
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih
buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap
habis baca bab. YANKTIE ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang
selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada
notifikasinya.
Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini
ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat
dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
***
“Papie, ada daddy,” Dhisty berlari
menghampiri Steve.
“Daddy di mana?” Steve bingung karena
tidak melihat kakak iparnya datang.
“Tepon Mamie,” jawab Dhisty dia langsung
minta didudukkan di kursi kerja Papie nya. Dhisty memang tadi minta diantar ke
show room.
“Owalaaaah, Papie kira Daddy mu datang,”
balas Steve. Ternyata Dhisty melihat Sari menerima telepon dari Anto. Saat
telepon berdering tentu yang terlihat adalah foto yang menelpon.
***
Hari ini Sari sengaja mengajak mbak Dwi ke rumah
sakit saat Dwipa akan imunisasi. Hal ini karena dia juga akan langsung periksa
kandungan agar tidak perlu dua kali berangkat ke rumah sakit dengan waktu
berbeda.
“Mbak, tunggu sini ya, Ibu sudah pesankan bakso dan
minumnya,” Sari meminta Dwi menunggu di cafe area no smoking. Dwipa sengaja di
tidurkan di strolller agar Dwi bisa menikmati bakso tanpa takut kuahnya menetes
ke badan Dwipa bila Dwipa ada dalam gendongan Dwi.
“Hebat, kandungannya sehat, berat dan panjang bayi
normal sesuai usia ya Bu, Pak,” dokter memperlihatkan perkembangan janin dan
menerangkan pada Steve dan Sari yang matanya tak pernah pindah dari layar
monitor. Wajar dokter mengatakan hebat, karena dia tahu Sari tetap memberi ASI
padahal dia sedang hamil.
“Hati-hati Pak, jaga selalu emosi Ibu agar tidak
membuat kualitas ASI menurun,” demikian pesan lanjutan dokter setelah dia
meminta perawat untuk ngeprint USG dan menuliskan resep untuk Sari konsumsi.
Sari dan Steve sangat bersyukur. Seperti biasa sikap
Steve pada Sari selalu bisa membuat para ibu yang antri periksa pasti iri.
Sambil menunggu Steve menebus vitamin, Sari langsung memesan bakso kuah tanpa
mie dan pecel di cafe tempat Dwi menunggunya. Tentu Dwi sudah selesai makan,
dan Dwipa masih tertidur dalam stollernya. “Mau nambah Mbak?” tanya Sari saat
bakso kuah miliknya datang. Dia sengaja belum memesankan Steve agar saat
suaminya datang bakso masih panas. Jadi akan pesan saat Steve diperkirakan
sudah menuju cafe.
__ADS_1
“Lho koq cepat Pie? Mamie belum memesankan Papie
bakso,” Sari malah kaget Steve sudah masuk ke cafe.
“Ya sudah Mie, Papie minta nasi saja. Pakai rendang,
telor dadar dan ikan balado serta sambal dan lalap ya. Enggak usah bakso,”
jawab Steve.
Sehabis mengambilkan makan untuk Steve, Sari
melanjutkan makan pecelnya. Dia sengaja tambah peyek udang. “Papie mau pesan
minum apa?” tanya Sari saat pramusaji mengantarkan juice mangga miliknya.
“Minta lemon tea esnya sedikit saja ya Mbak,” Steve
langsung mengatakan minuman yang dia inginkan.
“Baik Pak, akan segera saya antarkan.”
“Pie, boleh enggak nanti cari ulie? Aku pengen ulie
bakar seperti di Jakarta. Nanti aku minta mama mbuat serundeng manis pedasnya
sendiri,” rengek Sari saat Steve baru saja menyuap nasi ke mulutnya.
“Uli ‘kan di sini banyak Mam. Namanya jadah. Tinggal
kita beli kelapa setengah tua yang buat serundeng aja. Kalau cari uli ya pagi
lah di pasar. Siang begini mana ada. Kalau harus bikin ulie ya kasihan mama,
harus numbuk ketannya. Tapi bisa nyuruh simbok atau para embak buat gantian
numbuk. Jadi bisa bikin banyak dan kirim ke Dini,” Steve malah memberi saran
agar membuat sendiri uli bakar yang diinginkan Sari.
