
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Steve dan Kusno tentu ingat saat Jelita menggoda mereka dulu. Steve juga saat itu dia mengalah karena Jelita tidak langsung menghubungi Sari. Tapi kalau sekarang tentu berbeda. Gimana kelanjutan certanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
---------------------
“Kita sedang bingung harus kemana kita bicara, pak Hendro malah datang kesini. Kita langsung tanya beliau aja kemana kita akan adukan kasus Jelita kali ini,” Kusno memberitahu Steve soal kedatangan pak Hendro, suami pemilik perusahaan.
“Kalau aku, aku pengennya langsung ke polisi. Karena aku enggak rela istriku tertekan dan rumah tanggaku terancam bubar. Kalau enggak memandang bu Gita dan pak Hendro, pagi tadi kasus ini akan langsung aku laporkan ke pengacara yang dulu nangani kasus Belinda. Aku sudah sangat terluka melihat Sari seperti itu,” jelas Steve. Dia memang bertukar pikiran dengan Kusno hanya karena mengingat sosok mantan boss nya yaitu bu Gita dan pak Hendro.
“Assalamu’alaykum,” sapa pak Hendro saat memasuki ruang kerja Kusno. Dia masuk tanpa ketuk pintu dulu. Mentang-mentang suami pemilik usaha sehingga tidak menghargai privasi pegawainya. Untung Steve dan Kusno sudah biasa menghadapi sikap arogan pak Hendro seperti itu.
“Wa’alaykum salam Pak, apa khabar?” sapa Steve sambil berdiri menghampiri suami mantan bossnya itu.
“Wah kalian sedang reuni rupanya?” tanya pak Hendro melihat ada Steve di ruangan Kusno.
“Hahahaa, enggak reuni sih Pak, saya sedang konsultasi pada Kusno tentang langkah apa yang harus saya ambil terhadap tindakan tidak menyenangkan yang di lakukan oleh keponakan boss nya Kusno,” jawab Steve to the poin.
“Maksud kamu keponakan bossnya Kusno siapa?” Pak Hendro berupaya memperjelas info yang ingin dia ketahui.
“Jelita, keponakan bu Gita boss nya Kusno kemarin berulah lagi. Dulu saya masih menurut saran bu Gita, karena persoalan terjadi di kantor dan saya masih jadi bagian perusahaan ini. Sekarang kondisinya beda. Saya bukan pegawai bu Gita, dan kejadian di ruang usaha saya. Saya tadi tanya ke Kusno sebagai sharing antar sahabat saja. Karena saya akan mensegerakan pelaporan tindakan tidak menyenangkan bagi istri saya yang mendapat teror foto-foto dari Jelita. Tujuannya mengganggu rumah tangga saya, agar kami berpisah,” jelas Steve tanpa bisa di rem.
“Jelita berulah lagi? Sebentar, sebelum kamu melaporkan dia ke polisi, saya sebagai pamannya bisa minta waktu?” Pak Hendro tentu tak ingin istrinya kembali sedih. Sejak kasus Jelita dulu istrinya sering sakit akibat malu atas kelakuan para keponakannya.
“Maaf Pak, saya besok akan bertemu pengacara saya untuk melaporkan kasus ini. Saya sudah sangat bingung karena istri saya baru melahirkan. Dia mendapat tekanan seperti ini tentu tidak baik bagi kejiwaannya,” jawab Steve tanpa ragu.
Pak Hendro langsung menghubungi Isman, papanya Lita atau Jelita. “Wa’alaykum salam,” sahut pak Hendro saat sambungan telepon tersambung, dia menjawab salam yang diberikan lebih dulu oleh Isman. “Kamu tahu Lita dimana?” tanya pak Hendro langsung.
__ADS_1
“Dia di rumah kami di Bogor, sudah hampir dua minggu istirahat disana,” balas pak Isman tanpa curiga.
“Sebentar lagi kamu harus bersiap menjaga agar istrimu tidak kena serangan jantung saat menerima surat panggilan dari polisi karena perbuatan Lita pada Steve,” info pak Hendro.
“Mas dapat info dari mana dan bagaimana ceritanya koq bisa Lita dilaporkan oleh Steve?” tanya pak Isman bingung.
“Aku sedang di kantor Jogja, kebetulan Steve sedang berkunjung kesini untuk memberitahu Kusno dan memperlihatkan kenakalan Lita tiga hari lalu di ruang usaha Steve. Jadi bohong kalau dia sedang di Bogor. Lita sedang di Jogja dan ingin memperdaya Steve.”
