
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih
buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap
habis baca bab. YANKTIE ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang
selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada
notifikasinya.
Penyamar ketemu penyamar akan seru enggak ya? Kalau
Cassie orang kaya dan Teddy tahu, akankah tujuannya nyari yang sederhana gagal
kalau Cassie naksir dia?. Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini
ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat
dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------------
“Mbak, habis ini cucikan tangan mbak
Dhisty ya. Saya mau makan dulu.” perintah Sari pada Dwi.
Sari dan Steve baru saja selesai makan
siang. “Mbak Dwi makan dulu sana, biar Dhisty bobo sama Papienya. Mbak Yannie
juga makan bareng mbak Dwi, kalau mas Dwipa bangun panggil saya ya.” Sari
langsung kembali ke butik, dia sengaja karena Dwipa belum bangun, nanti jika
Dwipa bangun tentu dia harus kembali ke belakang untuk memberi ASI.
***
“Bisa saya minta barang untuk pesanan hari ini
seperti yang saya minta?” Cassie datang ke meja Teddy untuk meminta ACC
permintaan barang bagian marketing.
“Sebentar ya, saya selesaikan data ini agar tidak
tertukar, silakan duduk sebentar saja, ini tinggal membuat akumulasi permintaan
marketing divisi 3 saja. Maaf, kamu kemarin divisi berapa?” tanya Teddy tanpa
mengangkat wajah dari layar computer di meja nya.
“Saya marketing divisi 2 Pak,” jawab Cassie, sejak
tadi dia asyik memandangi wajah ganteng Teddy. ‘Aku tak boleh mulai bermain
hati. Bisa-bisa aku akan mendapat kesulitan. Bila sudah terlanjur cinta, lalu
daddy tak setuju karena beda derajat, tentu akan sakit. Pasti daddy akan
menjodohkanku agar hartanya tidak jatuh kesembarang orang yang hanya ingin
hartaku saja. Mengapa aku harus lahir di tengah keluarga yang sibk
mempertahankan harta keluarga?’ keluh Cassie dalam hatinya.
“Kamu manggil saya Pak? Sepertinya kita seumuran,
paling tidak saya hanya lebih tua dari kamu 1 sampai 3 tahun saja. Apa setua
itu wajah saya sehingga kamu memanggil saya PAK?” tanya Teddy. Dia baru saja
men save data permintaan divisi 3 yang sudah di ACC. Selanjunya dia memasukkan
data permintaan Cassie dan mengirim ke bagian pengeluaran barang agar
disiapkan.
“Data sudah saya kirim ke bagian pengadaan. Ini rekomendasi
saya. Masih ada yang bisa saya bantu?” tanya Teddy. Cassie yang sedang melamun
tidak mendengar apa yang Teddy ucapkan. Bahkan saat Teddy mengipas lembar
kertas yang sudah di ACC ke depan wajahnya, gadis itu masih tak menyadarinya.
“CASSIE!” Teddy memanggilnya agak keras.
“Eh iya Pak,” kaget akan teriakan Teddy, Cassie
segera tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Sejak tadi saya bicara kamu tidak mendengarkan,
bahkan saya kipas keretas ini berkali-kali di depan wajahmu kamu juga enggak
sadar. Untung saya pegawai rendahan dan pegawai baru. Jika saya pegawai tetap
dan lebih tinggi jabatannya, tentu kamu akan dapat masalah karena melamun saat
jam kerja,” Teddy memberikan kertas yang dia pegang dengan bersungut. ‘Sungguh perempuan tak bertanggung jawab,’ pikirnya.
“Maaf Pak, maaf,” Cassie gugup menerima berkas yang
dia minta ACC dan memeriksanya.
“Tadi saya sudah bilang, mengapa kamu memanggil saya
Pak? Sepertinya kita seumuran, paling tidak saya hanya lebih tua dari kamu 1
sampai 3 tahun saja. Apa setua itu wajah saya sehingga kamu memanggil saya
PAK?” ulang Teddy kesal. ‘Perempuan ini memang membuat pagiku jadi merah
karena marah,’ batin Teddy.