“Kalau gitu, nanti pulang mampir pasar ya Pie. Beli
kelapa dan ketan buat bikin uli serta serundengnya,” Sari tentu sangat senang
bila semua keinginannya diperhatikan Steve.
“Tapi jangan Mamie yang turun ya, becek dan licin
mau ambil resiko. Yang diminta Sari adalah mereka mampir pasar tradisional.
Semalam hingga subuh tadi hujan turun dengan deras. Dia tak ingin Sari
terpeleset.
***
Jadilah hot papie terjun ke pasar yang becek. Ini
bukan hal baru bagi Steve. Sejak kecil dia senang diajak belanja maminya. Lalu
ketika sang mami meninggal, Steve lah yang selalu menemani oma serta menjaganya
bila oma ke pasar. Oma dan maminya memang lebih suka belanja di pasar
tradisional bukan di super market. Mereka bilang ada seninya memilih dan
menawar. Dan seperti biasa, mata Steve tentu jelalatan melihat aneka sayur dan
buah segar walau sudah siang. Masih ada juga ikan dan daging serta ayam potong.
Dia beli yang dia lihat berikut bumbu-bumbu. Itu mengapa Sari tak perlu memesan
apa yang di butuhkan, karena dia tahu Steve selalu memperhatikan isi kulkas.
“Mborong apa aja Pie,” tanya Sari. Dia lihat
belanjaan yang Steve masukan di bagasi sangat banyak.
“Haha, tadi lihat kecipir muda serta sayuran
lainnya, jadi kepikiran bikin urap. Kan juga belanja kelapa muda parut. Jadi
kelapanya Papie banyakin aja. Buat urap, serundeng serta yang ditumbuk di uli
nya.” Steve langsung menyalakan mesin mobilnya dan memberikan uang parkir pada
petugas yang membaantunya agar bisa keluar dengan aman ke jalan raya.
“Papie juga beli patin dan kemangi. Lalu ada lele
__ADS_1
besar dan lalapan. Selain daging, sandung lamur serta ayam.” Steve ternyata
ingin banyak menu yang disediakan. Pepes patin dan lele penyet sudah pasti
karena dia membeli kemangi dan lalapan. Sandung lamur pasti dia akan minta
masak dengan kacang merah ( borneboun ) sebagai soup kacang merah. Entah ayam
dan daging dia akan minta dimasak apa.
“Wah asyiiik Pie, koq tahu Mamie kepengen pepes
Patin?” Sari sangat gembira, tanpa dia mengatakan, suaminya tahu dia kepengen
pepes patin.
“Iya, besok bikin pepesnya bikinkan 2 bungkus yang
enggak pedas buat Dhisty Mam,” pinta Steve.
“Siyaaaaaaap komandan!” balas Sari. Dia tahu, itu
artinya pepes patin harus dia yang mengolahnya, bukan simbok. Karena Steve suka
pepes patin yang pedas seperti biasa dia olah.
“Tadi enggak beli cumi dan udang Pie, sepertinya
stock sea food kita habis,” Sari menanyakan udang karena Steve tak menyebut dua
jenis hewan laut itu.
“Tadi cuminya sisa yang kecil-kecil, lalu udangnya
sudah enggak segar. Jadi Papie enggak beli. Tapi Papie beli ikan bawal tawar.
Bisa di goreng kecap seperti biasa,” balas Steve sambil menepikan mobilnya ke
pagar. Mereka sudah sampai di rumah.
------------------------
* Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa*
khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari
semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi
buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan
yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan
rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian
mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di
urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah
maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
----------------------------
Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel
bagus karya teman yanktie ya
Judulnya TIBA-TIBA ISTRIKU BERUBAH karya KISSS
__ADS_1