
“Wah, anak Mamie sudah bangun/” sapa Sari melihat Dhisty berjalan terhuyung-huyung menuju kearahnya. Gadis
kecil itu masih mengantuk. Steve gemas melihat gadiskecilnya, dia meletakan mangkoknya dan menggendong Dhisty serta menciumi pipi gdis kecil itu.
“Pie, nanti anakmu dirubung semut, lihat mukanya penuh air gula dari buburmu,” Sari protes, karena mulut Steve kotor dengan bekas gula.
“Hahahaa, kita mandi aja yok cantik,” Steve pun mengajak Dhisty ke kamar mandi untuk dimandikannya. Itu memang tugasnya sebagai orang tua. Dia sangat senang akan tugasnya sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya. Tak ada istilah merawat anak adalah tugas ibu sedang tugas ayah hanya mencari uang. Menurut Steve itu pemikiran yang sangat kolot. Sudah tak tepat diterapkan jaman sekarang.
***
Hari ini Steve sudah sehat kembali. Sari bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa makanan Dhisty sudah dia masak di rumah, sehingga di paviliun pengasuh tinggal menghangatkannya. Memang walau menggunakan tenaga pengasuh, Sari memasak sendiri makanan anaknya. Dia mencontoh kakak iparnya, walau sesibuk apa pun, anak nomor satu. Bulan depan Dwipa sudah akan makan bubur MPASI. Dia juga akan bertekad memasak sendiri. Sari berharap dia tetap kuat memikul tugas sebagai ibu menyusui yang sedang hamil. Semalam akhirnya Steve mengakui apa yang membuatnya galau sehingga dia tersiksa
Flash back on
“Mam ...,” Steve berbisik pelan, takut menggangu Dwipa yang sedang minum ASI.
“Kenapa?” Sari mendengar nada bicara Steve seperti ragu untuk bicara. Saat ini dia memunggungi Steve karena sedang memberi ASI pada Dwipa.
“Apa Mamie enggak cinta ke Papie, sebesar cinta Papie ke Mamie?” Steve berkata masih dalam nada keraguan.
“Kalau Papie bisa memberitahu dengan angka yang akurat\, atau besaran yang akurat seberapa besar cintamu pada Mamie\, Mamiebisa menjawab dengan benar.” Sari membalas dengan cerdas. Dia menduga\, mungkin ini penyebab Steve galau. Dia menarik pelan-pelan pu_ting payu_daranya dari mulut mungil Dwipa agar putranya tidak terbangun karena kaget.
Sari segera berbalik memandang suaminya yang sedang diam terpekur. “Seberapa besar cintamu?”
“Papie enggak bisa nyebut dalam angka atau besaran tertentu,” kilah Steve.
“Kamu bukan anak kecil Pie. Kamu tahu, bila kita membandingkan sesuatu, pasti memerlukan pembanding. Kita bisa bilang sesuatu lebih besar atau lebih kecil pasti karena ada dua ukuran berbeda. Kita bisa menyebut sesuatu lebih tinggi atau lebih rendah, pasti karena ada dua benda. Bahkan kita bisa menyebut suatu makanan enak atau kurang enak, karena ada dua makanan yang kita bandingkan. Lalu sekarang Papie bertanya tentang rasa cinta Papie ke Mamie tanpa bisa menunjukkan besaran cinta yang Papie miliki, bagaimana Mamie menjawab lebih besar mana cinta kita berdua? Itu terlalu absurd.” Sari seperti menerangkan sesuatu kepada anak kecil yang bertanya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak percaya aku mencintaimu sedang aku sudah memberimu 2 anak yang manis bahkan akan 3. Apa mereka tak berarti bagimu sehingga kamu meragukanku?” Sari memandang mata Steve yang menyimpan kepedihan.
__ADS_1
“Kamu dan mereka adalah hidupku Mam, kalianlah oksigen untuk hidupku. Kalian segalanya bagiku. Kalian sangat berarti bagiku,” cetus Steve cepat. Dia tak ingin Sari sedih karena merasa tak dianggap olehnya.
“Kalau Papie merasa kami adalah bagian terpenting bagi kehidupanmu, mengapa kamu bertanya tentang besarnya cintaku?” Sari mengusap pipi suaminya lembut. Jemari Sari yang berada di pipinya ditangkap Steve dan diciumi. Dia sangat takut kehilangan cinta anak bau kencur yang telah memberi warna untuk hidupnya.
“Saat kehamilan Dhisty, dan Papie merasakan ngidam. Papie mendengar hal itu karena cinta Papie sangat besar
padamu. Sehingga Papie mengalami kehamilan simpatik. Begitupun mas Anto dan juga di saat hamil Dwipa. Papie sampai sangat tersiksa mengalami morning sickness. Tapi saat kamu sekarang hamil. Kamu merasakan morning sickness hanya kadang-kadang dan tidak parah. Jelas Papie syukuri hal itu. Karena selain hamil kamu juga masih menyusui. Yang jadi masalah, mengapa pada kehamilan ini kamu samasekali tak pernah meminta apa pun seperti layaknya ibu yang sedang hamil?” Steve berupaya menerangkan semua ganjalan dalam hatinya. dia merasa Sari tak membutuhkannya karena tidak mencintainya.
“Kalau aku tak ingin apa pun, apa aku harus berpura-pura? Aku bukan perempuan yang senang cari perhatian Pie.
Selama ini semua attensi dan rasa sayangmu sudah sangat kurasakan. Apa aku harus cari perhatian lagi dengan pura-pura minta sesuatu yang sulit agar kamu bisa memperlihatkan kerja kerasmu menunjukkan rasa cintamu? Bagaimana bila kamu melakukan karena terpaksa? Aku enggak ingin hal itu terjadi!” Sari mulai bisa meraba apa yang Steve pikirkan. Suaminya merasa Sari tidak mencintainya karena tidak memberi tugas mencari sesuatu yang sulit didapat sebagaimana ibu-ibu lain yang ngidam. Sari sudah merasakan sulitnya mencari apa yang Steve inginkan saat kehamilan Dwipa. Dia tidak ingin mencari-cari masalah dengan pura-pura ngidam.
Sari menjeda kalimatnya, dia menarik napas panjang. “Inget ya Pie, besarnya cinta tidak bisa kita tunjukkan dengan memenuhi sesuatu yang diinginkan oleh orang ngidam. Tanpa hal itu, Mamie dan anak-anak sudah merasakan cinta tulus Papie. Kalau Papie butuh pembuktian caranya sangat mudah. Jangan pernah membagi hati dan tubuhmu pada perempuan lain! Karena itu berimbas pada Mamie dan anak-anak. Just it!”
“Mamie tahu, di benak Papie enggak pernah terpikir untuk mencari perempuan lain. Kamu satu-satunya selamanya,” Steve langsungmenjawab hal itu. Karena memang dia tak pernah berpikir untuk menduakan Sari dengan siapa pun.
“Sekarang semua sudah clear. Papie rehat ya. Jangan pernah berpikir Mamie enggak mencintaimu. Karena Mamie
“Kalau gitu, sekarang Papie boleh menyapa dede bayi ‘kan?” tanya Steve. Memang sejak Sari hamil ke tiga ini, Steve selalu minta izin terlebih dahulu bila ingin menengokbayinya. Dia tak ingin istrinya sedang lelalh sehingga bisa berakibat buruk pada kehamilan Sari.
“Ih, ujung-ujungnya kesana,” Sari tentu saja hanya menampik dengan kata-kata, kaena dialah yang lebih dulu memeluk dan menciumi Steve. Sehingga Steve sukses menyapa bayi ketiga mereka.
Flasback off
-----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
__ADS_1
*Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah akan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)*
*Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis*TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di
urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah
maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
----------------------------
Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel
bagus karya teman yanktie ya
__ADS_1
Judulnya RUMAH TANGGA karya MINNAMI