KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
35 DEMPULANNYA SEPERTI ASPAL NUTUP LUBANG JALAN


__ADS_3

35 DEMPULANNYA SEPERTI ASPAL NUTUP LUBANG JALAN


Banyak wanita yang iri pada Sari, mereka baru pertama kali melihat atasan Andin ini bergandeng tangan dengan perempuan. Dan Steve dengan bangganya memperkenalkan Sari sebagai calon istrinya pada teman-teman sejawat serta rekan bisnis yang hadir saat itu


“Kapan akan dilegalkan nih pak Steve?” tanya seorang rekanannya


“Tunggu calon saya merampungkan skripsinya, Insya Allah segera” jawab Steve pasti yang dilengkapi dengan senyum manis Sari seakan membenarkan jawaban Steve itu


Sudah 10 hari Sari dan Steve LDR. Biasanya mereka hanya sms pagi hari saling menyapa untuk spirit mengawali hari. Lalu siang sms saling mengingatkan jangan telat makan. Malam baru mereka bisa telponan agar ga ganggu aktivitas masing-masing. Itu memang sudah komitmen mereka, bila tidak ada urgen mereka ga akan ngobrol di siang hari


Saat ini kadang omanya Steve juga menanyakan khabar  Sari.


Seminggu lalu mas Anto baru kembali ke Jakarta dari Jogja. Menurut cerita mama, mbak Dini belum merespon keinginan kakaknya itu.


Malam ini Sari baru sempat menelpon mbak Dini. Sejak tadi dia santai bicara dengan Dini, dia juga menyampaikan terimakasih dari mbak Rina dan mamanya karena Dini memberikan mereka baju batik yang sangat manis


“Wah Amora pinter ya mbak, jadi kangen banget ama si chubby itu. Iya mbak nanti aku sampaikan salamnya ke mama. Daaaag assalamu’alaykum” kata Sari mengakhiri telponnya. Sari ga sadar sejak tadi kakaknya memperhatikan dirinya yang sedang ngobrol dengan Dini dengan tatapan sendu


***


Kembali berkutat dengan banyak diktat, sendirian Sari bergelut dengan pena, buku dan cemilan di perpustakaan kampus. Endah masih di ruang kuliahnya dan Uswah tidak hadir kuliah karena ada sepupu suaminya yang meninggal. “Boleh saya duduk sini” suara bariton meminta ijin pada Sari


Sari mengangkat wajahnya lalu mengangguk dan kembali menekuni kegiatannya  tadi. Dia ga perduli terhadap orang yang baru datang itu. Dan dia juga ga ingin kenal


***


Steve sedang menikmati makan malamnya sendiriana sambil menonton berita di televisi ketika dia mendengar HP nya berdering 1x lalu mati. Dilihatnya id caller adalah abang ipar . Hehe sejak jadian dengan Sari memang phone book HP nya banyak yang ganti nama. Penasaran dengan misscall itu Steve langsung menghubungi Anto. Dia khawatir sahabatnya itu ada perlu.  “Hallo bro, kemana aja lo?” tanya Steve


“Nanti gue telpon lagi. Makasih lo udah telpon gue sekarang” kata Anto langsung menutup sambungan telponnya.


Steve tentu saja bingung mengapa jawaban Anto ga nyambung seperti itu. Masih ga ngerti arti misscall dan jawaban Anto tadi, Steve melanjutkan makan malamnya yang tadi sempat terganggu

__ADS_1


***


“Hahahahha, ****** lo Nto. Ngadalin orang” tawa Steve saat Anto menceritakan mengapa tadi Anto misscall agar dia ditelpon oleh Steve


“Kayaknya tu nenek lampir ga kapok, dia mau njodohin gue ama keponakannya bro” sengit Anto menjawab ejekan Steve


“Gapapa, cantik kan, mana lulusan terbaik ITB mantab kan?” kata Steve


“Gue yakin lo sama gue satu selera kan? Ga suka ama ceweq dempulan tebel kayak mau main wayang orang punakawan? Gimana gue bisa nilai dia cantik kalau dempulannya aja kaya aspal nutup lobang jalan” kata Anto


“Gila lo, lo kan ga pernah vulgar gini” kata Steve menyatakan keheranannya pada keterus terangan Anto kali ini


“By the way, lo pernah hubungi Dini atau main ke rumahnya?” tanya Anto


“Gue ga pernah telpon dia, apalagi main ke rumahnya, cuma hari Minggu kemaren aja ketemu dia di mall, lagi ngasuh Amora main di taman bermain, dia bilang habis belanja bulanan. Koq lo tanya gue, emang ga pernah telpon an lagi?” tanya Steve bingung


“Telpon gue ga pernah dia angkat sejak gue pulang dari Jogja. Walau gue pernah denger dia telpon an ama Sari


“Sampe segitunya tu anak?” tanya Steve ga percaya. Steve sangat bingung Dini bisa memperlakukan Anto seperti itu mengingat kedekatan mereka berdua selama ini. Steve makin yakin yang dikatakan Anto, Dini sangat trauma dengan ikatan pernikahan.


“Your welcome bro” balas Steve. Dia bertekad membantu Anto dan Dini bersatu, namun bagaimana caranya? Dia ga ingin menjadi pelangi bagi orang yang buta warna. Dia ingin semua yang dia lakukan sukses dengan hasil yang sesuai dengan keinginannya


***


“Masa sih?” tanya Sari saat sedang berbincang dengan Steve


“Bener, ni baru aja Anto telpon” jawab Steve memastikan. Dia menceritakan Dini yang ga pernah mau menerima telpon dari Anto


“Abang ga pernah telponan atau datang ke rumahnya?” tanya Sari, dia sedih dengan kondisi Dini yang masih trauma


“Abang tau Dini belum bisa buka hati, tapi waktu mereka ketemu tu Dini masih manis koq. Pas malam kami duduk di terasnya, rokok Anto diambilnya. Artinya dia memperhatikan Anto kan? Dia meminta Anto berhenti merokok padahal rokok abang ga disentuhnya, trus pas Anto pamit pulang juga dia masih santai aja dipeluk Anto dan dikecup keningnya seperti biasa. Bahasa tubuhnya ga nolak. Dari situ abang ga mikir kalau ada penolakan telpon. Abang juga ga tau kalau barusan Anto ga ngeluh” Steve memberitahu pendapatnya

__ADS_1


“Ya abang yang tau, kalau emang abang bilang mau bantu mereka ya abang lakuin aja, aku pasti dukung koq. Dan alasan mbak Dini takut mama nolak karena dia janda anak 1 kayaknya ga cocok juga, karena setahuku mama malah yang ngarep banget mas Anto bisa jadian ama mbak Dini. Karena mama tau, kebahagiaan mas Anto tu cuma ada di senyum mbak Dini” Sari memaparkan kenyataan tentang pendapat mamanya


“Ya udah sekarang kamu istirahat ya cintaku. Besok abang usahain telpon Dini, karena kalau telpon sekarang takut ganggu dia ngelonin Amora. I love you cinta” Steve menyudahi pembicaraan mereka malam ini


***


Esoknya Steve menghubungi Dini “Assalamu’alaykum sayangku” salam Steve menyapanya “Ganggu ga nih malam-malam telpon?” tanya Steve


“Wa alaykum salam, ga ganggu koq Steve, tumben malam-malam telpon aku, kenapa?” tanya Dini


“Gapapa, tetiba kangen kamu. Emang ga boleh ya telpon ke sayangku, ada yang ngelarang ya?” goda Steve


“Heheheheee, engga koq, ga ada yang larang, kirain setelah punya pacar kamu tu lupa ama aku Steve” balas Dini malah menggoda Steve


“Aku masih digantung, dia belum ngasih jawaban pasti” kata Steve sedikit berbohong pada Dini, karena sesungguhnya Sari sudah menerimanya


“Masih soal keyakinan?” tanya Dini


“Iya, dia ga yakin ama jawabanku” keluh Steve


“Ya disabarin aja” kata Dini memberi support


“Kamu sendiri gimana? Kapan nih undangannya?” goda Steve


“Undangan wisuda?” jawab Dini balik menggoda Steve


“Nah pura-pura bego kan?” kata Steve kesal


“Ya udah dateng ya malam Minggu depan, aku undang duluan deh, bukan malam Minggu ini, tapi malam Minggu berikutnya” kata Dini


“Acara apa nih? Koq Anto barusan telpon aku ga cerita” tanya Steve keceplosan dia habis telpon dengan Anto

__ADS_1


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini


Jangan lupa like dan vote nya ya


__ADS_2