
40 SAYA INGIN SELALU MENIUPKAN PUISI CINTA DISETIAP HELAAN NAPAS
Anto yang diberi waktu untuk berbicara bingung, karena saat itu Dini belum berada di ruangan itu. Bapak yang melihat kebingungan diwajah calon menantunya tersenyum kecil lalu dia mengangguk pada dek Retno sepupu Dini
Lalu Retno masuk ke dalam, mengabari sepupunya yang lain dek Rari untuk keluar mengapit Dini yang berjalan keluar menggandeng Amora
Dini berdandan sangat tipis, sehingga kesan natural membuat nya lebih menampilkan inner beautynya, sedang Amora tersenyum manis digandengannya. Sejak semalam Dini mengajari Amora tidak boleh ribut dan diminta duduk manis disebelahnya tanpa menghampiri daddy nya. Dini dan Amora menggunakan batik tulis berdasar ungu, kembaran dengan batik yang digunakan Anto
Semua yang hadir melihat kedatangan Amora dan Dini yang melenggang berdua kedalam ruangan karena dek Rari dan dek Retno hanya mengantar ke ujung ruangan saja, semua terpaku akan kecantikan Dini dan kagum karena Amora bisa tenang mengikuti arahan Dini
Dini duduk disebelah Bapaknya. Setelah dia dan Amora duduk Dini mengangguk kecil pada Anto, mengisyaratkan agar Anto mulai bicara. Anto masih bengong, terpesona terhadap keanggunan cinta kecilnya bercampur kagum pada kepandaian Amora yang bisa menempatkan diri pada situasi semi resmi seperti saat ini
“Nto, mulai” bisik pakde Jarwo sambil menggamit lengan Anto, agar sadar dari keterpukauannya
Mami, papi serta mama hanya senyum-senyum saja melihat kegugupan Anto. Kalau mimpin rapat koq ga nervous gini ya? batin Anto merasakan kegugupannya kali ini, bahkan berdiri di forum internasional saat meeting pun dia lancar aja aja mengemukakan pendapat dengan bahasa inggris. Ini di forum keluarga, sudah kenal dan akrab semua, mengapa jadi deg-deg an gini?
“Assalamu’alaykum. Saya memang bukan pria terbaik, masih sangat banyak pria baik diluar sana, tapi saya berupaya menjadi terbaik untuk Rahdini Mustika Wonoyudo, perempuan special yang bisa membuat saya ingin selalu meniupkan puisi cinta disetiap helaan napas saya. Perempuan kuat yang bisa membuat saya merasa lemah jika disisinya, namun juga perempuan lemah yang membuat saya selalu ingin melindunginya. Ijinkan saya Prasetyanto Soekarso meminang cinta kecil saya, cinta yang tumbuh sejak kami SMP” kata-kata Anto membuat semua hadir terpana, karena Anto mengatakan tanpa teks, keluar dari hatinya
“Piye Din?” tanya Bapak pada anak bungsunya. Terlihat Dini menarik nafas panjang sebelum bicara
“Prasetyanto Soekarso, anda memang bukan pria terbaik dari semua pria yang pernah datang mengetuk pintu hati saya, namun saya tau anda berupaya menjadi yang terbaik untuk saya. Saya bukan seorang gadis yang bisa melenggang cantik sendirian ke catwalk yang anda sediakan, namun saya seorang ibu dari gadis kecil disebelah saya. Gadis kecil yang membuat dunia saya hanya terfocus padanya. Saya bersumpah, siapa yang bisa menerimanya itulah yang akan bisa mendampingi hidup saya kedepannya. Ternyata anda tidak hanya menerimanya, namun anda malah mencuri hatinya melebihi cinta anda pada saya. Anda bisa demam panas dingin bila merindukannya, tapi itu tak pernah anda alami jika anda rindu pada saya”
__ADS_1
“Prasetyanto Soekarso, anda berhasil menopang saat saya goyah, anda berhasil menghapus airmata saya saat saya terpuruk, namun saya tidak ingin cintamu seperti pelangi. Pelangi itu indah namun hanya bertahan sesaat. Saya ingin cintamu seperti udara, sederhana, tak terlihat wujudnya namun selalu setia disetiap hela napasku”.
Dini terdiam sebentar, menarik napas panjang kembali, lalu melanjutkan lagi…..
“Prasetyanto Soekarso, saya Rahdini Mustika Wonoyudo, bersedia menerima permintaan anda untuk mendampingi anda dalam menapaki langkah kita kedepannya.” demikian jawab Dini
Anto dan Dini memperlihatkan kepandaian mereka mengolah kata walau dalam situasi mendesak, mereka seperti sedang adu kepiawaian saat membuat puisi. Mereka yang hadir hampir bersamaan mengucap Alhamdulillah saat Dini menyatakan menerima lamaran Anto.
Sari sangat tersentuh dengan proses lamaran kakaknya kali ini. Dia menganggap lamaran kali ini lebih sarat dengan cinta dan penuh kehangatan, tidak seperti saat Anto lamaran dengan Shinta dulu
Steve juga sangat terkesan dengan kesederhanaan proses lamaran Anto dan Dini, karena dia tau betul saat lamaran Anto dengan Shinta yang sangat mewah karena dialah penanggung jawab acara tersebut
Saat pakde Jarwo sedang berbincang dengan Bapak, Anto melihat putrinya menatapnya tajam seakan ingin berlari padanya. Anto mengembangkan tangannya, mengisyaratkan agar Amora menghampirinya, Amora melihat Dini seakan minta ijin, karena dia ingat semalam mommynya mewanti-wanti agar berlaku manis bila dia ingin daddynya bisa selalu ada didekatnya dan mereka hidup bersama, namun Dini sedang tidak melihatnya maka Amora menggamit tangan Dini agar melihat kearahnya. Dini menoleh, dia melihat Amora menunjuk Anto dengan dagunya. Dini tersenyum melihat sepasang kekasih didepannya. Dini menganggukan wajahnya, tanpa menunggu lama Amora langsung turun dari kursinya lalu berlari kearah Anto, dia langsung memeluk Anto dan berbisik : Daddy, ay lop yu. Dia merasa tertekan sejak tadi bisa melihat daddynya namun tidak bisa menghampirinya.
“I love you babe, I love you very much” sahut Anto sambil terus mengecupi pipi putrinya. Bu Dyah dan bu Rahma secara bersamaan menghapus air mata disudut mata mereka. Sari langsung menyembunyikan isak tangisnya di lengan belakang Steve. Dia sangat terharu melihat cinta Amora dan kakaknya. Steve yang merasakan baju lengan atas kanannya basah karena air mata Sari kaget dan dengan lembut memeluk kekasihnya dan menyembunyikan wajah Sari di pelukannya
Tak ada tukar cincin di acara lamaran mereka, hanya doa bersama yang mereka panjatkan agar acara pernikahan yang hanya tersisa 5 minggu lagi bisa berjalan lancar dan sukses
***
“Sudah diambil sayang?” tanya Steve diujung telpon
__ADS_1
“Sudah bang, ni lagi jalan pulang koq” jawab Sari. Dia baru saja mengambil seragam Steve dan dirinya untuk acara pernikahan kakaknya seminggu lagi. Mereka semua menjahitkan beskap serta kebaya di 1 penjahit yang sama dengan penjahit suami mbak Sashi dan mbak Kiran serta anak-anak mereka
5 hari lagi mbak Rina dan keluarga akan datang untuk menghadiri pernikahan itu, ketika lamaran mereka tidak bisa hadir karena terbentur ijin cuti mas Imron
Steve mengikuti pengajian di rumah Anto, dia memperhatikan semua tata caranya. Pengantin pria memang ada yang tidak melakukan siraman, oleh karena itu keluarga Anto melakukan pengajian saja, saat pernikahan dengan Shinta bu Rahma tidak mengadakan pengajian seperti ini
Sedang di rumah Dini, sedang diadakan ritual siraman. Dini sangat bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan juga acara menikah yang sebenarnya seperti mbak Sashi dan mbak Kiran. Dia senang karena Bapak tetap membuatnya menjadi ratu sehari. Tidak seperti pernikahannya dengan Harry yang tanpa persiapan apapun
***
Penghulu memulai acara, membaca doa serta menanyakan kebenaran data calon mempelai, terakhir dia menanyakan apakah pengantin laki-laki siap?
“Siap” jawab Anto tegas
Anto membaca ikrar ijab kabul dalam satu helaan nafas tanpa kesalahan. “Bagaimana saksi? Sah?” tanya penghulu pada para saksi yang duduk di sisi meja ijab tersebut. Kedua saksi menjawab
“SAH”
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
__ADS_1