
Mereka baru saja keluar dari toko buku Gramedia di jalan Matraman sehabis membeli banyak buku, tidak hanya untuk Amora, namun juga untuk Sari dan Dini tentunya. “Mau makan di mana?” tanya Sari.
“Kamu maunya?” Steve malah balik tanya.
“Ke rumah makan Padang aja ya?” pinta Sari.
“Ok,” balas Steve cepat.
Sehabis makan Sari membeli beberapa lauk dengan jumlah berbeda untuk dibawa pulang. “Abang masih punya kegiatan lain ga?” tanya Sari.
“Aku kesini cuma mau nemuin Cindy dan kamu. Jadi ga ada janji lainnya” jelas Steve jujur.
“Kalau gitu sekarang ke rumah oma lagi boleh?” pinta Sari.
“Kenapa pengen kesana lagi?” Steve ingin tau alasan Sari.
“Aku ga mau monopoli kamu. Kamu harus punya waktu buat oma opa. Masa ke Jakarta ketemu opa dan oma pas malam sebelum tidur doang” jelas Sari.
“Kamu tuh ya, bisa ngertiin keinginan oma” puji Steve.
“Kamu tu ga tegas! Harusnya dari tadi kamu minta pulang karena ingin nemani opa dan oma, bukan iyain aja ajakanku” omel Sari.
“Tapi kan aku ke Jakarta memang khsusus buatmu yank,” kilah Steve.
“Ya tapi tetap harus ada waktu buat oma opa dong” cerocos Sari.
Kamu emang beda yank, kamu selalu ada attensi untuk orang lain, batin Steve, kembali Steve membandingkan semua mantannya yang inginnya selalu mendominasi dirinya, tanpa perduli orang lain, bahkan untuk opa omanya sekalipun.
***
Oma sangat senang mendengar alasan Sari kembali datang kerumahnya. Steve baru saja membisiki ketika Sari sedang memindahkan lauk yang di belinya tadi untuk makan malam mereka nanti.
Sore nan sejuk, mereka bercengkerama di halaman belakang yang dipenuhi aneka anggrek koleksi opa.
Sari ga terlalu suka memelihara tanaman, ga seperti mamanya dan kakak iparnya, namun dia sangat bisa menikmati keindahan bunga yang bermekaran. Perawatan opa memang sangat prima.
Sore tadi Sari juga membungkus titipannya dalam kardus sehingga Steve tidak repot membawanya besok. Dia juga membantu Steve packing pakaiannya saat HP Steve berbunyi.
“Sore pak,” sapa Steve.
__ADS_1
“.………..”
“Saya ga akan bisa datang, semua saya wakilkan pada bapak saja,” sahut Steve kembali.
“.………..”
“Siap pak, saya tunggu laporan proses selanjutnya” Steve pun menutup sambungan telpon itu.
Sari ga ingin bertanya siapa yang menghubungi Steve dan urusan apa, dia hanya mendengarkan saja sambil menutup ransel yang Steve bawa.
“Barusan yang telepon pengacara yang urus pengaduan abang tentang kasus Cindy, dia bilang surat pemanggilan Cindy sudah di kirim oleh polisi ke alamat Cindy dan dia sudah mengirim salinannya ke email papinya Cindy, jadi dia minta abang bersiap bila papinya Cindy menghubungi abang” jelas Steve.
“Kenapa papinya Cindy diberi salinannya?” tanya Sari.
“Biar dia tau kelakuan anaknya yang baru keluar penjara tapi bikin ulah lagi” begitu alasan Steve.
“Kalau gitu abang wajib kasih tau opa oma, agar mereka ga kaget bila papi maminya Cindy tanya ke mereka atau bahkan datang kesini. Kasihan opa dan oma bila tiba-tiba dapat serangan padahal mereka ga tau apapun,” saran Sari.
Iya juga ya, pikir Steve. Ga kebayang betapa kagetnya opa dan oma kalau dapat telepon dari orang tua Cindy apalagi bila mereka langsung datang tanpa tau info awal dari dia sementara dia ada di Jogja.
Namun saat Sari akan keluar kamar Steve menahannya\, die memeluk Sari dengan lembut dan mencium lembut bibirnya\, “Makasih attensimu ya sayankku.”***
“Opa, torang perlu bicara” Steve membuka percakapan serius setelah mendapat saran Sari tadi. Di beberapa kata mereka pakai bahasa Menado, jadi bukan salah tulis ya. Sejauh artinya ga terlalu jauh dengan bahasa indonesia, yanktie ga perlu translate ya.