“Jadi sebaiknya saya harus memanggil apa?” tanya
Cassie serba salah.
“Kamu bisa langsung sebut namaku saja,” balas Teddy
dan dia kembali memalingkan wajahnya ke computer mejanya. Dia tak ingin lebih
lama terlibat pembicaraan dengan Cassie.
“Baik, saya permisi. Terima kasih ACC nya, saya akan
langsung ke gudang untuk memberikan surat ini,” Cassie langsung pamit, karena
tak enak membuat Teddy bad mood.
***
“Mamie, tatit,” keluh Dhisty, dia terjatuh saat
mengejar bola di ruang bermain di paviliun butik. Untungnya lantai ruang
bermain dilapis karpet bulu yang tebal sehingga tidak berbahaya bila Dhisty
“Wooow, anak Mamie pintar ya, jatuh enggak nangis,”
puji Sari. Dia tahu anaknya habis menangis karena ada bekas air mata di
pipinya. “Lain kali kalau jalan hati-hati ya,” dengan lembut di cium pipi
gembul putrinya. Sebenarnya dia ingin menggendongnya. Namun dia ingat, ada dede
bayi di perutnya. Steve bisa marah bila dia mengangkat Dhisty.
“Anaknya Jeng?” tanya pelang_gan yang sedang
dilayani oleh Sari.
“Iya Bu, putri pertama kami,” balas Sari.
“Lho, memang sudah punya adik? Koq disebut yang
pertama,” tanya si ibu lagi.
“Ada Bu, sedang tidur di belakang. Baru 4 bulan,”
jawab Sari sambil matanya mengikuti Dhisty yang sudah menjauh darinya diikuti
mbak Dwi.
Sari terus dengan kesibukannya melayani calon
pembeli. Entah mengapa, di kehamilan kali ini dia senang menyapa para pengunjung
di butiknya.
”Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini pilihan warnanya banyak lho.”
“Yang ini bagus untuk mbak yang tinggi langsing,
akan membuat terlihat tinggi dan lebih berisi.”
“Kalau itu kurang suka, saya ada saran memilih jenis
ini yang llebih cocok dengan kulit kita yang sawo matang.”
Dan banyak kata-kata promo yang terlepas dengan
__ADS_1
manis dari bibir Sari untuk para calon pembeli. Steve tentu harus selalu
mengingatkan istrinya agar tidak terlalu lelah. Namun dia bangga istrinya kuat
dan bahagia di kehamilan kali ini. Jangan ditanya perhatian oma, opa dan mbak
Dini. Mereka over protektif terhadap Sari. Yang jadi sasaran adalah Steve.
Hampir tiap saat mereka akan mengabsent Steve dan menanyakan bagaimana kondisi
Sari, sudah makan belum, muntah tidak, sudah minum vitamin belum dan banyak
lagi pertanyaan lainnya.
“Jangan terlalu cape Babe, istirahat dulu ya?”
seperti biasa Steve mendatangi Sari dengan segelas juice. Itu rutin
dilakukannya. Walau saat itu istrinya sedang melayani calon pembeli, dia akan
minta Sari meminum dulu juicenya sebelum melanjutkan kegiatannya lagi.
“Papie, ada daddy,” Dhisty berlari menghampiri
Steve.
“Daddy di mana?” Steve bingung karena tidak melihat
kakak iparnya datang.
“Tepon Mamie,” jawab Dhisty dia langsung minta
didudukkan di kursi kerja Papie nya. Dhisty memang tadi minta diantar ke show
room.
“Owalaaaah, Papie kira Daddy mu datang,” balas
Steve. Ternyata Dhisty melihat Sari menerima telepon dari Anto. Saat telepon
berdering tentu yang terlihat adalah foto yang menelpon.
------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa
khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari
semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi
buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan
yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan
rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian
mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di
urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah
maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
----------------------------
Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel
bagus karya teman yanktie ya
Judulnya RAHASIA ISTRI CULUNKU karya NURMA AZALIA MIFTAH POENYA
__ADS_1