KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
152 HOT PAPIE AT TRADITIONAL MARKET


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih


buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap


habis baca bab. YANKTIE  ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang


selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada


notifikasinya.


 Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini


ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat


dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


***


“Papie, ada daddy,” Dhisty berlari


menghampiri Steve.


“Daddy di mana?” Steve bingung karena


tidak melihat kakak iparnya datang.


“Tepon Mamie,” jawab Dhisty dia langsung


minta didudukkan di kursi kerja Papie nya. Dhisty memang tadi minta diantar ke


show room.


“Owalaaaah, Papie kira Daddy mu datang,”


balas Steve. Ternyata Dhisty melihat Sari menerima telepon dari Anto. Saat


telepon berdering tentu yang terlihat adalah foto yang menelpon.


***


Hari ini Sari sengaja mengajak mbak Dwi ke rumah


sakit saat Dwipa akan imunisasi. Hal ini karena dia juga akan langsung periksa


kandungan agar tidak perlu dua kali berangkat ke rumah sakit dengan waktu


berbeda.


“Mbak, tunggu sini ya, Ibu sudah pesankan bakso dan


minumnya,” Sari meminta Dwi menunggu di cafe area no smoking. Dwipa sengaja di


tidurkan di strolller agar Dwi bisa menikmati bakso tanpa takut kuahnya menetes


ke badan Dwipa bila Dwipa ada dalam gendongan Dwi.


“Hebat, kandungannya sehat, berat dan panjang bayi


normal sesuai usia ya Bu, Pak,” dokter memperlihatkan perkembangan janin dan


menerangkan pada Steve dan Sari yang matanya tak pernah pindah dari layar


monitor. Wajar dokter mengatakan hebat, karena dia tahu Sari tetap memberi ASI


padahal dia sedang hamil.


“Hati-hati Pak, jaga selalu emosi Ibu agar tidak


membuat kualitas ASI menurun,” demikian pesan lanjutan dokter setelah dia


meminta perawat untuk ngeprint USG dan menuliskan resep untuk Sari konsumsi.


Sari dan Steve sangat bersyukur. Seperti biasa sikap


Steve pada Sari selalu bisa membuat para ibu yang antri periksa pasti iri.


Sambil menunggu Steve menebus vitamin, Sari langsung memesan bakso kuah tanpa


mie dan pecel di cafe tempat Dwi menunggunya. Tentu Dwi sudah selesai makan,


dan Dwipa masih tertidur dalam stollernya. “Mau nambah Mbak?” tanya Sari saat


bakso kuah miliknya datang. Dia sengaja belum memesankan Steve agar saat


suaminya datang bakso masih panas. Jadi akan pesan saat Steve diperkirakan


sudah menuju cafe.

__ADS_1


“Lho koq cepat Pie? Mamie belum memesankan Papie


bakso,” Sari malah kaget Steve sudah masuk ke cafe.


“Ya sudah Mie, Papie minta nasi saja. Pakai rendang,


telor dadar dan ikan balado serta sambal dan lalap ya. Enggak usah bakso,”


jawab Steve.


Sehabis mengambilkan makan untuk Steve, Sari


melanjutkan makan pecelnya. Dia sengaja tambah peyek udang. “Papie mau pesan


minum apa?” tanya Sari saat pramusaji mengantarkan juice mangga miliknya.


“Minta lemon tea esnya sedikit saja ya Mbak,” Steve


langsung mengatakan minuman yang dia inginkan.


“Baik Pak, akan segera saya antarkan.”


“Pie, boleh enggak nanti cari ulie? Aku pengen ulie


bakar seperti di Jakarta. Nanti aku minta mama mbuat serundeng manis pedasnya


sendiri,” rengek Sari saat Steve baru saja menyuap nasi ke mulutnya.


