
hai hai kesayangan yanktie. Mau kasih tahu, YANKTIE itu = EYANG PUTRI ya, bukan nama hehe
Yanktie dan cucu-cucu menyampaikan selamat idul fitri 1433 H, maaf lahir batin
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai sini, makasih buangeeeeet penuh lope lope untuk semua pembaca yang selalu kasih like tiap habis baca bab. Yanktie seriusan tahu lho siapa aja yang selalu kasih like setiap habis baca, karena sebagai author ‘kan ada notifikasinya.
Lanjut baca untuk tahu keseruannya di bawah ini ya.
Tapi jangan hanya baca … kasih yanktie semangat dengan cara kasih kasih like dan vote serta komen dan bintang 5 nya.
-------------
Steve makin kalut mendengar kisah pilu Sari ketika kecil dulu. Dia tidak tahu lagi bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak.
***
Sepuluh hari sudah Sari membisu terhadap Steve. Dia tidak lagi menyiapkan apa pun kebutuhan Steve, namun masih tetap salim serta masih membiarkan bila Steve memeluk bahkan menciuminya. Di depan mama dan di depan Dhisty sikap Sari terhadap Steve masih manis. Namun tak pernah mau berangkat bareng ke butik. Untungnya Steve masih periode mual, sehingga tidak bisa berangkat pagi. Saat itulah Sari berangkat bekerja. Sebaliknya saat Steve baru sampai ke show room Sari bersiap pulang.
Sore ini jadwal Sari kontrol ke dokter kandungan, dia sengaja berangkat dengan mbak Irah dan Dhisty. Steve yang sejak semalam ingat jadwal kontrol terlambat menemani, dia segera menyusul ke rumah sakit. “Kenapa bawa Dhisty ke rumah sakit? Sebaiknya anak sehat jangan di bawa ke sini karena tidak baik.”
Namun protes Steve itu hanya angin lalu bagi Sari. Sari masuk ke ruang periksa di dampingi Steve, dia meminta mbak Irah menunggu di luar saja. Steve menggenggam erat jemari Sari saat melihat kondisi calon bayi mereka. Dokter menyampaikan bahwa kondisi bayi sehat, namun saat diperiksa dokter merasakan perut Sari kram.
“Ibu kenapa kram begini?” tanya dokter.
Sari hanya diam merasakan sakit, karena memang seminggu ini dia sering merasakan kesakitan dan perut serasa kencang.
“Sudah berapa lama Ibu merasakan?” tanya dokter lagi.
“Seminggu Dok,” jawab Sari lirih.
“Ibu terlalu stress, saya beri obat ya, tiga hari kurangi aktivitas, bed rest di rumah, bila obat ini habis dan Ibu masih merasakan kram seperti ini mohon segera hubungi saya karena Ibu harus di rawat bila ingin mempertahankan baby,” advise dokter nan lembut serasa petir di telinga Steve. Dia tidak menyangka Sari sangat menderita dan berakibat bisa kehilangan calon bayi bila kondisi ini terus berlanjut.
“Tolong ciptakan kondisi yang nyaman ya Pak, agar Ibu berkurang stressnya, kasihan baby bila Ibu tertekan seperti ini,” sang dokter memberikan resep pada Steve.
“Baik dok,” Steve menyanggupi akan membuat Sari tidak tertekan lagi. Steve langsung menyarankan Sari menunggu di mobil dan dia akan menebus obat lebih dulu. Sambil menunggu obat Steve membeli siomay yang Sari suka dan minta di bungkus 5 porsi.
__ADS_1
***
“Aku mau tinggalin Sari, aku mau tidur di butik selama Sari bed rest agar dia enggak tertekan,” Steve melaporkan kejadian di ruang dokter dan nasehat dokter untuk Sari pada Anto. Dia sedang menunggu obat sendirian sehingga leluasa menghubungi kakak iparnya.
“Lo yakin, kalau lo menjauh dia enggak stress?” tanya Anto.
“Dia ‘kan stress karena ngeliat gue, kalau gue enggak dia liat ‘kan berarti dia enggak stress, gue akan pamit ke dia sebelum nginep koq,” balas Steve.
“Kenapa enggak nginep rumah gue aja?” tanya Anto.
“Nanti Sari akan beranggapan gue enak-enakan dapat lingkungan yang nyaman sementara dia tersiksa di rumah,” Steve memberi argumennya.
“Serius gue mumet dan enggak nyangka bakal ada masalah seperti ini. Lo tahu ‘kan gue ama Dini selalu bisa diskusi, walau pernah beberapa kali Dini diam, tapi masih bisa di bujuk lalu kami bisa diskusi, ini ‘kan adek gue sendiri malah seperti ini,” keluh Anto.
“Biasanya semarah apa pun Sari juga enggak pernah koq seperti ini. Mungkin karena traumanya jadi dia berlaku seperti sekarang. Gue cuma takut baby kenapa-kenapa lalu dia makin marah ke gue kalau terjadi hal yang enggak kita inginkan,” desah Steve.
“Nanti gue ceritaan ke Dini deh, ni gue mau pulang,” Anto berjanji mencari solusi terhadap persoalan adiknya.
