KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
151 KAMU PANGGIL SAYA PAK, APA SAYA SETUA ITU?


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih


buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap


habis baca bab. YANKTIE  ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang


selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada


notifikasinya.


Penyamar ketemu penyamar akan seru enggak ya? Kalau


Cassie orang kaya dan Teddy tahu, akankah tujuannya nyari yang sederhana gagal


kalau Cassie naksir dia?.  Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini


ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat


dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-------------------


“Mbak, habis ini cucikan tangan mbak


Dhisty ya. Saya mau makan dulu.” perintah Sari pada Dwi.


Sari dan Steve baru saja selesai makan


siang. “Mbak Dwi makan dulu sana, biar Dhisty bobo sama Papienya. Mbak Yannie


juga makan bareng mbak Dwi, kalau mas Dwipa bangun panggil saya ya.” Sari


langsung kembali ke butik, dia sengaja karena Dwipa belum bangun, nanti jika


Dwipa bangun tentu dia harus kembali ke belakang untuk memberi ASI.


***


“Bisa saya minta barang untuk pesanan hari ini


seperti yang saya minta?” Cassie datang ke meja Teddy untuk meminta ACC


permintaan barang bagian marketing.


“Sebentar ya, saya selesaikan data ini agar tidak


tertukar, silakan duduk sebentar saja, ini tinggal membuat akumulasi permintaan


marketing divisi 3 saja. Maaf, kamu kemarin divisi berapa?” tanya Teddy tanpa


mengangkat wajah dari layar computer di meja nya.


“Saya marketing divisi 2 Pak,” jawab Cassie, sejak


tadi dia asyik memandangi wajah ganteng Teddy. ‘Aku tak boleh mulai bermain


hati. Bisa-bisa aku akan mendapat kesulitan. Bila sudah terlanjur cinta, lalu


daddy tak setuju karena beda derajat, tentu akan sakit. Pasti daddy akan


menjodohkanku agar hartanya tidak jatuh kesembarang orang yang hanya ingin


hartaku saja. Mengapa aku harus lahir di tengah keluarga yang sibk


mempertahankan harta keluarga?’ keluh Cassie dalam hatinya.


“Kamu manggil saya Pak? Sepertinya kita seumuran,


paling tidak saya hanya lebih tua dari kamu 1 sampai 3 tahun saja. Apa setua


itu wajah saya sehingga kamu memanggil saya PAK?” tanya Teddy. Dia baru saja


men save data permintaan divisi 3 yang sudah di ACC. Selanjunya dia memasukkan


data permintaan Cassie dan mengirim ke bagian pengeluaran barang agar


disiapkan.


“Data sudah saya kirim ke bagian pengadaan. Ini rekomendasi


saya. Masih ada yang bisa saya bantu?” tanya Teddy. Cassie yang sedang melamun


tidak mendengar apa yang Teddy ucapkan. Bahkan saat Teddy mengipas lembar


kertas yang sudah di ACC ke depan wajahnya, gadis itu masih tak menyadarinya.


“CASSIE!” Teddy memanggilnya agak keras.


“Eh iya Pak,” kaget akan teriakan Teddy, Cassie


segera tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


“Sejak tadi saya bicara kamu tidak mendengarkan,


bahkan saya kipas keretas ini berkali-kali di depan wajahmu kamu juga enggak


sadar. Untung saya pegawai rendahan dan pegawai baru. Jika saya pegawai tetap


dan lebih tinggi jabatannya, tentu kamu akan dapat masalah karena melamun saat


jam kerja,” Teddy memberikan kertas yang dia pegang dengan bersungut. ‘Sungguh perempuan tak bertanggung jawab,’ pikirnya.


“Maaf Pak, maaf,” Cassie gugup menerima berkas yang


dia minta ACC dan memeriksanya.


“Tadi saya sudah bilang, mengapa kamu memanggil saya


Pak? Sepertinya kita seumuran, paling tidak saya hanya lebih tua dari kamu 1


sampai 3 tahun saja. Apa setua itu wajah saya sehingga kamu memanggil saya


PAK?” ulang Teddy kesal. ‘Perempuan ini memang membuat pagiku jadi merah


karena marah,’ batin Teddy.


