KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
64 KITA HARUS MENERIMA APAPUN HASILNYA


__ADS_3

“Yank, pengen makan nasi goreng kambing,” rengek Sari saat mereka baru saja selesai membayar belanjaan mereka di kasir supermarket yang mereka datangi.


“Mau makan di mana?” tanya Steve yang juga tidak nolak keinginan istrinya. Dia juga merasakan sangat lapar. Padahal dia ingat sehabis Sari telepon pagi tadi, jam 10 dia iseng menyuruh OB kantornya membelikan burger yang tak jauh dari kantornya. Di lanjut makan siang dan sebelum pulang dia kembali makan sepiring siomay yang tukangnya memang mangkal depan kantor sejak jam 3 sore.


Mereka pun makan nasi goreng kambing yang memang mereka sukai. “Yank beli bungkus ya?” pinta Sari. “3 bungkus untuk mbak Dini dan 3 bungkus untuk sarapan besok pagi. Nanti malam kita simpan majic jar aja jadi pagi ga repot.”


“Kamu pengen ke Bumijo?” tanya Steve yang di jawab anggukan oleh Sari karena dia sedang minum es jeruknya.


***


“Kamu sudah periksa de?” tanya Dini saat Sari bercerita dia malas ngapa-ngapain sejak 3 atau 4 hari ini.


“Kamu telat mens ga?” tanya Dini lagi.


“Waduuuuu … aku malah lali mbak, iya kayaknya bulan ini aku belum, harusnya 10 atau 12 hari lalu aku dapat mens mbak,” cetus Sari.


“Ya wis, nanti pulang kamu mampir apotik, beli beberapa jenis merk yang berbeda agar bisa dapat hasil akurat,” saran Dini. Dini sangat berharap agar Sari benar hamil karena saat ini sudah 14 bulan mereka menikah.


“Tapi aku ga mual mbak, ga pusing, cuma maleeeeeeeeeeeeeees aja bawaannya. Ya males bangun, males mandi, males ngurusin abang, males masak, males beres-beres, wis pokoke males ngopo-ngopo,” cerita Sari. Dia tidak ingin terlalu berharap, namun sejak menikah memang dia belum pernah terlambat menstruasi sehingga belum pernah menggunakan test pack.


***


“Bang, mampir ke K24 ya,” pinta Sari saat mobil mereka keluar dari rumah kakaknya malam ini.


“Kamu mau beli obat apa? Sakit apa,” Steve langsung mencecarnya dengan was-was.


“Gapapa sayankku, aku cuma mau mencari kepastian aja, karena mbak Dini tadi menyarankan membeli sesuatu,” jawab Sari sambil senyum-senyum dan memeluk lengan kiri suaminya. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.


Penasaran ingin mengetahui apa yang akan di beli istrinya, Steve sengaja ikut turun saat mereka tiba di apotik K24.


“Minta test pack mbak,” pinta Sari pada penjaga apotik.

__ADS_1


Tentu saja Steve langsung kaget bercampur bahagia penuh harap, di peluknya bahu istrinya dan dia berbisik “Serius kita akan pakai alat test itu?”


Sari hanya menjawabnya dengan senyuman dan mencium sekilas pipi suaminya. “Minta 4 merk terbaik ya mbak,” kata Sari.


“Kamu ga mual atau pusing kan honey?” tanya Steve saat mereka memasuki mobil menuju ke rumah.


“Kata mbak Dini ga semua kehamilan selalu pusing atau mual. Ada yang malah banyak makan. Ada yang suaminya yang muntah setiap pagi dan banyak tanda lainnya. Aku cuma ngerasa maleeees aja, ga pengen gerak, pengennya bobo aja,” jelas Sari yang tadi langsung search di internet di ruang kerja mbak Dini.


Wait, ada yang suaminya muntah setiap pagi? pikir Steve, apa rasa lapar berlebihanku beberapa hari ini juga karena kehamilam Sari ya? Tapi apa korelasinya, yang hamil kan Sari, masak aku yang kelaperan? batin Steve lagi.


“Untuk semakin akurat kita cek besok pagi ya Yank, urine pertama, jadi ingetin aku pas mau sholat subuh ambil urine dulu sedikit,” pinta Sari agar Steve membantunya mengingatkan program pengecekan urine besok pagi.


