
“Serius Mamie enggak mau ikut?” Steve kembali bertanya sebelum dia keluar kamar.
“Iya Pie, sudah sana berangkat, Mamie mau tidur lagi, tolong Papie pindahkan Dwipa ke box nya yang di luar.”
Sari langsung memejamkan matanya untuk kembali tidur.
“Tanpa banyak protes, Steve langsung mengangkat Dwipa dan memindahkannya ke box bayi di luar dan meminta pengasuh Dwipa bersiap bila jagoannya bangun. “Jangan ganggu Ibu ya,” Steve memberi pesan pada pengasuh Dwipa dan simbok.
***
“Serius?” Dini serasa tak percaya saat mama bilang Sari tidak mau ikut main ke rumahnya dan memilih tidur saja di rumah.
“Hamil kali ini emang itu kemauannya. Dia malas main. Alhamdulillah makan enggak rewel dan enggak minta yang macem-macem. Mual dan muntahnya juga enggak separah aku,” Steve memberitahu kakak iparnya perihal Sari yang enggan ikut mereka.
“Ya sudahlah, yang penting dia happy dan sehat. Daripada dia dipaksa kesini tapi dia enggak enjoy. ‘Kan malah lebih kasihan.” Anto menimpali pembicaraan itu.
“Hallo cantiknya daddy,” sapa Antopada keponakannya yang makin chubby pipinya.
“Kita bikin buntil pare yok Ma,” Dini mengajak mertuanya masak bareng.
“Koq pas, Mama tadinya mau ngajak kamu masak buntil, tapi pakai daun pepaya,” jawab sang mertua. Dini
tertawa ringan. Mereka berdua memang sehobby dalam masak dan berkebun.
“Daun pepaya juga ada Ma, nanti maz Anto atau Steve suruh petik aja di belakang. Jadi kita bisa bikin banyakan
buat kita simpan,” tentu saja Dini semangat.
“Kenapa sih kalian koq malah masak yang pahit-pahit gitu?” Anto protes saat disuruh memetik daun pepaya
sebagai bahan buntil.
“Karena kami berdua sangat manis Maz. Nanti kalau tidak diimbangi dengan yang pahit, kamu akan kena
diabetes karena kebanyakan yang manis,” jawab Dini santai.
“Mulai deh narsisnya,” balas Anto.
“Lhaaaa, karena aku narsis ‘kan kamu suka ama aku?” Dini kembali menjawab. “Wis tho gek endang di jupuke,” Dini semakin keqi suaminya tak segera melakukan permintaannya. barusan.
“Iyo iyo, iki ta tandangi,” Anto pun bergegas. Dia bilang iya ini segera akan dilakukan. Hahaha kalau ibu negara
sudah ngomel tentu saja dia takut dapat hukuman.
***
Dwipa pagi ini sehabis dimandikan langsung diberi ASI yang telah dihangatkan. Sang pengasuh benar-benar tak berani mengganggu Sari yang sedang menikmati waktu libur kerja dengan bermalas-malasan. Sari bangun ketika perutnya sudah menagih minta diisi. Sarapan pagi ini dia tak protes ketika simbok menyediakan jenang gudeg komplit dengan ayam suir.”Ada ceker dan kepalanya enggak Mbok?”
“Cekernya habis, ada kepala ayam dan sayap aja Mbak,” simbok tahu pasti Sari akan minta bonus ceker dan
__ADS_1
kepala. Maka tanpa disuruh tadi dia juga akan membeli. Sayang cekernya kehabisan.
“Ya wis, sini kepala dan sayapnya,” pinta Sari.
Sehabis makan baru Sari menggendon Dwipa sesaat lalu dia kembali tidur. Sebelum tidur dia pesan minta
menu soto mie bogor untuk makan siangnya.
‘Waduuuuuu, harus cari mie kuning basah. Semoga siang seperti ini di pasar masih ada,’
keluh simbok dalam hatinya. Bahan lain tentu juga tak ada stock dikulkas, tapi bisa mudah dicari. Hanya mie kuning basah yang dia ragu. Ada atau tidak bila siang begini baru ada request. Dia akan meminta tuan Steve untuk mencari bila nanti dia tak menemukan bahan itu di pasar dekat rumah mereka.
***
Hari ini tak ada drama. Sampai sore semua aman. Baik di Jakal mau pun di Bumijo. Menjelang maghrib baru ada berita sedih yaang membuat keluarga langsung bergerak, saat mbak Rina memberitahu Ajeng terluka saat pulang belanja buku dengan Putri.
“Mama mau berangkat ke Malang? Biar Maz Anto yang nemani,” Dini langsung mencoba mencari solusi. Dia yakin
Steve akan bingung bila harus menemani mertuanya. Mau nolak tidak enak, mau menerima dia akan bingung meninggalkan Sari yang sedang hamil dan punya bayi.
“Anto bisa?” tanya mama lemas.
“Bisa Ma,” jawab Anto cepat. Dia akan meminta sekretarisnya mereschedulle semua kegiatan pentingnya seminggu
kedepan.
“Ya sudah, sekarang mama ambil pakaian dulu di Jakal, besok pagi langsung kita ketemu di stasiun saja,” ujar
“Baju mama pakai yang ada di sini aja Ma. Kalau dapat tiket yang malam ini, ‘kan kita bisa langsung
berangkat. Biar Steve juga enggak bolak balik,” Anto memberi saran pada mamanya yang mulai panik.
“Cinta, packing baju aku ya. Biar Daddy ke stasiun sekarang. Mama siap-siap sana, ada koper kecil ‘kan?” Anto
bersiap ke stasiun.
“Aku langsung pulang ya, kasihan Sari kalau kami pulang kemalaman.” Steve segera pamit pulang.
***
“Dede enggak kangen Papie ya? Puas seharian cuma tidur-tiduran aja de?” Steve menyapa calon anak ketiganya
dengan mengusap lembut perut Sari dan menciumnya saat dia dan Dhisty baru saja
tiba di rumah.
“Belum puas juga sih, cuma Mamie pegel aja, tapi malas bangun. Serba salah ‘kan?” Sari saja bingung. Dia malas
bergerak, malas pergi, tapi seharian berbaring juga pegal. Tapi keinginannya tidur terus. Hehe aneh ‘kan?
__ADS_1
--------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa
khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari
semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi
buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan
yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan
rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian
mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di
urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah
maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
----------------------------
Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel
bagus karya teman yanktie ya
Judulnya ISTRI TITIPAN TALAK 3 karya ENI PUA
__ADS_1