KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
58 I LOVE YOU OM-OM


__ADS_3

Steve sudah mengenakan jas cream di padu dengan kemeja coklat serta celana coklat tua, di tangannya terdapat se ikat mawar merah nan harum dan sangat indah dengan pita besar berwarna gold. Dia sudah standby di pintu masuk wisudawan. Di lihatnya Sari yang berjalan pelan tanpa semangat, sedikit kesulitan menaiki 1 level lantai yang berbeda ketinggian, dia tertatih karena menggunakan kain. Steve segera menghampirinya lalu membantunya untuk naik.


Sari mengangkat wajahnya, di lihatnya wajah yang dia rindukan. Tanpa malu, dia memeluk dan menangis di dada Steve. “Sssstttt … jangan nangis di hari kemenanganmu. Abang di sini untukmu sayankku,” bisik Steve sambil menciumi puncak kepala Sari.


“Sudah nanti rusak make upmu!” bujuk mamanya, dia tahu bahwa kemarin Sari ngambek ke Steve karena Anto yang cerita, kalau Steve terlambat datang maka Anto meminta mamanya keluar untuk menjemput Steve agar bisa masuk ruangan.


“Tu mama bilang juga berhenti nangisnya, kamu masuk ya, abang sama mama duduk di kursi undangan,” bujuk Steve sambil mengecup pipi Sari berulang-ulang.


Sari kembali memeluk Steve dengan erat, lalu dia berbisik “I love you om-om” di lepasnya pelukannya, di pandanginya wajah genteng kekasihnya lalu di mencium sekilas pipi Steve sebelum masuk ruangan dengan langkah pasti, tidak lesu seperti ketika belum melihat kehadiran Steve.


Steve menggandeng bu Rahma, setelah mereka mendapat tempat duduk Steve beraksi dengan cameranya, mengambil moment bahagia kekasih hatinya.


***


Hari ini Sari dan mamanya akan terbang ke Jogja, Steve sengaja mengundur kepulangannya ke Jogja agar bisa bareng mereka. Mama akan lama di Jogja, dia akan menemani Dini sampai melahirkan, sekarang usia kehamilan Dini sudah 26 minggu, jadi sudah hampir 7 bulan


Mama bahagia, karena akan mendapat cucu pertama laki-laki, tiga cucu terdahulunya adalah perempuan semua, yaitu Ajeng, Putri dan Amora.


Karena datang bersama Steve maka mama dan Sari tidak kerepotan cari alamat Anto, staff Steve sudah mengantarkan mobil Steve ke bandara.


“Assalamu’alaykum,” salam dari mama yang tidak sabar langsung turun dari mobil saat Steve baru saja berhenti di halaman rumah Anto. “Ya ampun Sar, lihat itu mangga mulai matang lho, mana pisang tanduk di sebelah mulai tua,” komentar mama yang focus utamanya adalah tanaman.


Mama dan Dini sama-sama pecinta tanaman, mereka sangat cocok. Sari tak begitu ngerti bila Dini sudah diskusi dengan mamanya soal tanaman.


“Eyaaaaaang uti,” sambut Amora begitu melihat mobil papanya parkir di halaman rumah


“Balas salam dulu anak cantik,” tegur Steve.


“Wa’alaytum salam,” sahut Amora malu-malu lalu memeluk Steve, meminta nya di gendong.


“Anak papa sudah maem belom? Salim eyang dulu,” ajak Steve mengangkat Amora lalu mendekatkannya ke bu Rahma.

__ADS_1


“Assalamu’alayitum eyang uti,” Amora memberi tangannya untuk salim pada eyangnya.


“Anak cantik, wa’alaykum salam sayang,” kata bu Rahma sambil menciumi gemas pipi Amora.


“Koq sui-sui mirip Anto cilik yo Ri?” bisik bu Rahma pada Sari, dia bilang Amora lama-lama makin mirip Anto ketika kecil.


“Iya Ma, Sari tadi yo mbatin gitu, tapi ga berani ngucap” lirih Sari menjawab perkataan mamanya.


“Masa sih Ma?” tanya Steve, sejak hari wisuda dia memang sudah memanggil bu Rahma dengan panggilan mama.


“Coba minta Anto njejerke photo mereka berdua, pasti ga salah penilaian mama,” jawab bu Rahma yakin.


“Namanya anaknya Ma, ya makin lama makin miriplah, malah bagus tho buat dia ke depannya,” balas Sari lagi


 “Koq ga salim ama tante Yai?” tanya Sari pada Amora.