“Ini soal Cindy,” papar Steve.
“Ada biking apa lagi?” tanya opa.
“Dia fitnah Steve, dan kirim photo-photo editan ke Sari dan minta Sari serahin Steve ke dia. Kemarin Jum’at Steve ada biking pengaduan ke polisi secara resmi. Dan pengacara Steve kirim email ke papanya Cindy. Steve takut dorang ada hubungi opa atau oma, jadi Steve kase tau lebe dulu,” cerita Steve.
“Kalau mereka tanya soal itu, opa dan oma bilang saja tidak tau dan minta mereka langsung hubungi Steve,” pinta Steve lebih lanjut.
“Itu anak ya, ga ada kapoknya di penjara, masih aja biking persoalan baru. Ok opa mangarti, nanti kalau dorang telepon biar opa bilang hubungi kamu aja,” jawab opa.
Sari di rumah oma dan opa Steve hingga selesai makan malam, tadi dia memberikan lauk yang di belinya di rumah makan Padang untuk makan malam di rumah oma dan opa agar oma ga bingung karena kedatangannya.
“Aku pulang sendiri ya, kamu nanti cape, besok kan pulang subuh dari sini” pamit Sari sehabis membawa ke belakang piring kotor bekas mereka makan.
“Ya engga lah. Abang antar kamu pulang sekalian pamit ke mama. Abang ambil anak mama di rumah masa ngebiarin dia pulang sendiri?” bantah Steve.
__ADS_1
“Ya wis, kita berangkat sekarang biar kamu ga kemalaman dan juga masih bisa ketemu mama sebelum mama tidur” jawab Sari sambil bersiap pulang.
***
Sari melihat tangan hangat yang sejak mereka masuk mobil tak lepas menggenggam tangannya. Seakan-akan pemilik tangan itu enggan berpisah dengan dirinya. Sesungguhnya dia masih tetap ragu walau kenyataan sudah jelas setelah dia mendengar rekaman yang di kirim oleh pengacara Steve. Beberapa kali juga pemilik tangan itu mencium jemarinya dengan lembut.
Aaahhh Sari jadi galau sendiri. Mau dia mantabkan hati berjalan dengan Steve tapi koq masih ada sebersit ragu. Dia takut ga kuat menghadapi banyak badai yang menghadang perjalanan mereka.
Steve sedang menunggu taksi yang lewat, namun beberapa kali taksi kosong dia ga stop. Masih berat rasanya meninggalkan rumah kekasih hatinya yang sampai saat ini masih dia lihat ragu untuk memastikan diri menerimanya.
“Abang pamit ya, mohon jangan blokir lagi telpon abang. Kalau itu terjadi abang akan telpon ke HP mama atau ke nomor rumah” ancam Steve pada Sari.
“Iyaaaaa,” janji Sari, “Sekarang cepat pulang dan kabari begitu sampai Jogja,” pinta Sari
Steve memeluk Sari erat dan mencium lembut keningnya sebelum memasuki taksi yang sudah di stop Sari.
***
Endah sejak tadi gelisah menanti Bram yang hendak menjemputnya,tidak biasanya Bram terlambat, apalagi tanpa khabar. Dia mencoba menghubungi telponnya juga mengiriminya sms namun ga ada respon.
“Koq belum jadi berangkat, kamu kuliah pagi kan?” tanya ibunya.
“Iya, pagi ini Bram janji antar, sekalian dia berangkat kerja,” jawab Endah malas-malasan.
Tiba-tiba HP nya berdering dari nomor yang tidak dikenal “Selamat pagi, apa anda mengenal saudara Bram,” tanya suara di ujung sana.
“Kami dari Rumah Sakit Fatmawati hendak mengabarkan bahawa saudara Bram kecelakaan, saat ini berada di IGD, dan nomor terakhir yang dia hubungi dan menghubunginya adalah nomor anda.”
Endah lemas mendengar khabar tersebut, dia langsung menghubungi Sari dan Teddy. Dia minta Teddy juga langsung memberitahu keluarga Bram.
Sari yang mendapat telepon dari Endah bergegas mandi dan langsung menuju rumah sakit sehabis sarapan. Di rumah sakit dia menemui Endah yang sudah di temani Teddy dan juga teman-teman mereka lainnya. Didalam ruangan sudah ada keluarga Bram.
--------------
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini.
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa, udah mau habis koq.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
__ADS_1
Sambil nunggu bab berikut dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh. rugi lho ga baca cerita keren ini