“Uli ‘kan di sini banyak Mam. Namanya jadah. Tinggal


kita beli kelapa setengah tua yang buat serundeng aja. Kalau cari uli ya pagi


lah di pasar. Siang begini mana ada. Kalau harus bikin ulie ya kasihan mama,


harus numbuk ketannya. Tapi bisa nyuruh simbok atau para embak buat gantian


numbuk. Jadi bisa bikin banyak dan kirim ke Dini,” Steve malah memberi saran


agar membuat sendiri uli bakar yang diinginkan Sari.


“Kalau gitu, nanti pulang mampir pasar ya Pie. Beli


kelapa dan ketan buat bikin uli serta serundengnya,” Sari tentu sangat senang


bila semua keinginannya diperhatikan Steve.


“Tapi jangan Mamie yang turun ya, becek dan licin


mau ambil resiko. Yang diminta Sari adalah mereka mampir pasar tradisional.


Semalam hingga subuh tadi hujan turun dengan deras. Dia tak ingin Sari


terpeleset.


***


Jadilah hot papie terjun ke pasar yang becek. Ini


bukan hal baru bagi Steve. Sejak kecil dia senang diajak belanja maminya. Lalu


ketika sang mami meninggal, Steve lah yang selalu menemani oma serta menjaganya


bila oma ke pasar. Oma dan maminya memang lebih suka belanja di pasar


tradisional bukan di super market. Mereka bilang ada seninya memilih dan


menawar. Dan seperti biasa, mata Steve tentu jelalatan melihat aneka sayur dan


buah segar walau sudah siang. Masih ada juga ikan dan daging serta ayam potong.


Dia beli yang dia lihat berikut bumbu-bumbu. Itu mengapa Sari tak perlu memesan


apa yang di butuhkan, karena dia tahu Steve selalu memperhatikan isi kulkas.


“Mborong apa aja Pie,” tanya Sari. Dia lihat


belanjaan yang Steve masukan di bagasi sangat banyak.


“Haha, tadi lihat kecipir muda serta sayuran


lainnya, jadi kepikiran bikin urap. Kan juga belanja kelapa muda parut. Jadi


kelapanya Papie banyakin aja. Buat urap, serundeng serta yang ditumbuk di uli


nya.” Steve langsung menyalakan mesin mobilnya dan memberikan uang parkir pada


petugas yang membaantunya agar bisa keluar dengan aman ke jalan raya.


“Papie juga beli patin dan kemangi. Lalu ada lele

__ADS_1


besar dan lalapan. Selain daging, sandung lamur serta ayam.” Steve ternyata


ingin banyak menu yang disediakan. Pepes patin dan lele penyet sudah pasti


karena dia membeli kemangi dan lalapan. Sandung lamur pasti dia akan minta


masak dengan kacang merah ( borneboun ) sebagai soup kacang merah. Entah ayam


dan daging dia akan minta dimasak apa.


“Wah asyiiik Pie, koq tahu Mamie kepengen pepes


Patin?” Sari sangat gembira, tanpa dia mengatakan, suaminya tahu dia kepengen


pepes patin.


“Iya, besok bikin pepesnya bikinkan 2 bungkus yang


enggak pedas buat Dhisty Mam,” pinta Steve.


“Siyaaaaaaap komandan!” balas Sari. Dia tahu, itu


artinya pepes patin harus dia yang mengolahnya, bukan simbok. Karena Steve suka


pepes patin yang pedas seperti biasa dia olah.


“Tadi enggak beli cumi dan udang Pie, sepertinya


stock sea food kita habis,” Sari menanyakan udang karena Steve tak menyebut dua


jenis hewan laut itu.


“Tadi cuminya sisa yang kecil-kecil, lalu udangnya


sudah enggak segar. Jadi Papie enggak beli. Tapi Papie beli ikan bawal tawar.


Bisa di goreng kecap seperti biasa,” balas Steve sambil menepikan mobilnya ke


pagar. Mereka sudah sampai di rumah.


 ------------------------


* Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa*


khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari


semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi


buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan


yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan


rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian


mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di


urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah


maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


----------------------------


Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel


bagus karya teman yanktie ya


Judulnya  TIBA-TIBA ISTRIKU BERUBAH karya KISSS

__ADS_1



__ADS_2