
Lumayan lah, udah dapat nomor ponselnya Steve, pikir Belinda. Dia langsung menuju hotel tempat sugar daddynya sedang meeting.
Steve sendiri tidak kembali ke kantornya, dia sengaja mendatangi toko khusus perlengkapan bayi untuk membeli stroller pesanan Sari. Itulah sebabnya tadi dia membelikan gudeg untuk Dini, karena rencananya sore ini dia akan mengunjungi calon kakak iparnya itu.
***
“Papaaaaaaaaaaaaaaaa!” pekik Amora yang sedang makan.
“Amora!” Dini memperingatkan Amora agar tidak teriak saat sedang makan “Kamu lagi maem, nanti keselek sayangnya mommy.”
“I’m sorry mom,” tukas Amora sambil menunduk.
“Hallo anak papa, jangan teriak lagi ya, habiskan dulu maemnya, nanti main ama papa,” sapa Steve sambil mencium kening Amora setelah dia mengusap puncak kepalanya lembut.
“Hai, Din sehat?” sapa Steve sambil mencium pipi Dini yang dia perhatikan makin chubby sejak dia hamil.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Dini.
“Kamu tu ya, aku ga kesini kangen, aku datang di tanyain ngapain!” keluh Steve. “Ini aku anterin ini, tadi aku maksi di Wijilan lalu inget kamu!” seru Steve sambil menyerahkan bungkusan gudeg.
“Sebenernya tujuan utamaku ke sini anter pesanan Sari lagi” jelas Steve sambil dia berjalan ke luar menuju mobilnya.
“Ya ampuuuuuuuuuun, aku yang hamil kenapa dia yang heboh sih?” seru Dini melihat stroller yang di belikan Steve atas nama Sari.
***
“Assalamu’alaykum bang,” sapa Sari saat mengangkat telpon yang di caller id nya adalah nama Steve
“Wa’alaykum salam de,” balas Dini.
“Lho, koq mbak yang bicara?” kata Sari kaget.
“Hahahahaaaa, ga boleh ya aku pakai HP nya Steve,” canda Dini.
“Kalau pemiliknya ngasih, aku bisa apa coba mbak?” tanya Sari ambigu.
“Kamu kirim apalagi de, koq ngerepotin sih?” cecar Dini.
“Hahaha, aku tu pengen beli semuaaaaa, tapi abang bilang aku ga boleh kalap mbak, jadi aku beneran nge rem kemaren tu,” cerita Sari.
“Ga kalap aja belanjaanmu segitu banyak de, gimana kalau kalap?” tanya Dini yang membuat Steve nyengir mendengarnya. Steve sedang mencoba membuka stroller dari lipatannya saat Anto memasuki rumahnya.
“Assalamu’alaykum,” sapa Anto saat memasuki rumahnya, tumben Amora tidak menghampirinya, biasanya bila mendengar mobilnya masuk pekarangan Amora sudah berlari untuk segera di gendong olehnya.
“Wa’alaykum salam,” balas Dini dan Steve berbarengan. Dini langsung menghampiri suaminya dan mencium tangannya serta mengambil tas kerja Anto, di balas peluk hangat oleh Anto, serta di ciumnya pipi serta kening dan puncak kepala Dini, sambil tak lupa di elusnya perut Dini lembut.
__ADS_1
“Anak daddy lagi sibuk apa sampai ga perduli ama daddy?” sapa Anto sambil memeluk princessnya dan memberikan ciuman di puncak kepalanya.
“Daddy, ini papa lagi bongkar dorongan buat ade bayi,” jawab Amora dengan sangat antusias
“Lihat dadd, dari tadi dia kebingungan sendiri, padahal yang di ajarin ama pegawai tokonya kan dia,” kata Dini sambil menyerahkan minum pada Anto yang sedang duduk memperhatikan Steve.
“Lo minum dulu bro, sini gue lanjutin,” usul Anto pada Steve yang masih penasaran.
“Ups sorry mom,” Anto balas berbisik, barusan Dini membisikinya gar tidak menggunakan kata gue-elo, takut Amora menirunya.
***
“Hallo, Steve!” sapa Belinda pagi ini, hari ke 4 setelah pertemuan pertama mereka di Jogja
“Hallo juga, Lin” balas Steve datar.
“Bisa ga siang ini kita maksi, gue pengen bawa pulang gudeg juga ke Jakarta, sore nanti gue balik ke Jakarta, kerjaan gue udah rampung,” cerocos Belinda.
“Wah sorry, kalau makan siang gue ga bisa, jam 12 gue on the way ke Solo ama team kantor, kalau lo mau gue bisa jam 10, habis makan ama lo gue langsung berangkat. Gimana?” usul Steve, dia ga mau mengecewakan teman yang kebetulan sedang jadi tamu di Jogja.
