
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih
buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap
habis baca bab. YANKTIE ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang
selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada
notifikasinya.
Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini
ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat
dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-----------------
“Tadi enggak beli cumi dan udang Pie,
sepertinya stock sea food kita habis,” Sari menanyakan udang karena Steve tak
menyebut dua jenis hewan laut itu.
“Tadi cuminya sisa yang kecil-kecil, lalu
udangnya sudah enggak segar. Jadi Papie enggak beli. Tapi Papie beli ikan bawal
tawar. Bisa di goreng kecap seperti biasa,” balas Steve sambil menepikan
mobilnya ke pagar. Mereka sudah sampai di rumah.
***
“Bu, ini pesanan yang dari bu Sanusi Tangerang, ada
beberapa yang belum full,” Laksmi seorang pegawai bagian gudang memberi laporan
pada Sari mengenai order seorang reseller dari daerah Tangerang.
“Kamu sudah kasih note, apa yang tidak ada dan apa
yang masih ready?” tanya Sari, agar dia bisa segera menjawab email dari
resellernya itu.
“Ini Bu, nomor 7 kurang 2 size M yang warna biru,
size M tersisa orange, putih dan ungu. Nomor 12 kurang size L warna Biru.
Adanya L hijau tosca. Yang lain sudah lengkap.” Jawab Laksmi. Dia tahu
pemimpinnya ini lembut, tapi kalau soal pekerjaan dia tegas dan harus bisa
mengerti kemauannya yang perfecsionis.
“Oke sebentar, saya hubungi bu Sanusi agar kamu
tidak bolak balik dan bisa kita kirim sore ini, maksimal besok pagi,” Sari
langsung menghubungi konsumennya dengan nomor butik.Dia mencatat jenis dan size pengganti untuk barang yang
out off stock. Syukurnya, sang konsumen malah nambah pesananan.
“Ini data pesanan
pengganti dan tambahan pesanan bu Sanusi, kamu siapkan dan langsung kirim ya.
Invoice dan nomor resi kamu langsung beritahu beliau ya,” Sari langsung
memberikan catatan untuk Laksmi. Dia segera mengamati data pesanan lainnya.
“Bu, ini data
barang yang baru datang,” kali ini Lastri yang lapor pada Sari. Saat itu Sari
sedang sibuk mencermati pesanan yang masuk.
“Kamu sudah cek
belum, size, warna dan jumlah sesuai dengan data pesanan kita?” tanya Sari.
“Sudah Bu, semua
sesuai,” jawab Lastri lugas.
“Kalau gitu
langsung display beberapa warna biar bisa segera kita promo.” Perintah Sari
pada Lastri. Lalu dia kembali fokus pada data di laptopnya.
“Bu, mas Dwipa
sudah bangun,” mbak Dwi memberitahu Sari kalau bigboss butuh ASI nya. Kalau
bigboss yang manggil dia tidak bisa melawan. Sari segera mencatat, halaman
berapa dan atas nama siapa data yang baru selesai dia periksa. Baru dia keluar
__ADS_1
dan menuju ke paviliunnya.
***
Steve mencari Sari
ke dalam ruang kerjanya. Dia harus selalu memperhatikan apakah istrinya terlalu
lelah bekerja atau tidak. Dia wajib melakukan hal itu karena kondisi Sari
sangat istimewa. Hamil dan sedang memberi ASI. ‘Ternyata kamu engga ada di sini Babe,’ Steve membatin, lalu
mencari istrinya di ruang display butik. Dia memang sengaja tak mau mencari
istrinya dengan menghubunginya. Dia akan memperhatikan dari jauh saja. Steve
tak ingin Sari merasa terkekang.
“Wah, akhirnya
Papie berhasil ketemu. Daritadi Papie nyari di ruang kerja dan di ruang
display,” Steve akhirnya menemukan istrinya sedang memberi ASI di kamar Dwipa
di paviliun.
“Sini Pie, ikut
baring,” ajak Sari. Dia menyusui sambil berbaring miring. Agar bila Dwipa akan
langsung tidur kembali dia tak perlu menggendongnya.
“Dhisty di mana
Mam?” tanya Steve. Dia tak melihat putrinya di ruang display.
“Sejak ada paviliun
ini dia tidak terlalu tertarik ke ruang display Pie. Dia lebih senang main di
ruang main atau di halaman belakang saja,” jawab Sari sambil pelan-pelan
menarik pusat mahameru yang berada di mulut Dwipa.
“Wah bagus dong,
malah jadi lebih seperti di rumah ya?” Steve senang bila anaknya tumbuh di
lingkungan seperti rumah yang seharusnyaa, bukan di ruang terbuka dan ramai
seperti show room atau ruang display butik.
“Sudah selesai?
Karena sejak menyusui Dhisty dia tau, ibu menyusui cepat lapar.
“Nasi sedikit pakai
pepes patin yang kita bawa Pie, aku mau pepesnya dua nasinya sedikit aja,” pinta
Sari. Steve langsung mengambilkan apa yang diinginkan istrinya. Mereka duduk di
meja makan kecil di paviliun dan mulai makan menjelang sore. Steve hanya
menemani saja tidak ikut makan. Dia ngemil peyek rebon yang tersedia di toples
meja makan itu. Steve juga membuat secangir kopi untuk dirinya.
“Mam, besok kita
jalan ke kebun buah Mangunan yok?” Steve mencoba mengajak Sari refreshing.
“Aku malas Pie,
kalau mau refreshing, aku milih tiduran di kasur depan televisi aja,” jawab
Sari malas. Di kehamilan kali ini dia tidak suka kelayaban. Dia lebih memilih
tiduran saja.
“Ok, tapi kalau
Mamie pengen kemana aja, Mamie harus bilang ya. Jangan diem aja,” Steve memberi
pengertian kalau dia tak peka, dia harus mendengar apa yang istrinya inginkan.
Karena kalau salah sasaran, tentu akan lebih parah ngamuknya Sari. Jadi kalau
hanya bilang pengen jalan-jalan tanpa memberitahu tujuan tentu akan membuat
mereka bersitegang.
“I will Pie,” jawab
Sari sambil menyudahi makan sorenya.
“Hallo anak Papie,
dari mana sayang?” Steve menyapa Dhisty yang baru masuk dari halaman belakang.
Saat ini putrinya memang sedang senang berlarian kesana kemari.
__ADS_1
“Ain oya,” jawab
Dhisty sambil berlalu menghampiri maminya.
“Yang tanya ‘kan
Papie sayang, kenapa malah nyamperin Mamie?” tanya Sari sambil memeluk
Putrinya. Dia sengaja merendahkan badannya saat Dhisty memeluk kakinya. “Habis
lari-larian main bola ya?”
“Iyaaahh, ain oya,”
jawab Dhisty sambil mengangguk-angguk kepalanya menggemaskan.
“Aduuuuuh, anak
Papie bau aceeem,” Steve mengangkat tinggi Adhisty dan mencium badan putrinya
yang terkekeh kegelian.
“Deyi Apieeee ...
deyiiiiiiiiii,” protes Dhisty sambil terkekeh.
Steve sangat
bahagia, dia bukan pengusaha besar, hanya seorang pemilik usaha jual beli mobil
bekas. Tapi itu sudah membuatnya sangat bahagia karena mempunyai waktu kerja
lebih fleksibel daripada saat menjadi pegawai di suatu perusahaan besar. Dia
mempunyai waktu lebih leluasa bermain dan berkumpul dengan anak istrinya
daripada bila dia menjadi pegawai di perusahaan bu Gita. Semua memang wajib dia
syukuri.
***
Sari kembali sibuk
bekerja, dia kembali membuka laptopnya lalu mengamati data yang tertera di
layar. Hari ini banyak permintaan barang dari promo yang dia lakukan minggu
lalu. Dia juga harus mengantisipasi keterbatasanan stock bila permintaan
meningkat, maka dia segera membuat data barang terkini.
----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa
khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari
semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi
buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan
yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan
rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian
mulai saat ini sampai cerita ini dbitulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di
urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah
maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
----------------------------
Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel
bagus karya teman yanktie ya
Judulnya NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN karya HARYANI
__ADS_1