KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
94 SARI MEMBULATKAN TEKAD MENGAJUKAN PERMOHONAN CERAI


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab.


Seperti biasa Steve selalu tidak tegaan, dia masih memberi toleransi seperti permintaan pak Isman, ayah Jelita. Gimana kelanjutan ceritanya? Lanjut baca keseruannya di bawah ini ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-------------------


“Ma, maaf, aku tadi pagi sebelum bertemu teman, mau beli pesanan Mama toko saprotannya belum buka. Lalu pas baliknya aku lupa langsung ke show room. Aku janji besok aku belikan ya Ma,” Steve lebih dulu lapor pada mama mertuanya sebelum ditanya mana pesanannya.


Dia menyerahkan sate yang dia bawa pada asisten rumah tangganya. Steve langsung mandi agar bersih saat menggendong kekasih kecilnya yang dia lihat sedang dalam gendongan eyangnya karena Sari sedang memompa ASI. ‘Mengapa dia mulai memompa ASI? Padahal kalau nanti Sari kerja kan Adhisty akan di bawa sesuai planning mereka dulu?’ Steve hanya bertanya dalam hari saja. Dia tak ingin Sari marah bila dia bertanya lebih dalam. Dia hampiri istrinya, mengecup puncak kepalanya, “Sore babe,” sapa Steve. Tak ada jawaban dari Sari, maka Steve langsung beranjak ke kamar mandi.


***


Apsari POV  


“Habis ini aku ke show room, ada kerjaan yang harus aku handle?” tanya suamiku. Aku memang belum diijinkannya pergi ke ruang usaha kami. Sesuai kesepakatan Steve mengijinkan aku mulai aktiv bekerja ketika usia Adhisty tiga bulan. Itu pun Adhisty akan kami bawa beserta pengasuhnya. Jadi Adhisty akan full minum ASI segar. Pengasuh di bawa setiap hari untuk mengawasi atau menemaninya di kamar saat aku duduk di meja kerjaku. Maksud Steve dengan ada kerjaan yang harus dia handle adalah pekerjaan butik, bukan pekerjaan show room nya.


“Tolong lihatin stock minggu ini aja Pie, aku belum terima laporan mbak Esti tentang laju keluar masuk barang minggu ini,” jawabku santai.karena biasanya mbak Esti tidak pernah terlambat mengirim laporan ke emailku.“Oh sama tanyakan mas Warman soal tawaran dari pengrajin batik serat nanas Kulon Progo ya Pie, belum aku follow up lagi pembahasannya.”


Aku mengantar Steve hingga pagar. Tak ada firasat apapun terhadap kepergiannya kerja hari ini. Saat sedang ngemil kacang tanah sangrai yang dibuat mama sehabis mandi sore, ada misscall di hape ku. Lalu tak lama terdengar notifikasi chat dan aku lihat masuk beberapa foto pada ponselku dari nomor tak kukenal yang tadi misscall. Aku hanya bisa  diam, tidak tahu harus berkata apa melihat foto yang baru saja aku terima. Langsung aku hubungi nomor itu namun nomornya sudah tidak aktif. Dari tanggal di bawah kiri foto, jelas foto tersebut baru saja di buat . Selain itu pakaian yang di kenakan abang juga pakaian yang dia gunakan saat tadi pergi ke show room.


Abang Steve sampai di rumah sebelum maghrib. Dia langsung mandi dan bersiap salat agar bisa langsung menggendong Adhisty. “Bagaimana tadi saat Papie tinggal? Apa princess rewel?” tanya Steve, dia bertanya seakan tidak melakukan kesalahan apapun padaku. Dia sungguh aktor yang hebat.


“Adhisty anakku, tentu dia enggak rewel di tinggal papie nya bersenang-senang,” jawabku. Aku akan tunjukan aku bisa hidup berdua hanya dengan Adhisty. Aku mulai berpikir akan meninggalkan butik dan mencari kerja saja. Aku yakin dengan ijasahku walau hanya administrasi rendahan aku dapat mudah di terima kerja. Kalau mentok aku akan melamar di kantor mas Anto untuk menjadi pegawai rendahan disana, yang penting aku bisa membiayai hidupku dan Adhisty putriku.