“Ok, gapapa jam 10, langsung ketemuan tempat kemaren aja ya Steve,” balas Belinda senang. Dia punya rencana untuk membuat Catthy tau dia lebih berhasil dari pada Catthy.
***
Mereka ketemuan di tempat mereka makan makan sebelumnya. Saat habis makan Belinda sengaja menghubungi Catthy. “Hello, how are you?” sapa Belinda.
“Masih inget Steve ga?” tanya Belinda pura-pura. Lalu dia memberikan HPnya pada Steve dengan memberitahu, yang diajak bicara adalah Catthy.
“Hallo” sapa Steve.
Catthy tentu saja kaget, namun dia berupaya memastikan terlebih dahulu “Ini beneran Steve? Steve Lodewjk?” tanya Catthy.
“Iyalah” jawab Steve.
“Wah apa khabar? Koq bisa barengan ama Belinda?” tanya Catthy.
“Soal itu lo tanya aja ama dia. Sorry udah dulu ya, gue masih ada kerjaan” potong Steve karena HP nya berdering. Dikembalikannya ponsel itu pada Belinda.
“Hello,” sapa Belinda penuh kemenangan.
“Koq you bisa ama dia?” tanya Catthy penasaran.
“Ini udah pertemuan kedua, yang pertama I forgot telepon you buat pamer,” kata Belinda, memang bila dengan Catthy mereka seringnya menyebut I dan you sebagai pengganti kata lo dan gue.
Sementara Steve menerima telepon dari staffnya dan meminta mereka menyusulnya ke rumah makan tersebut menggunakan taxi, agar nanti ke Solo cukup menggunakan mobilnya saja.
__ADS_1
***
Belinda penasaran dengan sosok tunangan Steve, sejak sampai di Jakarta dia mencari siapa dan di mana anak kecil itu tinggal, dia pernah lihat sekali maka dia tahu bahwa tunangan Steve sangat jauh jarak usianya dengannya dan Steve.
Dengan nekad dia mendatangi bu Gita, alasan awalnya dia baru mendengar kematian Shinta, lalu dia mengorek soal Steve.
“Kayaknya Steve dekat dengan adik iparnya Shinta yang bernama Sari, tante melihat kedekatan mereka saat Shinta di rumah sakit hingga pemakaman Shinta. Gadis itu selalu ada berdua dengan Steve.
Loh, adik iparnya Shinta? Bukankah Steve bilang kakaknya Sari sedang hamil? Artinya kakaknya Sari kan perempuan. Masak Shinta nikah dengan perempuan? Pikir Belinda
“Kemaren sempat ketemu Steve selintas koq tante, dia bilang kakak iparnya Sari sedang hamil, kan ga mungkin mantan suami Shinta hamil?” tanya Belinda
“Hahaha, mantan suami Shinta sudah menikah lagi, mungkin istrinya sedang hamil, tante ga tau, hanya tau dia menikah lagi aja,” jawab bu Gita, jujur walau di undang, dia malu untuk datang ke pernikahan mantan menantunya karena kasus hamilnya Shinta dan jebakan Puspita sang keponakan pada Anto.
Satu titik lagi sudah di dapatkan Belinda. Tunangan Steve adalah mantan adik ipar Shinta. “Bisa minta nomor Sari ga tante. Aku kan kebetulan panitia reuni SMA, biar aku hubungi dia buat angkatannya. Tadinya nyari Shinta juga buat bikin Shinta jadi penanggung jawab angkatannya,” Belinda menebar jaring.
“Wah tante ga punya nomor Sari, kamu hubungi lewat nomor rumahnya aja, kalau nomor rumah besan tante, tante masih nyimpan,” kata bu Gita.
“Ok gapapa lah tante, nanti aku hubungi via nomor rumah aja. Boleh aku catat tante?” Belinda akhirnya mendapat nomor yang bisa dia hubungi untuk melacak identitas tunangan Steve.
***
Sari baru saja rampung mendaftar wisuda, dia mengisi data dengan teliti, membayar uang toga dan lain-lain. Sambil menunggu Uswah dan Endah selesai dia memperhatikan HP nya yang memperlihatkan notifikasi sms dari nomor yang tidak terdaftar di HP nya.
--------------
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
yanktie rencananya mau bikin cerita baru nih, tapi nunggu cerita KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ini banyak like dan vote ya, kalau sedikit vote nya, agak berat juga nulis judul baru
di cerita IMPOSSIBLE LOVE itu ceritanya bujangan mapan lulusan London kepincut ama mantan ibu gurunya yang punya anak 3
mantan guru pasti lebih tua dong?
belum lagi tu ibu udah punya anak 3
impossible kan tu cinta bia terwujud?
ayo kasih vote sebanyak-banyaknya di cerita ini biar kisah Irhan dan Ririe bisa segera rilis ya
sekali lagi makasih bangeeet
__ADS_1