Steve menyanggupinya, dan malam ini dia bertekad tidak akan mengajak Sari olah raga kasur agar semprotannya tidak mengganggu hasil pemeriksaan urine besok pagi.


***


Malam ini Sari dan Steve sama-sama tidak bisa cepat terlelap, mereka hanya saling dekap untuk berbagi ketakutan bila besok hasil yang mereka dapat tak sesuai harapan mereka. Akhirnya lewat tengah malam baru keduanya bisa tertidur.


Sehabis melipat mukena Sari meminta Steve melihat dan mengambil test pack yang dia letakan di toilet tadi.


“Kenapa ga kamu aja yang ambil dan lihat?” tanya Steve, karena sesungguhnya dia juga takut bila hasilnya di luar ekpektasi mereka.


“Udah Yayank aja yang pertama lihat, aku takut,” rengek Sari tidak percaya diri.


Steve pun perlahan menuju toilet di kamar mereka, dia mendorong pintu agar segera terbuka lebar seperti akan menghadapi monster yang sangat mengerikan. Di longokan sedikit kepalanya dan di lihatnya 4 test pack itu dari jarak jauh. Dia belum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Di lihatnya ada garis merah samar dari tempatnya berdiri. Steve memicingkan matanya agar pandangannya lebih jelas melihat garis tersebut. Setelah dia melihat 2 garis pasti, dia langsung bergegas mendekati 4 benda kecil tersebut untuk memastikannya.


‘Alhamdulillaaaaaah,’ batinnya berseru saat dia melihat dengan jelas 4 alat itu bergaris merah 2.


Dia langsung keluar dan memeluk istrinya yang sengaja memunggungi kamar mandi karena takut kecewa. Dia mencium puncak kepala istrinya dan meletakan 4 alat tersebut di genggaman istrinya.


Sari yang menerima 4 benda pipih kecil di genggamannya tidak berani membuka tangannya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

__ADS_1


“Lihat sayang. Kita harus menerima apapun hasilnya,” bisik Steve lembut sambil terus menciumi puncak kepala istrinya.


Sari menguatkan hati, di bukanya pelan genggaman jemarinya, perlahan dia melihat ada 2 garis di alat itu. Sari langsung membuang alat itu, dia berbalik dan memeluk Steve sambil menangis tersedu. Dia tidak menyangka akhirnya bisa hamil juga.


Steve membalas pelukan istrinya dengan penuh kasih “Mulai saat ini kamu harus hati-hati ya, kamu harus jaga kesehatan dan ga boleh malas makan karena ada anak kita yang masih harus kamu kasih asupan gizi untuk perkembangannya,” nasehat Steve.


“Iya Pi” jawab Sari yang langsung memanggil papi pada suaminya.


“Bukan papa?” tanya Steve.


“Untuk anak-anak kita harus beda dengan anak-anak mbak Dini. Untuk anak-anak mbak Dini kita tetap mama dan papanya. Namun untuk anak-anak sendiri kita adalah papi maminya,” jawab Sari manja.


“Siap mami,” balas Steve sambil mencium kening istrinya “Papi mau makan, udah laper banget. Mami mau bareng sarapan ga?” tanya Steve yang sudah super kelaperan.


“Papi aneh, koq lapar terus?” tanya Sari.


“Mungkin ini bawaan baby mam, sebentar-sebentar lapar,” jawab Steve sambil dia mengupas timun lalu di lanjut dengan memotong tomat sebagai pelengkap nasi goreng kambing yang mereka beli semalam, walau tentu saja sudah ada acar dari tukang nasi goreng.


Sari membuat roti isi corned dan selada serta timun lalu di masukan di tupperware untuk di bawa ke butik dan kantor Steve. Sehabis itu dia kembali masuk kamar dan tidur lagi tanpa sarapan. Steve yang sudah tahu alasan Sari jadi pemalas seperti itu tidak keberatan, dia makan nasi goreng sendirian dan tak lupa membawa bekal roti bikinan Sari ketika dia berangkat kerja.


***


Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa.


Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya


 ---------------------


Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh

__ADS_1



__ADS_2