Steve membawa obat dan siomay yang dia beli, untung tadi dia tidak lupa memberikan kunci mobil pada Sari. Kalau saja dia lupa, tentu Sari sudah pulang menggunakan taksi.
Sesampai di rumah Steve segera mereposisi ruang televisi. Dia meletakkan sebuah kasur tebal dan meminta mbak Irah memberi seprei. Dia juga mengatur karpet tebal di sana untuk bermain Dhisty agar tidak mengganggu mamie nya.
“Ma, Sari harus bed rest tiga hari, kalau dalam waktu tiga hari belum sembuh maka terpaksa harus rawat inap agar bayi kami aman,” Steve melaporkan hasil pemeriksaan kandungan Sari barusan pada mertuanya.
“Ono opo tho Le (ada apa sih)?” tanya mama bingung, karena dia lihat di depannya Sari sudah tidak marah terhadap Steve.
“Sari sering kram perut sudah seminggu dan dia enggak cerita, tadi pas sedang di depan dokter pas dia kram, jadi dokter tahu sendiri,” kata Steve pelan.
Sari sedang berganti pakaian saat Steve masuk kamar. “Mam, kamu mau Papie tetap di rumah, atau sebaiknya Papie tidur di butik aja biar kamu tenang enggak benci dan marah karena liat Papie?” tanya Steve pelan. Dia tidak ingin langsung pergi tanpa minta pendapat istrinya.
Sari tidak merespon, Steve memeluk istrinya dan mengecup puncak kepalanya. “Bicara babe, kamu mau Papie di rumah atau tidur di butik aja?”
Karena Sari tidak merespon maka Steve membiarkan Sari berpikir sejenak. Steve keluar kamar dan mencari Adhisty, sudah waktunya sang putri makan sore. Dia bersiap menyuapi, biasanya menyuapi adalah pekerjaan Sari, tapi hari ini akan dia kerjakan karena Sari harus bed rest.
Selesai tugas memberi makan sang putri maka Steve lanjut menyiapkan obat untuk Sari, namun dilihatnya siomay yang dia beli belum disentuh. Dia membawa ke belakang dan meminta mbak Irah mengukus sebentar agar agak hangat. Mungkin Sari tidak suka karena siomaynya sudah dingin.
“Minum obat dulu ya, kita mau dede bertahan ‘kan?” Steve bertanya sambil menyodorkan obat beserta segelas air putih pada Sari. Tanpa membantah Sari menerima dan meminumnya.
__ADS_1
“Itu siomay sudah hangat lagi, semoga kamu suka,” Steve memberi tahu Sari saat melihat mbak Irah membawa siomay dan Adisthy mengekor di belakang pengasuhnya. Tanpa menunggu jawaban Sari, Steve membawa gelas ke belakang dan dia masuk ke kamar untuk menyiapkan beberapa stel pakaian untuk dia bawa ke butik. Dimasukan baju-bajunya ke dalam ransel, lalu dia bersiap pamit pada istri dan mama mertuanya. Saat akan pamit pada mama, dia lihat mama sedang berbicara dalam telepon, selintas dia dengar membahas Sari yang harus bed rest.
-----------------------
Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.
Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)
Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END
Rincian hadiah sebagai berikut
Hadiah pertama pulsa 100.000
Hadiah kedua pulsa 75.000
Hadiah ketiga pulsa 50.000
Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )
Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini
Yanktie tunggu partisipasinya
Terimakasih dan salam manis dari Jogja
Novel terbaru yanktie sudah lulus seleksi lho, semoga sebentar lagi bisa kalian ikuti ceritanya.
TELL LAURA I LOVE HER berkisah tentang Augustus atau yang biasa dikenal August terpuruk, dia merasa sangat bodoh membuang berlian dan menggantinya dengan kerikil. Dia mengkhianati Julia yang santun dan jujur. August bermain api dengan Aprilia dan berakibat April hamil. Dengan terpaksa dia menikahi April. Namun rumah tangga yang di jalaninya bagai neraka. April tak pernah menganggapnya sebagai suami. Perempuan itu tetap bebas pesta dan sering pulang pagi walau sedang hamil.
Saat putri mereka Novi, yang lahir bulan November sakit. Baru terkuak, Novi bukan putri August, karena golongan darah mereka berbeda.itu memacu August melakukan test DNA dengan bayinya itu. Hasil test menguatkan, bayi mungil nan malang itu memang bukan berasal darinya.
Laura adalah kekasih Tommy, mereka sedang bahagia, bulan depan akan menikah. Semua persiapan sudah mereka lakukan. Fix 95% persiapan sudah ready, sayang 2 minggu sebelum akad nikah, Tommy meninggal saat balapan mobil yang diikutinya. Laura melarikan dukanya dengan menjadi tenaga relawan di panti asuhan khusus balita.
Saat August sedang melakukan santunan di panti asuhan, August berkenalan dengan Laura yang menjadi tenaga pembimbing di sana. August tertarik dengan Laura, tapi Laura belum bisa menerima cinta baru.
__ADS_1
Akankah cinta August pada Laura bersambut? Atau August akan kembali mengejar cinta Julia?