Pak isman terdiam sejenak. “Bisa aku bicara dengan Steve?” dia berharap bisa mengulur waktu agar dia dan istrinya bisa bertindak terlebih dahulu.
Pak Hendro memberikan ponselnya pada Steve. “Pak Isman ingin bicara denganmu.”
Dengan malas Steve menerima ponsel dari pak Hendro. “Assalamu’alaykum,” sapa Steve.
“Wa’alaykum salam,” jawab pak Isman. “Steve apa benar yang dikatakan mas Hendro barusan?” tanya pak Isman.
“Saya ingat, waktu saya masih jadi pegawai bu Gita, Bapak bilang akan menarik Lita menjauh. Dan Bapak meminta saya menghentikan persoalan untuk tidak di bawa ke jalur hukum. Dulu saya mengalah. Saya diam dan menurut, karena saya masih pegawai bu Gita. Dan Lita tidak langsung menyerang istri saya. Sekarang saya sudah bukan pegawai bu Gita, dan kejadian anak Bapak sengaja mendatangi ruang usaha saya. Maka seperti yang tadi Bapak dengar dari pak Hendro. Saya akan melaporkan anak Bapak karena sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada saya dan istri saya. Istri saya langsung mendapat foto-foto yang sengaja dibuat Lita agar istri saya percaya kalau saya telah selingkuh. Lita langsung menyerang istri saya yang baru melahirkan. Bapak tentu tahu dampak psikologis pada ibu yang baru melahirkan sangat buruk bila mendapat tekanan. Maaf, saat ini tidak ada kompromi lagi,” jelas Steve.
“Tidak bisa pak, besok saya akan bertemu pengacara saya, mungkin lusa kami sudah melaporkan. Jadi Bapak dan istri bersiap saja,” jelas Steve.
“Jangan lusa, nak. Bapak mohon pengertianmu. Beri saya 5 hari dari sekarang. Saya dan mbak Gita akan mempersiapkan mental istri saya,” rengek pak Isman pada Steve.
“Empat hari dari sekarang Pak, saya tidak mau istri saya tambah tertekan bila belum ada kejelasan kasus ini,” Steve langsung mengembalikan ponsel pak Hendro pada pemiliknya.
“Aku pamit dulu Kus, nanti kapan-kapan kita bicara lagi. Dan terima kasih datanya,” Steve langsung berdiri untuk pamit pada Kusno, mantan orang kepercayaannya saat dia bekerja. Kusno sudah menyiapkan copy data Jelita yang Steve butuhkan untuk pelaporan dalam sebuah amplop yang sejak tadi sdauh dia berikan kepada Steve.
“Saya pamit pak Hendro, salam hormat untuk bu Gita,” Steve mengulurkan salam pada pak Hendro yang masih bicara dengan pak Isman.
Steve langsung menuju ke show room-nya, dia kembali tekun memeriksa pekerjaan para teknisi juga laporan kerja teknisi dan staff marketingnya. Sampai sore Steve di show room, menjelang pulang baru dia ke butik untuk menanyakan ada yang hendak dititipkan untuk Sari atau tidak.
__ADS_1
Sambil pulang Steve mampir membeli sate ayam dan sate kambing. Makanan kesukaan istrinya. Dia tahu Sari lebih suka sate kambing, namun untuk jaga-jaga dia juga membeli sate ayam.
Saat akan masuk rumah Steve baru teringat pesanan mamanya. Dia sungguh lupa karena tadi pagi dari rumah dia langsung ke kantor Kusno. Dia sudah melewati toko saprotan ( sarana produksi pertanian ) toko yang menjual aneka kebutuhan bercocok tanam. Namun karena masih terlalu pagi, toko belum buka. Steve berpikir sepulang dari kantor Kusno dia akan mampir, sayang karena emosi bicara dengan pak Isman dia terlupa.
“Ma, maaf, aku tadi pagi sebelum bertemu teman, mau beli pesanan Mama toko saprotannya belum buka. Lalu pas baliknya aku lupa langsung ke show room. Aku janji besok aku belikan ya Ma,” Steve lebih dulu lapor pada mama mertuanya sebelum ditanya mana pesanannya.
-------------------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
__ADS_1
Terimakasih dan salam manis dari Jogja