
Hallo, gimana puasa kalian ? Semoga lancar selalu ya.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author kan ada notifikasinya.
Senangnya Sari bisa bercanda ria dengan para sahabatnya semasa SMA dan kuliah. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Dua hari berikutnya, Sari bertemu dengan teman-temannya. Dan hari ketiga Uswah serta Endah beserta para suami ngumpul di rumah opa. Oma sangat senang Sari mau menggunakan rumahnya untuk lokasi pertemuan dengan para sahabatnya. Rencananya besok Sari akan kembali ke Jogja. Sari mengundang kedua sahabatnya untuk menginap di rumahnya di Jogja. Tentu saja Uswah dan Endah akan berupaya mengatur waktu liburan mereka.
Gelak canda tiga keluarga sahabat itu berlangsung sejak pagi hingga hampir maghrib. Itu pun mereka merasa masih kurang waktu.
***
Kembali ke Jogja, kembali ke rutinitas, tapi juga kembali ke kehangatan keluarga kecil. Seminggu lagi Adhisty akan berulang tahun yang pertama. Ada kontra pendapat di sini. Dan ego masing-masing sangat kuat. Steve yang berasal dari suku Manado, mau ulang tahun di rayakan dengan pesta. Walau pesta kecil sekali pun. Sari mengikuti tradisi keluarganya. Ulang tahun bukan ajang pesta. Terlebih anak usia setahun belum mengerti apa pun. Sejak minggu lalu Sari dan Steve mulai gencatan senjata, lebih tepatnya Sari mogok bicara pada Steve. Dan tumben kali ini Steve tak berupaya membujuk istrinya. Mereka hanya bicara bila ada mama saja.
“Huaaa … huaaa,” tangis Adhisty mengoyak ketenangan rumah di Jakal pagi ini. Gadis kecil itu baru selesai mandi dengan papienya. Saat papienya sedang mengambil minyak telon yang sudah di siapkan Sari, Adhisty berlari ke luar kamar. Kakinya masih basah sehingga dia terjatuh karena terpeleset.
“Sayaaaaaaaang!” teriak Steve, melihat anaknya terguling di lantai. Steve langsung berlari menghampiri Adhisty dan mendekapnya erat. Ini pengalaman pertama melihat anaknya menjerit karena kesakitan akibat terjatuh. Saat belajar jalan, Dhisty sering terjatuh, kadang menangis kadang hanya nyengir. Tapi tak pernah sampai menjerit.
Sari yang sedang memasak lauk khusus untuk Dhisty pun langsung berlari ke kamarnya, ingin melihat apa yang terjadi. “Mammmmmmmie …,” rengek Adhisty sambil minta pindah dari gendongan Steve ke gendongan Sari.
__ADS_1
“Tangan Mamie kotor sayang, sini gendong, sebentar Mamie enggak pegang ya.” Sari menggendong Dhisty dan beranjak ke wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah mengeringkan tangan baru dia mendekap anak perempuan yang masih terisak. “Kalau kakinya basah, jangan berlari di lantai. Nanti kamu jatuh lagi karena licin.” Sari tak peduli, putrinya belum mengerti. Tapi dia harus menyampaikan info yang benar, agar selanjutnya anaknya berhati-hati. Sari menggosok minyak telon di perut dan punggung Dhisty lalu memakaikannya baju. “Kita maem yok,” ajak Sari tanpa bicara apa pun pada Steve.
Usia setahun Dhisty sudah mengkonsumsi nasi, tapi lauknya selalu di buat ada kuah oleh Sari. Pagi ini dia memasak filet ikan jamur untuk Dhisty. Untuk siang ada sop bola2 ayam cincang dengan sayuran, dan malam biasanya Sari memberikan lauk mengikuti sayur orang dewasa di rumah itu tepi tentu yang tanpa cabe. Terlihat benjolan di kening bagian kirinya Dhisty. Tentu sangat sakit. Sari memberi vicks balsem khusus bayi agar benjolan berkurang.
“Atit …,” rengek Dhisty saat benjolannya di sentuh Sari.
“Ini Mamie obati, biar sembuh,” bujuk Sari.
“Maaf Mam, Papie cuma meleng buat ambil minyak telon, Dhisty lari lalu kepeleset,” lirih Steve mengaku bersalah karena lengah sehingga membuat anak mereka jatuh. Sari tak menjawabnya. Kejadian itu bisa terjadi kapan saja. Tak perlu ada yang marah. Karena memang seusia Dhisty sedang aktif untuk bergerak.
“Mam … Mam…,” Steve memeluk Sari dari belakang karena Sari sedang berdiri menyuapi Dhisty yang duduk di high chair, kursi makan bayi yang tinggi sehingga Sari menyuapi sambil berdiri. “Kamu marah?” bisik Steve.
Sari tidak marah karena Dhisty jatuh, namun dia masih kesal masalah pesta ulang tahun Dhisty. Semalam dia sudah berpikir jernih. Walau Steve mau pesta meriah atau pesta kecil, kalau dia tidak masak, toch tidak akan ada pesta ‘kan? Begitu pikirnya. Namun dia berpikir ulang, bila Steve langsung membuat pesta ulang tahun di gerai makan ayam goreng seperti teman-temannya bagaimana? Akhirnya hingga saat ini dia masih kesal karena persoalan itu.
“Pelan-pelan ya, awas jatuh lagi,” Sari memperingatkan Dhisty agar berhati-hati.
“Atuh? Atit?” tanya Dhisty.
“Ya, kalau jatuh sakit, makanya hati-hati,” jawab Sari.
“Mbak, tolong jaga Dhisty,” perintah Steve pada pengasuh anaknya.
“Mam, Papie enggak mau kita tunda, Papie tunggu di kamar buat bicara,” lirih Steve mengultimatum istrinya untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Sudah satu minggu Sari menutup mulutnya, tak mau bicara dengannya. Steve langsung pergi ke kamarnya terlebih dahulu.
__ADS_1
----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja