
Yanktie ucapin makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini. Special lope-lope buat yang selalu kasih like tiap habis baca bab.
Akhirnya ada 2 garis merah yang mereka lihat, bahagia tentu saja, karena penantian mereka sudah memakan waktu 14 bulan. Tapi lancar ga sih kehamilan Sari?
Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa.
Jangan lupa like dan vote serta komennya dan bintang 5 nya
------------
“Hari ini saya akan pulang cepat ya, saya akan makan siang dengan istri saya lalu ga kembali ke kantor sebab ingin kontrol ke dokter” jelas Steve pada sekretarisnya saat dia memberi paraf pada dokumen yang dia periksa.
“Njih, baik pak” jawab bawahannya tersebut. Biasanya Steve keluar makan memang akan kembali lagi ke kantor, jadi bila ada tamu mencari Steve, dia akan menjawabnya dengan benar. Namun bila sudah di beritahu bahwa bossnya tidak akan kembali maka tamu yang datang akan di persilahkan mengatur waktu saja agar di kesempatan berikut tidak sia-sia datang tanpa bisa bertemu dengan bossnya.
Memang sore nanti Steve dan Sari sudah sepakat akan memeriksakan kehamilan agar tahu kondisi bayi serta tahu sudah berapa usia kehamilannya Sari. Bila sudah dapat penjelasan resmi dari dokter baru mereka akan mengabari mama, opa, oma serta mbak Rina dan mbak Dini
***
Steve Dan Sari baru kali ini masuk ruang periksa dokter Obgyn, mereka gugup namun juga excited. Apalagi saat dokter menunjukan lingkaran kecil di layar monitor yang membenarkan ada janin di rahim Sari.
“Jelas ya Bu, Pak, alat test yang Bapak dan Ibu gunakan menunjukkan hasil akurat, ada baby di rahim Ibu dengan usia kehamilan 3 minggu,” jelas dokter cantik itu. Steve memang tidak membolehkan Sari di periksa oleh dokter kandungan laki-laki. Kalau dokter untuk penyakit lain dia tidak masalah.
Untung mbak Dini biasa periksa dengan dokter ini, dokter yang tetap cantik di usia sepantar dengan mas Imron.
“Ibu harus hati-hati karena usia seperti sekarang masih rawan, agar baby kuat maka asupan gizi harus diperhatikan, jangan asal kenyang saja,” lanjut bu dokter.
“Ada keluhan?” tanyanya lagi.
Sari mengatakan dia hanya malas bergerak, malas makan tanpa keluhan yang berarti, dan Steve yang aktiv bertanya agar dia bisa menemani masa-masa kehamilan istrinya dengan baik.
Steve bertanya apa yang harus di hindari baik makanan maupun aktivitas bagi ibu hamil, apa yang harus dikurangi, apa yang harus ditambahkan, apa yang harus dan apa yang harus.. hehe semua pertanyaaan seputar kehamilan Steve tanyakan tanpa malu. Dia juga bertanya mengapa Sari tidak mual serta dia bertanya mengapa dirinya menjadi cepat lapar padahal dirinya tidak hamil.
__ADS_1
Dan hebatnya dokter cantik itu menjawab dengan menjabarkan semua dengan rinci agar calon orang tua baru di depannya benar-benar mengerti dan puas akan jawaban yang dia berikan.
“Karena tidak ada keluhan maka saya hanya memberikan vitamin bagi ibu dan calon baby ya, jangan malas minum karena kesehatan bayi tergantung dari kerajinan ibu minum vitamin ini,” demikian kata-kata penutup bu dokter sambil menuliskan resep untuk Sari.
***
Di apotik pasangan itu kadang di lirik oleh orang yang penasaran melihat sikap lebay Steve yang bolak balik menciumi pipi istri nya sambil sesekali mengusap perut rata Sari. Steve tidak peduli, dia sedang bahagia setelah dokter membenarkan kalau di rahim istrinya ada buah cinta mereka.
“Pie, itu banyak buah srikaya, belikan dong sedikit aja,” pinta Sari saat mereka keluar dari parkiran rumah sakit sehabis kontrol pertama.“Ok, mamie diam sini papie nyebrang beli ya, itu jambu dersononya mau juga ga?” tanya Steve yang sedang meminggirkan mobilnya.
“Jambunya beli Pie, sekalian buat anak-anakmu. Kan kita mau ke rumah mbak Dini kasih tau mama,” jawab Sari senang karena Steve sangat memperhatikan dan menuruti semua keinginannya.
Mereka sampai di Bumijo masih sangat sore, Anto belum pulang kerja dan Dini sedanag memperhatikan Arya yang sedang menyuap sendiri juice alpokat.
“Assalamu’alaykum mbak,” sapa Sari yang turun dari mobil lebih dulu dari Steve. Suaminya sedang memarkir mobil.
“Waa’alaykum salam de, tumben sore-sore udah duaan, apa ga kerja?” tanya Dini.
Bu Rahma sedang melihat pertumbuhan bibit anggrek yang baru dia keluarkan dari botol, samar-samar dia mendengar Arya berteriak, dia langsung mencuci tangannya dan ke dapur. “Mbak tadi ibu (maksudnya Dini) beli risol, sepertinya ada Sari dan suaminya. Kamu bikinkan teh tapi juga tempati juice alpokat yang saya bikin ya, di gelas kecil aja juice nya, takut pada masih kenyang,” perintahnya pada ART di rumah menantunya.
“Njih ndoro,” balas mbak Siti sambil segera menyiapkan apa yang di perintah ibu sepuh padanya.
Anto melihat ada mobil Steve di halaman rumahnya, dia tidak menyangka adik iparnya sudah kembali datang, padahal semalam baru saja berkunjung.
“Daddyyyyyyy,” pekik Amora ketika mendengar mobil daddy nya memasuki halaman rumah.
“Assalamu’alaykum dulu sayang,” Dini mengingatkan putrinya.
“Assalamu’alaykum daddy,” Arya lebih dulu lari menghampiri pintu mobil Anto yang baru saja di tutup.
“Waa’alaykum salam gantengnya daddy, sudah mandi ya?” sang ayah langsung mengangkat jagoannya tinggi-tinggi.
__ADS_1
“Assalamu’alaykum daddy,” Amora pun tak mau kalah minta di gendong.
“Waa’alaykum salam princess,” balas Anto dan mengangkat putrinya di tangan kanannya, sedang tas kerjanya sudah di ambil Dini saat Anto merunduk ingin menggendong Arya.
“Assalamu’alaykum mom, sapa Anto sambil mengecup kening istrinya, walau ribet dengan dua anak di gendongannya, dia tetap berupaya adil bagi istri dan anak-anaknya.
“Waa’alaykum salam dad,” balas Dini.
“Wooow, sini satu papa gendong,” Steve mengajak keponakannya untuk di gendongnya, karena dia melihat kakak iparnya baru pulang dan tentunya lelah.
“Kalau ada yang mau hebat, Steve,” bu Rahma menimpali ajakan Steve pada kedua cucunya. Dia tahu karena setiap hari hal itu rutin di lihatnya dan tidak ada satupun dari cucunya yang mau mengalah.
“Mama Yai, kita punya jambu Dersono dan Srikaya kan? Kita maem sendiri aja ya?” pancing Steve.
“Aku mau!” pekik Arya yang paling suka buah walau tidak suka sayuran.
“Mama Yai kasih kalau mas Arya mau di gendong papa Steve,” jawab Sari yang baru saja selesai mencuci jambu dan srikaya yang tadi di beli di pinggir jalan.
Arya pun akhirnya mau berpindah, karena dia tidak ingin kehabisan jambu dersono. Tentu sajaa eyang dan mommynya tertawa melihat kelakuannya.
“Aku mau nambaj juice, mamie mau juga ga?” tanya Steve saat juice alpokat di gelasnya sudah habis.
“Cie … cie, ada yang udah punya panggilan speciaal nih,” goda Dini pada pasangan adik iparnya itu.
“Eh iya, Ma, Mas, Mbak aku mau minta doa, alhamdulillah sudah ada baby di rahimku,” Sari baru ingat tujuannya ke rumah kakaknya adalah mengabarkan kehamilannya.
“Alhamdulillaaaaah,” kompak jawaban yang ada di sana, penantian Sari selama 14 bulan menikah akhirnya bisa mendapat khabar baik.
----------------------
Sambil nunggu bab selanjutnya dari kisah ini, bisa baca cerita teman yanktie ini, ga bakal kecewa deh
__ADS_1