KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
153 MENOLAK REFRESHING


__ADS_3

Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih


buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap


habis baca bab. YANKTIE  ( eyang putri ) seriusan tahu lho siapa aja yang


selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada


notifikasinya.


Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini


ya.


Tapi jangan hanya baca …  kasih yanktie semangat


dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.


-----------------


“Tadi enggak beli cumi dan udang Pie,


sepertinya stock sea food kita habis,” Sari menanyakan udang karena Steve tak


menyebut dua jenis hewan laut itu.


“Tadi cuminya sisa yang kecil-kecil, lalu


udangnya sudah enggak segar. Jadi Papie enggak beli. Tapi Papie beli ikan bawal


tawar. Bisa di goreng kecap seperti biasa,” balas Steve sambil menepikan


mobilnya ke pagar. Mereka sudah sampai di rumah.


***


“Bu, ini pesanan yang dari bu Sanusi Tangerang, ada


beberapa yang belum full,” Laksmi seorang pegawai bagian gudang memberi laporan


pada Sari mengenai order seorang reseller dari daerah Tangerang.


“Kamu sudah kasih note, apa yang tidak ada dan apa


yang masih ready?” tanya Sari, agar dia bisa segera menjawab email dari


resellernya itu.


“Ini Bu, nomor 7 kurang 2 size M yang warna biru,


size M tersisa orange, putih dan ungu. Nomor 12 kurang size L warna Biru.


Adanya L hijau tosca. Yang lain sudah lengkap.” Jawab Laksmi. Dia tahu


pemimpinnya ini lembut, tapi kalau soal pekerjaan dia tegas dan harus bisa


mengerti kemauannya yang perfecsionis.


“Oke sebentar, saya hubungi bu Sanusi agar kamu


tidak bolak balik dan bisa kita kirim sore ini, maksimal besok pagi,” Sari


langsung menghubungi konsumennya dengan nomor butik.Dia mencatat jenis dan size pengganti untuk barang yang


out off stock. Syukurnya, sang konsumen malah nambah pesananan.


“Ini data pesanan


pengganti dan tambahan pesanan bu Sanusi, kamu siapkan dan langsung kirim ya.


Invoice dan nomor resi kamu langsung beritahu beliau ya,” Sari langsung


memberikan catatan untuk Laksmi. Dia segera mengamati data pesanan lainnya.


“Bu, ini data


barang yang baru datang,” kali ini Lastri yang lapor pada Sari. Saat itu Sari


sedang sibuk mencermati pesanan yang masuk.


“Kamu sudah cek


belum, size, warna dan jumlah sesuai dengan data pesanan kita?” tanya Sari.


“Sudah Bu, semua


sesuai,” jawab Lastri lugas.


“Kalau gitu


langsung display beberapa warna biar bisa segera kita promo.” Perintah Sari


pada Lastri. Lalu dia kembali fokus pada data di laptopnya.


“Bu, mas Dwipa


sudah bangun,” mbak Dwi memberitahu Sari kalau bigboss butuh ASI nya. Kalau


bigboss yang manggil dia tidak bisa melawan. Sari segera mencatat, halaman


berapa dan atas nama siapa data yang baru selesai dia periksa. Baru dia keluar

__ADS_1


dan menuju ke paviliunnya.


***


Steve mencari Sari


ke dalam ruang kerjanya. Dia harus selalu memperhatikan apakah istrinya terlalu


lelah bekerja atau tidak. Dia wajib melakukan hal itu karena kondisi Sari


sangat istimewa. Hamil dan sedang memberi ASI. ‘Ternyata kamu engga ada di sini Babe,’ Steve membatin, lalu


mencari istrinya di ruang display butik. Dia memang sengaja tak mau mencari


istrinya dengan menghubunginya. Dia akan memperhatikan dari jauh saja. Steve


tak ingin Sari merasa terkekang.


“Wah, akhirnya


Papie berhasil ketemu. Daritadi Papie nyari di ruang kerja dan di ruang


display,” Steve akhirnya menemukan istrinya sedang memberi ASI di kamar Dwipa


di paviliun.


“Sini Pie, ikut


baring,” ajak Sari. Dia menyusui sambil berbaring miring. Agar bila Dwipa akan


langsung tidur kembali dia tak perlu menggendongnya.


“Dhisty di mana


Mam?” tanya Steve. Dia tak melihat putrinya di ruang display.


“Sejak ada paviliun


ini dia tidak terlalu tertarik ke ruang display Pie. Dia lebih senang main di


ruang main atau di halaman belakang saja,” jawab Sari sambil pelan-pelan


menarik pusat mahameru yang berada di mulut Dwipa.


“Wah bagus dong,


malah jadi lebih seperti di rumah ya?” Steve senang bila anaknya tumbuh di


lingkungan seperti rumah yang seharusnyaa, bukan di ruang terbuka dan ramai


seperti show room atau ruang display butik.


“Sudah selesai?


Karena sejak menyusui Dhisty dia tau, ibu menyusui cepat lapar.


“Nasi sedikit pakai


pepes patin yang kita bawa Pie, aku mau pepesnya dua nasinya sedikit aja,” pinta


Sari. Steve langsung mengambilkan apa yang diinginkan istrinya. Mereka duduk di


meja makan kecil di paviliun dan mulai makan menjelang sore. Steve hanya


menemani saja tidak ikut makan. Dia ngemil peyek rebon yang tersedia di toples


meja makan itu. Steve juga membuat secangir kopi untuk dirinya.


“Mam, besok kita


jalan ke kebun buah Mangunan yok?” Steve mencoba mengajak Sari refreshing.


“Aku malas Pie,


kalau mau refreshing, aku milih tiduran di kasur depan televisi aja,” jawab


Sari malas. Di kehamilan kali ini dia tidak suka kelayaban. Dia lebih memilih


tiduran saja.


“Ok, tapi kalau


Mamie pengen kemana aja, Mamie harus bilang ya. Jangan diem aja,” Steve memberi


pengertian kalau dia tak peka, dia harus mendengar apa yang istrinya inginkan.


Karena kalau salah sasaran, tentu akan lebih parah ngamuknya Sari. Jadi kalau


hanya bilang pengen jalan-jalan tanpa memberitahu tujuan tentu akan membuat


mereka bersitegang.


“I will Pie,” jawab


Sari sambil menyudahi makan sorenya.


“Hallo anak Papie,


dari mana sayang?” Steve menyapa Dhisty yang baru masuk dari halaman belakang.


Saat ini putrinya memang sedang senang berlarian kesana kemari.

__ADS_1


“Ain oya,” jawab


Dhisty sambil berlalu menghampiri maminya.


“Yang tanya ‘kan


Papie sayang, kenapa malah nyamperin Mamie?” tanya Sari sambil memeluk


Putrinya. Dia sengaja merendahkan badannya saat Dhisty memeluk kakinya. “Habis


lari-larian main bola ya?”


“Iyaaahh, ain oya,”


jawab Dhisty sambil mengangguk-angguk kepalanya menggemaskan.


“Aduuuuuh, anak


Papie bau aceeem,” Steve mengangkat tinggi Adhisty dan mencium badan putrinya


yang terkekeh kegelian.


“Deyi Apieeee ...


deyiiiiiiiiii,” protes Dhisty sambil terkekeh.


Steve sangat


bahagia, dia bukan pengusaha besar, hanya seorang pemilik usaha jual beli mobil


bekas. Tapi itu sudah membuatnya sangat bahagia karena mempunyai waktu kerja


lebih fleksibel daripada saat menjadi pegawai di suatu perusahaan besar. Dia


mempunyai waktu lebih leluasa bermain dan berkumpul dengan anak istrinya


daripada bila dia menjadi pegawai di perusahaan bu Gita. Semua memang wajib dia


syukuri.


***


Sari kembali sibuk


bekerja, dia kembali membuka laptopnya lalu mengamati data yang tertera di


layar. Hari ini banyak permintaan barang dari promo yang dia lakukan minggu


lalu. Dia juga harus mengantisipasi keterbatasanan stock bila permintaan


meningkat, maka dia segera membuat data barang terkini.


----------------------


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa


khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari


semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi


buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan


yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan


rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian


mulai saat ini sampai cerita ini dbitulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di


urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah


maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


----------------------------


Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel


bagus karya teman yanktie ya


Judulnya  NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN  karya  HARYANI

__ADS_1



__ADS_2