KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
100 PLONG SETELAH GUDANG ASI KEMPES


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Untungnya semua segera terpecahkan dan Sari menyadari kesalahannya. Apa sudah selesai ujian rumah tangga mereka? Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


----------------------


Cibiran sanak keluarga tentu tak akan mungkin dia hindari. Karena pindah kemanapun saudara pasti akan tetap bisa menghujatnya. Taapi setidaknya dengan pindah domisili beban yang ada berkurang sedikit. Itu yang bisa dilakukan pak Isman bagi istrinya.


“Ayah berencana pindah rumah Bund, setidaknya memperkecil cibiran tetangga sekitar, walau tak bisa mengurangi cibiran kerabat. Menurut Bunda bagaimana?” pak Isman melontarkan pemikirannya.


“Itu memang yang terbaik Yah. Tapi kita juga harus mulai merubah semua pola hidup kita. Pola asuh kita,” bu Neni mulai merancang semuanya menjadi lebih baik. Dia sudah menyadari kesalahannya. Pak Isman tentu senang istrinya mau menerima semuanya. Dia tahu sebagai kepala keluarga kesalahan utama ada di pundaknya. Dia yang benar membimbing anak dan istrinya. Dia terobsesi terhadap keberhasilan ekonomi saja.


***


“Kenapa enggak kamu peras sedikit di toilet biar enggak ngerasain senat senut seperti ini?” tanya Steve saat mereka menuju rumah. Dia kasihan sejak tadi melihat istrinya meringis kesakitan.


“Iya, enggak kepikiran. Seharusnya aku membuang sedikit agar baju juga enggak bau amis seperti sekarang. Maklum ini pengalaman pertamaku pergi lama. Besok-besok aku akan selalu sedia alat perah juga di tas biar enggak tersiksa seperti sekarang.” Sari menjawab sambil sesekali meringis karena merasakan sakit di gudang ASI nya.


Setiba di rumah Sari langsung turun dari mobil dan berlari ke kamarnya. Dia segera mandi dan membuang sedikit isi gudang ASI nya, agar saat Adhisty menghisapnya dia tak merasa terlalu sakit. Sehabis mandi dia langsung menghampiri Adhisty yang masih terlelap. Dengan perlahan dia sodorkan pusat ASI ke mulut kecil Adhisty. Sengaja di gesek-gesek ke bibir gadis kecilnya. Adhisty yang mendapat rangsangan dari mamie nya segera membuka mulutnya dan menghisap dengan lahap pusat ASI milik mamie nya tersebut. Sari juga memompa ASI untuk mengurangi bengkaknya. Dia mengambil pelajaran dari kepergiannya tadi, agar kedepannya dia tidak mengalami hal menyakitkan ini lagi.


Selesai mengatasi problem bengkaknya, Sari langsung menuju dapur. Dia langsung lapar sehabis memberi ASI. Tadi mama membuat kolak pisang. Di ambilnya semangkok kolak untuk suaminya. Steve biasa suka bila kolak diberi beberapa butir es batu. Sedang Sari hanya cukup kolak dingin tanpa es batu. Dia bawa dua mangkok kolak ke teras belakang dimana mama dan Steve sedang ngobrol. “Kolak Pie,” Sari menawarkan mangkok langsung untuk diterima Steve, tidak diletakkan di meja. Steve segera menerimanya. Dia sangat bersyukur kisruh rumah tangganya segera terpecahkan dan Sari kembali bersikap normal seperti biasa. Namun Steve menyadari, Sari tidak bisa di buat terluka. Istri mungilnya itu sudah menunjukkan taringnya. Itu pelajaran sangat berharga untuk ke depannya. Dia tak ingin Sari kembali berulah seperti kemarin. Tiba-tiba sudah bergerak mengajukan cerai.


“Ini pisang tanduk panen dari Bumijo yo Ma?” tanya Sari. Karena memang di Jogja tak umum ada pisang tanduk. Dulu papi nya mbak Dini membawa bibitnya dari Cianjur. Dan ditanam sejak mbak Dini masih SMA.


