
43 AKU GA MERASA PERLU UNTUK BERTAHAN ATAU MEMPERJUANGKAN KEBERADAANMU DISISIKU
“Mas mau kopi? Aku mau bikinkan Steve sekalian” Sari menawarkan kakaknya kopi
“Hus, mas mu sekarang sudah ada yang urus. Biar aja ga usah kamu bikinkan dia. Kamu bikinkan Steve aja sana” bu Rahma malah mengingatkan Sari tentang status Anto saat ini
“Lali aku ma” jawab Sari sambil keluar kamar. Dia bilang dia lupa status kakaknya yang sudah menikah
***
Sari membawakan Steve kopi dan aneka jajan pasar mungil yang sudah disiapkan oleh tuan rumah “Aku taruh sini ya” katanya memberitahu Steve kopi yang dia siapkan
“Makasih sayangku” jawab Steve. Sesungguhnya Steve seperti menunggu bom meledak. Dia justru sangat takut melihat Sari yang sejak tadi bersikap manis. Dia takut Sari akan bertindak ekstrim saat tidak ada orang nanti
“Udah bro, brenti dulu, sini ngopi bareng” ajak Anto yang melihat Steve masih saja sibuk beres-beres
“Lo kapan balik Jogja?” tanya Steve sehabis cuci tangan
“Lusa subuh” jawab Anto sambil mengambil cangkir kopi yang diberikan Dini padanya. “Makasih ya mom” bisiknya pada Dini
“Lo sendiri kapan balik Jogja?” tanya Anto
“Gue sampai Januari lah. Akhir tahun kan kantor libur, ngapain di Jogja di cuekin ama pengantin baru” jawab Steve
“Ih siapa coba yang bakal cueqin kamu. Kami malah ga anggap kamu ada koq” goda Dini diikuti ketawa Anto
“Nah kan, belum aja 24 jam punya suami, udah songong aja ama aku” balas Steve
“Mom, besok siang kita ke rumah mama ya, oma dan opa nya Steve mau main kerumah mama sekalian kita pamitan ama mbak Rina dan mas Imron. Mereka juga lusa pulang ke Malang, tapi flight sore” Anto memberitahu rencana untuk besok siang
“Aku mah manut suami aja” kata Dini, membuat Steve langsung terbatuk-batuk menggodanya
“Cie….cie…..cieee yang punya suami sekarang lebay banget sih!” goda Steve
__ADS_1
“Daddy………….” teriak Amora yang mencari daddy nya sehabis bangun tidur
“Ya sayang, daddy disini sama papa” jawab Anto lembut dan segera memeluk anaknya
“Lihat Steve, kalau ada daddynya aku ga dianggap ama anakmu” Dini mengadu pada Steve
“Hahahha” Anto dan Steve terbahak mendengar keluhan Dini
***
Semalam Steve pulang diantar sopir kantor Anto, sekalian mengantar Sari dan bu Rahma. Sehingga sampai tadi malam Sari dan Steve sama sekali belum bicara tentang kesalah pahaman mereka
Sari mempersiapkan makan siang untuk keluarganya dan nanti akan ditambah dengan oma dan opa Steve dengan santai karena dia ga merasa ada yang special. Hanya seperti kumpul biasa dengan mbak Rina dan mbak Dini saja. Dini membawakan kwetiau sea food buatannya, mbak Rina membuatkannya puding busa sedang mama membuat sayur lodeh dan tempe tahu bacem. Sedang dia mengeksekusi sambal dan menyiapkan lalapan saja.
Jam 11 Steve dan oma opanya datang. Oma membawakan ayam woku-woku. Acara hari ini sangat hangat, hanya pengenalan tak resmi saja. Oma sangat senang dengan kesederhanaan dan ketulusan tuan rumah. Dia merasa sangat bahagia bila memang Steve mendapatkan Sari sebagai pendamping hidupnya
Jam 3 sore oma dan opa pulang lebih dulu dari Steve. Sari dan Steve mengantar oma dan opa hingga ke mobilnya. Saat mobil mulai berjalan Steve sengaja menggenggam jemari Sari “Kita perlu bicara” katanya sambil memeluk bahu Sari memasuki halaman rumah Sari
“Mau bicara apa lagi? Kan sejak kemaren juga kita bicara kan?” tanya Sari ringan
“Otre” kata Sari ringan
Mereka duduk berhadapan, hening beberapa saat. Namun Sari ga sabar atas keheningan ini “Kamu mau bicara apa lagi?” tanya Sari karena sejak tadi Steve hanya sibuk memandangi saja
“Aku mau tanya kenapa kamu kemaren ga mau dengar panggilanku?” tanya Steve, dia bingung mau bahas masalah Cindy mulai dari mana
“Aku ga mau bahas apapun soal kamu dengan orang lain karena sejak kemaren aku ga terpengaruh lagi” jawab Sari santai
“Maksudmu?” Steve malah bingung mendengar jawaban Sari
“Aku ga perduli mau ada siapa dan berapa orang di sekitarmu” jelas Sari lagi
“Bisa kamu jabarkan secara jelas apa maksudmu dengan ga perduli?” desak Steve
__ADS_1
“Ya simpulkan aja sendiri, gampang koq” Sari ga mau memenuhi permintaan Steve
“Ok, gini, perempuan kemarin adalah Cindy, dia mantan calon tunanganku yang kebetulan mantan teman SMA Dini. Aku baru tau kemaren bahwa dia teman Dini. Jadi dia ga janjian denganku. Kami batal tunangan karena aku memergokinya selingkuh dan menjadi sugar baby suami rekan bisnisku. Karena perbuatannya dan sugar daddynya yang menggelapkan uang perusahaan rekan bisnisku dia dipenjara 2 tahun. Dia bekas model dan sekarang kariernya hancur akibat kasusnya itu. Saat ini dia sedang mencari mangsa untuk dapat penopang buat memenuhi gaya hidupnya yang sangat tinggi” jelas Steve
“Lalu apa urusannya denganku?” tanya Sari datar
“Kemarin kamu cemburu saat dia menyapaku sehabis kita berphoto kan?. Dan kamu marah saat melihat dia memelukku walau aku menolaknya” jelas Steve
“Maaf, saat itu spontan. Tapi sehabis itu aku sudah ga anggap apapun. Jadi kamu santai saja. Mau ada selusin perempuan disekitarmupun aku ga akan ambil perduli lagi”
Steve bisa meraba bahwa Sari memutuskan tidak perduli lagi itu maksudnya Sari tidak mau melanjutkan lagi hubungan mereka, bukan karena Sari berbesar hati memaafkannya
“Honey, jangan gitu dong. Aku serius ga anggap dia lagi, bahkan..” belum selesai Steve bicara Sari menyelanya dengan geram
“Don’t call me honey! Aku ga suka punya panggilan yang sama dengan mantanmu” tukasnya keras
“Hey jangan marah gitu dong?” Steve mencoba menenangkan Sari yang sudah tersulut emosinya. “Kamu tau, walau dulu aku serius akan tunangan dengan Cindy, oma dan opaku belum pernah datang main ke rumah Cindy, walau natal sekalipun. Tapi lihat tanggapan mereka terhadapmu, mereka sangat menyukaimu dan oma kemaren bilang akan membalas Cindy bila Cindy menyakitimu. Oma memberi peringatan padaku untuk menjauhi Cindy karena menurut pandangan oma Cindy akan berbuat licik agar bisa balikan denganku”
Sari kaget terhadap perlakuan oma untuknya dan juga sedikit tersanjung karena baru dengan dia oma dan opa Steve mau mendatangi pihak keluarga perempuan. Namun disisi lain Sari malas memperebutkan seorang laki-laki. Dia belum merasa untuk gigih mempertahankan posisi Steve dihatinya.
“Kita sudah komitmen akan belajar berjalan bersama, walau jarak memisahkan kita akan mencoba bersisian. Kenapa hanya karena perempuan seperti itu kamu ingin melepas genggamanku?” Steve bertanya tentang kesungguhan komitmen Sari
“Maaf, aku ga merasa perlu untuk bertahan atau memperjuangkan keberadaanmu disisiku. Jadi kamu bebas melangkah kemanapun yang kamu mau” jawab Sari
“Aku inginnya terus berada disisimu” tegas Steve menatap tajam mata Sari
Ditatap seperti itu Sari balas menatap tanpa takut, dia mencari keseriusan dimata lelaki tua didepannya. Om-om ganteng yang mintanya dipanggil abang. Akhirnya dia menarik ujung bibirnya, senyum kecil dia berikan pada lelaki teguh didepannya
Melihat senyum itu Steve sangat bahagia dan langsung mengacak-acak puncak kepala pujaan hatinya itu
wah de Sari baik ya, bisa langsung maafin abang Steve. tapi kalau ada yang nyerang lebih keras, dia mau bertahan ga ya disisi abang Steve?
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya