KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR

KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR
164 HEBOH PARA IBU NEGARA DI JALAN KALIURANG


__ADS_3

Rumah keluarga Steve L Lumowa cukup heboooooooh sejak pagi. Planningnya pertemuan makan siang. Tapi sejak jam 9 pagi Dini dan anak-anak sudah sampai di jalan Kaliurang itu, sedang Anto langsung pergi ke bengkel untuk mengecek AC mobilnya setelah menurunkan anak dan istrinya. Tak mau kalah Risye pun sama. Dia minta diantar cepat. Sehingga Leo dan Risye serta jagoannya sampai di Kaliurang jam 10 pagi.


“Ih, kirain aku lebih cepat, ternyata kakak ipar paling cepat,” goda Risye. Bila mereka kumpul bertiga Risye sering menggoda Dini dengan panggilan kakak ipar. Karena buat Sari jelas, Dini adalah kakak iparnya. Dan buat Leo, Dini adalah mantan kakak iparnya, artinya juga kakak ipar Risye.


“Pastilah. Kakak ipar harus memberi contoh yang baik pada adik ipar yang pada enggak tahu sopan,” balas Dini sambil terkekeh. Dia cukup bahagia dengan candaan teman masa SMA nya itu. Tak pernah dia terluka dengan panggilan itu. Karena itu adalah fakta yang tak bisa dihapus.


“Aku mah sopan, Risye tuh yang enggak sopan,” balas Sari cepat.


“Lihat aja, kamu panggil Risye aja langsung nama. Padahal dari usia, dia lebih tua. Dan dari status, Leo lebih tua juga karena sejak dulu kamu panggil Leo dengan sebutan kakak,” Dini langsung menegur adik iparnya.


“Hahahaha, kena skak ‘kan?” Risye tergelak mendengar petuah Dini.


“Aku kok kaku ya panggil kak buat Risye, wis aku panggil mbak wae,” jawab Sari.


“Yeaaaay,” Risye senang karena mendapat penghormatan menjadi mbak oleh Sari. “Sekarang jelas, kamu bontot diantara kita bertiga.”


Mereka bertiga mulai mengeluarkan snack sebelum makan siang. Dan mereka juga meminta para asisten untuk menyiapkan lauk makan siang yang mereka bawa dari rumah masing-masing.


“Mbak, minum dan snack kami bawa ke teras belakang ya,” pinta Dini. Dia hendak duduk di sana sekalian mengamati anak-anaknya. Dia tak ingin anak-anak tanpa pengawasan sedang Anto masih di bengkel.


***


“Gimana ulet keket kemarin malam?” tanya Leo pada Steve. Mereka duduk di teras depan. Leo masih merokok bila jauh dari anak dan istrinya. Dia belum bisa berhenti total seperti Anto yang berhenti sejak kembali mencoba dekat  dengan Dini dan Steve yang langsung berhenti menjelang pernikahannya. Bagusnya dia bisa mengurangi, bahkan sama sekali tidak merokok bila berdekatan dengan Risye dan anaknya.

__ADS_1


“Seperti yang lo bilang, malam itu sambil makan sate gue langsung ngadu ke Sari. Gue enggak mau pagi-pagi dia dengar rumors penuh bumbu yang dia dengar dari para asisten rumah tangga gue. Tau sendiri rumor ditingkat bawah banyak mecinnya,” balas Steve.


“Rumors apaan? Gue ketinggalan info nih,” Anto yang baru datang langsung ikut nimbrung dengan kedua sahabatnya yang sekarang menjadi adik-adik iparnya.


“Biasaaaaaaaaa … don juan kita semalam dipepet ulet keket,” sahut Leo sambil mengeluarkan asap dari mulutnya yang dibentuk bulatan sehingga asap keluar membentuk huruf O.


“Gue bukan don juan, enak aja lo,” protes Steve.


“Haduuuuu, jauh-jauh deh dari ulet keket kalau emang pengen hidup lurus. Anak itu yang utama karena enggak akan pernah ada kata bekas anak. Jadi kalau mau belok dari rel, lo pada inget anak. Karena istri pasti bisa kita cari nilai minusnya. Nilai minus itu akan semakin besar kalau kita tergoda ama ulet keket dan bisa bikin kita rela pindah jalur. Saat lo pindah jalur, lo baru sadar, di jalur awal ada anak-anak kita yang terluka dan tak mungkin ada kata maaf atau tindakan yang bisa menyembuhkan luka itu,” seperti biasa Anto selalu aja ada kata-kata bijak yang bisa mengingatkan lawan bicaranya untuk berpikir jauh.


“Siapa juga yang pengen melenceng, emang namanya ulet bulu ‘kan begitu. Dari pagi dia betingkah di kantor aja gue merasa enggak enak. Maka gue ambil jarak. Eh semalam karena Sari minta beliin sate gue ketemu di kios sate. Beneran enggak sengaja. Maka gue menghindar dengan pura-pura ngobrol ama Leo biar dia enggak ada kesempatan nyosor,” kilah Steve. Dia juga sudah berkali-kali kena imbas ulet keket. Maka dia enggak ingin terulang. Terlebih Sari sedang hamil. Bisa berakibat buruk bila hal itu mengganggu kehamilan istrinya.


“Walau Sari yang nyuruh elo beli sate, bisa aja ‘kan orang bilang lo janjian ama dia. Elo langsung hubungi dia buat ketemu di sana setelah elo dapat perintah dari Sari,” tukas Leo.


“Itu yang gue pikir. Apa perlu ya kita tempel di jidat tulisan ‘gue suami setia’,” keluh Steve. Membuat kedua teman bicaranya tertawa ngakak.


“Tantenya Kusno, janda, dia butuh mobil bak dan mobil box buat usaha catteringnya,” jelas Steve. Dia sengaja mulai buka bahasan ini agar bila suatu saat dia terkena masalah, para lelaki ini sudah tau latar belakang masalahnya. “Tidak apriori pada predikat janda. Karena tidak semua janda itu buruk nilainya. Tapi kalau yang ini gue akui sepertinya emang sedikit minus. Masa jam 11 malam ngajak gue main ke rumahnya?”


 ======================


Hallo para pembaca setia cerita tulisan yanktie ino, apa khabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya.


Yanktie bahagia banget selalu dapat respon positive dari semuanya, baik berupa like, vote atau hadiah.

__ADS_1


Nah di kesempatan kali ini yanktie mau kasih apresiasi buat pembaca yang paling aktiv kasih hadiah buat tulisan yanktie. Hadiah kan yanktie berikan bagi TOP FANS rangking umum (bukan rangking mingguan ya say)


Tersedia pulsa bagi 3 orang yang paling aktiv , penilaian mulai saat ini sampai cerita ini ditulis TAMAT / THE END


Rincian hadiah sebagai berikut


Hadiah pertama pulsa 100.000


Hadiah kedua pulsa 75.000


Hadiah ketiga pulsa 50.000


Dan 10 hadiah hiburan pulsa 10.000 ( bagi 10 orang di urutan ke 4 sampai ke 13 dari top fans )


Semakin banyak mengirim vote, like, komentar dan hadiah maka semakin besar kesempatan mendapat hadiah ini


Yanktie tunggu partisipasinya


Terimakasih dan salam manis dari Jogja


----------------------------


Sambil nunggu yanktie update bab baru, mampir ke novel bagus karya teman yanktie ya

__ADS_1


Judulnya  SANG RATU MALAM karya ASIRE



__ADS_2