“Moya tanen tante,” kata Amora sambil minta pindah dari gendongan Steve ke gendongan Sari, namun Steve tak membiarkannya berpindah, hanya mendekatkannya tanpa melepasnya.


“Mulai sekarang panggil mama Yai, kalau mau baru papa kasih kamu ke mama” perintah Steve.


Sari melotot mendengar permintaan Steve, namun tidak membantahnya. Sementara bu Rahma sudah masuk ke dalam.


Simbok sudah mempersiapkan 2 kamar untuk Sari dan bu Rahma, selain kamar Steve yang memang sudah tetap di rumah ini kalau Steve menginap disini.” Monggo bu, ini kamar untuk ibu dan itu untuk mbak Sari. Kamar mandi depan di sini,” jelas simbok sesuai perintah Dini sebelum berangkat ngajar pagi tadi.


Steve baru saja selesai menurunkan koper dan tas bawaan mereka. “Honey, mana tas mama dan mana tas kamu tolong pisahkan, karena aku bingung mau masukkan ke kamarnya,” mohon Steve pada Sari.


“Maaf aku tunjuk pakai kaki ya, maaf,” sahut Sari. Karena dia sedang mengendong Amora dan tangan 1 nya membawa kue bikinan mamanya untuk Dini. “Yang ini, ini dan ini punya mama, sisanya ya punya ku.


“Gapapa sayang, ini kamarmu ya, di sebelah kamarku. Kamar mama di tengah sana,” jelas Steve memandu Sari yang baru pertama kali ke rumah Anto ini.


“Kamu ada kamar di sini?” tanya Sari bingung.

__ADS_1


“Hahaha, rumahku cukup jauh dari sini, dan sejak hari pertama pindah ke Jogja, aku nempati kamar ini dan kamar yang kamu tempati itu dulu kamar Anto.


“Assalamu’alaykum,” salam Dini ketika memasuki rumah, dia sudah melihat mobil Steve berada di halaman, dia senang mamanya sudah sampai di Jogja. “Mama, Dini kangeeen bangeeet. Makasih mama bersedia datang,” Dini erat memeluk mama mertuanya setelah melakukan salim. “Selamat yo de atas wisudanya kemaren, sorry mbak ga bisa datang,” lanjut Dini menghampiri adik iparnya. “Hallo sayangku, sukses kan?” katanya sambil cipika cipiki pada Steve.


***


Pagi ini Dini sudah rapih dengan kebaya ungu dan sarung ungu, Amora mengenakan kebaya kembaran dengan dirinya dan Anto memakai jas yang sangat elegan di tubuhnya. Dini akan menghadiri wisuda S2 nya, dia bangga bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Mama dan Sari memilih menunggu di rumah karena undangan terbatas. Steve yang ikut hadir agar menjadi phootografer acara tersebut selain menemani Amora bila Dini berphoto dengan Anto nanti.


Di rumah, keluarga Dini mulai hadir, mami, mbak Sashi dan mbak Kiran bersama anak dan suami masing-masing. Nanti malam mereka akan berkumpul untuk makan tumpeng syukuran wisuda Sari dan wisuda  Dini serta mendoakan kehamilan Dini yang sudah memasuki usia 7 bulan. Rumah dengan 9 kamar tidur sekarang full.


Mami awalnya ingin pesan tumpeng saja biar tidak repot, tapi mama bersikeras masak sendiri, dia berpendapat biar lebih puas, lagian toch ada simbok dan mbak inah, mbak Siti serta Sari yang akan membantunya.


Tanpa Dini dan Anto tahu, ternyata mama juga mengundang mbak Rina dan mas Imron untuk datang. Sehingga Sari sementara pindah ke kamar mama, agar kamarnya di tempati mbak Rina.


Sepulang dari wisuda Dini dan Anto bahagia atas surprise yang mama berikan, mereka bahagia bisa kumpul dua keluarga besar. Anto punya rasa bahagia tersendiri karena interaksi akrab dua keluarga ini tidak dia dapatkan saat menikah dengan Shinta.


“Ada yang kurang ga ma? Ada yang bisa Dini bantu?” tanya Dini pada mamanya sehabis dia ganti baju dan mandi, dia sekarang bolak balik mandi karena gerah.


“Kamu rehat wae nduk, jangan kecapekan. Ga ada yang kurang, kalau ada yang kurang nanti mama minta Anto atau Steve yang cari,” sahut mama cepat, dia tidak ingin Dini ikut ke dapur. “Juice mu minum dulu ya, ada di kulkas” ucap mama lagi.


--------------


Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa,


Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya


sambil nunggu bab berikut, baca kisah milik teman yanktie ini ya, super keren lho


__ADS_1


__ADS_2