“Iyo, dua hari lalu pas mama nyuruh antar pepes ke sana, mbak Dini kasih pisang yang baru dia panen. Jadi tadi mama cari kolang kaling buat bikin kolak.” Mama yang hobby masak dan menanam sama dengan  Dini sangat senang bila bisa mengirim hasil masakan untuk menantu perempuan satu-satunya itu. Sebaliknya Dini juga sama, kalau bikin masakan tidak pernah sedikit agar bisa mengirim ke Jakal, rumah adik iparnya.


Steve hanya menyimak pembicaraan dua perempuan di depannya sambil menikmati kolak.

__ADS_1


***


“Pak, ada tamu!” seorang asisten rumah tangga memberitahu pada Steve ada yang mencari dirinya.


“Assalamu’alaykum Pak Lumowa” sapa tamu yang rupanya sudah dipersilahkan duduk di ruang tamu oleh sang asisten tadi.


“Wa’alaykum salam pak Heru, apa khabar?” tanya Steve ramah.


“Alhamdulillah baik. Begini Pak, pertama saya memberitahu tentang kegiatan rutin bulanan kita yang akan kita adakan malam Sabtu besok. Namun selain itu saya ingin tukar pendapat dengan Bapak,” jawab tamu tersebut.


“Malam Sabtu besok, giliran di rumah saya kah?” tanya Steve. Karena memang biasanya yang ketempatan akan diberitahu oleh pengurus RT untuk menegaskan kesiapan menerima tamu.


“Iya Pak Lumowa, malam Sabtu besok sedianya akan di adakan disini. Apa Bapak bersedia atau ingin perubahan tempat?” biasa sengaja di beri tawaran. Karena kadang pemilik rumah harus pergi sehingga tidak bisa menjadi tuan rumah.


“Alhamdulillah, tak ada perubahan Pak. Saya tetap bersedia ketempatan menjadi tuan rumah.” Balas Steve memastikan.


“Ok, jadi masalah pertemuan rutin sudah fix tak ada perubahan ya Pak?” tanya pak Heru lagi.


“Kalau begitu saya mau konsultasi pak. Saya ingin menjual dua motor saya dan membeli mobil second. Apa Bapak bisa menerima tukar tambah?” tanya pak Heru.


“Kebetulan saya tidak jual beli motor Pak, kalau mau Bapak saya rekomendasikan teman saya yang jual beli motor. Nanti Bapak nego sendiri langsung dengan beliau saja.” Steve mengambil ponselnya di kamar.


“Ini monggo Pak, Bapak catat saja nomor ini dan langsung hubungi yang bersangkutan langsung,” Steve memberikan ponselnya, mempersilahkan pak Heru langsung mencatat sendiri.


“Wah terima kasih banyak Pak,” pak Heru mengembalikan ponsel Steve setelah selesai mencatat nomor yang Steve rekomendasikan.


“Silahkan di icip kolaknya Pak,” Steve mempersilakan tamunya mencicipi kolak atau meminum teh yang sejak tadi sudah dibawakan oleh simbok.


***

__ADS_1


“Mam, papie lupa, besok Jumat malam kita ketempatan sebagai tuan rumah perrtemuan rutin para bapak ya?” Steve tentu lupa karena beberapa hari ini pikirannya ruwet akibat kekacauan yang di buat Jelita.


“Jumat malam Sabtu ya Pie? Biasanya makanannya seperti apa? Makan berat atau hanya snack? Untuk berapa orang? Apa ada yang untuk di bawa pulang?” Sari tidak ingin salah. Dia juga tak mau terlihat beda, karena pandangan orang tidak semua sama. Dia takut bila dibilang sombong. Lebih baik dia akan menyediakan seperti rata-rata yang biasa disediakan warga sekitar.


Steve menjelaskan umumnya hanya berupa snack dan teh atau kopi. Kadang ada yang lebih suka rebusan kacang, pisang, ubi dan makanan tradisional lain. Walau ada juga beberapa yang menyediakan makan. Sari lebih senang dengan aneka rebusan. Dia memilih itu dan beberapa snack tradisional.


-------------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya

__ADS_1


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


__ADS_2