi mereka sudah mempersiapkan baju untuk bayinya.


“Belinda”


“Apsari” kata Sari memperkenalkan diri.


“Sayank ayo katanya mau cari ban renang Amora” kata Sari pada Steve. Sari ingin segera meninggalkan wanita yang menatap Steve penuh damba itu.


“Abang koq malah pengen beliin kolam renang plastik juga, di gelar di halaman belakang pasti Amora suka,” balas Steve. “Maaf kami lanjut lagi ya” pamit Steve.


Setelah agak jauh dari Belinda, Sari berbisik “Koq ga tukeran nomor HP.”


Steve merengkuh bahu Sari dan mencium pelipisnya dengan lembut “Jangan bikin istri abang cemburu deh,” godanya yang dibalas cubitan di perut oleh Sari membuat Steve nyengir kesakitan. Semua itu dilihat Belinda dari jauh.


***


Mereka baru saja keluar dari toko buku Gramedia di jalan Matraman sehabis membeli banyak buku, tidak hanya untuk Amora, namun juga untuk Sari dan Dini tentunya. “Mau makan di mana?” tanya Sari.


“Kamu maunya?” Steve malah balik tanya.


“Ke rumah makan padang aja ya?” pinta Sari.


“Ok” balas Steve cepat.


Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.


Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya

__ADS_1


sambil nunggu yanktie up bab selanjutnya, bisa mampir ke cerita teman yanktie yang ini ya, keren abis lho ceritanya



__ADS_2