__ADS_1


“Maksudmu apa babe? Anakmu? Bersenang-senang?” tanya abang seakan tidak mengerti apa maksud perkataanku.


Aku sengaja makan malam lebih awal, saat abang sedang salat maghrib, aku tak ingin makan bareng dengan abang.  “Kamu kenapa babe? Cape ya?” tanya abang pelan di telingaku saat aku sedang memberi ASI pada putri kami. Aku tak menjawabnya dan langsung ikut tidur.


Seperti biasa tengah malam Adhisty rutin bangun, dia merengek karena celananya basah. Aku menggantikan semua baju dan alas tidurnya. Lalu memberinya ASI. Sehabis menyusui aku merasa kelaparan. Aku bergegas ke ruang makan dan mengambil sepiring bihun goreng serta sepotong ayam goreng. Tak lupa kuberi sedikit saos sambal. Mama bilang sejak awal memang tak boleh berpantang pedas agar bayi yang diberi ASI tidak kaget bila si ibu tiba-tiba makan sambal. Sedang asyik makan kulihat abang keluar. Biasanya memang dia selalu menemaniku makan, bahkan menemani menggantikan baju Adhisty.


Abang mengambil gelas dan botol air minum di kulkas lalu ikut duduk di meja makan menemaniku makan, namun tak kuindahkan. “Kamu kenapa babe?” tanya abang lirih.


Aku langsung membawa piring bekas makan ke tempat cucian piring tanpa menjawabnya. Aku  membawa segelas juice kurma encer ke ruang televisi. Aku melihat ada ponselku di meja dekat televisi, aku segera mengirim pesan pada mbak Dini, memintanya datang besok setelah dia mengajar.


Ternyata Abang mengikutiku ke ruang televisi. “Please jawab babe, kamu kenapa? Atau aku salah apa?” tanya abang masih pura-pura tak bersalah. Atau dia memang merasa itu bukan kesalahan. Mempunyai selingkuhan baginya mungkin hal biasa. Aku makin sebal. Aku segera menghabiskan juice kurma, dan membawa gelas kotor kedapur lalu ku cuci sekalian. Habis itu aku langsung kembali menyikat gigi dan langsung naik ke ranjang dan berbaring di sisi putri kecilku.


***


“Cukup sudah berjemur pagi ini. Sekarang kita pakai baju dan kamu sarapan ASI ke mamie ya cantiknya papie,” aku mendengar abang bicara dengan Adhisty, dia memang selalu menjemur Dhisty sehabis bayi itu mandi pagai. Aku yang sedang sarapan bergeming atas semua yang dilakukannya.


Sehabis sarapan,abang langsung bergegas berangkat kerja. Aku yakin dia akan kembali kencan dengan selingkuhannya. Karena sejak dulu kami selalu berangkat diatas jam sembilan. Bukan jam tujuh seperti saat ini.  “Papie berangkat kerja dulu ya Mam,” pamitnya sambil mengecup puncak kepalaku seperti biasa. Dia juga menciumi pipi dan kening anaknya.


“Assalamu’alaykum Ma, Mama sehat ‘kan?” aku mendengar salam dari mbak Dini pada mama. Perempuan yang sedang hamil anak ketiga itu makin terlihat cantik saja. Dia baru pulang memberi kuliah dan datak ke rumah sesuai permintaanku.


“Tu kan kalau bayi perempuan pasti asyik ngedandaninnya. Dulu bayinya Amora aku juga seperti itu. Tapi pas Arya ya cuma kaos aja bajunya. Pas udah agak besar sedikit ada sih kemeja kecil. Tapi kan enggak bisa di dandani. Semoga yang ini nanti perempuan sehingga aku bisa kembali berkreasi,” mbak Dini bercerita melihat penampilan putri kecilku sambil mengelus perut buncitnya yang sudah berusia 6 bulan.


“Mbak lihat ini,” ucapku memperlihatkan foto yang aku terima kemarin. Cukup sudah percakapan awal kami tadi tentang mode anak perempuan.


“Kamu dapat dari mana dan kapan de?” tanya mbak Dini dengan wajah tak percaya.

__ADS_1


---------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja

__ADS_1


-----------------------


__ADS_2