“Jadi sebaiknya saya harus memanggil apa?” tanya


Cassie serba salah.


“Kamu bisa langsung sebut namaku saja,” balas Teddy


dan dia kembali memalingkan wajahnya ke computer mejanya. Dia tak ingin lebih


lama terlibat pembicaraan dengan Cassie.


“Baik, saya permisi. Terima kasih ACC nya, saya akan


langsung ke gudang untuk memberikan surat ini,” Cassie langsung pamit, karena


tak enak membuat Teddy bad mood.


***


“Mamie, tatit,” keluh Dhisty, dia terjatuh saat


mengejar bola di ruang bermain di paviliun butik. Untungnya lantai ruang


bermain dilapis karpet bulu yang tebal sehingga tidak berbahaya bila Dhisty


“Wooow, anak Mamie pintar ya, jatuh enggak nangis,”


puji Sari. Dia tahu anaknya habis menangis karena ada bekas air mata di


pipinya. “Lain kali kalau jalan hati-hati ya,” dengan lembut di cium pipi


gembul putrinya. Sebenarnya dia ingin menggendongnya. Namun dia ingat, ada dede


bayi di perutnya. Steve bisa marah bila dia mengangkat Dhisty.


“Anaknya Jeng?” tanya pelang_gan yang sedang


dilayani oleh Sari.


“Iya Bu, putri pertama kami,” balas Sari.


“Lho, memang sudah punya adik? Koq disebut yang


pertama,” tanya si ibu lagi.


“Ada Bu, sedang tidur di belakang. Baru 4 bulan,”


jawab Sari sambil matanya mengikuti Dhisty yang sudah menjauh darinya diikuti


mbak Dwi.


Sari terus dengan kesibukannya melayani calon


pembeli. Entah mengapa, di kehamilan kali ini dia senang menyapa para pengunjung


di butiknya.


”Ada yang bisa saya bantu?”


“Ini pilihan warnanya banyak lho.”


“Yang ini bagus untuk mbak yang tinggi langsing,


akan membuat terlihat tinggi dan lebih berisi.”


“Kalau itu kurang suka, saya ada saran memilih jenis


ini yang llebih cocok dengan kulit kita yang sawo matang.”


Dan banyak kata-kata promo yang terlepas dengan

__ADS_1


manis dari bibir Sari untuk para calon pembeli. Steve tentu harus selalu


mengingatkan istrinya agar tidak terlalu lelah. Namun dia bangga istrinya kuat


dan bahagia di kehamilan kali ini. Jangan ditanya perhatian oma, opa dan mbak


Dini. Mereka over protektif terhadap Sari. Yang jadi sasaran adalah Steve.


Hampir tiap saat mereka akan mengabsent Steve dan menanyakan bagaimana kondisi


Sari, sudah makan belum, muntah tidak, sudah minum vitamin belum dan banyak


lagi pertanyaan lainnya.


“Jangan terlalu cape Babe, istirahat dulu ya?”


seperti biasa Steve mendatangi Sari dengan segelas juice. Itu rutin


dilakukannya. Walau saat itu istrinya sedang melayani calon pembeli, dia akan


minta Sari meminum dulu juicenya sebelum melanjutkan kegiatannya lagi.


“Papie, ada daddy,” Dhisty berlari menghampiri


Steve.


“Daddy di mana?” Steve bingung karena tidak melihat


kakak iparnya datang.


“Tepon Mamie,” jawab Dhisty dia langsung minta


didudukkan di kursi kerja Papie nya. Dhisty memang tadi minta diantar ke show


room.


“Owalaaaah, Papie kira Daddy mu datang,” balas


Steve. Ternyata Dhisty melihat Sari menerima telepon dari Anto. Saat telepon


berdering tentu yang terlihat adalah foto yang menelpon.


------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa


khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari


semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi


buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan


yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan


rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian


mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di


urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah


maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


----------------------------


Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel


bagus karya teman yanktie ya


Judulnya  RAHASIA ISTRI CULUNKU karya NURMA AZALIA MIFTAH POENYA


__ADS_1


__ADS_2